5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling

Anja

Ia terbangun.

Karena segaris sinar matahari pagi, menembus masuk melalui jendela kaca yang tak tertutup gorden. Kemudian mengenai kedua kelopak matanya.

Silau.

Sambil mengerjap perlahan, matanya mulai terbuka. Namun rasa pusing campur pening yang tiba-tiba menyerang kepala, membuat matanya yang telah setengah terbuka kembali terpejam.

"Aduh ...." Ia refleks memijat keningnya yang terasa berat. "Pusing banget ...."

Setelah beberapa saat menjeda waktu, barulah ia bisa membuka kedua mata dengan sempurna. Dan langsung mendapati sebuah pintu kayu berwarna cokelat yang asing, jendela kaca yang terbuka setengah dan berdebu di tiap sisinya, langit-langit kamar yang mulai kusam, serta udara panas dan pengap yang membuat tubuhnya berkeringat.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, ini di mana?

Sambil mengernyit sekaligus memicingkan mata. Akibat dari kombinasi pusing yang sangat. Bercampur dengan pancaran tajam sinar matahari, yang menyerang kedua matanya. Perlahan ia mulai beringsut. Berusaha duduk di kepala tempat tidur.

Dan selimut yang melorot hingga perut, berhasil membuatnya menjerit. Demi menyadari jika ia tak memakai baju atasan.

"AAAAAAAAAAA!"

Dengan napas memburu, ia buru-buru menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sambil masih terus menjerit panik.

"AAAAAAAAAAA!"

What happened? What happened?

Apa yang terjadi? Apa yang telah ia lakukan?

Apakah ia sedang bermimpi buruk?

Karena ini jelas mimpi yang sangat buruk. Amat sangat.

Sambil menutup mulut yang masih ternganga saking terkejutnya dengan sebelah tangan, ia memberanikan diri untuk mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Tak ada seorangpun di sana kecuali dirinya. Dan tak ada tanda-tanda orang lain di dalam kamar ini.

Oke, tenang Anja, tenang ....

Inhale, exhale ....

Ia masih berusaha mengatur napas menjadi lebih normal. Agar bisa berpikir jernih. Ketika rasa pegal mendadak menyerang sekujur tubuhnya. Seperti beduk yang dipukul bertalu-talu tanpa ampun. Terutama di bagian inti tubuhnya.

Sambil memejamkan mata kuat-kuat saking takutnya, ia memberanikan diri membuka selimut. Dan menyadari, jika ia memang benar-benar tak memakai apapun di dalamnya.

"AAAAAAAAAAA!"

***

Cakra

Ia masih menyortir setumpuk surat dan paket berbungkus cokelat, yang memenuhi tas travel besar. Yang disimpan di atas jok motor, sesuai dengan urutan alamat terdekat. Ketika Yah bit Hamdan berteriak memanggilnya dari dalam rumah.

"Oi Gam, peu haba (apakabar)?"

"Haba get (kabar baik), Yah bit (paman)," jawabnya sembari terus menyortir paket.

"Peu haba Mak (apakabar Mak)?"

"Alhamdulillah get (baik)."

"Kaleu pajoh bu (sudah makan)? Jak pajoh bu (ayo makan)!"

"Ka, teurimong gaseh (sudah, terima kasih)."

Yah bit Hamdan adalah anak dari adik Nenek Mamak. Apa sebutannya? Sepupu Mamak beda Nenek begitu? Seperti itulah. Istri Yah bit Hamdan sudah meninggal sekitar empat tahun yang lalu. Akibat menderita sakit diabetes yang tak kunjung sembuh. Dan masih menduda hingga sekarang.

Rumah asli Yah bit Hamdan di Lhokseumawe. Namun sejak sang istri meninggal, Yah bit Hamdan tinggal berpindah-pindah sesuai keinginan dan suasana hati. Berkeliling dari rumah ke rumah seluruh anak-anaknya.

Terkadang Yah bit Hamdan tinggal selama berbulan-bulan dengan keluarga Bang Gani di Lhokseumawe. Kalau sudah mulai bosan, lalu pindah ke rumah Kak Nana di Binjai. Atau di Muarabungo, ikut mengasuh cucu di rumah Bang Rozi. Yang istrinya baru saja meninggal beberapa bulan lalu. Terakhir, yang paling jarang dikunjungi adalah si bungsu, Bang Fahri. Pemilik usaha jasa pengiriman tempatnya bekerja paruh waktu menjadi kurir inval sekarang ini.

Baru sekitar tiga minggu yang lalu Yah bit Hamdan datang ke Jakarta dari Muarabungo. Setiap melihatnya pula, Yah bit Hamdan selalu menanyakan kabar Mamak, lalu mengajaknya untuk makan. Begitu terus selama tiga minggu tak pernah berubah.

Demi melihatnya sibuk mengecek paket, Yah bit Hamdan memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Disusul dengan teriakan Bang Fahri yang menyuruhnya untuk segera berangkat.

