17. Kasih Ibu Sepanjang Masa

Cakra

Ia memandangi selembar foto yang bentuknya mirip seperti hasil cetak foto polaroid saat ia piknik ke Candi Borobudur waktu kecil dulu. Namun kali ini tidak berisi foto piknik, tapi foto hitam putih hasil USG Anja beberapa hari lalu. Ia sengaja meminta dua lembar print outnya, satu untuk Anja, satu untuk dirinya.

Diatas lembaran kertas foto berukuran 11 x 11 cm itu terdapat nama klinik tempat Anja memeriksakan kandungan. Lalu di sudut kiri atas tertulis Nn. Anjani Prameswari (17y11m). Sementara di sudut kanan bawah terdapat dua kotak yang masing-masing bertuliskan LMP, GA, EDD dan CRL, GA, EDD. Entahlah apa artinya ia pun tak paham meski sempat mencari tahu dengan membrowsingnya di internet namun justru membuatnya semakin tak mengerti.

Tapi itu bukan masalah besar, yang penting kemarin dokter bilang kondisi kandungan Anja secara keseluruhan bagus dan normal. Ini tentu sangat melegakan karena di usia awal kehamilan -yang waktu itu belum diketahui- Anja sempat dirawat inap di rumah sakit karena typus. Khawatir obat yang dikonsumsi berpengaruh terhadap janin, namun ternyata tidak. Syukurlah.

Ia kembali memandangi foto USG tersebut dengan perasaan masygul. Foto hitam putih yang menampilkan gambar menyerupai sebuah kantong kecil dengan bulatan sebesar buah rambutan di dalamnya. Yang adalah seorang bayi, anak kandungnya sendiri. Darah dagingnya. My God.

Sejak kunjungannya bersama Anja ke klinik dokter kandungan, sebenarnya ia telah menyusun strategi dan rencana untuk mengakui kesalahannya pada Mamak, namun masih maju mundur. Takut akan reaksi Mamak setelah mendengar pengakuannya nanti. Takut menatap mata Mamak ketika mengetahui jika satu-satunya anak lelaki yang masih hidup ternyata tak lebih dari seorang ba ji ngan brengsek. Very sad.

Namun ia tentu tak boleh berlama-lama menunda pengakuan. Karena semakin ditunda justru akan semakin menghancurkan semuanya. Khawatir Anja bertindak nekat dengan merealisasikan niat untuk menggugurkan kandungan yang akan mencederai janjinya kepada Mamak karena tak tertunaikan.

Dan sore ini menjadi hari terbaik pilihannya untuk membuat pengakuan. Tahu pasti jika jadwal Mamak hari ini di keude (warung kecil) sampai Isya karena bergantian dengan Kak Pocut dan Cing Ella, tetangga mereka yang ikut berjualan di keude.

Ia baru selesai membantu Umay dan Sasa mengerjakan PR ketika Kak Pocut masuk ke dalam rumah sambil membawa loyang-loyang kotor bekas jualan di keude yang akan dicuci di rumah. Dengan tanpa mengatakan apapun, ia mengambil loyang-loyang kotor itu untuk dicuci sementara Kak Pocut menunaikan sholat Ashar.

Ketika ia baru selesai mencuci loyang yang terakhir, Kak Pocut datang menghampiri sambil tersenyum lebar, "Pasti ada maunya nih."

Ia pun tertawa, apakah terlalu kentara?

"Kenapa?" tanya Kak Pocut yang sekarang sedang memilih-milih bumbu dapur dan rempah-rempah untuk persiapan memasak nanti malam seperti yang sering dilakukan tiap kali mereka mendapat pesanan makanan untuk diambil esok Subuh.

Ia masih tertawa, lebih memilih untuk mencuci tangan kemudian mengeringkannya dengan handuk daripada harus meladeni ledekan Kak Pocut.

"Udah makan Kak?" tanyanya jelas basa-basi.

"Apa pula kau ini?" Kak Pocut kian lebar tertawanya. Baiklah Kak, tertawalah dulu sebelum nanti kau akan terkaget-kaget, batinnya nanar.

"Serius aku tanya udah makan belum?" ia ikut -pura-pura- tertawa.

"Udah tadi siang. Kenapa? Ada masalah kah?" wajah Kak Pocut berubah serius. "Seminggu lalu Mamak cerita kau lagi kena masalah serius."

