2. Run All Night

Anja

"Lumayan," Cakra tertawa melihat ke arahnya.

Sebab, kini ia telah mengganti dress yang basah, dengan kaos oblong dan celana panjang pemberian Cakra.

Kebesaran? Pastinya. Tapi daripada kedinginan. Ia tentu tak punya pilihan lain bukan?

Dan tanpa seorang pun tahu, ia tak mengenakan apapun di dalamnya.

Hei, dengar dulu.

Ini lebih karena, baju dalam an nya basah kuyup hingga bisa diperas. Percuma saja ganti baju. Kalau masih memakai dalaman, yang seperti cucian baru diambil dari ember. Belum diperas langsung dipakai. Alias basah sebasah-basahnya.

Karena, Cakra sebenarnya tak sesolutif yang ia pikirkan. Terbukti, Cakra hanya menyediakan baju pengganti luar, tanpa dalaman. Well the hell done.

"Pakai jaket."

Ia masih sibuk mengencangkan sabuk di pinggang, agar celana yang kebesaran tak terlalu melorot. Ketika Cakra menyampirkan jaket warna navy ke atas bahunya.

Oke, jadi begini. Sebagai cewek mandiri, ia tentu bisa menolak permintaan Cakra untuk bla bla bla. Toh ia bisa langsung pergi dari Cafe, tanpa menghiraukan Cakra. Memesan Taxi Online untuk pulang ke rumah. Dan the end.

Tapi oh tapi, terkhusus malam ini. Ia sedang tak ingin menjadi cewek mandiri.

Ia sedang marah pada diri sendiri, juga seisi dunia.

Jadi, satu hal yang jelas sangat diinginkannya saat ini adalah : pergi kemanapun yang jauh sekalian. Asal bukan pulang ke rumah. Run all night.

Dan semua pemikiran ajaib teranehnya ini, menuntun dirinya untuk memakai jaket navy pemberian Cakra dengan benar, lalu mengancingnya.

Well, this is a very bad idea, but i like bad idea now.

"Masih gerimis," gumam Cakra sambil menengadahkan tangan ke atas. Membuat rintik hujan membasahi tangan lebar dan besar itu.

Hell, persetan dengan ukuran tangan berandal itu. Kenapa ia jadi sebodoh ini sih?

"Hujan-hujanan nggak apa-apa? Gua nggak bawa jas hujan soalnya."

Dengan gelisah ia menelan ludah. Sembari mencengkeram erat kantong kresek, yang berisi dress basah dan baju dalamnya. Lalu dengan leher tercekik berkata, "Gue nggak pulang."

"Hah?"

Ya ya ya, ia sudah tahu pasti. Cakra bukanlah golongan cowok cerdas yang auranya dipenuhi oleh energi positif seperti Dipa.

Oh, no Dipa again.

Tapi ia tak menyangka, kalau selain bo doh, Cakra juga kurang pendengaran.

"Gue nggak pulang! Antar ke mana pun. Asal bukan ke rumah!" ulangnya setengah membentak.

Namun Cakra justru tertawa. "Udah hampir jam sebelas malam lho ini."

"Tahu!"

"Ck!" Cakra mendecak. "Lo kalau patah hati, jangan kayak anak kecil begini dong."

"Siapa patah hati?!?" semburnya marah.

"Elo lah! Siapa lagi?!" Cakra tertawa sumbang.

Saat itu juga, ia ingin memaki sambil memukuli Cakra. Yang mulutnya tak memiliki filter apalagi empati. Namun pada kenyataannya, ia hanya bisa melotot marah.

"Ya udah, kalau lo nggak mau ngantar! Gue bisa pergi sendiri!" ujarnya sengit. Lalu melangkah lebar-lebar. Menembus rintik sisa hujan.

Tuh kan, benar perkiraannya. Kalau Cakra itu sejenis makhluk yang less emphaty.

Masa, sampai ia berjalan sejauh ini, Cakra tak menghiraukannya sama sekali.

Tak perlu muluk-muluk Cakra akan menyejajari langkah. Lalu membujuknya agar berubah pikiran. Seperti adegan yang wajib ada di film-film roman.

Minimal memanggil namanya untuk sekedar mencegah. Tapi ini tidak. Sama sekali. Dasar!

Tadi, ia sebenarnya sedikit penasaran akan reaksi Cakra. Begitu mengetahui dirinya nekat pergi.

Namun, ia tentu tak mau terjebak. Dalam permainan cowok, tentang hitung 1, 2, 3 then si cewek nengok. Karena berharap si cowok peka, lalu menyusul. Seperti yang dibicarakan oleh Koh Limbong dan Rangga, dalam salah satu adegan film AADC. Saat Rangga dan Cinta berada di Kwitang.