"Cepat berangkat, biar cepat beres," begitu kata Bang Fahri.

Ia mengangguk setuju, bersamaan dengan berakhirnya tugas menyortir alamat. Agar lebih efektif dalam mengantarkan paket. Sambil menstater motor ia berteriak, "Lon jak lee beh (aku pergi dulu)."

"Yo, tiati!"

Pekerjaan ini telah ia jalani sejak sekitar dua tahun yang lalu. Ketika kakak satu-satunya, Bang Iskandar, yang bekerja sebagai ABK (anak buah kapal) di sebuah kapal tanker pembawa minyak berbendera Liberia, tewas tertembak bersama sejumlah ABK lainnya. Saat terjadi insiden serangan bajak laut bersenjata di perairan internasional, sekitar 32 kilometer (20 mil) lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).

Jenazah Bang Is tak pernah kembali. Begitu juga dengan gaji dan klaim asuransi. Yang justru ditilap oleh agent crewing (yang membantu mencarikan kerja di kapal laut), yang menyalurkan Abangnya itu.

Meninggalnya Bang Is otomatis membuat jatah uang untuk hidup Mamak dan dirinya hilang. Begitu juga dengan Kak Pocut -istri Bang Is- dan ketiga anak Bang Is, yang kini tinggal bersama mereka di rumah Mamak.

Itulah mengapa, ia mulai melakukan pekerjaan apapun. Yang bisa menghasilkan uang. Untuk membantu Mamak dan Kak Pocut. Agar dapur tetap ngebul. Dan mereka berempat, ia dan ketiga anak Bang Is, bisa tetap melanjutkan sekolah.

Ngomong-ngomong tentang sekolah, ia jadi teringat pada Anja. Yang subuh tadi ia tinggalkan dalam keadaan terlelap.

Hei, dengar dulu. Bukannya ia bersikap brengsek atau menjadi ba ji ngan. Ya meski memang begitu sebutan yang pantas disematkan untuknya. Mutlak absolut.

Begini, kira-kira apa yang bisa cowok usia 19 tahun -lebih sedikit- lakukan saat melihat bahu te lanjang berwarna seputih susu yang begitu menggoda selain ....

DIIIN! DIIIIINNN!

Suara lengkingan bunyi klakson mobil yang begitu nyaring, berhasil membuyarkan lamunannya. Disusul dengan suara decitan panjang. Berasal dari ban mobil, yang berhenti mendadak tepat di belakang punggungnya. Membuatnya refleks melakukan pengereman mendadak untuk menghentikan laju motor.

Sempat khawatir telah melanggar orang lain akibat melamun barusan. Namun ia bisa bernapas lega. Karena dua mobil di belakang, rupanya baru saja saling bersenggolan.

Ia masih sempat melihat, dua pengemudi keluar dari kendaraan masing-masing dengan wajah penuh emosional.

Namun ia buru-buru menstater motor, dan melesat pergi. Karena harus mengantar sekitar 80-an lebih surat dan paket, ke alamat yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta.

Ia tentu harus memenuhi target pengantaran hari ini. Agar uang sebesar dua ratus ribu rupiah bisa diterima nanti sore. Lumayan, untuk membantu menyicil biaya akhir tahun Icad, anak sulung Bang Is, yang kini telah duduk di bangku kelas enam SD.

***

Dipa

Sejak satu jam yang lalu, ia duduk di ruang tengah rumah Anja dengan gelisah. Namun yang ditunggu belum muncul juga.

Anja, kamu di mana?

Semalam, usai kejadian tak terduga di GOR, ia langsung berlari mengejar Anja di tengah hujan lebat. Namun ia kehilangan jejak, begitu sampai di depan RSIA yang terletak tak jauh dari GOR.

 ---------------

....... Flashback .......

Ia masih ingat betul, bagaimana mereka pertama kali bertemu. Hampir sebelas tahun silam. Ketika Ayah yang dipindahtugaskan ke Jakarta, mengajak mereka pindah ke kompleks perumahan, di mana rumah baru mereka terletak persis di depan rumah Anja.

"Hai, Om, baru pindahan ya?"

Begitu sapa Anja kecil. Sambil menyeret boneka Teddy pada ayahnya. Yang sedang memberi instruksi, pada petugas jasa pengiriman barang. Untuk mengangkut perabotan dari atas truk ke dalam rumah.

"Iya," jawab Ayah sambil tersenyum. Kemudian melihat ke arahnya. "Kenalin nih anak Om, kayaknya seusia ya?"

Ia yang sedang malas campur kesal, karena sebenarnya tak mau ikut pindah ke Jakarta, hanya mencibir. Tak menghiraukan Anja yang mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar, "Nama kamu siapa? Aku Anja."

"Dipa!" tegur Ayah. Saat mengetahui dirinya hanya diam mematung, sambil melotot ke arah gadis kecil berkepang dua, yang ternyata bernama Anja itu.

