Anja
Kian hari, ia makin merasa tak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Seperti ada sesuatu yang salah. Namun tak mengerti letak salahnya dimana.
Mood swingnya juga makin parah akhir-akhir ini. Bisa tiba-tiba senang bukan kepalang. Namun sedetik kemudian, ingin menangis tersedu-sedu. Hanya karena hal remeh. Membuatnya frustasi dengan diri sendiri.
"Apa gue kena mental illnes ya?" gumamnya ke arah Hanum dan Bening. Yang sedang asyik melahap awug buatan Bi Enok.
Minggu pagi ini, dua sahabat karib itu sudah nongkrong di rumahnya, sambil menunggu berlangsungnya laga perdana Fantastic Four HSBL Jakarta sore nanti.
"Ngaco, lo!" Hanum mengkerut tak setuju.
"Periksa aja, Ja. Lagi musim kan mental illness kek gitu," sahut Bening dengan mulut penuh.
"Awug buatan Bi Enok enak banget sumpah. Ini dijual ke anak-anak juga pasti laku sih. Tinggal dikemas semenarik mungkin. Eh, atau kita titipin ke kantin? Lumayan kan dapat cuan hehehe ...."
Namun tak ada yang menggubris ide bisnis Bening. Hanum justru menggerutu, "Lagi musim, dikira mangga kali musim."
"Ya, tuh buktinya," ia mengernyit. "Banyak seleb rame-rame mengakui kena mental illness."
"Mereka ngaku kena mental illness, memang hasil resmi dari diagnosa dokter. Apa nebak-nebak sendiri cocoklogi?!" Hanum masih menggerutu.
"Semisal kita lagi down, trus ngelakuin hal yang impulsif, dibilang bipolar. Kita sedih, trus nangis-nangis karena hal yang menurut orang lain remeh, dibilang dual personality," lanjut Hanum sambil mencibir.
"Orang tuh divonis mental illness, setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan observasi dari ahlinya. Pemeriksaan yang sesuai prosedur, terstruktur, sistematis. Bukan dasar cocoklogi ala ala," Hanum makin bersemangat.
"Kalau kata gue sih ya, orang ngaku-ngaku, ngaku-ngaku nih ya, catet, kena mental illness kadang buat dapat privilege nggak sih?"
"Jadi, saat melakukan hal di luar kewajaran, orang akan memaklumi. Oh, si A kan kena mental illness, wajar lah. Atau ... oh si B mental illness, jadi bisa dimengerti. Gitu nggak sih?"
"Karena orang yang beneran kena pasti keep the secret dong, kecuali untuk orang-orang terdekat pasti tahu lah. Bukannya diumbar-umbar ke khalayak, pakai di post ke sosmed attention please, gue kan kena mental illness loh. Big no."
Tapi Bening menggeleng tak setuju, "Nggak semua keep the secret kali, Han. Kadang perlu orang lain tahu. Biar nggak jadi salah paham dan nambah masalah. Coba kalau gue bipolar, trus diem-diem bae. Pas fase maniak, gue tiba-tiba seneng trus sedih kayak gitu, kan bikin ribet orang lain, tahu nggak sih?"
"Iya juga sih," Hanum mengakui. "Tapi sekarang jadi rancu, antara yang beneran kena mental illness sama yang ngaku-ngaku."
"Kalian gimana sih?" sungutnya kesal. "Malah diskusi panel. Ini gue kenapa akhir-akhir ini sering mood swing parah?! Ada yang bisa jelasin? Hello?!"
"Itu kemarahan terpendam bukan sih, Ja?" tebak Bening dengan suara penuh kehati-hatian. "Lo marah sama diri sendiri karena satu dan lain hal. Terpendam sedemikian rupa. Nah, kalau ada pencetusnya langsung naik deh kek fenomena gunung es."
"Jadi, si Dipa udah putus beneran sama Tiara belum sih?" tiba-tiba Hanum mengalihkan topik.