Tapi, kesombongannya justru berbuah sial. Karena kini, ia tak tahu sedang berjalan ke arah mana.

Apakah semakin mendekat ke rumahnya, atau justru menjauh. Hih! Mana jalanan lumayan gelap dan sepi lagi. Melewati deretan toko, warung, dan ruko yang sebagian besar telah tutup.

Haduh, kesialan macam apa lagi ini!

Ia pun terpaksa mengambil ponsel. Untuk mengecek location demi mengetahui posisi di mana ia berada.

Saat itulah, tanpa sadar, saking seriusnya mata melihat ke arah layar ponsel. Karena sinyal yang timbul tenggelam. Membuat proses pencarian location membutuhkan waktu yang lebih lama. Kakinya mulai melewati jalanan yang lebih terang dengan keramaian.

Rupanya, ia tengah melewati warung kopi yang cukup ramai. Oh, salah, sangat ramai malah. Karena motor para pengunjung sampai parkir memenuhi sisi bahu jalan.

Menghabiskan area untuk para pejalan kaki. Membuatnya terpaksa harus berjalan agak ke tengah agar bisa lewat. Untuk kemudian memilih menyeberangi jalan karena tak ingin menarik perhatian.

Namun pergerakannya sedikit terlambat. Karena kini, semua orang yang tengah duduk di bagian depan warung kopi, telah menyadari kehadirannya.

"Eh, Neng cantik mau ke mana?"

"Sendirian aja, Neng?"

"Suit! Suit!"

"Cetak! Cetak!"

"Abang antar ya, Neng?"

"Kok hujan-hujanan, Neng? Sini biar Abang antar."

Ia berusaha memasang wajah sedatar dan setakpeduli mungkin. Saat berjalan melewati puluhan cowok usia tanggung, yang sedang duduk bergerombol di bagian depan warung kopi sambil merokok.

Sembari salah satu tangannya memegang erat-erat kantong kresek, berisi baju basah miliknya. Sementara tangan yang lain, mencengkeram jaket navy dengan sedikit gemetar. Demi menyadari ia tak mengenakan apapun di dalamnya.

Saat ia sedang berusaha memacu langkah secepat mungkin, dua orang cowok berpenampilan paling menarik di antara mereka, tiba-tiba berdiri dan menghalangi jalannya.

"Eit! Eit! Mau kemana? Mampir sini dulu lah!"

"Kuantar ya, cantik? Rumahnya di mana?"

Dengan menahan kesal, ia masih tetap menutup mulut. Sambil berusaha meloloskan diri dari hadangan dua cowok tersebut.

Namun tanpa diduga, salah satu dari mereka mencekal tangannya. Membuat mulutnya hampir meneriakkan kalimat penuh kekesalan. Namun urung. Sebab, telinganya lebih dulu mendengar suara yang sepertinya tak asing.

"Ya ampun, kamu udah sampai sini, sayang?"

Dengan dada penuh amarah, ia menengok ke arah suara. Tepat di mana Cakra tiba-tiba telah berada di sana. Sedang duduk menaiki motor, yang menurutnya sangat butut.

"Eh, Cak, cewek lu?" tanya salah seorang dari puluhan cowok yang ada di sana.

Sementara, begitu melihat kemunculan Cakra. Cowok yang mencekal tangannya buru-buru melepaskan dengan gerakan tergesa. Untuk kemudian berjalan menjauh. Memasang tampang seolah tak pernah terjadi apapun.

"Iyalah. Baru tahu?" ujar Cakra sambil menyeringai.

Enak aja cewek lu pala lu peang! makinya dalam hati.

"Lu bukannya lagi jalan sama si Michelle?"

"Bukan. Udah ganti, sekarang sama Tania kan?"

"Kok Tania sih? Tania bukan ceweknya si Emon!"

"Yah, elu sih Cak, main cewek udah kayak ganti baju aja!"

Diikuti tawa serempak dari semua orang yang berada di sana. Kecuali dirinya tentu saja. Tawa paling menjijikkan yang baru kali ini didengarnya.

"Pulang yuk, Yang," ujar Cakra sambil memasang senyum manis ke arahnya. Cuih!

"Ngapa Cak, cewek mulus begini lu biarin keluyuran sendiri malem-malem?!"

"Diembat wewe gombel tahu rasa lu!"

"Wewe gombel yang pakai motor Ninja!"

"HAHAHAHAHAHA!!!!"

"Biasa lah, cewek kalau lagi ngambek kan begini," jawab Cakra tenang. Seolah mereka berdua benar-benar pasangan yang sedang bertengkar.

"Yuk pulang yuk," kali ini Cakra turun dari motor hanya untuk meraih tangannya.