"Wah, ada siapa ini yang cantik?" Bunda tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Dan ikut bergabung di teras sambil tersenyum.

"Anja."

Gadis kecil sok akrab itu, tanpa sungkan mengulurkan tangan ke arah Bunda. Yang menyambutnya dengan senang hati.

"Wah, nama yang cantik. Secantik orangnya."

"Makasih."

Well, sepertinya kepindahan ke Jakarta benar-benar membawanya pada peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Karena selain alasan panas, tak betah dan belum memiliki teman. Bertetangga dengan Anja jelas bagai sebuah kutukan. Karena gadis kecil bergigi ompong itu sama sekali tak memahami arti dari privacy.

Anja bisa tiba-tiba muncul di halaman belakang rumahnya hanya untuk berkata, "Dipa ... Dipa ... aku punya kucing baru namanya Candy. Lucu deh. Kamu mau lihat nggak?"

Atau menyejajari langkahnya, ketika sedang mengikuti Ayah jogging keliling kompleks di pagi hari, "Kamu olahraga kok males-malesan gitu sih? Percuma tahu nggak?!"

Dan yang paling parah adalah, Bunda mendaftarkannya di sekolah yang sama dengan Anja. Sekelas pula. Nightmare.

"Dipaaaa!? Ya ampuun, kamu sekolah di sini juga?" sambutan Anja terlalu antusias, begitu melihatnya memasuki kelas untuk pertama kali.

"Aku seneneeeng banget kita bisa sekelas," ujar Anja lagi. Dengan senyum merekah dari telinga ke telinga, untuk kemudian ... oh, tidak, ini bagian terburuknya ... ia takkan sanggup untuk mengatakan langsung. Menyerah tanpa syarat.

Ya ... seperti yang seluruh dunia tahu, Anja langsung memeluknya erat-erat di depan kelas. See? Memeluknya erat-erat sampai ia kesulitan untuk bernapas.

Dan adegan fenomenal Anja memeluk Dipa, si anak pindahan baru, di depan kelas, sukses menjadi gosip paling panas yang bertahan di urutan pertama hot gossip sekolah selama bertahun-tahun lamanya. Mengerikan.

"Anja pacarnya Dipa."

"Dipa pacarnya Anja."

"Pada hari Minggu Anja dan Dipa ke kota. Naik delman istimewa duduk di muka. Cieee ...."

"Anja Dipa. Dipa Anja. Anja Dipa. Dipa Anja."

Ke mana pun ia melangkah di seantero sekolah, ejekan itulah yang selalu ia dengar. Di lapangan saat pelajaran olahraga, di kantin, di perpustakaan, bahkan dalam perjalanan field trip ke Ragunan dan TMII anak-anak tetap saja meledeknya.

"Dipa dan Anja bakalan kawin."

"Dipa, jangan lupa kawinin Anja ya kalau udah lulus sekolah."

"Hahahahaahahahahah ...."

Semua itu membuatnya semakin benci Jakarta, benci sekolah, benci di rumah, dan benci Anja. Pokoknya benci titik.

Itulah mengapa, begitu naik ke kelas tiga SD, ia membuat peraturan sendiri yang harus dipatuhi. Yaitu menjauh dari Anja. Agar ejekan anak-anak tak lagi didengarnya. Dan agar Anja tahu, bahwa ia tak nyaman dengan ke sok akraban yang selalu ditunjukkan Anja pada semua orang.

Namun semua orang tahu lah ya, kalau Anja itu jenis dari manusia bebal. Yang tak memiliki kepekaan sama sekali. Nol besar. Jadi, meski ia telah menghindar. Anja tetap memiliki 1001 cara untuk mendekati sekaligus merecokinya.

Membuatnya harus bersabar dan menabah-nabahkan hati sampai lulus SD. Karena setiap hari masih harus mendengar kalimat, "Anja pacarnya Dipa. Dipa pacarnya Anja. Happily ever after. Cieee ...."

Begitu lulus SD, ia pun mati-matian berusaha. Agar bisa bersekolah di tempat yang berbeda dengan Anja. Akibat kenangan buruk saat SD, yang menurutnya sudah cukup melelahkan. Tidak lagi.

Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, takdirlah yang akhirnya menetapkan. Karena mereka kembali bersekolah di SMP yang sama.

Baiklah. Tak apa. Sudah takdir bisa apa. Toh ia sudah lebih dewasa. Lebih memiliki banyak akal. Dalam memikirkan cara, untuk menghindari gadis centil ceriwis, yang membuat seluruh hidupnya jauh dari kata damai. Apalagi menentramkan.

Buah dari kesabaran perlahan mulai menghampirinya. Karena dari bisik-bisik di sekolah, ia akhirnya tahu, jika Anja sangat membenci cewek yang bernama Mikayla. Cewek berdarah Padang-Manado-Sunda, yang dinobatkan sebagai siswi paling cantik di sekolah. Entah Anja benci karena apa. Ia pun tak mengerti.

