14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan

Anja

"Kok bisa?" Cakra memandangnya dengan wajah pias.

"Kok bisa gimana?!" salaknya dengan nada penuh emosional. "Kan elo yang ngelakuinnya! Kenapa nanya ke gue?!"

"Lo pikir gue ngelakuin hal kayak gitu sama semua orang?!?!" emosinya kini bahkan semakin menjadi.

Mereka berdua sempat saling berdiam diri sejenak. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu Cakra kembali memandanginya dengan wajah yang semakin pias. Ia pun balas memasang wajah sengit.

Kemudian Cakra mulai memejamkan mata, menggelengkan kepala, lalu menghembuskan napas melalui mulut dengan sangat perlahan. Sialan, demi apa ia mengikuti gerak gerik si berandal ini.

"Terus gimana?" Cakra kembali memandangnya, kali ini dengan wajah bingung.

"Terus gimana apanya?! Kok nanya ke gue lagi sih?!" sekali waktu Cakra angkat bicara justru semakin membuat emosinya meledak.

"Maksud gua setelah ini gimana?" Cakra menatapnya semakin bingung.

"Ya tanggung jawab lah!!" bentaknya semakin marah. Ia tahu Cakra bodoh, tapi kenapa sekarang makin menjadi bodohnya?!

Cakra kembali menghembuskan napas perlahan, kemudian berdiri lalu mulai berjalan ke sisi lain gazebo, "Iya...iya, gua bakalan tanggung jawab. Sialan!"

"Sialan?!" ia semakin meradang. "Lo ngatain gue sialan?!?!"

"Bukan itu maksud gua," Cakra mengacak rambut dengan gerakan keras, dengan wajah yang sangat frustasi. "Itu gua barusan lagi ngomong sama diri sendiri bukan ke elo!"

Ia mendecih tak percaya, "Tapi lo barusan ngomong sialan di depan muka gue! Apa namanya kalau bukan ngatain gue?!"

"Iya..iya..sori..sori....gua lagi panik!" Cakra kembali berjalan mondar mandir dari satu sisi ke sisi lain gazebo.

Hingga beberapa menit kemudian mereka berdua kembali terdiam, tak ada yang bersuara. Namun Cakra terus saja berjalan dari satu sisi gazebo ke sisi lainnya sambil menggelengkan kepala dan meremas rambut keras-keras, dengan wajah yang semakin frustasi. Sementara ia hanya bisa mendongkol dalam hati demi memperhatikan gerak-gerik Cakra yang sama sekali tak efektif dan malah membuatnya semakin naik pitam.

"Lo bisa diam nggak sih?! Dari tadi mondar mandir mulu bikin gue pusing!" bentaknya kesal demi melihat Cakra hanya berjalan kesana kemari tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Gua panik asli," jawab Cakra sambil berkali-kali meremas rambutnya. "Gua nggak nyangka bakal begini jadinya."

"Apalagi gue!" salaknya cepat.

"Trus sekarang kita gimana?" Cakra kembali memandangnya bingung.

"Ya elo lah pikir! Kan elo cowoknya!" bentaknya semakin marah karena Cakra sama sekali tak terlihat meyakinkan dalam menghandle semua ini. Cakra yang biasanya penuh aura intimidasi nan percaya diri kini tiba-tiba berubah menjadi anak kecil yang sedang ketakutan karena terpergok mencuri.

Atau mungkinkah cowok berandal ini sedang berniat untuk menghindar dan lari dari tanggungjawab? Oh, ya, tentu, seharusnya ia sudah mengetahui semua kemungkinan ini sejak awal.

Namun sayangnya ia terlalu bodoh hingga mau mau saja berurusan dengan berandal seperti Cakra! Bahkan ia sendiri yang mencari masalahnya kemudian meningkat menjadi mencari mati. Kini ia tinggal memilih, akan masuk ke liang kubur dengan cara melompat atau turun secara perlahan. Mengerikan.

"Kok gua?!" Cakra mengkerut yang membuat emosinya semakin meledak. "Elo kan ceweknya. Elo yang hamil. Elo yang paling ngerti harus gimana. Kenapa jadi gua?!"

"Gue kan hamil gara-gara elo!!" jeritnya dengan level kemarahan tertinggi. "Lo pikirin dong habis ini mau gimana! Bukannya malah balik nanya sama nyalah-nyalahin gue!"

