Anja
Jujur, ia tak bisa mengingat semua kejadian di kamar hotel pada dini hari itu.
Ia hanya ingat, sempat muntah-muntah karena meminum minuman aneh. Hingga kepala terasa pusing dan mata mendadak berkunang-kunang. Sedangkan mulutnya mulai mengatakan hal-hal yang sangat bertentangan. Dengan apa yang ada dalam pikirannya. Kemudian Cakra mulai mendekat, lalu ...
Stop!
Ia menggelengkan kepala keras-keras demi mengingat sekelebatan hal menjijikkan yang membuat tubuhnya meledak di awang-awang. Akibat sentuhan lembut yang dilakukan oleh Cakra.
Menjijikkan, mengerikan, memalukan. Sangat.
Apalagi ketika esok paginya, ia terbangun dalam kondisi polos seperti bayi baru lahir. Di atas tempat tidur paling berantakan yang pernah ada. Dengan sprei yang terdapat noda berwarna merah muda.
Ia memang masih merasa seperti anak kecil, meski telah duduk di bangku kelas tiga SMA. Jalan pikirannya juga amat sempit, dan pastinya bodoh. Tapi ia bukanlah anak kuper, yang tak tahu arti dari noda tersebut.
Satu hal yang membuatnya amat sangat marah, benci, juga didera penyesalan yang berkepanjangan adalah, mengapa harus Cakra? Si berandal sekolah langganan keluar masuk ruang kesiswaan, yang sama sekali tak pernah ada dalam kuadran kehidupannya selama ini.
Kenapa bukan Dipa? Forever crushnya sejak kelas 1 SD. Ia tentu akan dengan senang hati menyerahkan diri. Jika memang itu adalah cara terbaik untuk membahagiakan cowok.
Tapi semua telah menjadi bubur. Karena kebodohan sesaat yang dilakukannya, kini ia bukanlah Anja yang dulu lagi. Anja yang manis, bermasa depan cerah, dan bercita-cita menjadi dokter gigi.
Ia jelas telah berubah menjadi Anja yang kotor, tak bermahkota, dan mulai menyangsikan masa depannya sendiri.
Menyedihkan, menyesakkan, sekaligus menjijikkan.
Andai Dipa tahu, pasti akan sangat kecewa. Bahkan mungkin langsung menjauhinya. Menganggapnya sebagai cewek murahan yang tak punya prinsip. Karena memang itulah dirinya sekarang.
Andai Papa Mama tahu, beliau berdua pasti akan sangat sedih sekaligus marah. Besar kemungkinan, ia akan diusir dari rumah. Karena telah mempermalukan Papa Mama, mencoreng nama baik keluarga, mengecewakan harapan terakhir mereka tentang masa depan anak perempuan satu-satunya yang paling disayangi.
Andai Mas Tama dan Mas Sada tahu, mereka pasti akan langsung menenangkan dan melindunginya. Bergerak cepat mencari Cakra, untuk kemudian membunuh berandal itu. Hingga mati tanpa tahu kenapa bisa mati. Senyap.
Sungguh, ia telah menghancurkan segalanya sampai tak ada sedikitpun yang tersisa. Bodoh. Sangat bodoh.
Namun, ia tentu tak boleh larut dalam kesedihan dan penyesalan berkepanjangan. Toh setelah kejadian menjijikkan itu, tak ada yang berubah sedikitpun darinya.
Tubuhnya tak jadi berubah warna atau bentuk sebagai tanda tak bermahkota lagi. Juga tak ada jejak apapun yang bisa membuktikan, bahwa Cakra telah mengambil sesuatu miliknya yang paling berharga.
Tak ada.
Dan ini bagus. Sangat bagus.
Ia bisa berpura-pura menjadi Anja yang biasanya. Karena tak ada seorangpun tahu, tentang apa yang telah mereka lakukan di kamar hotel itu. selain ia dan Cakra tentunya.
Jadi, satu hal penting yang harus dilakukannya adalah, sebisa mungkin berusaha menjauh dari cowok berandal bernama Cakra itu. Karena hidup yang tengah ia jalani, sudah seharusnya tetap berjalan dengan normal seperti sebagaimana mestinya.
