Cakra
Ia berdiri di baris paling belakang bersama deretan anak cowok lainnya. Namun masih bisa melihat dengan jelas wajah pucat Anja yang kini setengah berbaring dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Di tangan kirinya menempel selang yang tersambung dengan cairan infus.
"Wah, terima kasih banyak ya, udah ditengokin Anjanya," ujar seorang wanita yang penampilannya terlalu tua untuk disebut sebagai Mamanya Anja.
"Sakit apa Tante?" Yasser sebagai juru bicara mereka angkat bicara.
"Maaf kemarin Anja sempat kami ajak ikut bikin film. Khawatir jadi pemicu sakit," lanjut Yasser lagi.
"Oh, nggak papa," wanita yang sejak awal memperkenalkan diri sebagai Mamanya Anja itu tersenyum ramah sambil mengibaskan tangan.
"Malah senang diajak kegiatan positif begitu. Daripada di rumah terus main sama kucing," lanjut Mama Anja sambil terkekeh.
"Awalnya dehidrasi. Emang anaknya susah banget disuruh minum air putih. Mana lagi cuaca ekstrem begini kan?" Mama Anja menggelengkan kepala, mungkin mengingat kekeras kepalaan putrinya.
"Tapi karena semalam muntah terus nggak berhenti-berhenti, jadi tadi pagi cek widal. Ternyata positif. Bukan anak kost tapi sakitnya typus," sambung Mama Anja lagi sambil tertawa.
"Bukan DB kan ya Tante?" kali ini Priska yang bertanya. "Soalnya lagi musim DB juga. Kemarin kita sempat syuting di tempat yang rimbun-rimbun gitu deh."
"Oh, bukan....udah di cek, bukan DB. Ini sih positif typus. Suka jajan sembarangan pasti nih ya," seloroh Mama Anja sambil menyentil ujung hidung putrinya yang memasang wajah manyun. Membuatnya tersenyum dan menebak betapa hangatnya hubungan keluarga mereka.
Setelah berbasa-basi dan saling melempar candaan seperlunya, mereka semua pamit undur diri. Ia masih mengantri di urutan terakhir untuk berpamitan ketika pintu ruangan tempat Anja dirawat mendadak terbuka, disusul dengan kemunculan Dipa sambil membawa seikat bunga mawar pink yang sangat cantik.
Beberapa anak sempat melempar candaan kearah Dipa yang hanya dibalas dengan senyum simpul. Masih ada tiga orang di depannya ketika Dipa menyerahkan seikat mawar pink tersebut kearah Anja yang tersenyum bahagia menerimanya. Kemudian mendudukkan diri di atas tempat tidur tepat di samping Anja.
"Cepat sembuh, Ja," ucapnya kaku yang dibalas Anja dengan anggukan kecil tanpa sedikitpun melihat kearahnya.
"Mari Tante," angguknya sambil tersenyum menyapa Mama Anja ketika sudut matanya menangkap dalam gerakan slow motion ketika tangan Dipa mengusap halus tangan kiri Anja sambil mereka berdua saling melempar senyum.
"Wah, ini teman baru Anja ya?" diluar dugaan, Mama Anja menghentikan langkahnya.
"Kok Tante baru lihat. Iya Ja?" pertanyaan Mama Anja tak dihiraukan karena Anja sedang asyik ngobrol sambil tertawa-tawa dengan Dipa.
"Satu sekolah sama Anja?" Mama Anja kembali bertanya kearahnya karena Anja masih tertawa-tawa dengan Dipa.
"Iya Tante," ia tersenyum mengangguk.
"Makasih ya udah nengokin Anja," Mama Anja menepuk bahunya sambil tersenyum.
Ia balas tersenyum sambil ikut mengangguk. Mungkinkah Mama Anja tetap bersikap seramah ini jika mengetahui apa yang telah ia lakukan terhadap Anja?
***
Anja
Hanya karena ia pingsan di lokasi dan terlihat sakit, mereka langsung menggantikan posisinya dengan Tiara?! Yang benar saja. Ini bahkan lebih buruk dari mimpi paling buruk sekalipun. Menyebalkan. Menjengkelkan. Apalagi sebutan yang pantas?
Ia berusaha meminta dispensasi dari Yasser, masih bersikeras untuk melanjutkan syuting esok hari dan menolak diganti. Karena ia hanya dehidrasi. Nanti setelah mendapat asupan cairan infus, pasti sehat kembali seperti semula. Dan bisa melanjutkan syuting.