Ia hanya mengangkat bahu, "Tahu."
"Lo masih cinta sama Dipa?" selidik Bening.
"Hah? Ya masih lah. Dipa itu forever crush gue. Sampai kapan pun perasaan gue nggak akan berubah. First love, gimana sih rasanya?"
"First love gue udah dadah babay," Bening tertawa sendiri. "Sampai heran dulu bisa-bisanya gue naksir sama dia."
"Kenapa? Temen SMP yang lo ceritain waktu itu?"
Bening mengangguk. "Udah nggak tahu juntrungan. Mana kerjaannya bolos, tawuran, ih heran kenapa gue dulu bisa suka sama dia ya?"
"Dulu kan lo masih piyik, masih polos."
"Sekarang juga gue masih polos."
Ucapan terakhir Bening membuatnya dan Hanum sama-sama mencibir.
"Polos dari Hongkong," sungut Hanum sambil bangkit dan berjalan menuju ke luar. "Ja, lo masih punya Miranti nggak di kulkas? Gue nyeri nih."
"Lihat aja, kalau ada berarti masih."
"Gue ambil, ya."
Ia mengangguk.
Tak lama kemudian, Hanum kembali masuk ke dalam kamar. Sembari membawa tiga botol Miranti.
"Banyak amat?" Bening mengernyit.
"Siapa tahu ada yang mau," jawab Hanum sambil menyesap Mirantinya. "Mau?" tawar Hanum ke arahnya.
Tapi ia menggeleng malas.
"Biasanya period kita barengan nggak sih?" kernyit Hanum yang telah menghabiskan botol Miranti pertamanya. "Lo dulu atau gue dulu?"
Ia jadi ikut mengernyit, "Eh, iya ya. Kenapa gue belum? Biasanya gue duluan lho. Lo udah berapa hari?"
"Udah mau selesai malah. Tapi masih nyeri euy."
Ia jadi semakin mengernyit demi mengingat kapan terakhir kali period. Kok bisa lupa? Sebentar, ia mencoba mengingat-ingat. Bulan ini belum, bulan kemarin pas masuk rumah sakit kayaknya enggak dapat. Bulan kemarinnya lagi juga enggak.
Sambil terus mengernyit, ia buru-buru bangkit dan beranjak ke lemari tempat menyimpan pembalut. Checked. Pembalutnya masih utuh persis seperti beberapa bulan lalu kali terakhir ia memakainya.
"Kenapa, Ja?" Bening mulai heran melihat tingkahnya.
"Ini ...." Ia masih mengernyit. "Gue kapan terakhir kali dapet ya?"
Bening mengangkat bahu.
"Kan kita barengan terus," sahut Hanum yang kembali ngemil awug dengan lahap. "Bulan ini aja nggak bareng. Lo kecapean kali jadi telat."
Bening jadi memperhatikan wajahnya, "Iya, Ja, lo kecapean kali. Tuh," lalu menarik ke arahnya agar menghadap ke kaca. "Pucet gitu? Lo sakit?"
Ia menggeleng. "Enggak. Memang akhir-akhir ini sering pusing, tapi sembuh sendiri kok."
"Eh, iya," Hanum ikut bangkit dari duduknya. "Coba ... coba ...." Sambil menyejajarkan diri di antara Bening dan dirinya di depan kaca.
"BB lo turun ya?" tuduh Hanum. "Kok sekarang jadi gedean gue dibanding elo? Biasanya kan gue paling kayak lidi."
"Mana timbangan ... timbangan ...." Bening berinisiatif mencari timbangan elektrik yang memang sengaja disimpan di dalam kamar.
"Di pojok sana kayaknya," ia menunjuk ke salah satu sudut kamar, yang dipenuhi oleh beberapa barang miliknya.
"Coba ... coba ...." Dengan penuh semangat, Bening meletakkan timbangan elektrik di bawah kakinya. "Naik ... naik ...."