Dan menghindari Cakra adalah hal yang cukup mudah. Karena mereka memang tak pernah saling menyapa sebelumnya. Circle pertemanan mereka pun tak pernah saling bersinggungan. Bahkan jarak kelas mereka berdua jauh terpisahkan oleh bentangan lapangan basket sekolah.
Namun, lagi-lagi pikirannya terlalu naif. Tak pernah mengira, jika Cakra akan berani menghubunginya terlebih dahulu.
Sialan, darimana Cakra bisa mendapatkan nomor ponsel dan Line id nya?
Tapi semua masih bisa diatasi. Cukup dengan block number, semua beres. Ia tak harus khawatir mengira Cakra akan terus berusaha menghubunginya.
Namun jenis komunikasi bukan melulu bergantung pada ponsel bukan? Masih ada begitu banyak cara lain yang lebih gamblang. salah satunya yaitu bertemu secara langsung. Apalagi mereka satu sekolah. Sial.
Ia bukannya tak tahu, jika Cakra sudah mengincarnya dari kejauhan. Ketika mereka tak sengaja berpapasan di depan Perpustakaan. Atau senyum terkembang yang menantinya, saat mereka tiba-tiba bertemu muka di ruang guru.
Ia juga tahu, bagaimana Cakra akhir-akhir ini sering mengikuti gerak-geriknya hampir di setiap sudut sekolah. Hal paling aneh yang baru kali ini dirasakannya. Karena selama ini ia bahkan tak pernah notice dengan kehadiran Cakra di sekolah, mungkin begitu juga sebaliknya.
Namun setelah kejadian menjijikkan itu, Cakra seolah berada di setiap sudut sekolah yang ia datangi. Menyebalkan! Sangat menyebalkan!
"Lo dari GOR kemana sih, Ja? Kita cari-cari nggak ketemu. Si Dipa sampai hujan-hujanan ngejar elo juga nggak ketemu," selidik Hanum malam ini. Saat mereka bertiga bermalam panjang dengan menginap bersama di rumahnya.
"Iya ih, elo nekat banget sih hujan gede begitu malah kabur. Kalau kenapa-kenapa gimana?" timpal Bening juga ingin tahu.
Mereka bertiga memang belum pernah membahas secara khusus kejadian malam kelabu waktu itu, karena ia selalu menghindar.
"Dipa sampai ngejar elo pinjam mobilnya si Hanif. Tapi tetep zonk. Lo nyumput (sembunyi) di mana sih waktu itu?"
Ia pura-pura tak mendengar dan terus memperhatikan layar ponsel. Menscroll berita-berita tak penting yang mampir di timeline nya.
"Gue jadi inisiatif bilang ke nyokap lo, kalau lo tidur di rumah gue. Untung percaya. Kalau enggak?" Hanum mengangkat bahu.
"Lo tidur di mana malam itu?" Bening meliriknya curiga.
"Nggak penting gue tidur di mana," jawabnya getir.
"Yang penting, gue baik-baik aja sampai sekarang," ia pura-pura mencibir. Padahal jantungnya berdegup kencang tak karuan. Takut Hanum dan Bening mencium kebohongannya.
"Ya habis, ada anak yang bilang sempat lihat lo masuk ke Cafe Retrouvailles habis lari hujan-hujanan," sahut Bening lagi sambil terus menatapnya curiga.
"Hah?!" ia terperanjat. "Siapa?!"
Ada orang yang melihatnya masuk ke Cafe Retrouvailles? Bahaya. Ini jelas bahaya.
"Arin sama Siera, kan rumahnya nggak jauh dari tuh cafe. Pas banget pulang duluan dari GOR katanya. Bener nggak?" selidik Bening antusias. Demi mengetahui dirinya terkaget-kaget.
"Arin sama Siera cerita ke gue karena khawatir, kalau cewek yang mereka lihat malam itu beneran elo. Soalnya lo pada tahu nggak, siapa anak PB (Pusaka Bangsa, sekolah Anja) yang kerja di cafe itu?"
Ia mendadak merasakan lehernya tercekik dalam waktu singkat.
"Siapa?" Hanum yang menyahut.
"Cakra."
