Anja
Ia terbangun.
Karena segaris sinar matahari pagi, menembus masuk melalui jendela kaca yang tak tertutup gorden. Kemudian mengenai kedua kelopak matanya.
Silau.
Sambil mengerjap perlahan, matanya mulai terbuka. Namun rasa pusing campur pening yang tiba-tiba menyerang kepala, membuat matanya yang telah setengah terbuka kembali terpejam.
"Aduh ...." Ia refleks memijat keningnya yang terasa berat. "Pusing banget ...."
Setelah beberapa saat menjeda waktu, barulah ia bisa membuka kedua mata dengan sempurna. Dan langsung mendapati sebuah pintu kayu berwarna cokelat yang asing, jendela kaca yang terbuka setengah dan berdebu di tiap sisinya, langit-langit kamar yang mulai kusam, serta udara panas dan pengap yang membuat tubuhnya berkeringat.
Jadi pertanyaannya sekarang adalah, ini di mana?
Sambil mengernyit sekaligus memicingkan mata. Akibat dari kombinasi pusing yang sangat. Bercampur dengan pancaran tajam sinar matahari, yang menyerang kedua matanya. Perlahan ia mulai beringsut. Berusaha duduk di kepala tempat tidur.
Dan selimut yang melorot hingga perut, berhasil membuatnya menjerit. Demi menyadari jika ia tak memakai baju atasan.
"AAAAAAAAAAA!"
Dengan napas memburu, ia buru-buru menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sambil masih terus menjerit panik.
"AAAAAAAAAAA!"
What happened? What happened?
Apa yang terjadi? Apa yang telah ia lakukan?
Apakah ia sedang bermimpi buruk?
Karena ini jelas mimpi yang sangat buruk. Amat sangat.
Sambil menutup mulut yang masih ternganga saking terkejutnya dengan sebelah tangan, ia memberanikan diri untuk mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Tak ada seorangpun di sana kecuali dirinya. Dan tak ada tanda-tanda orang lain di dalam kamar ini.
Oke, tenang Anja, tenang ....
Inhale, exhale ....
Ia masih berusaha mengatur napas menjadi lebih normal. Agar bisa berpikir jernih. Ketika rasa pegal mendadak menyerang sekujur tubuhnya. Seperti beduk yang dipukul bertalu-talu tanpa ampun. Terutama di bagian inti tubuhnya.
Sambil memejamkan mata kuat-kuat saking takutnya, ia memberanikan diri membuka selimut. Dan menyadari, jika ia memang benar-benar tak memakai apapun di dalamnya.
"AAAAAAAAAAA!"
***
Cakra
Ia masih menyortir setumpuk surat dan paket berbungkus cokelat, yang memenuhi tas travel besar. Yang disimpan di atas jok motor, sesuai dengan urutan alamat terdekat. Ketika Yah bit Hamdan berteriak memanggilnya dari dalam rumah.
"Oi Gam, peu haba (apakabar)?"
"Haba get (kabar baik), Yah bit (paman)," jawabnya sembari terus menyortir paket.
"Peu haba Mak (apakabar Mak)?"
"Alhamdulillah get (baik)."
"Kaleu pajoh bu (sudah makan)? Jak pajoh bu (ayo makan)!"
"Ka, teurimong gaseh (sudah, terima kasih)."
Yah bit Hamdan adalah anak dari adik Nenek Mamak. Apa sebutannya? Sepupu Mamak beda Nenek begitu? Seperti itulah. Istri Yah bit Hamdan sudah meninggal sekitar empat tahun yang lalu. Akibat menderita sakit diabetes yang tak kunjung sembuh. Dan masih menduda hingga sekarang.
Rumah asli Yah bit Hamdan di Lhokseumawe. Namun sejak sang istri meninggal, Yah bit Hamdan tinggal berpindah-pindah sesuai keinginan dan suasana hati. Berkeliling dari rumah ke rumah seluruh anak-anaknya.
Terkadang Yah bit Hamdan tinggal selama berbulan-bulan dengan keluarga Bang Gani di Lhokseumawe. Kalau sudah mulai bosan, lalu pindah ke rumah Kak Nana di Binjai. Atau di Muarabungo, ikut mengasuh cucu di rumah Bang Rozi. Yang istrinya baru saja meninggal beberapa bulan lalu. Terakhir, yang paling jarang dikunjungi adalah si bungsu, Bang Fahri. Pemilik usaha jasa pengiriman tempatnya bekerja paruh waktu menjadi kurir inval sekarang ini.