Ia pun menurut untuk naik ke atas timbangan.
"40?!?!" pekik Hanum histeris. "Gila! Lo kurus banget, Ja?!?"
"Gila sih ini," Bening ikut menggelengkan kepala. "Bukannya lo standar 45?"
"43 an kali," ralatnya tak setuju.
"Ah, selisih dua kilo doang," Bening mengkerut. "Turun tiga kiloan berarti. Sisa typus lo kali, Ja."
"Ya ampun, kapan BB gue bisa turun tiga kilo?" mata Hanum menerawang nanar.
"Tapi bukan BB nya sih yang bikin gue khawatir," lanjut Bening tak menghiraukan harapan terpendam Hanum. "Wajah lo nih. Pucat banget asli. Belum pernah gue lihat lo sepucat ini."
"Ke dokter lagi, Ja," saran Hanum sambil merangkulnya. "Siapa tahu lo anemia."
Ia mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Meski begitu, pikirannya dipenuhi oleh hal lain. Namun ia berusaha keras untuk mengabaikannya karena merasa takut.
Sore hari meski sedikit malas ---aneh, padahal fantastic four ini sudah sangat ditunggu sejak setahun lalu, demi bisa melihat Dipa berlaga bak pahlawan di tengah lapangan. Yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat bahagia. Namun begitu hari H ia malah malas luar biasa--- ia bersama Hanum dan Bening larut dalam keriaan siswa PB yang hadir di GOR Soemantri Brodjonegoro untuk menyaksikan laga perdana Fantastic Four antara SMA Pusaka Bangsa vs SMA Kasih Putih.
Sambil menanti menit pertama pertandingan dimulai. Yang pastinya sudah ditunggu-tunggu. Para penonton Fantastic Four HSBL DKI Jakarta lebih dulu dihibur oleh chant dan yel-yel penyemangat.
Cheerleader SMA PB kali ini tampil unik dalam busana etnik. Dengan bawahan rok batik motif Betawi berpayet. Dikombinasikan dengan tusuk konde tari betawi. Mereka mengusung tema ”Budaya Etnik Indonesia."
Digabungkan dengan gerakan modern dance, tari tradisional khas Betawi, hip hop, campur-campur, diikuti dengan yel-yel dan chant unik untuk menyemangati tim yang akan bertanding.
Di sela-sela keriuhan yang entah mengapa kurang membuatnya nyaman itu, Hanum tiba-tiba berteriak, "Eh, itu tuh si Tiara," sambil menunjuk tribun penonton yang terletak di samping tribun tempat mereka berdiri sekarang.
"Iyuh banget," cibir Bening. "Nonton basket aja mesti stand out," sambil melirik sinis ke arah Tiara yang memang tampil all out seperti hendak pergi ke prom night.
"Tapi emang cantik, sih," Hanum ikut memperhatikan Tiara yang kini sedang saling melempar senyum dengan Dipa.
Pemandangan yang tak luput dari penglihatannya itu membuat hatinya mencelos.
Apakah mereka masih bersama? Apakah mereka serius? Apakah mereka memang tak bisa dipisahkan?
Saat pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan menjengkelkan tentang hubungan Dipa dan Tiara, Hanum kembali berteriak yang kali ini tepat di samping telinganya, "Eh, tumben-tumbenan ada si Cakra! Surprise!"
Kedua matanya langsung melihat ke arah tangan Hanum menunjuk. Tak jauh dari tempat duduknya, terlihat Cakra sedang mengobrol dan tertawa dengan beberapa anak PB.
"Nggak mau ketinggalan juga dia," cibir Bening sambil terus berteriak-teriak mengikuti aba-aba koordinator supporter.
'Pusaka Bangsa juara
Pusaka Bangsa number one
Kuyakin hari ini pasti menang'
Namun ia pura-pura tak memedulikan kehadiran Cakra. Yang bisa dipastikan, baru pertama kalinya di lapangan basket. Lebih memilih untuk ikut bersorak sorai dengan yang lain menyemangati team PB.