"Ih, cowok berandal itu?" Hanum langsung mencibir. "Eh, kok bisa Cakra kerja disana? Emang anak sekolah boleh kerja fulltime?"
"Kalau kata si Arin sih, Cakra kerjanya hari Sabtu doang atau pas tanggal merah. Invalan gitu deh."
"Oh," Hanum mengangguk-angguk. "Lo masuk ke sana, Ja? Ketemu Cakra nggak?"
"Siapa bilang gue masuk ke sana?!" sahutnya sengit.
"Gue kan cuma nanya. Ya udah kalau emang lo nggak ke sana. Nggak usah nyolot juga kali," sungut Hanum sebal melihat kesengitannya.
Namun ia mendadak ingin tahu pendapat dua sahabatnya, "Emang kenapa kalau ketemu Cakra?"
"Ish," Bening menggeleng. "Kayak nggak tahu aja tuh anak kan udah lah sering bolos, mabal (kabur dari sekolah), mana PK abis lagi."
"Lo kalau lagi goyah kek kemarin trus ketemu Cakra, wah, bisa abis deh dimanfaatin," tambah Bening yang membuat lehernya semakin tercekik.
"Dimanfaatin gimana?" justru Hanum yang menjawab. "Kadang gue bingung deh. Si Cakra itu berandal sebelah mananya sih, sampai terkenal seantero sekolah begitu? Perasaan dia nggak pernah ngelakuin hal-hal yang merugikan orang lain."
"PK bukannya merugikan orang lain, Suz?" cibir Bening. "Noh si Qia anak kelas sepuluh, yang baper abis gara-gara diputusin sama Cakra. Sampai seminggu nggak mau makan. Sampai masuk rumah sakit. Belom si Alura, Nadia, sampai si Mia."
"Gila!" Hanum mengernyit. "Si Mia kenapa? Ngapain main-main sama kelas ecek-ecek begitu. Dia bukannya lagi jalan sama si Dave artis FTV itu?!"
"Eh, lo pada nggak tahu sih ya, diam-diam banyak cewek PB bahkan di luar PB yang kebaperan sama si Cakra. Untung aja kita bertiga nggak kehilangan akal sehat, sampai ikut arus ngefans ke berandal macam dia. Ih!" Bening mengendikkan bahu.
Sementara ia hanya bisa memeluk erat tubuhnya sendiri, demi mendengar nama Cakra diucapkan berulang kali oleh Hanum dan Bening. Seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Saat mendengar nama Cakra disebutkan.
"Iya juga sih," ujar Hanum dengan mata menerawang. "Habis kalau dilihat-lihat, makin lama Cakra kelihatan cakep juga. Banget malah. Kayak blasteran."
"Blasteran dari Hongkong!" cibir Bening.
"Eh, bukannya orang-orang daerah sana banyak yang cakep-cakep? Trus nih ya, kalau cakep tuh yang cakeeeeep banget. Dulu pernah keluar di berita TV kan, ada satu desa yang sebagian besar warganya punya bola mata biru kayakk ras Kaukasia."
Namun Bening terus saja mencibir.
Sementara ia, tanpa sadar manggut-manggut menyetujui kebenaran ucapan Hanum. Karena Cakra memang terlihat menarik di matanya.
"Mungkin nggak sih, nenek moyang Cakra tuh orang Eropa yang dulu menjajah negara kita. Tuh buktinya, dia Indonesia asli tapi penampakan kek gitu. Beda banget."
"Nggak usah cocoklogi deh lo," sungut Bening. "Mau cakep kek, mau nenek moyang Eropa kek, kalau berandal ya berandal aja."
"Nah ini nih, di sini gue masih penasaran kenapa dia bisa disebut berandal," mata Hanum kembali menerawang. "Dia kan nggak pernah ada kasus mukulin orang, bunuh orang, ngehamilin orang ...."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!!" ia mendadak tersedak ludah sendiri. Demi mendengar kalimat terakhir yang Hanum ucapkan.
Bening meliriknya curiga, "Lo kenapa, Ja?"
Namun Hanum lebih dulu angkat bicara. Berhasil menyelamatkannya dari interogasi Bening, "Beneran deh gue heran. Asal mula si Cakra disebut berandal tuh karena apa?"
