4. A Big Mistake

Cakra

Ia bukannya tak mengenal Anja. Yang kini tengah makan roti sobek dengan rakus. Sambil sesekali menyesap teh kotak. Meski tak sebeken Camelia yang artis FTV atau secantik Lakesya yang menjadi finalis None Jakarta.

Namun keberadaan Anja di sekolah, tak luput dari radarnya. Memang menarik perhatiannya.

Dengan tubuh mungil yang tak terlalu tinggi. Ditambah wajah manis cenderung imut yang seolah tanpa dosa. Membuatnya bisa memastikan, jika Anja adalah cewek rumahan yang tak pernah neko-neko. Tipikal cewek polos paling mainstream yang pernah ada. Sedikit mem bo san kan untuk orang berjiwa petualang.

Jelas bukan tipe cewek yang akan diminatinya sama sekali.

Bukan, bukan karena Anja tak menarik baginya. Atau terkesan membosankan. Atau dirinya seorang petualang sejati. Bukan. Lebih karena Anja, sama sekali takkan terjangkau oleh dirinya.

Bagai pungguk merindukan bulan.

Apalagi sebabnya, kalau bukan karena perbedaan status sosial di antara mereka, yang terbentang lebar. Ditandai dengan circle pertemanan yang jauh berbeda bak bumi dan langit. Ditambah tak pernah berada di kelas yang sama.

Membuat dirinya dan Anja tak pernah saling mengenal satu sama lain secara resmi. Apalagi bertegur sapa. Cukup saling tahu sama tahu. Ia tahu siapa Anja. Dan Anja pasti tahu siapa dirinya. That's it.

Tapi kemunculan Anja di Retrouvailles, Cafe tempatnya bekerja di setiap weekend dan tanggal merah. Dengan penampilan paling amburadul. Membuatnya tak bisa untuk tak jatuh iba.

Ditambah kiriman video berdurasi selama hampir lima menit di grup kelas. Yang memperlihatkan kelakuan impulsif Anja di GOR. Saat pertandingan Final West Region HSBL berlangsung. Membuatnya -dengan sangat impulsif- memutuskan, untuk membantu cewek -cantik- rumahan ini untuk menemukan jalan pulang.

Tapi alih-alih niat tulus ikhlasnya berbuah kebaikan, yang ada malah ia sedang melakukan blunder terbesar. Karena mengantar Anja ke sebuah hotel, bukannya pulang ke rumah.

Dan kebodohan kedua yang dilakukannya dalam kurun waktu kurang dari sehari ini adalah, ia mau-mau saja memenuhi permintaan Anja. Untuk tidur di kamar yang sama dengan cewek itu.

What the fucking shit very bad idea!

Ini tentu sudah jauh di luar nalar. Pertama, semua orang pasti menyangka jika ia yang memaksa Anja untuk tidur di hotel bersamanya. Alasannya jelas lah, ia dikenal sebagai cowok berandal, sementara Anja cewek baik-baik.

Kedua, jika keluarga Anja tahu mereka menginap di kamar hotel yang sama, bisa dipastikan ia akan menjadi samsak hidup, yang dalam waktu singkat akan berubah menjadi perkedel. Absolutely.

Lalu ketiga, ini yang paling menakutkan baginya. Yaitu karena ia tahu, Anja tak mengenakan apapun di balik kaos oblong dan celana kebesaran miliknya.

Membayangkan itu saja sudah membuat kepalanya pusing tujuh keliling sejak keluar dari Cafe. Akal sehatnya mungkin masih mendominasi hingga saat ini. Namun ia tak bisa menjamin dengan yang ada di bawah sana.

"Gue nyuruh lo tidur di sini biar ada temen. Bukannya bengong kayak gitu!" bentak Anja sambil melihat sengit ke arahnya.

Satu lagi yang membuatnya tercengang adalah, cewek semanis Anja ternyata memiliki hobi bicara dengan nada membentak-bentak sekaligus memukul kepala. Sungguh hobi yang sangat aneh dan menyebalkan.

"Gua ngantuk," ia menjawab sekenanya. Sambil menyelonjorkan diri di atas satu-satunya kursi plastik yang ada di dalam kamar. Dengan kaki dinaikkan ke atas meja.

"Ya udah, lo boleh tidur. Tapi sambil dengerin gue ngomong," sahut Anja dengan mulut penuh sedang mengunyah kacang atom.

"Mana bisa?!"

"Bisa lah!"

"Serah elo dah!" ia mengibaskan tangan tak peduli. Dan mulai memejamkan mata.

Aktivitas padat yang selalu dilakoninya di hari Sabtu ini, benar-benar menguras tenaga. Belum lagi jadwal tetapnya esok hari. Yaitu menjadi kurir inval di usaha jasa pengiriman milik saudara jauh Mamak.