Hanya bisa menebak-nebak. Mungkin Anja merasa iri dengan dominasi Mikayla. Karena Anja hanyalah siswi dengan prestasi rata-rata yang bertubuh mungil. Tak setinggi, secantik, sepintar, dan seberprestasi Mikayla. Jadi, Mikayla benar-benar jalan keluar yang bagus bukan?

Dan tanpa menunggu lama, keesokan hari setelah mengetahui Anja sangat membenci Mikayla. Ia pun langsung menyatakan cinta kepada Mikayla. Dan mengikrarkan diri, jika mereka berdua telah resmi menjadi sepasang kekasih.

Semua ini apakah karena ia menyukai Mikayla? Tidak juga. Mikayla memang cantik sempurna, namun ia sama sekali tak tertarik. Karena tujuan utama pernyataan cintanya pada Mikayla adalah, untuk menghindari Anja. Dan Mikayla jelas alasan paling tepat.

"Mika, Sabtu besok jalan yuk, ntar kujemput ke rumah," ujarnya. Yang dengan sengaja mengeraskan volume suara. Sebab tahu pasti jika Anja sedang lewat di dekat mereka.

"Oke," Mikayla tersenyum senang. "Kutunggu ya, Dipa ...."

Dari sudut mata ia tahu pasti, jika Anja sedang bersungut-sungut kesal, sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki. Ciri khas gadis itu jika sedang marah. Finally!

Atau ia dengan sengaja menggandeng mesra tangan Mikayla, saat lewat di depan Anja. Hingga membuat gadis yang selalu berwajah ceria itu, tiba-tiba berubah menjadi bermuram durja.

Sungguh sangat menyenangkan.

Namun kelegaannya lepas dari gangguan Anja tak bertahan lama. Karena ternyata selain Anja si pengganggu, ia memiliki masalah besar lain yang masih tersembunyi. Yaitu teman yang menusuk dari belakang.

Ken, jelas menjadi satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak SD. Bahkan sejak ia pertama kali pindah ke Jakarta. Tinggal di dalam kompleks perumahan yang sama dan sekolah yang juga sama, membuat mereka bisa melakukan banyak hal berdua. Belajar, bermain, les, holiday camp, dan semua hal yang biasanya seorang sahabat lakukan. Mereka bahkan sudah seperti saudara.

Namun pesona tak terbantahkan Mikayla berhasil menghancurkan segalanya. Ken -tanpa sepengetahuannya- ternyata menyukai Mikayla sejak hari pertama MOS SMP. Dan tahu pasti jika deklarasi cintanya pada Mikayla, hanyalah kamuflase semata untuk menghindari Anja.

Dan Ken jelas lebih condong pada Mikayla dibanding dirinya. Lebih memilih mengungkapkan perasaan daripada menjaga persahabatan mereka.

Maka, Jumat siang menjadi hari paling kelabu baginya. Saat sedang menunggu Mikayla di dekat pintu gerbang sekolah, ia justru mendapat tamparan telak. Dua kali, dari pacar pertamanya itu.

"Lo manfaatin gue?!" tuduh Mikayla marah.

Namun sebelum ia sempat memberi penjelasan yang masuk akal, Mikayla telah lebih dulu meninggalkan dirinya begitu saja. Untuk kemudian naik ke dalam mobil Ken. Sialan!

Dan lebih sial lagi, adegan tersebut dilihat dengan sempurna oleh Anja. Yang kini sudah kembali tersenyum lebar dari telinga ke telinga, sambil menatapnya penuh arti.

"Putus nih, Dip?" seloroh Anja dengan wajah sumringah. Membuatnya kesal setengah mati.

Namun kekesalannya berubah menjadi penyesalan tak bertepi. Ketika liburan panjang usai kelulusan SMP, di mana Anja sekeluarga pergi berlibur selama dua minggu ke Malang.

"Dipa, gue titip Kuro sama Chloe yaa," ujar Anja yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sambil tersenyum lebar membawa dua ekor kucing.

"Aduh, sori, Ja, gue nggak bisa," ia menolak mentah-mentah. "Lo tahu sendiri gue alergi sama ...."

"Ini ... makanan sama susunya," namun Anja tak menghiraukan penolakannya.

"Pas buat lima belas hari. Tapi kalau ternyata kurang, ini gue bawa vouchernya buat ambil makanan sama susu di Glory Pet Shop. Tahu di mana tempatnya kan? Lo dulu pernah anterin gue ke sana. Inget pasti kaaan?"

Ia hanya bisa mengembuskan napas kesal. Karena begitu selesai bicara Anja langsung berbalik pergi, "Dah Kurooo ... dah Chloeee ...." Sambil melambaikan tangan dan memberi isyarat kiss bye pada dua kucing yang tengah digendongnya.

"Baik baik sama Papap Dipa yaaaa ...."

Apaan Papap Dipa?!