"Lah, lo lupa hot gossip waktu kelas sepuluh. Si Cakra ngamuk di ruang guru. Sampai ngelempar kursi kena kaca trus pecah?!" salak Bening cepat.
"Pernah juga adu mulut sama Pak Indrajaya sampai teriakannya kedengeran ke kantin?!"
"Ngelawan kepsek yang waktu itu masih Pak Purnomo. Apalagi daftar hitamnya coba?"
"Iya sih," Hanum mengangguk-angguk mengerti. "Tapi kan, Cakra udah kena hukuman setimpal. Udah di skors, nilai diturunin, nggak naik kelas, beasiswa dicabut. Hayo?"
"Makanya dia seangkatan sama kita, kan? Harusnya udah lulus tahun kemarin nggak sih?" lanjut Hanum lagi.
Ini Hanum sama Bening kok bisa tahu banyak tentang Cakra sih? Padahal ia justru baru mendengar hal-hal tentang Cakra yang seperti ini ya barusan. Kok bisa?
"Lo berdua khatam banget track record si ... Cakra," cibirnya heran sambil menelan ludah. Merasa aneh saat menyebutkan nama Cakra.
"Bukan gitu Ja, gue cuma mau mastiin, kalau yang masuk Retrouvailles malam itu tuh, bukan elo," jawab Bening. "Soalnya, si Aldi anak IPA6, lo berdua pada tahu kan?"
Hanum mengangguk, "Iya kenapa? Aldi anak Lentera (nama majalah sekolah Anja)?"
Sementara ia tengah sibuk menata degup jantung. Yang mendadak berdebar kencang tak beraturan.
"Iya Aldi yang itu," Bening mengangguk. "Si Aldi cerita, dia lagi jalan di sekitaran Kedoya sama temen-temennya. Tapi, nggak sengaja ngelihat Cakra masuk ke hotel melati sama cewek gitu deh."
Ia buru-buru menelan ludah sebanyak tiga kali hanya dalam kurun waktu dua detik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kalut dan panik. Takut rahasianya terbongkar.
Tidak. Jangan.
"Ih, gila!" Hanum bergidik ngeri. "Mainannya ke hotel."
"Makanya itu," Bening mencibir. "Udah tepat dia disebut berandal. Kerjaannya ngerusak anak gadis orang."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!!" tanpa sadar ia kembali tersedak. Kali ini lebih lama dibanding yang pertama tadi.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Heh, lo kenapa sih, Ja, dari tadi keselek mulu?!" Bening meliriknya curiga.
"Tapi meski main cewek, Cakra masih mau usaha, nggak mokondo. Tuh buktinya, kata elo tadi tiap hari libur malah kerja. Kalau berandal beneran kan nggak bakalan seniat itu lah cari duit," ucapan Hanum kembali menjadi penyelamatnya kali ini. Terhindar dari kecurigaan Bening yang pastinya semakin menjadi.
"Bokapnya Cakra kan udah meninggal," jawab Bening. "Gosipnya sih ditembak sama tentara, karena jadi panglima kelompok bersenjata gitu deh."
"Ah, masa?"
"Ih, nggak percaya," Bening mencibir. "Masih ada kali file beritanya. Googling aja nama bokap si Cakra, langsung keluar deh berita tentang panglima kelompok bersenjata di ujung barat Indonesia."
"Ah, serius lo?!" Hanum mengernyit makin penasaran.
"Nih, kita buktiin," Bening meraih ponsel lalu membuka mesin pencarian. "Nih, nama bokapnya si Cakra itu ...." Sambil mengetik nama ayahnya Cakra.
"Tuh ... lihat," Bening memperlihatkan layar ponsel yang memuat berita hampir lima belas tahun silam. Yang berjudul, Panglima Muda Gerakan ..... II Wilayah .... bernama ..... tewas dalam kontak senjata dengan TNI di kawasan Hutan Desa Paya Rhu, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
"Kok serem ya?" mata Hanum membulat membaca berita di layar ponsel.
Begitu juga dirinya. Ternyata riwayat hidup Cakra lebih menyeramkan dibanding label berandal yang tersemat pada cowok itu.