Baru sekitar tiga minggu yang lalu Yah bit Hamdan datang ke Jakarta dari Muarabungo. Setiap melihatnya pula, Yah bit Hamdan selalu menanyakan kabar Mamak, lalu mengajaknya untuk makan. Begitu terus selama tiga minggu tak pernah berubah.
Demi melihatnya sibuk mengecek paket, Yah bit Hamdan memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Disusul dengan teriakan Bang Fahri yang menyuruhnya untuk segera berangkat.
"Cepat berangkat, biar cepat beres," begitu kata Bang Fahri.
Ia mengangguk setuju, bersamaan dengan berakhirnya tugas menyortir alamat. Agar lebih efektif dalam mengantarkan paket. Sambil menstater motor ia berteriak, "Lon jak lee beh (aku pergi dulu)."
"Yo, tiati!"
Pekerjaan ini telah ia jalani sejak sekitar dua tahun yang lalu. Ketika kakak satu-satunya, Bang Iskandar, yang bekerja sebagai ABK (anak buah kapal) di sebuah kapal tanker pembawa minyak berbendera Liberia, tewas tertembak bersama sejumlah ABK lainnya. Saat terjadi insiden serangan bajak laut bersenjata di perairan internasional, sekitar 32 kilometer (20 mil) lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).
Jenazah Bang Is tak pernah kembali. Begitu juga dengan gaji dan klaim asuransi. Yang justru ditilap oleh agent crewing (yang membantu mencarikan kerja di kapal laut), yang menyalurkan Abangnya itu.
Meninggalnya Bang Is otomatis membuat jatah uang untuk hidup Mamak dan dirinya hilang. Begitu juga dengan Kak Pocut -istri Bang Is- dan ketiga anak Bang Is, yang kini tinggal bersama mereka di rumah Mamak.
Itulah mengapa, ia mulai melakukan pekerjaan apapun. Yang bisa menghasilkan uang. Untuk membantu Mamak dan Kak Pocut. Agar dapur tetap ngebul. Dan mereka berempat, ia dan ketiga anak Bang Is, bisa tetap melanjutkan sekolah.
Ngomong-ngomong tentang sekolah, ia jadi teringat pada Anja. Yang subuh tadi ia tinggalkan dalam keadaan terlelap.
Hei, dengar dulu. Bukannya ia bersikap brengsek atau menjadi ba ji ngan. Ya meski memang begitu sebutan yang pantas disematkan untuknya. Mutlak absolut.
Begini, kira-kira apa yang bisa cowok usia 19 tahun -lebih sedikit- lakukan saat melihat bahu te lanjang berwarna seputih susu yang begitu menggoda selain ....
DIIIN! DIIIIINNN!
Suara lengkingan bunyi klakson mobil yang begitu nyaring, berhasil membuyarkan lamunannya. Disusul dengan suara decitan panjang. Berasal dari ban mobil, yang berhenti mendadak tepat di belakang punggungnya. Membuatnya refleks melakukan pengereman mendadak untuk menghentikan laju motor.
Sempat khawatir telah melanggar orang lain akibat melamun barusan. Namun ia bisa bernapas lega. Karena dua mobil di belakang, rupanya baru saja saling bersenggolan.
Ia masih sempat melihat, dua pengemudi keluar dari kendaraan masing-masing dengan wajah penuh emosional.
Namun ia buru-buru menstater motor, dan melesat pergi. Karena harus mengantar sekitar 80-an lebih surat dan paket, ke alamat yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta.
Ia tentu harus memenuhi target pengantaran hari ini. Agar uang sebesar dua ratus ribu rupiah bisa diterima nanti sore. Lumayan, untuk membantu menyicil biaya akhir tahun Icad, anak sulung Bang Is, yang kini telah duduk di bangku kelas enam SD.
***
Dipa
Sejak satu jam yang lalu, ia duduk di ruang tengah rumah Anja dengan gelisah. Namun yang ditunggu belum muncul juga.
Anja, kamu di mana?