"Lepas!" bentaknya sengit. Begitu Cakra menyentuh tangannya. "Gue bisa jalan sendiri!"

"Adoooohhh! Ngambek beneran bini lu Cak!"

"HAHAHAHA!!!"

"Mam pus lu Cak!"

APA? BINI?!?! Go to the hell!

Cakra hanya tersenyum miring. Seraya kembali berusaha meraih tangannya. Dan mengisyaratkan dengan kedua mata agar ia tak berulah lagi.

"Pulang," begitu isyarat dari bibir Cakra yang tak mengeluarkan suara.

Karena ia tak mau lebih lama berada di antara cowok-cowok paling gaje di depan warung kopi ini. Ia akhirnya -dengan terpaksa- bersedia menuruti perintah Cakra. Dengan mendudukkan diri di boncengan motor.

"Pakai helm dulu," ujar Cakra sembari mengangsurkan sebuah helm ke arahnya. Yang ia terima dengan gerakan kasar.

"Duluan bro!" begitu kata Cakra. Setelah memastikan ia memakai helm dengan benar. Untuk kemudian menstater motor.

"Yo ati-ati!"

"Pulang kemana nih?!"

"Malam masih panjang meeeen ...."

"Enjoy enjoy dulu laaaah ...."

"Mampir dulu Cak, puas-puasin!"

"HAHAHAHAHAHA!!"

Kalimat paling menjijikkan yang baru kali ini ia dengar, membuatnya memukul punggung Cakra sambil membentak, "Buruan jalan!"

Sekitar beberapa menit kemudian, ia baru sadar. Jika Cakra mengendarai motor hanya berputar-putar di daerah Mall Taman Anggrek dan sekitarnya. Tanpa tujuan berarti.

"Lo dari tadi kok muter-muter sih?!" sungutnya kesal.

"Tadi lo bilang mau pergi ke mana aja asal bukan pulang ke rumah."

"Ya tapi nggak muter-muter kayak gini. Pusing tahu!"

"Gua milih muter di sini karena jalannya enak, ramai, lampunya banyak. Kalau ke daerah sono noh," sambil tangan Cakra menunjuk ke sebelah barat dan utara.

"Gelap, sepi."

"Banyak yang lagi balap liar."

"Belum lagi yang pada nongkrong."

"Ntar salah-salah, kita kena ciduk polisi dikira anggota geng motor."

Ia hanya mendecih berlagak tak peduli. "Ya udah terserah elo!"

"Tapi ngomong-ngomong, gua cape nih. Belum tidur seharian," lanjut Cakra setengah berteriak di antara deru suara mesin motor.

"Besok ada kerjaan pagi lagi."

"Dih!" ia mendesis sebal. "Trus mau lo apa?!?!" nada suaranya masih saja menghentak-hentak. Bicara dengan cowok paling berandal di sekolah, memang harus begini. Tegas. Nggak boleh menye-menye.

"Gua antar pulang ya."

"Ogah!"

"Jangan keras kepala! Pasti orangtua lo lagi kelimpungan nyariin elo."

"Bukan urusan lo!" rutuknya kesal walau keseluruhan dirinya membenarkan ucapan Cakra. Papa dan Mama mungkin sekarang sedang menelepon Hanum, Bening, atau bahkan bertanya langsung pada Dipa.

Ah, Dipa. Mengingat nama itu lagi membuat hatinya kembali mengharu biru.

"Kalau lo nggak mau pulang ke rumah, biar gua antar ke rumah teman, gimana? Siapa aja teman lo?"

"Mikir dong!" ia kembali membentak. "Ini udah jam berapa. Masa mau bertamu ke rumah orang! Yang ada langsung diusir!"

"Terus ke mana?"

Namun ia tak langsung menjawab. Selain karena tak memiliki ide dan bingung hendak pergi ke mana. Ia juga kesal setengah mati. Karena ternyata mereka, ia dan Cakra, bisa bercakap-cakap dengan normal seperti layaknya orang pada umumnya.

Padahal selama hampir tiga tahun bersekolah di tempat yang sama, mereka tak pernah saling menyapa. Cukup sekedar tahu sama satu. Ya, ia tahu siapa Cakra. Dan Cakra juga pasti tahu siapa dirinya. Namun cukup sebatas itu, titik.

"Kok berhenti?!" salaknya ketika Cakra menghentikan motor di pinggir trotoar yang terdapat lampu jalan.

"Lo putusin sekarang, mau ke mana? Gua udah nggak sanggup keliling lagi. Cape."

Ia mendecak campur mengkerut. Untuk kemudian mengatakan hal paling mengerikan yang pernah ada yaitu, "Rumah lo aja deh."