Ia harus menghela napas sebentar hingga akhirnya memilih untuk ikut duduk di lantai dapur. Membantu Kak Pocut memilah-milah bumbu dapur yang akan dipakai.

"Masalah apa pula, Gam?" Kak Pocut menggelengkan kepala. "Kau ini sudah mau lulus. Tinggal kuliah baik-baik. Terus hidup lebih sukses dari kita. Jangan main-main yang nggak penting."

Ia mengangguk mengerti. Lalu dengan tangan gemetaran mengeluarkan print out hasil USG dari saku bajunya kemudian disimpan di atas bumbu dapur dan deretan rempah yang telah dipilih oleh Kak Pocut.

"Apa ini?" Kak Pocut mengernyit melihat apa yang diletakkannya di atas bumbu dapur.

"USG?" Kak Pocut makin mengernyit. "USG siapa?"

Ia memilih untuk menundukkan kepala dan tak menjawab pertanyaan Kak Pocut. Namun itu justru membuat Kak Pocut semakin mengejarnya, "Agam! Apa pula kau ini. Foto USG siapa ini?!"

"Foto anakku Kak.....," jawabnya lirih hampir tak terdengar.

"Anakku? Anak siapa?!" Kak Pocut mulai panik, tangannya terulur untuk mengambil foto USG milik Anja itu. "Jangan main-main kau Gam! Anak siapa ini? Foto siapa ini?!"

Ia kembali menundukkan kepala dan tak menjawab satupun pertanyaan Kak Pocut. Lebih memilih untuk tetap diam sambil bersiap kira-kira apa yang akan Kak Pocut lakukan setelah mengeta.....

"Astaghfirullahal'adzim.....," bisik Kak Pocut lirih sambil memandangi foto USG dengan mata terbelalak. "Siapa Anjani Prameswari ini?!"

Ia semakin menundukkan kepala tak mampu untuk menjawab.

"Astaghfirullahal'adzim....Agam?! Kau?!?" Kak Pocut memandanginya tak percaya.

"Astaghfirullahal'adzim....," berkali-kali Kak Pocut mengucapkan istighfar sambil memegangi dada yang mungkin terasa sesak setelah mengetahui perbuatan bejatnya.

Sesaat suasana sunyi, tak ada yang bicara, hanya terdengar suara Umay dan Sasa yang bertengkar karena berebut mainan di ruang depan. Ia pun tak bisa berkata apa-apa, hanya menekuri deretan bawang merah, bawang putih, daun pandan, daun salam koja, adas, kapulaga, dan teman-temannya yang telah berderet rapi dipisahkan oleh Kak Pocut untuk segera dibuat bumbu.

"Anjani itu salah satu cewek yang sering datang kemari bawa makanan?" suara Kak Pocut terdengar bergetar memecah kesunyian. Ada rasa marah di dalamnya, namun juga ingin tahu.

Ia menggeleng.

"Anak kampung sebelah yang beberapa kali kemari kemarin?"

Lagi-lagi ia menggeleng. Membuat Kak Pocut memberinya tatapan menuduh. Dan ia harus mengambil jeda beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Teman sekolahku."

"Astaghfirullahal'adzim....," Kak Pocut kembali beristighfar. Lalu sedetik kemudian memberinya tatapan penuh amarah.

"Kau sudah gila?!"

Iya, ia memang sudah gila.

"Kupikir setelah kejadian waktu itu kau sudah berjanji tak akan berulah lagi di sekolah. Tapi sekarang malah begini?!"

Ia hanya diam menunggu muntahan kemarahan Kak Pocut selanjutnya. Karena memang ia pantas mendapatkannya.

"Dia sekolah disana sama seperti kau?! Mengandalkan uang beasiswa dan susbsidi?!"

Ia menggeleng.

"Astaghfirullahal'adzim...Agam?! Kau tahu orang-orang seperti apa yang bisa menyekolahkan anaknya di sana?!"

Ia mengangguk lemah, "Kami...tak pernah kenal sebelumnya. Ini....kecelakaan...."

Namun ucapannya justru membuat Kak Pocut kian meradang, "Kecelakaan kau bilang?! Kecelakaan bagaimana?! Nanti sebentar lagi kau bilang tak sengaja pula?!?"

Ia menunduk sambil menghembuskan napas panjang, karena telah salah memberi alasan.

"Orangtuanya sudah tahu?"

Ia menggeleng sambil berucap pelan, "Aku nggak tahu sudah tahu atau belum."