Semalam, usai kejadian tak terduga di GOR, ia langsung berlari mengejar Anja di tengah hujan lebat. Namun ia kehilangan jejak, begitu sampai di depan RSIA yang terletak tak jauh dari GOR.
---------------
....... Flashback .......
Ia masih ingat betul, bagaimana mereka pertama kali bertemu. Hampir sebelas tahun silam. Ketika Ayah yang dipindahtugaskan ke Jakarta, mengajak mereka pindah ke kompleks perumahan, di mana rumah baru mereka terletak persis di depan rumah Anja.
"Hai, Om, baru pindahan ya?"
Begitu sapa Anja kecil. Sambil menyeret boneka Teddy pada ayahnya. Yang sedang memberi instruksi, pada petugas jasa pengiriman barang. Untuk mengangkut perabotan dari atas truk ke dalam rumah.
"Iya," jawab Ayah sambil tersenyum. Kemudian melihat ke arahnya. "Kenalin nih anak Om, kayaknya seusia ya?"
Ia yang sedang malas campur kesal, karena sebenarnya tak mau ikut pindah ke Jakarta, hanya mencibir. Tak menghiraukan Anja yang mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar, "Nama kamu siapa? Aku Anja."
"Dipa!" tegur Ayah. Saat mengetahui dirinya hanya diam mematung, sambil melotot ke arah gadis kecil berkepang dua, yang ternyata bernama Anja itu.
"Wah, ada siapa ini yang cantik?" Bunda tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Dan ikut bergabung di teras sambil tersenyum.
"Anja."
Gadis kecil sok akrab itu, tanpa sungkan mengulurkan tangan ke arah Bunda. Yang menyambutnya dengan senang hati.
"Wah, nama yang cantik. Secantik orangnya."
"Makasih."
Well, sepertinya kepindahan ke Jakarta benar-benar membawanya pada peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Karena selain alasan panas, tak betah dan belum memiliki teman. Bertetangga dengan Anja jelas bagai sebuah kutukan. Karena gadis kecil bergigi ompong itu sama sekali tak memahami arti dari privacy.
Anja bisa tiba-tiba muncul di halaman belakang rumahnya hanya untuk berkata, "Dipa ... Dipa ... aku punya kucing baru namanya Candy. Lucu deh. Kamu mau lihat nggak?"
Atau menyejajari langkahnya, ketika sedang mengikuti Ayah jogging keliling kompleks di pagi hari, "Kamu olahraga kok males-malesan gitu sih? Percuma tahu nggak?!"
Dan yang paling parah adalah, Bunda mendaftarkannya di sekolah yang sama dengan Anja. Sekelas pula. Nightmare.
"Dipaaaa!? Ya ampuun, kamu sekolah di sini juga?" sambutan Anja terlalu antusias, begitu melihatnya memasuki kelas untuk pertama kali.
"Aku seneneeeng banget kita bisa sekelas," ujar Anja lagi. Dengan senyum merekah dari telinga ke telinga, untuk kemudian ... oh, tidak, ini bagian terburuknya ... ia takkan sanggup untuk mengatakan langsung. Menyerah tanpa syarat.
Ya ... seperti yang seluruh dunia tahu, Anja langsung memeluknya erat-erat di depan kelas. See? Memeluknya erat-erat sampai ia kesulitan untuk bernapas.
Dan adegan fenomenal Anja memeluk Dipa, si anak pindahan baru, di depan kelas, sukses menjadi gosip paling panas yang bertahan di urutan pertama hot gossip sekolah selama bertahun-tahun lamanya. Mengerikan.
"Anja pacarnya Dipa."
"Dipa pacarnya Anja."
"Pada hari Minggu Anja dan Dipa ke kota. Naik delman istimewa duduk di muka. Cieee ...."
"Anja Dipa. Dipa Anja. Anja Dipa. Dipa Anja."
Ke mana pun ia melangkah di seantero sekolah, ejekan itulah yang selalu ia dengar. Di lapangan saat pelajaran olahraga, di kantin, di perpustakaan, bahkan dalam perjalanan field trip ke Ragunan dan TMII anak-anak tetap saja meledeknya.
"Dipa dan Anja bakalan kawin."
"Dipa, jangan lupa kawinin Anja ya kalau udah lulus sekolah."