"Hah?" Cakra terbelalak. Namun sedetik kemudian langsung terbahak.

"Lo ngetawain gue?!" salaknya semakin sebal. Yaiyalah Anja, lagian elo be go atau gila sih mau pulang ke rumah cowok berandal macam Cakra. Mikirrrr!!!

"Bisa digorok Mamak gua kalau bawa lo ke rumah tengah malam begini," desis Cakra sambil terus tergelak.

Membuat pipinya menghangat karena mengira itu adalah pujian.

"Penampilan lo sekarang udah mirip kayak cabe-cabean abis kecebur got. Ancur parah. Ntar Mak gua bisa jantungan lihat selera cewek gua menurun dras....ADOW!! Lo kok mukul kepala gua sih?!?!" Cakra melotot marah.

"Harusnya lebih dari dipukul!" geramnya tak kalah marah. "Nih!" ia kembali memukul kepala Cakra yang masih terlindung helm. "Masih mo lagi?!?"

"Haish!" dengan gerakan cepat Cakra menahan tangannya agar tak lagi memukuli kepala.

"Pusing woy! Gua masih pakai helm!"

"Lepas dulu kalau gitu!"

Cakra hanya mendengus kesal. Sementara ia langsung melepaskan diri dari cengkeraman tangan Cakra yang terasa cukup menyakitkan.

"Kasar banget sih jadi orang!" ia menggeram marah. Sembari memegangi pergelangan tangannya, yang kini terdapat bekas lingkaran berwarna merah. Akibat dari cengkeraman erat Cakra barusan.

"Woy! Nggak kebalik tuh!" Cakra mendesis sebal sambil melepas helm. Untuk kemudian mengibas-ngibaskan rambut yang setengah gondrong itu.

"Gua bisa aja sih ninggalin lo di sini," gumam Cakra sambil menyisir rambut menggunakan jari.

"Trus kenapa sekarang lo masih di sini?!" semburnya galak. "Lo pergi aja sono! Gue nggak peduli!"

Cakra mengembuskan napas dengan kasar dan cepat. Lalu berkata, "Atau lo pulang ke rumah saudara gimana? Om, tante, kakek, nenek? Ntar bilang aja kemalaman di jalan. Terus diantar sama Ojol. Beres."

"Emang lo mau nganter ke rumah Om gue?" cibirnya tak percaya.

"Gas lah. Di mana?" dengan cepat Cakra memakai helm kembali dan bersiap menstater motor.

"Rumahnya di Dago," jawabnya sambil mencibir penuh kemenangan.

"Bandung?!?" Cakra melotot.

"Atau mau yang lebih dekat juga ada," lanjutnya lagi sambil terus mencibir.

"Di mana?"

"Sentul."

"Eh, Maemunah!" maki Cakra sambil melepas helm yang baru saja dipakai dengan kesal. "Lo main-mainin gua?!?"

"Tadi bukannya lo nanya rumah Om sama Tante gue?" salaknya balas bertanya.

"Ya tapi bukan di Bandung sama Sentul Oneng!" Cakra memandangnya sebal. "Yang di Jakarta. Ja kar ta!"

Ia tertawa sumbang. Tawa pertamanya malam ini. Meski bukan tawa sungguhan. Lebih ke tawa kesedihan malah.

Aneh ya, sedih tapi masih bisa tertawa. Pasti sekarang emosinya sedang tidak stabil, hatinya terguncang, dan perasaannya terluka hingga bisa semaniak ini.

Beberapa menit kemudian, mereka sama-sama saling berdiam diri. Cakra menekuri layar ponsel dengan wajah mengantuk. Sementara ia lebih memilih untuk memperhatikan sekeliling.

Saat ini mereka tengah berdiri di kawasan yang lumayan padat. Terdiri dari deretan toko, warung, yang kesemuanya sudah tutup. Juga ada satu dua rumah tinggal. Dan ... hotel.

Hotel? Mendadak kepalanya dihiasi lampu pijar buatan Thomas Alva Edison karena mendapat ide cemerlang.

"Sekarang jam berapa?!" tanyanya ketus. Ia sedang tak memakai jam tangan dan malas untuk mengambil ponsel. Yang telah berulangkali dimatidayakan lalu dinyalakan lagi sejak berada di cafe sampai ia berjalan kaki tadi. Dan kini tersimpan rapi di dalam sling bag yang juga basah.

"Setengah satu," jawab Cakra dengan nada malas.

"Antar gue ke hotel."

Terpopuler

Comments

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

tjecardah

2024-09-15

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

cewe terong kecebur comberan....pdhl aslinya mulus seputih susu

2024-09-15

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

kl bestie ngg mungkin diusir nenk

2024-09-15

0

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!