"Gua nggak nyalahin elo, Ja," Cakra kembali menghembuskan napas panjang. "Gua bingung, takut, kaget, nggak ngerti harus gimana?"

"Lo aja nggak ngerti harus gimana, apalagi gue?!?!" bentaknya putus asa sambil melempar tujuh buah test pack yang sempat dipakainya untuk mengetahui keadaan diri ke dada Cakra. Membuat Cakra gelagapan dan berusaha menangkapnya namun gagal.

Kini Cakra tengah membungkuk ke tanah untuk memunguti satu persatu test pack yang berserakan karena lemparannya barusan.

"Yang penting gue udah ngasih tahu elo! Ya udah kalau emang elo nggak mau tanggung jawab, gue juga nggak masalah," ucapnya cepat dengan suara bergetar karena marah dan kecewa.

Kemudian buru-buru berlalu meninggalkan Cakra yang masih membungkuk ke tanah guna mengambil test pack terakhir yang terlempar paling jauh, sementara tangan yang lain telah memegang seluruh test pack yang berhasil dikumpulkan terlebih dahulu.

Selamat tinggal, Cakra! batinnya nanar dengan air mata berderai.

***

Cakra

Ia memandangi benda yang barusan dipungutinya dari atas tanah dengan hati berdebar-debar, kecewa, marah pada diri sendiri, sekaligus malu entah pada siapa. Sementara punggung Anja terlihat semakin bergerak menjauh meninggalkan taman. Hingga kini hanya meninggalkan titik kecil.

Ia kembali memandangi benda-benda yang baru kali ini dilihatnya. Ada yang berbentuk panjang tipis berwarna putih dan biru, ada yang berbentuk sedikit lebih besar berwarna putih dan pink, ada yang berbentuk kotak warna putih. Namun kesemuanya menunjukkan hal yang sama, yaitu dua strip merah, tanda +, dan tulisan yes.

Dengan hati yang terus berdebar tak karuan ia buru-buru memasukkan semua benda tersebut ke dalam saku celana, kemudian dengan setengah berlari menuju Retrouvailles karena harus melanjutkan pekerjaannya.

Namun kembali berkerja setelah bertemu dengan seseorang yang akhir-akhir ini sering hadir dalam mimpinya untuk kemudian mendengarnya berkata lirih, "Gue hamil." Jelas bukan perkara mudah. Karena ia jadi sulit untuk berkonsentrasi. Beberapa kali ia memberikan hidangan pada pemesan yang salah, juga sering keliru saat mencatat order, bahkan menumpahkan minuman yang sudah dipesan.

Membuat Riany memintanya untuk bertukar tempat sementara dengan Malik di bagian dishwasher.

Malamnya ia pulang lebih larut, bersamaan dengan Riany yang mengunci pintu Retrouvailles. Dari cafe ia tak langsung pulang ke rumah. Namun mengarahkan motornya menuju kompleks perumahan tempat tinggal Anja. Menghentikan motor tepat di seberang rumah Anja. Lalu memperhatikan rumah megah berlantai dua itu dengan perasaan berkecamuk.

Kemudian ia mengambil benda-benda asing yang dilempar Anja ketika mereka sedang berada di taman tadi siang. Benda yang kesemuanya menunjukkan tanda dua strip merah, tanda +, dan tulisan yes yang kembali membuat hatinya berdebar-debar hingga memantik sejumput rasa kecewa, marah pada diri sendiri, sekaligus rasa takut dan malu yang kini bercampur menjadi satu menguasai keseluruhan dirinya.

Ia mencoba mengambil ponsel, sangat berharap Anja akan menghubunginya, namun ya tentu tidak. Mana mungkin Anja akan menghubunginya terlebih dahulu atau lebih tepatnya, mana mungkin Anja sudi menghubunginya lagi setelah apa yang mereka bicarakan tadi siang di taman. Terutama setelah Anja mengetahui respon pertamanya yang jelas jelas mencerminkan seorang pengecut.

Brengsek! Ia benar-benar pengecut. Memang pengecut. Dasar pengecut. Tak disangkal lagi.

Ia kembali memandangi rumah megah berlantai dua itu dengan perasaan campur aduk. Tiap sudut hatinya semakin didera oleh perasaan bersalah yang bahkan terus bertambah tiap detiknya. Menghimpit relung hatinya dengan penyesalan.