Dan begitu mobil keluarga Anja menghilang di balik tikungan, ia langsung melempar dua kucing gemuk itu sambil mencibir. Enak aja suruh ngurus kucing. In your dreams!

Ia sama sekali tak menghiraukan dua kucing, yang sama persis seperti tuannya itu. Alias menyebalkan. Meski Bi Nah, berkali-kali mengingatkannya, "Aa, eta ucing teu diparaban karunya (Aa, itu kucing nggak dikasih makan kasihan)."

"Bibi kasih makan ya, pikarunyaeun (kasihan sekali) ...."

Ia benar-benar tak pernah memedulikan dua kucing menyebalkan itu.

Sampai suatu sore, saat ia baru pulang bermain basket di sports center bersama teman-teman. Bi Nah tergopoh-gopoh menghampirinya dengan wajah cemas, "Aa, eta si Kuro jeung Chloe kunaon nya (itu si Kuro sama Chloe kenapa ya). Hariwang ti isuk teu daek marab (Khawatir dari pagi nggak mau makan). Watir ih (kasihan)."

Ia hanya mengibaskan tangan tak peduli. Lebih memilih untuk bermain PS.

Namun tak berapa lama kemudian, teriakan Bunda membuatnya terperanjat, "Adeee! Ini ucing kunaon (ini kucing kenapa)?!"

Dengan secepat kilat ia berlari ke dapur. Di mana dua kucing menyebalkan itu tengah terkulai lemah di atas lantai, dengan mulut mengeluarkan buih.

"Cepet bawa ke dokter!" pekik Bunda tak sabar.

Dan hari kepulangan Anja dari Malang, menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya.

"Kuro sama Chloe mana? Gue kangen banget nih?" tanya Anja riang. Dengan kepala celingak-celinguk menelusuri seluruh isi rumahnya.

Namun ia hanya bisa berdiri mematung di balik pintu. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Kuroo ... Chloeee ...." Anja mulai memanggil-manggil dua kucing kesayangannya. "Where are you nooow ...."

Ketika ia tengah berusaha memberanikan diri, untuk memberitakan hal yang teramat penting kepada Anja. Tiba-tiba Bunda muncul dari halaman samping, usai menyiangi tanaman bunga, "Eh, Anja cantik ... udah pulang, sayang?"

Anja tersenyum mengangguk. Kemudian menghambur kearah Bunda, "Bunda ... ada oleh-oleh dari Mama, tapi belum aku bawa."

"Oh, nggak usah repot-repot," Bunda tertawa.

"Soalnya aku mau ambil Kuro sama Chloe dulu. Kangeeen bangeeet."

Kalimat terakhir Anja membuat Bunda memberi tatapan menuduh padanya. "Ade belum cerita?"

Anja menangis, meraung, menghentak, mengamuk, begitu mengetahui jika Kuro dan Chloe telah mati. Namun itu belum apa-apa, karena masalah sebenarnya adalah, Anja yang sangat marah padanya, kemudian beralih menjadi begitu membencinya.

"Anja, gue minta maaf," ia berkali-kali mengetuk pintu kamar Anja, namun tak ada jawaban.

Tiga hari ia menunggu Anja bersedia memaafkan dirinya, tapi nihil. Anja bahkan sama sekali tak mau menemuinya.

"Maafin Anja ya, Dipa," Mama Anja tersenyum iba. Demi melihatnya berdiri seharian di balik jendela kamar Anja. Berharap Anja sudi memaafkannya.

"Tunggu sehari sampai dua hari dulu. Nanti lama-lama juga Anja mau baikan lagi," Mama Anja menepuk bahunya pelan meminta pengertian.

Namun, sampai mereka berdua masuk di SMA yang sama, Anja tetap tak mau memaafkannya. Anja bahkan bersikap, seolah-olah mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya. Dan itu bertahan hingga kenaikan kelas XI. Ini jelas menjadi ajang penyiksaan perlahan bagi dirinya.

"Anja?" ia selalu berusaha menyapa dan mendekat.

Tapi Anja tak pernah memedulikannya, selalu memasang jarak dan menyetel wajah bermusuhan. Bahkan saat mereka sama-sama menjadi pengurus OSIS, Anja tetap tak menghiraukan keberadaannya.

Lalu, tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. Yaitu memberi hadiah seekor kucing yang sangat manis, untuk perayaan sweet seventeen Anja. Beberapa bulan sebelum kenaikan kelas XII.

Entah karena sudah bosan bermusuhan, atau memang hari keberuntungannya. Untuk kali pertama sejak insiden Kuro dan Chloe, Anja tersenyum senang begitu melihatnya.

"Ya ampun, lucu banget, siapa namanya?" Anja bahkan bertingkah seolah mereka tak pernah bermusuhan dan keadaan baik-baik saja. Padahal tidak.

"Ini kucing buat lo, jadi lo yang kasih nama."

"Buat gue?" mata Anja mengerjap indah. "Beneran?"