"Hahahahaahahahahah ...."
Semua itu membuatnya semakin benci Jakarta, benci sekolah, benci di rumah, dan benci Anja. Pokoknya benci titik.
Itulah mengapa, begitu naik ke kelas tiga SD, ia membuat peraturan sendiri yang harus dipatuhi. Yaitu menjauh dari Anja. Agar ejekan anak-anak tak lagi didengarnya. Dan agar Anja tahu, bahwa ia tak nyaman dengan ke sok akraban yang selalu ditunjukkan Anja pada semua orang.
Namun semua orang tahu lah ya, kalau Anja itu jenis dari manusia bebal. Yang tak memiliki kepekaan sama sekali. Nol besar. Jadi, meski ia telah menghindar. Anja tetap memiliki 1001 cara untuk mendekati sekaligus merecokinya.
Membuatnya harus bersabar dan menabah-nabahkan hati sampai lulus SD. Karena setiap hari masih harus mendengar kalimat, "Anja pacarnya Dipa. Dipa pacarnya Anja. Happily ever after. Cieee ...."
Begitu lulus SD, ia pun mati-matian berusaha. Agar bisa bersekolah di tempat yang berbeda dengan Anja. Akibat kenangan buruk saat SD, yang menurutnya sudah cukup melelahkan. Tidak lagi.
Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, takdirlah yang akhirnya menetapkan. Karena mereka kembali bersekolah di SMP yang sama.
Baiklah. Tak apa. Sudah takdir bisa apa. Toh ia sudah lebih dewasa. Lebih memiliki banyak akal. Dalam memikirkan cara, untuk menghindari gadis centil ceriwis, yang membuat seluruh hidupnya jauh dari kata damai. Apalagi menentramkan.
Buah dari kesabaran perlahan mulai menghampirinya. Karena dari bisik-bisik di sekolah, ia akhirnya tahu, jika Anja sangat membenci cewek yang bernama Mikayla. Cewek berdarah Padang-Manado-Sunda, yang dinobatkan sebagai siswi paling cantik di sekolah. Entah Anja benci karena apa. Ia pun tak mengerti.
Hanya bisa menebak-nebak. Mungkin Anja merasa iri dengan dominasi Mikayla. Karena Anja hanyalah siswi dengan prestasi rata-rata yang bertubuh mungil. Tak setinggi, secantik, sepintar, dan seberprestasi Mikayla. Jadi, Mikayla benar-benar jalan keluar yang bagus bukan?
Dan tanpa menunggu lama, keesokan hari setelah mengetahui Anja sangat membenci Mikayla. Ia pun langsung menyatakan cinta kepada Mikayla. Dan mengikrarkan diri, jika mereka berdua telah resmi menjadi sepasang kekasih.
Semua ini apakah karena ia menyukai Mikayla? Tidak juga. Mikayla memang cantik sempurna, namun ia sama sekali tak tertarik. Karena tujuan utama pernyataan cintanya pada Mikayla adalah, untuk menghindari Anja. Dan Mikayla jelas alasan paling tepat.
"Mika, Sabtu besok jalan yuk, ntar kujemput ke rumah," ujarnya. Yang dengan sengaja mengeraskan volume suara. Sebab tahu pasti jika Anja sedang lewat di dekat mereka.
"Oke," Mikayla tersenyum senang. "Kutunggu ya, Dipa ...."
Dari sudut mata ia tahu pasti, jika Anja sedang bersungut-sungut kesal, sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki. Ciri khas gadis itu jika sedang marah. Finally!
Atau ia dengan sengaja menggandeng mesra tangan Mikayla, saat lewat di depan Anja. Hingga membuat gadis yang selalu berwajah ceria itu, tiba-tiba berubah menjadi bermuram durja.
Sungguh sangat menyenangkan.
Namun kelegaannya lepas dari gangguan Anja tak bertahan lama. Karena ternyata selain Anja si pengganggu, ia memiliki masalah besar lain yang masih tersembunyi. Yaitu teman yang menusuk dari belakang.
Ken, jelas menjadi satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak SD. Bahkan sejak ia pertama kali pindah ke Jakarta. Tinggal di dalam kompleks perumahan yang sama dan sekolah yang juga sama, membuat mereka bisa melakukan banyak hal berdua. Belajar, bermain, les, holiday camp, dan semua hal yang biasanya seorang sahabat lakukan. Mereka bahkan sudah seperti saudara.