Sungguh ia tak pernah menyangka, rasa iba yang timbul sesaat setelah melihat Anja yang datang memasuki Retrouvailles dengan baju basah kuyup dan wajah coreng moreng tak karuan akibat hujan deras akan membawanya pada masalah sebesar dan sepelik ini.

Ia pun mencoba mengingat kembali kejadian malam itu di kamar hotel. Ia jelas bukan anak bawang yang tak berpengalaman. Ia pernah melakukannya sebelumnya. Beberapa kali. Agak sering. Tidak juga. Ya intinya ia adalah pemain lama, yang sangat memahami medan dan tentunya khatam dengan apa yang harus dilakukan ketika melakukan itu.

Berbeda dengan Anja yang memang baru pertama kali melakukannya. Namun kini harus ikut terkena getahnya.

Sungguh kasihan Anja.

Jadi, kenapa sekarang bisa sampai begini? Apakah ia telah melakukan kesalahan? Bukankah ia telah berkali-kali melakukannya dengan orang lain namun tetap aman?

Ia menggelengkan kepala sambil menghembuskan napas panjang demi mengingat kesalahan dan kebodohan pertama dan utamanya yaitu, tidak menggunakan pengaman.

Ya tentu saja, meski bukan anak bawang tapi ia juga bukan pro player yang selalu siap sedia menyimpan barang tersebut di dompet agar sewaktu-waktu ketika diperlukan telah tersedia. Ia hanya memiliki barang tersebut ketika sedang dibutuhkan. Dan di malam nahas itu ia jelas-jelas tak membutuhkan karena Anja jauh berada diluar areanya. And he did't crossed the border.

Tapi pada kenyataannya? Ia telah melanggar batas, lalu merusak, dan kini harus siap sedia menanti datangnya masalah yang sangat sangat besar, buah dari perbuatannya sendiri.

Ia kembali memandangi benda-benda aneh yang berwarna-warni itu ketika kepalanya justru mengingat bahu seputih susu yang membuat jiwa kelelakiannya bergejolak.

Ia pasti akan mati. Segera.

Tepat pukul 00.42, ia menepikan motor ke teras rumah. Begitu membuka helm, telinganya langsung menangkap sayup-sayup suara orang sedang mengaji. Suara Mamak. Dengan perlahan ia pun membuka handle pintu yang tak terkunci, kemudian memasukkan motor ke dalam rumah, barulah menutup pintu lalu menguncinya.

Ia melepas sepatu, menyimpannya di atas rak yang terletak di belakang pintu ruang tamu. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Mencuci tangan, kaki, dan muka. Namun ketika semua selesai, tiba-tiba ia berubah pikiran. Kakinya kembali melangkah menuju keran air, untuk kemudian mengambil air wudhu. Tak ada salahnya meski tadi sudah sholat Isya di Cafe, batinnya dalam hati.

Ia masuk ke dalam bilik berukuran 2 x 3 m yang disekat sedemikian rupa agar layak dianggap sebagai tempat untuk beribadah. Lalu menempatkan diri di atas sajadah yang berada tepat di depan Mamak yang masih membaca Al Qur'an.

Ia baru mengucapkan salam dan langsung tersungkur di atas sajadah ketika telinganya mendengar Mamak mengaji,

"Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alayhaa maaktasabat rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha/naa rabbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishran kamaa hamaltahu ‘alaalladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih wa’fu ‘annaa waghfir lanaa warhamnaa anta mawlaanaa fanshurnaa ‘alaal qawmilkaafiriin."

(QS Al-Baqarah : 286)

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.....," begitu Mamak membaca terjemahan ayat tersebut. Yang langsung terngiang-ngiang di telinganya.

Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Ia masih tersungkur di atas sajadah sampai Mamak selesai mengaji dan membaca terjemahan, tak lama kemudian bertanya dengan suara pelan, "Baru pulang? Masih ada kuah masam keu-eung (asam pedas) di meja. Makanlah dulu."

Namun kalimat Mamak justru membuat matanya tiba-tiba memanas. Tak sanggup untuk berkata apapun.

"Atau mau dihangatkan dulu?" kalimat Mamak selanjutnya membuat rasa panas di kedua matanya semakin menjadi. Ia hanya bisa terus menggeleng dengan kepala tetap tersungkur.