"DIPA MEGANTARA ... I LOVE YOU!" ia kembali berteriak dengan kalimat yang sama persis seperti tiga bulan lalu. Saat Grand Final West Region berlangsung.
Namun bedanya, kali ini ia tidak mengharapkan balasan, murni teriakan semangat seorang supporter untuk atlet jagoannya.
"HUUUUUUU!!!!"
Teriakannya spontan menimbulkan cemoohan dari penonton yang lain. Namun ia tak peduli.
"DIPA MEGANTARA ... I LOVE YOU!!!" kali ini giliran Bening yang berteriak mengikuti jejaknya. Untuk kemudian mereka saling merangkul sambil tertawa berdua.
"HUUUUUUU!!!!" lagi-lagi cemoohan penonton yang lain mengikuti teriakan Bening.
"Seru juga teriak-teriak di pinggir lapangan begini," seloroh Bening dengan wajah memerah saking excitednya.
"Perasaan jadi plong," lanjut Bening sambil tertawa. "Coba deh lo teriak juga," sambil mengikuti Hanum.
"Gue pilih yang lain ah, jangan Dipa melulu," cibir Hanum.
"FAZA HERFATAA ... I LOVE YOU!!!!" teriak Hanum tak kalah keras dengan suara teriakan supporter yang lain.
"Heh!" namun Bening menoyor kepala Hanum. "Si Faza kan nggak main. Kok malah manggil Faza sih?!"
"Suka suka gue dong," cibir Hanum yang kembali berteriak, "FAZA HERFATAA ... I LOVE YOU!!!"
Sementara ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Karena Bening kembali memrotes redaksional yang diteriakkan oleh Hanum, "Heh! Faza kan sama kayak kita. Supporter juga!"
"Biarin ih, suka suka!" tapi Hanum tetap tak memedulikan protes Bening.
Sorakan supporter PB terdengar semakin bersemangat. Ketika di quarter pertama, tim mereka unggul 11-8 dari Kasih Putih.
Namun ketika memasuki quarter kedua, ia mulai gelisah. Sebab tak bisa menahan keinginan untuk buang air kecil.
"Ih!" ia menggerutu sendiri.
"Kenapa, Ja?" Bening mengernyit.
"Kebelet pipis."
"Ah, elo beser mulu," sungut Hanum.
"Ya udah nggak usah ditemenin sih, gue sendiri aja," sungutnya sambil berjalan menyeruak di antara deretan penonton. Yang sedang berdiri bersorak sorai menyemangati pemain andalannya. Ingin bergegas menuju ke toilet.
"Jangan lama-lama! Lagi seru nih!" teriakan Hanum masih terdengar di telinganya. Sebelum tenggelam oleh sorak sorai penonton seisi GOR.
Ia lumayan lama berada di dalam toilet. Karena mendadak mual merasa ingin muntah. Daripada harus bolak-balik ke toilet yang jaraknya lumayan jauh dari tempat duduknya. Ia pikir, lebih baik menunggu beberapa saat di toilet.
Namun setelah menunggu selama hampir sepuluh menit, rasa mual yang tadi mendadak menyerang tiba-tiba menghilang. Tak lagi merasa ingin muntah. Membuatnya mencuci muka untuk menyegarkan diri.
Setelah selesai, ia pun buru-buru keluar dari toilet. Dan terkejut. Demi mendapati Cakra sedang berdiri sambil menyilangkan tangan, tak jauh dari pintu toilet. Yang begitu mengetahui dirinya keluar dari toilet, terlihat langsung bernapas lega.
Ia tentu tak berminat untuk berurusan lagi dengan si berandal itu. Sudah cukup kemarin tragedi mobil mati di pertigaan jalan, menjadi yang terakhir kalinya. Tidak lagi.
Membuatnya buru-buru melangkah menuju tribun penonton.