"Eh tapi ini emang bener bokapnya si ... Cakra?" tanyanya ragu. Bisa saja kan mereka hanya kebetulan memiliki nama yang sama.
"Ya bener lah, nama belakangnya aja sama ama Cakra," jawab Bening yakin. "Cek aja sendiri."
"Teuku Cakradonya Ishak ...." Gumam Hanum menyebut nama lengkap Cakra. Setelah mengecek di situs resmi sekolah.
"Oh iya sih, namanya sama," mata Hanum kembali membulat. "Wah ...."
Ia hanya bisa menelan ludah yang mendadak terasa pahit.
"Tuh, kalian sih, nggak percayaan," Bening mencibir. "Udah gitu mana adiknya banyak, masih kecil-kecil lagi. Makanya dia kerja mungkin buat nutupin kebutuhan hidup."
"Kalau dia hidup susah, kok bisa sekolah di PB yang lo tahu sendiri biayanya kek apa," Hanum mengernyit heran. "Nekat banget kan? Kenapa nggak masuk sekolah biasa aja?"
"Di kita juga kan ada program subsidi silang, Han," jawab Bening. "Jadi meski beasiswa udah dicabut, Cakra masih bisa sekolah lewat program subsidi silang itu."
"Yang kek Cakra banyak kok di kita," Bening mengangkat bahu. "Cuma biasanya berprestasi, nggak berandal kek dia."
"Udah deh, ah," ia menggerutu sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Pembahasan tentang Cakra benar-benar membuatnya merasa tak nyaman.
"Dari tadi ngomongin orang lain mulu!" sungutnya. "Kenapa nggak ngomong yang asyik-asyik aja sih?"
"Iya ih, si Bening tuh yang pertama bahas Cakra," tuduh Hanum baru sadar mereka sejak tadi membicarakan stranger.
"Lha kok gue?! Kan elo yang nanya-nanya terus, kok bisa Cakra disebut berandal sih? Kok ini sih, kok itu sih? Ih!" Bening mengendikkan bahu sebal.
"Udah deh ... udah deh ah ...." Ia mendecak melerai dua sahabatnya itu. "Mending kita ngobrolin crush masing-masing."
"Nah, ini baru top markotop," Hanum mengangguk setuju. "Eh, tapi elo sih bukan crush lagi ya," cibirnya ke arah Bening. "Udah jadi pacar."
Bening tersenyum lebar, "Iya dong. Hehehe ... sori ya gaes ...."
Kini giliran ia dan Hanum yang mencibir secara bersamaan. Di antara mereka bertiga, memang baru Bening yang memiliki kekasih sungguhan. Namanya Bumi, masih kelas XI. Iya, Bening pacaran sama daun muda.
Sementara ia, masih harap-harap cemas menanti move lanjutan dari Dipa Dan Hanum juga masih setia menunggu pergerakan dari Faza, mantan ketua OSIS mereka. Setelah setahun lebih menjalani friend with benefit.
"Eh, kalian tahu nggak, Bumi bilang anak-anak Cinema (ekskul sinematografi di sekolah Anja) lagi ada project film akhir tahun," ujar Bening. "Tapi masih off the record, biar surprise," Bening meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya.
"Oya?" ia antusias. "Seru dong."
"Pastinya," Bening mengangguk setuju. "Ini udah mulai pra produksi. Kerjaannya rapat mulu. Makanya malming gue malah ngungsi kesini nih."
Hanum tertawa, "Nggak papa lah, kita jadi bisa girl's night. Solider dong, sama kita berdua yang jomblo."
"Iya," Bening ikut tertawa. "Kalau elo, Ja? Masih ngarepin Dipa?"
Ia tersenyum sambil menerawang, "Dipa itu cinta pertama gue, pangeran berkuda putih gue, forever crush ...."
"Gue nggak pernah bayangin, bisa jatuh cinta sama orang lain selain Dipa ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
Teuku Cakradonya Ishak
i love you full😘😘😘😘
2024-12-28
0
maya ummu ihsan
ini emang banyak part yang berubah ya..seingarku dulu gak ada paragraf gini deh...
2024-12-25
1
Raufaya Raisa Putri
soulmate ny ttp dewa angin puyuh
2024-09-15
0