Selang beberapa saat suasana mendadak sunyi, hanya suara detik jam yang senantiasa terus bergerak terdengar dari arah ruang tamu. Juga dengkuran halus milik para keponakannya dari kamar sebelah.

Ia masih tersungkur dengan dada penuh sesak yang tak tertahankan ketika tiba-tiba terdengar ucapan Mamak yang memecah kesunyian, "Kau kenapa? Lagi dapat masalah?"

"Dalam hidup pasti selalu ada masalah. Itu tandanya kita masih hidup di dunia."

Ia harus menyusut hidung terlebih dahulu sebelum mendudukkan diri kemudian meraih tangan Mamak.

"Tapi, di setiap masalah itu juga pasti ada kebaikan, hanya kita yang tidak tahu."

Naluri Mamak selalu membuatnya tak berkutik. Sama seperti tiga tahun lalu. Ketika ia merasa dicurangi oleh orang lain dan itu membuatnya sakit hati, Mamak berkata, "Nggak apa-apa orang menganggap kita bukan siapa-siapa, yang penting kita tidak menggadaikan kejujuran."

Ia memberanikan diri untuk menatap mata Mamak yang telah diselimuti selaput putih, namun hanya bisa bertahan sebentar. Selepas itu langsung tertunduk malu, "Maaf Mak, aku telah membuat Mamak malu."

Mamak tersenyum, "Malu itu jangan pada manusia, tempatnya salah dan lupa."

"Sebentar lagi aibku bakal terbongkar," lanjutnya dengan suara lirih hampir tak terdengar.

Mamak menggenggam tangannya erat, "Aib terbongkar itu biasanya karena sudah dilakukan berkali-kali. Sudah tahu buruk tapi terus diulangi. Tak ada niat untuk menyudahi. Makanya oleh Allah dibongkar. Agar kita punya kesempatan untuk memperbaiki diri."

Iya, benar. Mamak benar sekali. Ia memang sudah sering melakukannya berkali-kali, namun dengan orang lain, bukan Anja.

Ia juga sebenarnya tahu itu adalah kesalahan yang sangat besar. Tapi gejolak jiwa muda mengalahkan segalanya, membuatnya terus melakukan hal terlarang tersebut.

Membuktikan dengan jelas jika dirinya benar-benar bodoh. Ringkih. Dan tak berdaya. Melawan nafsu sendiri saja tidak mampu.

Kemudian Mamak tersenyum menatapnya, "Kalau aibmu sudah terbongkar, perbaikilah. Bertanggung jawablah. Jangan menutupi aib dengan kesalahan lain yang lebih besar."

"Jangan mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Jangan merugikan orang lain apalagi menyakiti."

"Jangan, Gam. Sudah untung kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Jangan digunakan untuk melakukan keburukan."

"Cepatlah taubat minta ampun."

"Bertanggung jawablah atas perbuatanmu sendiri."

"Cepatlah minta maaf pada orang yang kau rugikan."

Ia langsung menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Mamak begitu mendengar kalimat yang terakhir, "Aku minta maaf Mak."

"Aku janji akan bertanggungjawab."

"Aku janji akan meminta maaf pada orang yang kurugikan."

"Aku janji nggak akan menutupi aib dengan kesalahan lain yang lebih besar."

Mamak tersenyum sambil membelai kepalanya, "Memang aib apa yang kau buat? Dan siapa orang yang dirugikan?"

Lidahnya mendadak kelu dan lehernya tercekat, "Nanti aku cerita kalau sudah siap Mak. Sekarang aku masih takut."

Mamak terus membelai kepalanya dengan lembut sambil bergumam pelan, "Ya Allah, lindungilah anakku dari ketetapan yang buruk. Bahagiakan hatinya. Lapangkan hatinya saat mengalami kesulitan. Beri jalan keluar dari setiap masalahnya."

Diam-diam ia merasa kain di pangkuan Mamak telah basah oleh air mata yang tak terbendung. Hatinya terasa semakin sesak bukan kepalang.

Ia benar-benar brengsek.

Durhaka.

Dan tak berguna.

Terpopuler

Comments

Mose Mose

Mose Mose

🥲🥲🥲🥲

2025-01-05

0

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

🤦‍♀️ padahal da baca ulang...tetep aja gregetan.

2024-12-12

2

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

udah pro ternyata... sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga.

2024-09-15

0

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!