Namun begitu labu ketiga habis dan ia senang karena sebentar lagi diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah, tubuhnya justru memberontak dan tak bisa diajak bekerja sama. Semalaman ia muntah-muntah. Sampai keluar cairan kuning pahit yang artinya sudah tak ada lagi isi perut yang bisa dikeluarkan namun hasrat ingin muntah masih ada. Membuat kepalanya kembali pening. Mendefinisikan dengan jelas jika ia tak mungkin melanjutkan syuting.
Ah, kenapa kebahagiaan yang sudah ada di depan mata mendadak menghilang tanpa bekas. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah ia diganti, dan penggantinya adalah Tiara pula. Ini kenapa anak-anak Cinema bisa punya second plan begini sih? Benar-benar memanfaatkan keadaan yang sedang hits.
Ogah rugi banget deh anak-anak Cinema. Mentang-mentang gossip mereka bertiga, ia-Dipa-Tiara, masih hangat suam-suam kuku, langsung saja dimanfaatkan untuk publisitas. Padahal kan masih banyak kandidat lain yang lebih bagus dibanding Tiara.
Pokoknya kesel, kesel, kesel.
Dan yang membuatnya bertambah kesal adalah melihat wajah Cakra diantara anak-anak yang menjenguknya di rumah sakit. Ya ampun, kondisi ini benar-benar memperburuk suasana hatinya. Rasanya ingin marah-marah sambil menunjuk hidung Cakra dan berteriak, "Pergi jauh-jauh dari hidupku!"
Untung tak lama kemudian Dipa nya datang sambil membawa seikat bunga mawar kesukaannya. Minimal bisa membuat hati sedikit terobati dengan kehadiran dan senyum manis Dipa.
Ia dirawat selama empat hari di rumah sakit. Tentu tak boleh berlama-lama karena hari Senin besok sudah harus mengikuti PAS. Harus mempersiapkannya dengan cara belajar semaksimal mungkin, agar cita-cita lolos SNMPTN di FKG Kampus Jakun bisa tercapai.
Namun ia merasakan sedikit kendala, karena meski sudah dinyatakan pulih secara medis dan semua fungsi tubuhnya telah berfungsi normal kembali, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Akhir-akhir ini ia menjadi cepat lelah dan sering mengantuk. Membaca satu halaman buku saja bisa membuatnya langsung tertidur. Atau berjalan kaki dari pintu gerbang sekolah menuju kelasnya langsung membuat keringat dingin bercucuran. Ditambah rasa pahit di mulut dan mual yang sering menyerang terutama di pagi hari. Membuatnya malas sarapan, enggan makan, dan tak bisa belajar dengan efektif.
"Lo kenapa Ja, pucat banget?" tanya Hanum di hari terakhir PAS sambil meletakkan punggung tangan ke dahinya. "Dingin banget kayak es."
"Lo sakit?" Bening ikut-ikutan meletakkan punggung tangan ke dahinya, yang langsung membuatnya menjauhkan diri.
"Apa sih?!" sungutnya kesal. "Awas...awas ah, gue mau ke kantin!"
Ia yang awalnya sudah membayangkan alangkah sedapnya menikmati mie baso favorit dan jus alpukat, kini justru hanya mengaduk-aduk mie baso di mangkok tanpa ada keinginan untuk memakannya.
"Kok malah melamun sih, Ja?" Hanum memandangnya bingung. "Tadi katanya lapar. Sekarang cuma diaduk-aduk doang."
"Nggak tahu nih gue tiba-tiba jadi males makan," sungutnya sambil menyesap jus Alpukat yang rasanya mendadak berubah menjadi pahit.
"Typus lo belom sembuh benar kali Ja," selidik Bening. "Coba cek lab lagi."
Ia hanya mengendikkan bahu malas. "Masuk angin aja kali. Kemarin sempat kehujanan bentar," jawabnya asal.
"Jangan sampai sakit lagi loh," rengek Hanum. "Kita kan mau nonton Championship Series."
"Iya Ja, kapan lagi," sambung Bening antusias. "Pokoknya kita bertiga mesti seru-seruan nonton sampai grand final. Tahun depan kita udah kuliah, nggak bisa asyik-asyik kayak gini lagi."
"Yakali segampang itu. Lawannya keren-keren bo," Hanum mengingatkan.
"Ya minimal sampai fantastic four lah gue yakin PB bisa," Bening mengepalkan tangan yakin.
Namun nafsu makannya mendadak muncul kembali di sore hari sepulang dari bimbel. Kepalanya tiba-tiba membayangkan betapa enaknya makan Kwetiaw Spesial Mabes yang gurih dengan wangi bawang. Ia pun order melalui Ojol. Dan langsung melahapnya dengan semangat empat lima.