Namun pesona tak terbantahkan Mikayla berhasil menghancurkan segalanya. Ken -tanpa sepengetahuannya- ternyata menyukai Mikayla sejak hari pertama MOS SMP. Dan tahu pasti jika deklarasi cintanya pada Mikayla, hanyalah kamuflase semata untuk menghindari Anja.
Dan Ken jelas lebih condong pada Mikayla dibanding dirinya. Lebih memilih mengungkapkan perasaan daripada menjaga persahabatan mereka.
Maka, Jumat siang menjadi hari paling kelabu baginya. Saat sedang menunggu Mikayla di dekat pintu gerbang sekolah, ia justru mendapat tamparan telak. Dua kali, dari pacar pertamanya itu.
"Lo manfaatin gue?!" tuduh Mikayla marah.
Namun sebelum ia sempat memberi penjelasan yang masuk akal, Mikayla telah lebih dulu meninggalkan dirinya begitu saja. Untuk kemudian naik ke dalam mobil Ken. Sialan!
Dan lebih sial lagi, adegan tersebut dilihat dengan sempurna oleh Anja. Yang kini sudah kembali tersenyum lebar dari telinga ke telinga, sambil menatapnya penuh arti.
"Putus nih, Dip?" seloroh Anja dengan wajah sumringah. Membuatnya kesal setengah mati.
Namun kekesalannya berubah menjadi penyesalan tak bertepi. Ketika liburan panjang usai kelulusan SMP, di mana Anja sekeluarga pergi berlibur selama dua minggu ke Malang.
"Dipa, gue titip Kuro sama Chloe yaa," ujar Anja yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sambil tersenyum lebar membawa dua ekor kucing.
"Aduh, sori, Ja, gue nggak bisa," ia menolak mentah-mentah. "Lo tahu sendiri gue alergi sama ...."
"Ini ... makanan sama susunya," namun Anja tak menghiraukan penolakannya.
"Pas buat lima belas hari. Tapi kalau ternyata kurang, ini gue bawa vouchernya buat ambil makanan sama susu di Glory Pet Shop. Tahu di mana tempatnya kan? Lo dulu pernah anterin gue ke sana. Inget pasti kaaan?"
Ia hanya bisa mengembuskan napas kesal. Karena begitu selesai bicara Anja langsung berbalik pergi, "Dah Kurooo ... dah Chloeee ...." Sambil melambaikan tangan dan memberi isyarat kiss bye pada dua kucing yang tengah digendongnya.
"Baik baik sama Papap Dipa yaaaa ...."
Apaan Papap Dipa?!
Dan begitu mobil keluarga Anja menghilang di balik tikungan, ia langsung melempar dua kucing gemuk itu sambil mencibir. Enak aja suruh ngurus kucing. In your dreams!
Ia sama sekali tak menghiraukan dua kucing, yang sama persis seperti tuannya itu. Alias menyebalkan. Meski Bi Nah, berkali-kali mengingatkannya, "Aa, eta ucing teu diparaban karunya (Aa, itu kucing nggak dikasih makan kasihan)."
"Bibi kasih makan ya, pikarunyaeun (kasihan sekali) ...."
Ia benar-benar tak pernah memedulikan dua kucing menyebalkan itu.
Sampai suatu sore, saat ia baru pulang bermain basket di sports center bersama teman-teman. Bi Nah tergopoh-gopoh menghampirinya dengan wajah cemas, "Aa, eta si Kuro jeung Chloe kunaon nya (itu si Kuro sama Chloe kenapa ya). Hariwang ti isuk teu daek marab (Khawatir dari pagi nggak mau makan). Watir ih (kasihan)."
Ia hanya mengibaskan tangan tak peduli. Lebih memilih untuk bermain PS.
Namun tak berapa lama kemudian, teriakan Bunda membuatnya terperanjat, "Adeee! Ini ucing kunaon (ini kucing kenapa)?!"
Dengan secepat kilat ia berlari ke dapur. Di mana dua kucing menyebalkan itu tengah terkulai lemah di atas lantai, dengan mulut mengeluarkan buih.