Ia bukannya tak tahu Cakra mengikuti langkahnya dari belakang, namun ia mencoba untuk mengabaikan.
Di tengah lorong ketika sorak sorai penonton semakin jelas terdengar, ia tak sengaja berpapasan dengan Samuel. Teman SMPnya yang kini bersekolah di Kasih Putih.
"Oi, Ja?" sapaan Samuel membuat langkahnya terhenti sebentar. Untuk sekedar membalas sapaan dan saling menanyakan kabar.
Dari sudut mata ketika mengobrol dengan Samuel, ia sempat menangkap bayangan Cakra yang hendak mendekatinya. Namun urung, begitu melihat ia dan Samuel saling tertawa lebar.
"Heh, lama banget sih!" seru Hanum begitu melihatnya kembali ke tempat duduk. "Quarter kedua udah habis tuh."
"Gimana gimana?" ia tak menghiraukan protes Hanum. "Masih jauh?"
"Bisa disamain," gerutu Bening sambil menaikkan tangan ke atas mengikuti instruksi dari koordinator supporter. "Dipa gagal terus three pointnya. Malah kena rebound."
Ia pun kembali memusatkan perhatian ke tengah lapangan. Kembali larut dalam euforia pertandingan di kejuaraan basket paling bergengsi se Jakarta ini.
Tapi cobaan baginya ternyata belum usai. Karena keinginan untuk buang air kecil kembali tak bisa ditahan.
"Ya ampun, Ja, lo kayak nenek nenek sih, bolak balik melulu!" sungut Bening.
Ia sendiri juga kesal harus bolak balik tribun-toilet yang jaraknya lumayan jauh. Tapi daripada ngompol hayo.
Dan satu hal yang membuatnya semakin kesal adalah, karena ia selalu menemukan sosok Cakra begitu keluar dari toilet. Ih!
Meski Cakra tak melakukan apapun terhadapnya. Bahkan tak menyapa meski pandangan mata mereka seringkali saling bertautan. Namun terus terang, ia merasa terganggu dengan kemunculan Cakra yang seolah sedang memata-matainya.
Dan kali keempat ia pergi ke toilet dalam kurun waktu singkat, berhasil membuat kesabarannya menghilang. Dengan menahan kesal, ia pun memutuskan untuk berjalan cepat menuju ke arah Cakra. Yang kini sedang berdiri menyandar di dinding. Berada tepat segaris dari pintu toilet sambil melipat kedua tangan.
"Lo ngikutin gue?!" semburnya marah.
Cakra sempat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Namun dalam sekejap berhasil menguasai diri. Lalu menjawab dengan tenang, "Bisa iya, bisa enggak."
Ia mendecak sebal untuk kemudian berlalu.
Namun baru dua langkah berjalan, Cakra kembali angkat bicara, "Disini rame banget. Khawatir lo tersesat."
Ia semakin mendecak sebal, "Emangnya gue anak kecil, pakai tersesat segala!"
Suara Cakra terdengar tersenyum, "Jalan ke toilet ini sepi. Kalau lo kenapa-napa, teriakan lo nggak bakal kedengeran ke mana-mana. Suasana di luar terlalu riuh. Gue nggak mau lo kenapa-napa di tempat sepi begini."
Ia yang sebenarnya ingin menjawab ucapan Cakra dengan teriakan marah, hanya bisa memutar bola mata kesal. Lebih memilih untuk berjalan cepat menuju tempat duduknya. Daripada menghabiskan waktu untuk berdebat. Dengan si berandal sekolah yang menyebalkan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Mrs.Kristinasena
gentle banget si Cakra..bertanggung jawab
2025-02-26
0
LarasatiAtiqahGunawan
sepertinya kegagalan dipa krn melihat kepergian anja dr bangkunya diikuti cakra
2024-10-09
0
Raufaya Raisa Putri
Dede Aran di kawal sm ayah y.....
2024-09-15
0