"Wah, jajan apa, sayang?" sapa Mama yang baru pulang dari pabrik.
"Wangi banget," Papa mengendus kearahnya.
"Kwetiaw," jawabnya dengan mulut penuh. "Buat Mama sama Papa ada tuh aku beliin," tunjuknya kearah pantry.
"Biii, tolong ambilin kwetiaw punya Mama sama Papa," ia memanggil Bi Enok agar membantunya, karena sekarang ia tengah sibuk mengunyah kwetiaw.
Esok paginya Mama dan Papa mengajak jalan ke Bandung untuk menengok kebun bunga dan sayur milik keluarga, namun ia menolak dengan alasan, "Mau nyantai di rumah ah. Soalnya hari Minggu mau nonton Championship Series."
"Tapi Mama sama Papa baru pulang Senin ya," Mama mengingatkan. "Soalnya sekalian Papa mau nengok lahan di Pengalengan."
"Bereeees," ia mengacungkan jempol sambil mengangguk. Ia memang sering ditinggal sendirian di rumah, hanya bertiga dengan Bi Enok dan suaminya, Mang Jaja. Beginilah nasib anak bungsu yang terpaut usia cukup jauh dengan kakak-kakaknya yang telah berkeluarga.
Papa, meskipun telah pensiun tiga tahun yang lalu, namun masih dalam suasana post power syndrome. Belum terbiasa berdiam diri di rumah. Inginnya melakukan banyak aktivitas di luar, sama seperti saat masih aktif berdinas.
Mama yang memiliki usaha restoran lengkap dengan pabrik pengolahan makanannya masih sering mengontrol para pegawai. Jadilah ia anak bungsu yang seperti anak tunggal. Karena lebih sering sendirian di rumah.
Sepeninggal Mama Papa ke Bandung, ia hanya santai-santai sambil sesekali membaca buku atau bermain-main dengan Candy, kucing cantik berbulu putih bersih seperti salju pemberian dari Dipa. Namun seharian itu pula kerjaannya adalah mengorder makanan via Ojol.
"Ya ampun Eneng Anja, ini mau pesta apa gimana?" Bi Enok sampai menggeleng-gelengkan kepala demi melihat banyaknya makanan yang dipesan.
"Ayo, Bi, kita makan bareng yuk. Mumpung lagi enak makan nih," ajaknya semangat.
"Neng Anja lagi mamayu ya," Bi Enok hanya tersenyum. "Kalau habis sembuh dari sakit emang pinginnya makan terus."
Ia tertawa.
Namun keriaannya di siang hari tiba-tiba berubah jelang sore. Padahal ia sudah janjian berdua Hanum jalan ke Mall iseng-iseng wasting time biar nggak boring di rumah.
"Sorry, Han, gue mager banget sumpah," ia pun terpaksa membatalkan rencana pergi ke Mall.
"Yah, gimana sih. Gue sendirian dong?"
"Lo coba ajak anak yang lain deh, siapa kek. Ajak Faza coba, siapa tahu malah nyantol."
Meski sudah leyeh-leyeh dan tak melakukan apapun, ia malah tambah merasa tak enak badan dan sedikit meriang. Ini tentu sangat aneh, karena sesiangan tadi segar bugar. Akhirnya malam minggu ia lalui hanya dengan meringkuk di atas sofa sambil streaming film yang telah masuk dalam wishlistnya.
Minggu pagi badannya mulai terasa nyaman, tak lagi meriang. Ia bahkan sempat pergi ke rumah Dipa untuk memberi support pada forever crush nya itu yang akan bertanding di laga perdana Championship Series nanti sore.
"Semangattt!" ia mengepalkan tangan kanan. "Lo pasti bisa!" sambil memeluk Dipa erat-erat.
Kemudian ikut membantu Bunda Dipa memasak bubur Manado. Dilanjutkan ngobrol ngalor ngidul sampai siang hari.
Namun jelang sore ia mendadak dilanda mager berat. Rasanya malaaaas untuk bangun tidur. Inginnya leyeh-leyeh sambil malas-malasan di atas sofa.
"Lo gimana sih?! Katanya mau nonton?!" pekik Bening di telepon.
"Semalam juga tiba-tiba cancel," gerutu Hanum yang berada di samping Bening.
"Alasannya sama lagi, mager, aneh banget," sungut Hanum yang suaranya terdengar kesal setengah mati.
"Ya udah, tiket punya gue lo jual aja," ia mencoba memberi solusi karena memang malas menonton.