"Cepet bawa ke dokter!" pekik Bunda tak sabar.
Dan hari kepulangan Anja dari Malang, menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupnya.
"Kuro sama Chloe mana? Gue kangen banget nih?" tanya Anja riang. Dengan kepala celingak-celinguk menelusuri seluruh isi rumahnya.
Namun ia hanya bisa berdiri mematung di balik pintu. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Kuroo ... Chloeee ...." Anja mulai memanggil-manggil dua kucing kesayangannya. "Where are you nooow ...."
Ketika ia tengah berusaha memberanikan diri, untuk memberitakan hal yang teramat penting kepada Anja. Tiba-tiba Bunda muncul dari halaman samping, usai menyiangi tanaman bunga, "Eh, Anja cantik ... udah pulang, sayang?"
Anja tersenyum mengangguk. Kemudian menghambur kearah Bunda, "Bunda ... ada oleh-oleh dari Mama, tapi belum aku bawa."
"Oh, nggak usah repot-repot," Bunda tertawa.
"Soalnya aku mau ambil Kuro sama Chloe dulu. Kangeeen bangeeet."
Kalimat terakhir Anja membuat Bunda memberi tatapan menuduh padanya. "Ade belum cerita?"
Anja menangis, meraung, menghentak, mengamuk, begitu mengetahui jika Kuro dan Chloe telah mati. Namun itu belum apa-apa, karena masalah sebenarnya adalah, Anja yang sangat marah padanya, kemudian beralih menjadi begitu membencinya.
"Anja, gue minta maaf," ia berkali-kali mengetuk pintu kamar Anja, namun tak ada jawaban.
Tiga hari ia menunggu Anja bersedia memaafkan dirinya, tapi nihil. Anja bahkan sama sekali tak mau menemuinya.
"Maafin Anja ya, Dipa," Mama Anja tersenyum iba. Demi melihatnya berdiri seharian di balik jendela kamar Anja. Berharap Anja sudi memaafkannya.
"Tunggu sehari sampai dua hari dulu. Nanti lama-lama juga Anja mau baikan lagi," Mama Anja menepuk bahunya pelan meminta pengertian.
Namun, sampai mereka berdua masuk di SMA yang sama, Anja tetap tak mau memaafkannya. Anja bahkan bersikap, seolah-olah mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya. Dan itu bertahan hingga kenaikan kelas XI. Ini jelas menjadi ajang penyiksaan perlahan bagi dirinya.
"Anja?" ia selalu berusaha menyapa dan mendekat.
Tapi Anja tak pernah memedulikannya, selalu memasang jarak dan menyetel wajah bermusuhan. Bahkan saat mereka sama-sama menjadi pengurus OSIS, Anja tetap tak menghiraukan keberadaannya.
Lalu, tiba-tiba saja sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. Yaitu memberi hadiah seekor kucing yang sangat manis, untuk perayaan sweet seventeen Anja. Beberapa bulan sebelum kenaikan kelas XII.
Entah karena sudah bosan bermusuhan, atau memang hari keberuntungannya. Untuk kali pertama sejak insiden Kuro dan Chloe, Anja tersenyum senang begitu melihatnya.
"Ya ampun, lucu banget, siapa namanya?" Anja bahkan bertingkah seolah mereka tak pernah bermusuhan dan keadaan baik-baik saja. Padahal tidak.
"Ini kucing buat lo, jadi lo yang kasih nama."
"Buat gue?" mata Anja mengerjap indah. "Beneran?"
Ia mengangguk sambil tersenyum.
"Makasiih," Anja langsung menghambur ke dalam pelukannya. Secara tidak langsung menandai gencatan senjata mereka setelah bermusuhan selama hampir dua tahun lamanya.
---------------
....... Masa Sekarang .......
Suara handle pintu yang dibuka dengan gerakan kasar, berhasil membuyarkan lamunan panjangnya. Membuatnya spontan berdiri untuk mencari tahu siapa yang datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
maya ummu ihsan
baca lagi setelah sekian lama ternyata ada part2 yg beda
2024-12-25
0
Nunk🇮🇩🇵🇸
iishh.. Pengen nakol si dipa..
2024-11-14
0
LarasatiAtiqahGunawan
telat lu dip! anja dah digondol cowok lain
2024-10-08
1