Idealnya saat ini, ia sudah terlelap. Karena besok pagi hingga sore, ia akan berkendara keliling kota. Untuk mengantarkan puluhan paket ke alamat para penerima.

"Heh! Lo dengerin gue nggak?!" Suara bentakan Anja kembali mampir di telinganya. Ya ampun, masih ngoceh aja tuh cewek? Haish!

"Denger," jawabnya malas sambil terkantuk-kantuk. Setengah nyawanya bahkan sudah berada di alam mimpi.

"Jadi, menurut lo gue harus gimana?"

"Gimana apanya?"

"Yang itu tadi. Masa harus gue ulang lagi ceritanya?! Katanya tadi dengerin! Gimana sih?!"

Ia tak memedulikan omelan Anja dan tetap menikmati masa-masa jelang terlelapnya.

"Cakra!!"

"Hmmm ...."

"Lo tidur?!"

"Enggak ...."

"Jadi gimana cara efektif bikin cowok happy?"

Getaran suara yang tertangkap dengan baik oleh gendang telinganya, untuk kemudian diteruskan ke otak dengan kecepatan cahaya. Secara otomatis membuat keseluruhan tubuhnya terjaga, "Apa lo bilang?"

"Caranya bikin cowok happy?" ulang Anja dengan wajah polos tanpa dosa.

"Gue udah lakuin persis seperti yang tertulis di artikel. Say it loudly. Tapi kenyataannya malah zonk," mulut Anja mencibir sampai bisa dikuncir saking all outnya.

"Cowok nggak butuh omongan," sahutnya cepat sambil menguap. Dengan kepala yang terasa sedikit pening. Karena momen menuju lelapnya barusan terganggu.

"Terus, butuhnya apa dong kalau gitu?"

"Action. Bukti nyata," jawabnya yakin.

"Deklarasi perasaan bukannya bukti nyata kalau gue cinta sama dia?"

Ia mengibaskan tangan dengan malas sambil mencoba memejamkan mata lagi, "Lo nggak bakalan paham. Otak lo nggak nyampai kesana."

"Enak aja! Sialan!" sungut Anja. "Males banget deh ngomong sama lo. Nggak seru!"

Ia hanya mendesis sambil berusaha melelapkan diri. Tak memedulikan omelan Anja.

"Cakra!!"

"Hmmm ...."

"Lo udah tidur?"

"Belum ...."

"Bokis banget sih! Tuh buktinya udah ngorok!"

"Udah lo cerita aja, gua dengerin kok ... sambil tidur tapinya ...."

Ia tak tahu sudah berapa lama terlelap. Karena kini, kesadarannya mendadak berangsur pulih. Demi mendengar sayup-sayup suara orang yang sedang muntah-muntah di kejauhan.

"Hoeeek! Hoeeek! Hoeeek!!"

Namun lama kelamaan, suara orang muntah tersebut justru semakin jelas terdengar. Dan ketika akhirnya berhasil membuka mata yang terasa amat lengket, ia baru menyadari, jika yang sedang muntah-muntah di kamar mandi adalah Anja.

"Kenapa lo?!" tanyanya panik demi melihat Anja duduk menggelosor di lantai kamar mandi yang basah. Dengan tangan mungil yang berpegangan pada salah satu sisi kloset.

"Keracunan?!" ia menghampiri Anja untuk meletakkan punggung tangan di dahi sehalus pualam itu. Yang ternyata terasa sedingin es.

"Hoeeek! Hoeeek! Hoeeek!!"

Anja kembali muntah-muntah di atas kloset. Membuatnya mau tak mau membantu dengan memegangi ujung rambut Anja. Agar tak terkena muntahan.

"Hoeeek! Hoeeek! Hoeeek!!"

Kali ini ia berusaha menepuk-nepuk punggung Anja. Bermaksud untuk membantu melegakan. Namun punggung mungil itu justru bergerak tak nyaman. Untuk kemudian menjauh. Menjadi kode jika Anja tak ingin disentuh.

"Oke ... oke ...." Ia pun mengangkat kedua tangan. Untuk memberi tahu jika ia tak akan menyentuh Anja lagi.

Setelah sekitar lima menit memuntahkan seluruh isi perut, akhirnya Anja mulai membersihkan diri dan mencuci muka.

"Udahan?" tanyanya iba.

Demi melihat kaos oblong miliknya, yang kini sedang dikenakan Anja, telah basah kuyup di bagian dada. Karena terkena muntahan dan air saat membersihkan diri tadi. Dan berhasil memperlihatkan sesuatu, yang membuat jantungnya berdegup kian kencang.

Tidak benar.