Jika dilihat dari reaksi dan ekspresi orangtua Anja yang biasa saja ketika mereka bertemu kemarin, bisa dipastikan mereka belum tahu masalah ini.

"Setelah ini kau mau bagaimana?!"

Ia menunduk, "Aku...mau bertanggung jawab."

"Itu memang harus!" suara Kak Pocut meninggi sambil menatapnya marah. "Tak perlu kau bicarakan lagi!"

"Maksudku apa orangtuanya setuju? Sekolah kau? Sekolah dia? Bagaimana? Hidup seperti apa yang akan kalian jalani?!"

Ia menggeleng lemah.

"Bo doh!"

Ya, ia memang bodoh. Bodoh sekali. Amat sangat.

Suasana kembali sunyi, kali ini hanya terdengar suara penjual cendol dan siomay yang lewat di depan rumah menawarkan dagangannya. Sore hari memang prime time nya para penjaja asongan.

"Maa, aku mau beli cendol," teriak Sasa yang berlari ke dapur dengan wajah berkeringat setelah berlari-larian di halaman kosong depan rumah dengan teman-teman sepermainannya.

Tanpa banyak bicara Kak Pocut langsung menyerahkan selembar lima ribuan kepada Sasa yang terbengong-bengong karena tak menyangka ibunya akan semurah hati ini. Tak mengira iseng-isengnya akan berbuah hadiah. Karena biasanya mereka tak boleh sering-sering jajan. Apalagi di sore hari seperti ini, tak pernah ada kata jajan. Cukup makan yang ada di rumah.

"Bertiga sama Abang," begitu kata Kak Pocut sambil terus mengawasinya dengan sudut mata.

"Kurang Ma kalau bertiga?" Sasa mengernyit.

"Sudah jangan rewel. Atur-atur sendiri," gerutu Kak Pocut membuatnya mengeluarkan selembar uang lima ribuan yang kebetulan ada di saku, "Ini buat tambahan."

"Horeeeee! Makasih Yah bit!" Sasa melonjak kegirangan sambil mencium pipinya sekilas. Membuatnya tertawa senang namun langsung menghentikannya demi melihat tatapan penuh amarah Kak Pocut.

"Aku bisa cari kerja," ujarnya mencoba memaparkan solusi yang ada di kepalanya. Berharap Kak Pocut berkurang marahnya.

Kak Pocut hanya mendecih jengkel, "Ayah dan Abang kau mungkin sudah siap-siap bangkit dari kubur begitu mendengar kabar kau menghamili anak gadis orang!"

"Aku akan cari kerja yang lebih bagus," ujarnya tak menghiraukan kejengkelan Kak Pocut yang membahas tentang almarhum Ayah dan Abangnya. Masih berusaha melembutkan hati Kak Pocut dengan sederet solusi yang sesungguhnya masih berupa fatamorgana.

"Kau ini harapan Mamak satu-satunya. Harapan kita semua," desis Kak Pocut yang kini mulai mengulek bumbu di atas ceprek besar.

"Kalau sekarang begini, aku tak tahu lagi harus bilang apa," lanjut Kak Pocut sambil menghela napas.

"Kalau gitu....bisa Kakak bantu aku bilang ke Mamak?" pintanya penuh harap. "Aku tak berani bilang sendiri."

Lumayan lama Kak Pocut tak menjawab. Selang beberapa saat yang terdengar hanyalah suara batu yang saling beradu diatas ceprek. Ketika ia mulai putus asa Kak Pocut akhirnya bersuara, "Aku nggak bisa janji," jawab Kak Pocut dengan wajah murung.

Malam hari Mamak benar-benar pulang setelah Isya. Ia sendiri yang menjemput ke keude menggunakan motor. Setelah menunaikan sholat Isya dan mengaji sebentar, Mamak mulai terjun ke dapur lagi bersama Kak Pocut. Kali ini karena ada pesanan kuah sie itek dan ayam tangkap yang akan diambil besok Subuh oleh si pemesan.

Ia beberapa kali menengok kearah Kak Pocut meminta bantuan, namun Kak Pocut selalu pura-pura tak melihatnya. Ketika waktu kian larut dan ia mulai mengantuk sementara Mamak dan Kak Pocut belum juga selesai memasak, tiba-tiba Kak Pocut menghampiri lalu menepuk bahunya, "Kau pasti bisa bilang sendiri ke Mamak. Aku tak sanggup."