"Ih, lo mendadak aneh banget sih?!" gerutu Bening yang langsung menutup telepon kesal.
Anehnya, tak sampai satu jam setelah ia membatalkan rencana nonton laga perdana Championship Series yang telah digadangkan jauh-jauh hari, badannya mendadak terasa fit kembali. Dengan kepala yang tiba-tiba dipenuhi keinginan untuk memakan sesuatu.
Membayangkan menikmati lezatnya Chocolate Almond Cinnamon yang dijual di sebuah Mall lama yang terletak tak jauh dari rumah. Sambil duduk di cafe nya, memperhatikan satu dua orang yang lewat karena memang Mall tersebut semakin sepi pengunjung akhir-akhir ini.
Dan entah kerasukan apa, tiba-tiba ia nekat untuk membawa mobil sendiri menuju Mall tujuan. Padahal mobil yang terletak tepat di depan pintu keluar adalah mobil jenis manual sejuta umat yang sering dipakai sebagai mobil operasional manajer restoran. Yang tak pernah disentuhnya.
"Ari eneng boleh bawa mobil?" selidik Mang Jaja curiga. Ia memang sudah memiliki SIM, namun masih jarang membawa kendaraan sendiri karena cara menyetir yang masih amatir.
"Boleh lah," sungutnya mulai menyalakan mesin. Kepalanya sudah dipenuhi oleh bayangan chocolate almond cinnamon yang lezat.
"Nggak ijin dulu sama Bapak?" Mang Jaja masih belum puas dengan jawaban yang dilontarkannya.
"Neng, naik Taxi online aja neng kalau mau pergi," saran Bi Enok sambil mengkerut. "Udah mau malam hariwang (khawatir)."
Tapi ia sudah keburu melesat pergi. Tak mengindahkan kekhawatiran Mang Jaja dan Bi Enok. Pikirnya ah, cuma dekat ini. Lagian di Mall tersebut ada fasilitas valet, membuatnya tak harus pusing-pusing untuk memarkirkan sendiri.
Namun kenyataan sering tak seindah harapan. Ia yang tak terbiasa membawa mobil berjenis manual harus kerepotan mengatur timing antara masuk gigi, lepas kopling, dan injak gas. Beberapa kali suara mesinnya menggerung keras usai berhenti di lampu merah untuk kemudian melaju lagi. Menyebalkan! gerutunya kesal. Mungkin tadi harusnya naik Taxi online saja agar tak kerepotan seperti ini sampai membuatnya bersimbah keringat.
Dan mimpi buruknya menjadi kenyataan ketika ia tengah mengantri diantara padatnya kendaraan untuk belok kiri menuju Jl. Kembang Kencana, mesin mobil mendadak mati. Ia telah berusaha untuk menghidupkan kembali namun selalu gagal.
My God.
Suara jeritan klakson memekakkan telinga mulai terdengar bersahut-sahutan di belakang punggungnya. Tanda bahwa sebagian besar pengguna jalan merasa terganggu dengan posisi kendaraannya yang melintang menghalangi arus lalu lintas.
"WOI!!"
"JALAN!!"
BLAR! BLAR! BLAR!
Body dan kaca mobilnya beberapa kali dipukul, memintanya untuk segera jalan. Namun ia masih kesulitan menghidupkan mesin. Keringat dingin yang sedari tadi membanjiri pelipisnya kini mulai merendam keseluruhan tubuhnya. Tegang, takut, pikiran buntu.
Namun ia masih mencoba bersikap tenang dengan meng off kan lalu meng on kan lagi, yes berhasil. Ia mulai bersemangat, masuk gigi 1, lepas kopling, injak gas, namun mesinnya justru kembali mati. Tetap tak berhasil. No no no no no.
Help me. Please. Please. Please.
Ia kembali melakukan urutan tersebut mulai dari awal, ketika pintu di samping kanannya mendadak diketuk oleh seseorang yang memakai helm full face. Memintanya untuk segera membuka kaca.
***
Keterangan :
Mamayu. : Nafsu makan yang meningkat setelah sembuh dari sakit, bahasa sunda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Mrs.Kristinasena
susah dpt bacaan sebagus ini..saat SDH mencari dan ga ketemu cerita bagus..akhirnya lari kembali ke karya mama Sephinasera..ga ada lawan mah..mskp dah baca ribuan kali..ga bosen..feel-nya sll dapat..ga sekua otor karyanya punya feel..
2025-02-26
1
marianna
kalo udah dapat cerita sebagus ini bakalan susah dpt cerita yang lebih bagus lagi
2025-02-17
0
Cece Irmaya
ngidam
2025-03-04
0