Anja mengangguk. Untuk kemudian berdiri dan berjalan sempoyongan keluar dari kamar mandi. Menuju tempat tidur dan langsung meringkuk di atasnya.

Dengan gerak refleks, ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh Anja yang setengah menggigil kedinginan.

"Lo kenapa?" tanyanya benar-benar ingin tahu. Ia sama sekali tak membawa minyak kayu putih atau apapun. Yang sekiranya bisa membantu menghangatkan badan usai muntah-muntah seperti Anja barusan.

"Masuk angin?" tanyanya lagi karena Anja tak menjawab.

Bersamaan dengan anggukan kepala Anja. Kedua matanya menangkap dua kaleng minuman beralkohol yang teronggok di atas lantai kamar dalam keadaan kosong.

"Lo minum?!" tuduhnya tak percaya.

"Lo minum bir yang tadi dibeli?!" tanyanya lagi dengan kesal.

Anja kembali mengangguk.

"Haish!" ia mendesis sebal sambil meraih dua kaleng minuman beralkohol yang benar-benar telah kosong melompong tak bersisa.

"Lo habisin dua-duanya?!" selidiknya semakin kesal.

"Ya gue pikir kan jadi bisa tidur nyenyak," jawab Anja dengan suara serak. "Makanya gue habisin."

"Bo doh!" makinya dengan kekesalan memuncak.

"Awalnya enak banget kok," lanjut Anja kini dengan suara yang lebih parau. Yang entah mengapa membuat bulu kuduknya meremang. Sialan!

"Manis, rasa leci, bener kata Babah tadi," lanjut Anja sambil sedikit tertawa. "Tapi ada rasa panas sama pahitnya dikit. Kombinasi yang aneh nggak sih?"

"Air mineral lo mana? Lo harus minum banyak air putih," geramnya dengan matanya nyalang mencari-cari botol air mineral yang tadi dibeli oleh Anja.

"Tuh," tunjuk Anja ke sembarang tempat.

"Sial!" makinya semakin kesal. Demi menemukan botol air mineral yang telah kosong. "Lo habisin?!"

"Tahu," jawab Anja dengan suara malas.

"Lo tunggu di sini, gua beli air dulu ke bawah."

"Serahhh ...." Anja melambaikan sebelah tangan tanda tak peduli.

Dengan bersungut-sungut, ia melihat pergelangan tangan kanan, 02.37 AM.

Sialan! Jadi tadi ia hanya sempat terlelap selama satu jam lebih sedikit?! Sebentar banget. Pantesan sekarang kepalanya terasa pusing.

Cewek aneh ini benar-benar merepotkan! rutuknya kesal. Sambil berjalan keluar kamar. Kemudian mengunci pintunya. Karena tak ingin ada orang lain tiba-tiba masuk ke dalam kamar mereka.

Dengan setengah berlari, ia menaiki lift untuk turun ke lantai satu. Dan bernapas lega, karena resepsionis ternyata menyediakan minuman dingin meski dengan harga tiga kali lipat.

Biar lah, daripada ia harus berjalan kaki pagi buta ke warung kelontong yang semalam.

Ia akhirnya kembali naik ke lantai tiga sambil membawa dua botol air mineral. Dan terkejut karena begitu membuka pintu kamar, ia mendapati Anja sedang berusaha membuka kaos oblong yang dikenakannya.

"Lo mau ngapain?!" bentaknya kesal.

"Panas banget," sungut Anja. "Gerah, gue nggak kuat."

Sambil bersungut-sungut, ia pun mencoba mengecek AC melalui remote, yang ternyata memang benar mati. Sialan!

"Awas lo, jangan ngintip!" ancam Anja dengan suara parau. "Balik badan lo! Tutup mata!"

Ia yang masih berusaha mengutak-atik remote berharap AC bisa kembali menyala, hanya mendesis sebal.

Dan ketika ia yakin AC benar-benar mati, Anja telah melemparkan kaos oblong miliknya ke lantai kamar. Untuk kemudian dengan gerakan secepat kilat, langsung meringkuk di atas tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut.

"Minum dulu nih, sebelum tidur. Biar nanti pas bangun nggak terlalu pusing," ujarnya mendadak teringat air mineral yang baru saja dibeli.

Setelah membuka sealnya, ia pun mengangsurkan botol air mineral tersebut ke arah Anja. Yang kini sedang berusaha untuk duduk di atas tempat tidur.

Dengan sedikit kerepotan, Anja berhasil duduk. Dengan satu tangan memegang erat selimut untuk menutupi tubuh. Sementara tangan yang lain menerima botol air mineral darinya.

Sambil menunggu Anja meneguk air mineral, ia membuang pandangan ke arah lain. Sebab tak ingin terlalu terpaku, pada bahu seputih susu milik Anja, yang sedang terekspose bebas.