Ia mengangguk sambil tersenyum.

"Makasiih," Anja langsung menghambur ke dalam pelukannya. Secara tidak langsung menandai gencatan senjata mereka setelah bermusuhan selama hampir dua tahun lamanya.

 ---------------

....... Masa Sekarang .......

Suara handle pintu yang dibuka dengan gerakan kasar, berhasil membuyarkan lamunan panjangnya. Membuatnya spontan berdiri untuk mencari tahu siapa yang datang.

Terpopuler

Comments

maya ummu ihsan

maya ummu ihsan

baca lagi setelah sekian lama ternyata ada part2 yg beda

2024-12-25

0

Nunk🇮🇩🇵🇸

Nunk🇮🇩🇵🇸

iishh.. Pengen nakol si dipa..

2024-11-14

0

LarasatiAtiqahGunawan

LarasatiAtiqahGunawan

telat lu dip! anja dah digondol cowok lain

2024-10-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Retrouvailles
2 2. Run All Night
3 3. Room Number 27
4 4. A Big Mistake
5 5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6 6. "Gue Hancur ...."
7 7. Cakra itu ....
8 8. Year End Film Project
9 9. Mamayu dan Mager
10 10. Chocolate Almond Cinnamon
11 11. Hadiah dari Kakak Cantik
12 12. Fantastic Four
13 13. The Result is ....
14 14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15 15. Bad Timing
16 16. How It Feels
17 17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18 18. Tersesat
19 19. Menepilah
20 20. Namaku Cinta
21 21. Blue Saturday Night
22 22. Meregang
23 23. Melampaui Semua Batasan
24 24. Cinta Selalu Ada
25 25. Cinta Selalu Ada (2)
26 26. Cinta Selalu Ada (3)
27 27. Cinta Selalu Ada (4)
28 28. Cinta Selalu Ada (5)
29 29. As Long As You Love Me
30 30. Butiran Debu
31 31. Butiran Debu (2)
32 32. Butiran Debu (3)
33 33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34 34. Hari Tanpa Bayangan
35 35. "Good Luck, Cakra!"
36 36. Losing You
37 37. Don't Wanna Cry
38 38. Don't Wanna Cry (2)
39 39. Mama Knows Best
40 40. Terrible Things
41 41. Terrible Things (2)
42 42. When Mama Said
43 43. The Real Problem
44 44. Road to ....
45 45. Road to .... (2)
46 46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47 47. Starting The Countdown
48 48. Mitsaqan Ghalidza
49 49. You Are The Reason
50 50. You Are The Reason (2)
51 51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52 52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53 53. Mencari Rekam Jejak
54 54. 17 Missed Calls
55 55. 17 Missed Calls (2)
56 56. Love Has No Reason
57 57. Love Has No Reason (2)
58 58. Love Has No Reason (3)
59 59. Love Has No Reason (4)
60 60. Love Has No Reason (5)
61 61. Nothings Gonna Change My Love For You
62 62. Best Mama, Ever
63 63. You and Me Against The World
64 64. You and Me Against The World (2)
65 65. Just You and Me
66 66. Just You and Me (2)
67 67. Bertualang Bersamamu
68 68. Selalu Bersamamu
69 69. Selalu Bersamamu (2)
70 70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71 71. Pagi di Rumah Mertua
72 72. Kado Berpita Biru
73 73. Kau Buatku Jatuh Hati
74 74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75 75. "Leave Them Alone"
76 76. Runtuhnya Langit Biru
77 77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78 78. Finding You
79 79. It's Us, Against The Entire World
80 80. It's Us, Against The Entire World (2)
81 81. It's Us, Against The Entire World (3)
82 82. Our Journey
83 83. Our Journey (2)
84 84. Kesuksesan yang Tertunda
85 85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86 86. "See You On Top!"
87 87. Nostalgia SMA Kita
88 88. Everything Gonna be Alright
89 89. You're More Than What You Think
90 90. You're More Than What You Think (2)
91 91. From Zero to Hero
92 92. "Hati-hati ya!"
93 93. "Miss You Already ...."
94 94. Miss You Like Crazy
95 95. Miss You Like Crazy (2)
96 96. You're Always on My Mind
97 97. Bersamamu Selalu Indah
98 98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99 99. The Beginning
100 100. No Pain No Gain
101 101. You're My All
102 From Author with Love
103 102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104 103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105 104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106 105. "Jangan Panik!"
107 106. "Jangan Panik!" (2)
108 107. "Maafin Anja, Ma."
109 108. Bintang Paling Terang
110 109. Love at The First Sight
111 From Cakra Anja with Love
112 110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113 111. New Mom
114 112. New Mom (2)
115 113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116 114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117 115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118 116. "Dia Orang Mana?"
119 117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120 118. Aceh Lon Sayang**
121 119. Aceh Lon Sayang (2)
122 120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123 121. "Seulamat Tinggai" **
124 122. Lahirnya Singa Pemberani
125 123. "Jih Rakan Lon" **
126 124. "Lon Lake Meuah ...." **
127 Sepatah dua patah kata
128 125. Titik Balik
129 126. Rewriting
130 127. Rewriting (2)
131 128. Reminding
132 129. Reminding (2)
133 130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134 131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135 132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136 133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137 Sapaan Hangat
138 134. Sasa Oh Sasa ....
139 135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140 136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141 137. About This Night
142 138. About This Night (2)
143 139. Beratapkan Langit Malam
144 140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145 141. Bidadari di Hadapan
146 142. (He) Cares For You **
147 143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148 144. Follow Your Heart
149 145. Best Decision, Ever
150 146. "Terimakasih, Om."
151 147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152 148. Day by Day
153 149. Forever Yours
154 150. Forever Yours (2)
155 151. The Luckiest Guy
156 Ucapan Terimakasih
157 152. The Luckiest Guy (2)
158 153. Welcome to The Club
159 154. When You're Not Around
160 155. When You're Not Around (2)
161 156. How It Started
162 157. How It Started (2)
163 158. Saat Dia Datang Kembali
164 159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165 160. Happy Bestdayyy!
166 161. Unforgettable Moments
167 162. Unforgettable Moments (2)
168 163. Semua Karena Cinta
169 164. Semua Karena Cinta (2)
170 165. Too Much Love
171 166. Too Much Love (2)
172 167. Love, Wild Things, and You
173 168. How Its Going
174 169. How Its Going (2)
175 170. Adrenalin Rush
176 171. Adrenalin Rush (2)
177 172. All About Love
178 173. Love is You
179 174. Life Must Go On
180 175. Life Must Go On (2)
181 Before Say Goodbye
182 176. Time After Time
183 177. Time After Time (2)
184 178. Time After Time (3)
185 179. Time After Time (4)
186 180. Love of My Life
187 180. Love of My Life (2)
188 180. (End) Love of My Life
189 (Maybe Not) The End of The Road
190 Panduan Cara Memberi Dukungan
191 Dibuang Sayang (1)
192 Dibuang Sayang (2)
193 Dibuang Sayang (3)
194 Dibuang Sayang (4)
195 Dibuang Sayang (5)
196 Novel Pak Pici Duren Sawit
197 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 197 Episodes