Ia pun lunglai. Benar-benar merasa sendirian dan tak berdaya. Membuat otaknya buntu dan tak mampu berpikir jernih. Hingga akhirnya memilih untuk tidur saja.

Dalam tidur ia bermimpi, Mamak dengan sukarela mengirimnya ke tengah kobaran api yang menjilat-jilat seperti saat Ibrahim dibakar oleh Namrud.

"Kuserahkan anakku dengan sukarela. Hukumlah sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya."

Begitu kata Mamak lugas yang berhasil membuatnya berteriak ketakutan karena dua algojo berwajah seram telah siap sedia untuk melemparnya ke tengah kobaran api yang menjilat-jilat.

"Agam!"

Namun suara sentakan Kak Pocut serta merta membuat kedua algojo yang tengah menarik paksa tubuhnya tiba-tiba menghilang, disusul kobaran api yang lambat laun semakin memudar.

"Agam!"

Seketika ia tergeragap karena tepukan di atas bahu dan demi melihat wajah masam Kak Pocut di depan matanya.

"Kau mimpi apa sampai teriak-teriak?!" Kak Pocut menatapnya curiga.

Ia hanya bisa menghembuskan napas pelan dan menggelengkan kepala.

"Cepat bilang ke Mamak," kali ini Kak Pocut berbisik lirih. "Sebelum semua terlambat."

Ia harus mengucek mata yang pedih terlebih dahulu sebelum bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Ia bahkan sengaja melama-lamakan waktu di dalam kamar mandi karena merasa takut. Dengan ditemani sayup-sayup suara Mamak yang sedang mengaji. Maafkan anakmu ini, Mak.

Sambil terus berusaha meneguh-neguhkan diri dan hati, ia pun berjalan menuju bilik tempat Mamak mengaji. Lalu mendudukkan diri di samping Mamaknya yang entah mengapa malam ini terlihat sangat lelah dengan wajah yang semakin menua.

Menyadari keberadaannya di samping, serta merta Mamak menghentikan bacaan Qur'an nya lalu menoleh padanya, "Kena masalah lagi?"

Ia menggeleng lemah.

"Masalah yang kemarin sudah selesai?"

Lagi-lagi ia menggeleng. Lalu dengan tangan bergetar merogoh saku untuk mengambil print out USG Anja kemudian menyimpannya di pangkuan Mamak.

"Apa ini?" Mamak mengernyit. Kedua mata beliau memang sudah tak awas lagi. Selain karena usia, juga pengaruh penerangan di dalam bilik yang terlalu temaram, yang makin membuat Mamak kesulitan untuk mengidentifikasi selembar foto darinya.

"Foto?" tanya Mamak sambil menatapnya bingung.

Ia mengangguk sambil memberanikan diri untuk berucap lirih, "Calon cucu Mamak...."

Ia memang sengaja memilih kata yang berbelit, dengan harapan kadar kemarahan Mamak bisa sedikit berkurang.

"Cucu?!?" Mamak semakin mengernyit.

"Ini yang kemarin....yang membuatku takut....."

Mamak menatap matanya tajam dan selembar foto USG di tangan secara bergantian. Sedetik kemudian mengucap istighfar dengan suara paling memilukan yang pernah ada. Disusul setetes air mata yang jatuh membasahi kulit keriput Mamak, seketika membuat dadanya meledak hancur berkeping-keping.

***

Keterangan :

LMP. : last menstrual period atau HPHT (hari pertama haid terakhir), biasanya digunakan sebagai acuan usia janin dalam kandungan

GA. : gestational age, perkiraan usia kandungan yang diukur melalui panjang lengan, diameter kepala janin dan panjang kaki, tidak bisa melalui LMP atau HPHT.

EDD. : estimated delivery date atau HPL (hari perkiraan lahir), perkiraan waktu persalinan

CRL. : crown rump length, ukuran jarak dari ujung kepala hingga ujung kaki janin

Agam. : panggilan untuk anak laki-laki (Aceh)

Kuah sie itek : olahan bebek berkuah merah dengan harum rempah khas Aceh

Terpopuler

Comments

Ulil Baba

Ulil Baba

agam siksa kubur menanti mu 😁😁

2024-10-27

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

Mak jleb kl mmk dah keluar

2024-09-16

0

Raufaya Raisa Putri

Raufaya Raisa Putri

meski udah bc berulang tp kl udah ada mmk rasa nya wibawanya ngg terbantahkan

2024-09-16

0

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!