"Udah nih, makasih!" sungut Anja sambil menyerahkan botol air mineral yang tersisa setengahnya.

Ia pun buru-buru menerima botol tersebut dengan mata tertunduk. Agar tak harus melihat satu-satunya bahu paling indah yang pernah ada. Namun lagi-lagi gerakan cepat Anja meringkuk di atas tempat tidur. Berhasil membuat detak jantungnya berdegup semakin kencang tak karuan.

Sialan!

Untuk menetralisir perasaan aneh yang kini sedang menguasai seluruh tubuh dan pikirannya. Ia pun memutuskan untuk meminum habis air mineral sisa Anja tadi. Lumayan, bisa sedikit membuat pikirannya lurus kembali.

"Gue tidur dulu ya, ngantuk," suara parau Anja mengagetkannya.

"Ya," jawabnya dengan suara bergetar.

Tenang Cakra, tenang, tarik napas, hembuskan.

Ya, bagus.

'Lo udah pernah lihat cewek nggak pakai baju. Jadi, itu tadi bukan masalah besar," hati kecilnya berusaha menenangkan diri sendiri.

Namun usaha kerasnya untuk bersikap normal, ternyata tak didukung oleh keadaan. Karena kini, ia pun mulai merasa kepanasan seperti Anja.

Menginap di tempat murah benar-benar damaged! makinya penuh kekesalan. Karena ia terpaksa harus melepas kaos agar tak terlalu kepanasan.

Setelah melepas kaos, ia pun berniat untuk menyampirkan kaos miliknya dan juga yang dipakai Anja ke kursi plastik. Agar basah bekas keringat bisa sedikit kering.

Saat itulah, matanya tak sengaja melihat punggung Anja yang tak tertutup selimut. Karena posisi tidur yang sudah setengah terlelap.

Sungguh punggung yang sangat menarik.

Seolah memiliki magnet kuat, yang mampu menariknya untuk terus bergerak kian mendekat.

Sambil menelan ludah, ia memperhatikan punggung seputih susu yang seakan melambai-lambai ke arahnya.

Come to me baby, begitu yang terdengar di dalam kepalanya.

Ah, sial!

Berada di dalam kamar hotel yang sama dengan Anja jelas kesalahan besar. Ditambah pikiran kotornya yang meronta-ronta ingin direalisasikan. Sudah pasti, ia kini sedang berjalan menuju liang kuburnya sendiri.

"Cakra!" desis Anja dengan suara parau.

"Y-ya?!" ia tergeragap. Apa Anja belum tertidur? Perasaan tadi langsung terlelap begitu masuk ke dalam selimut. Tapi kenapa masih bisa memanggil namanya?

"Lo belom jawab ...."

"Jawab apa?" ia mengernyit sambil menelan saliva.

"Apa hal yang bisa bikin cowok happy?"

Oh, no!

Sudah bisa diduga, setan di dalam dirinya jauh lebih banyak. Dan kini sedang membimbingnya naik ke atas tempat tidur mendekati Anja.

"Lo pingin tahu apa yang bikin cowok happy?" tanyanya dengan suara serak.

Anja yang sudah setengah terlelap mengubah posisi tidur, hingga bisa melihat ke arahnya yang sedang mendekat.

Brengsek! Bahu seputih susu ini benar-benar menantang ego kelelakiannya.

"Pingin banget," jawab Anja sambil memicingkan mata melihat ke arahnya.

"Lo mau ngapain?" suara Anja mendadak awas. "Kenapa nggak pakai baju?"

"Lo bukannya pingin tahu apa yang bikin cowok happy?"

Anja mengangguk.

"Biar gua tunjukkin."

Anja menatapnya penuh rasa ingin tahu. Kedua kelopak mata bulat itu bahkan mengerjap dengan sempurna.

Sialan, dia cantik banget!

Perlahan namun pasti, ia mulai mendekatkan diri. Hingga jarak wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Kemudian tangannya terulur untuk mengelus pipi halus yang juga berwarna seputih susu itu.

"Survey membuktikan, seorang cewek nggak akan pernah bisa melupakan cowok yang melakukan ini terhadapnya," bisiknya serak sambil mengedipkan sebelah mata.

Terpopuler

Comments

LarasatiAtiqahGunawan

LarasatiAtiqahGunawan

kok tau ya? 😁

2024-10-08

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

nggak kan lupa trs ketagihan....nnti kl ngg dikasih alibinya ngg cinta.jd hrs menyerahkan kehormatan buat bukti cinta.hbs itu ditinggal in.cowo mh enak ngg ada bekas ny.lah cewe akibat ny jd hamidun.dsr cowok egois

2024-09-15

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

weissss.....hbs ini jln hdp mu lbh berat cak

2024-09-15

0

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!