1
1. Retrouvailles
2
2. Run All Night
3
3. Room Number 27
4
4. A Big Mistake
5
5. Sunday Morning, Worst Thing is Falling
6
6. "Gue Hancur ...."
7
7. Cakra itu ....
8
8. Year End Film Project
9
9. Mamayu dan Mager
10
10. Chocolate Almond Cinnamon
11
11. Hadiah dari Kakak Cantik
12
12. Fantastic Four
13
13. The Result is ....
14
14. Tenggelam Dalam Lautan Penyesalan
15
15. Bad Timing
16
16. How It Feels
17
17. Kasih Ibu Sepanjang Masa
18
18. Tersesat
19
19. Menepilah
20
20. Namaku Cinta
21
21. Blue Saturday Night
22
22. Meregang
23
23. Melampaui Semua Batasan
24
24. Cinta Selalu Ada
25
25. Cinta Selalu Ada (2)
26
26. Cinta Selalu Ada (3)
27
27. Cinta Selalu Ada (4)
28
28. Cinta Selalu Ada (5)
29
29. As Long As You Love Me
30
30. Butiran Debu
31
31. Butiran Debu (2)
32
32. Butiran Debu (3)
33
33. "I'm Nobody and I've Nothing"
34
34. Hari Tanpa Bayangan
35
35. "Good Luck, Cakra!"
36
36. Losing You
37
37. Don't Wanna Cry
38
38. Don't Wanna Cry (2)
39
39. Mama Knows Best
40
40. Terrible Things
41
41. Terrible Things (2)
42
42. When Mama Said
43
43. The Real Problem
44
44. Road to ....
45
45. Road to .... (2)
46
46. Rezeki dari Arah yang Tak Terduga
47
47. Starting The Countdown
48
48. Mitsaqan Ghalidza
49
49. You Are The Reason
50
50. You Are The Reason (2)
51
51. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur
52
52. Terima Kasih : Satu Tanda Syukur (2)
53
53. Mencari Rekam Jejak
54
54. 17 Missed Calls
55
55. 17 Missed Calls (2)
56
56. Love Has No Reason
57
57. Love Has No Reason (2)
58
58. Love Has No Reason (3)
59
59. Love Has No Reason (4)
60
60. Love Has No Reason (5)
61
61. Nothings Gonna Change My Love For You
62
62. Best Mama, Ever
63
63. You and Me Against The World
64
64. You and Me Against The World (2)
65
65. Just You and Me
66
66. Just You and Me (2)
67
67. Bertualang Bersamamu
68
68. Selalu Bersamamu
69
69. Selalu Bersamamu (2)
70
70. "Lakukan Sekarang Juga!"
71
71. Pagi di Rumah Mertua
72
72. Kado Berpita Biru
73
73. Kau Buatku Jatuh Hati
74
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?
75
75. "Leave Them Alone"
76
76. Runtuhnya Langit Biru
77
77. Kiamat Menjadi Kenyataan
78
78. Finding You
79
79. It's Us, Against The Entire World
80
80. It's Us, Against The Entire World (2)
81
81. It's Us, Against The Entire World (3)
82
82. Our Journey
83
83. Our Journey (2)
84
84. Kesuksesan yang Tertunda
85
85. Jangan Pernah Lelah untuk Belajar
86
86. "See You On Top!"
87
87. Nostalgia SMA Kita
88
88. Everything Gonna be Alright
89
89. You're More Than What You Think
90
90. You're More Than What You Think (2)
91
91. From Zero to Hero
92
92. "Hati-hati ya!"
93
93. "Miss You Already ...."
94
94. Miss You Like Crazy
95
95. Miss You Like Crazy (2)
96
96. You're Always on My Mind
97
97. Bersamamu Selalu Indah
98
98. Bersamamu Selalu Indah (2)
99
99. The Beginning
100
100. No Pain No Gain
101
101. You're My All
102
From Author with Love
103
102. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan
104
103. Hari yang Dipenuhi Kebahagiaan (2)
105
104. Ibu, Termulia dan Teristimewa
106
105. "Jangan Panik!"
107
106. "Jangan Panik!" (2)
108
107. "Maafin Anja, Ma."
109
108. Bintang Paling Terang
110
109. Love at The First Sight
111
From Cakra Anja with Love
112
110. Kisah Teuku Aldebaran Ishak
113
111. New Mom
114
112. New Mom (2)
115
113. "Drg. Anjani Prameswari, Soon to be ...."
116
114. "Bukan ini yang Kuinginkan"
117
115. "Apa Kita Pernah Bertemu Sebelumnya?"
118
116. "Dia Orang Mana?"
119
117. "Dia ... Anak Hamzah Ishak?"
120
118. Aceh Lon Sayang**
121
119. Aceh Lon Sayang (2)
122
120. Adek Lon Sayang, Adek Lon Malang **
123
121. "Seulamat Tinggai" **
124
122. Lahirnya Singa Pemberani
125
123. "Jih Rakan Lon" **
126
124. "Lon Lake Meuah ...." **
127
Sepatah dua patah kata
128
125. Titik Balik
129
126. Rewriting
130
127. Rewriting (2)
131
128. Reminding
132
129. Reminding (2)
133
130. Trio Sunter Goes to Aqiqah
134
131. Hari Spesial untuk Aran Tersayang
135
132. Hari Spesial untuk Aran Tersayang (2)
136
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger
137
Sapaan Hangat
138
134. Sasa Oh Sasa ....
139
135. Sasa Oh Sasa .... (2)
140
136. Sasa Oh Sasa .... (3)
141
137. About This Night
142
138. About This Night (2)
143
139. Beratapkan Langit Malam
144
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."
145
141. Bidadari di Hadapan
146
142. (He) Cares For You **
147
143. Mimpiku Adalah Kalian Berdua
148
144. Follow Your Heart
149
145. Best Decision, Ever
150
146. "Terimakasih, Om."
151
147. Sampai Jumpa di Lain Hari
152
148. Day by Day
153
149. Forever Yours
154
150. Forever Yours (2)
155
151. The Luckiest Guy
156
Ucapan Terimakasih
157
152. The Luckiest Guy (2)
158
153. Welcome to The Club
159
154. When You're Not Around
160
155. When You're Not Around (2)
161
156. How It Started
162
157. How It Started (2)
163
158. Saat Dia Datang Kembali
164
159. Saat Dia Datang Kembali (2)
165
160. Happy Bestdayyy!
166
161. Unforgettable Moments
167
162. Unforgettable Moments (2)
168
163. Semua Karena Cinta
169
164. Semua Karena Cinta (2)
170
165. Too Much Love
171
166. Too Much Love (2)
172
167. Love, Wild Things, and You
173
168. How Its Going
174
169. How Its Going (2)
175
170. Adrenalin Rush
176
171. Adrenalin Rush (2)
177
172. All About Love
178
173. Love is You
179
174. Life Must Go On
180
175. Life Must Go On (2)
181
Before Say Goodbye
182
176. Time After Time
183
177. Time After Time (2)
184
178. Time After Time (3)
185
179. Time After Time (4)
186
180. Love of My Life
187
180. Love of My Life (2)
188
180. (End) Love of My Life
189
(Maybe Not) The End of The Road
190
Panduan Cara Memberi Dukungan
191
Dibuang Sayang (1)
192
Dibuang Sayang (2)
193
Dibuang Sayang (3)
194
Dibuang Sayang (4)
195
Dibuang Sayang (5)
196
Novel Pak Pici Duren Sawit
197
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!