Anja
Ia tentu tak pernah berani berkhayal, jika peristiwa kelabu yang dialaminya saat malam Final HSBL West Region akan berlalu secepat ini. Karena dua hari lalu, Marshal, casting director film akhir tahun sekolah, menghubunginya secara personal.
"Lo masih ada waktu kosong nggak, Ja? Kita rencana mau jadiin lo PU (pemeran utama) di segmen terakhir film kita."
"For the last, jadwal mepet banget, ngejar sebelum PAS sama CS (Championship Series)."
Bahkan sebelum Marshal menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mengiyakan di dalam hati. Kapan lagi coba ia bisa mendapat tawaran semenggiurkan ini. Karena menurut gossip yang beredar di seantero sekolah selama seminggu ini, deretan PU yang diincar anak Cinema adalah para expert di bidangnya. Alias aktor dan aktris sungguhan yang telah malang melintang di dunia pertelevisian nasional. Camelia, Jasmine, Dave, Nigel, hanyalah beberapa dari sekian banyak selebriti muda yang kebetulan bersekolah di PB. Alasannya apalagi, kalau bukan untuk menarik antusiasme para siswa baru tahun depan. Agar tertarik memilih ekskul sinematografi sebagai pilihan utama.
Dan yang paling membuatnya melompat kegirangan adalah, lawan mainnya di segmen tersebut yaitu .... Yes, Dipa Megantara her forever crush. Sungguh semesta sedang berbaik hati padanya. Hingga keberuntungan benar-benar kembali menaunginya. Thanks God.
"Lo nggak keberatan kan, Ja?" Marshal sempat khawatir ia akan menolak. For sure?
"Khawatir lo masih trauma ...." Lanjut Marshal dengan wajah tak enak.
Trauma apaan?
Meski ia tahu pasti, sutradara memilih mereka berdua demi popularitas semata. Karena semenjak kejadian menghebohkan katakan cinta nya di malam Final HSBL viral di sosmed, ia mendadak terkenal di seantero anak SMA di Jekardah. Namun menurutnya tak jadi masalah.
Toh ia dan Dipa tetap baik-baik saja seperti biasa. Semua tetap berjalan normal seperti saat sebelum tragedi katakan cinta terjadi. Dan ini jelas bisa menjadi jalan pintas baginya untuk merebut kembali hati Dipa dari genggaman Tiara. Yang sampai saat ini masih belum jelas statusnya.
Dibilang mereka sudah putus -seperti yang sering Dipa katakan padanya- nggak juga. Nyatanya beberapa kali ia sempat memergoki mereka, Dipa dan Tiara, jalan berdua diluar waktu sekolah. Tapi kalau dibilang belum putus, nggak juga. Karena sikap Dipa padanya berubah menjadi jauh lebih baik dan perhatian dibanding sebelum tragedi katakan cinta.
Kalau begini apa dong jadinya? Apa Dipa yang meletakkan dua kaki secara bersamaan? Alias masih pacaran dengan Tiara sekaligus memberi harapan padanya?
Tahu ah, yang penting seminggu bersama Dipa. Sesuai rundown yang diberikan oleh Marshal, akan menjadi seminggu yang paling menyenangkan baginya.
Seminggu bersama Dipa, what a moment.
Dan sebelum memasuki shoot day, hari ini adalah proses reading pertama mereka. Tujuannya untuk mendengarkan secara langsung interpretasi tentang peran yang akan dimainkan.
Meski hanya project film akhir tahun yang sudah berlangsung secara turun temurun sejak bertahun-tahun lalu, namun anak-anak Cinema sepertinya ingin melakukan semua proses dengan standar terbaik. Itulah mengapa mereka menjadwalkan dua hari khusus untuk reading.
"Karena ide cerita kali ini beda dari biasanya," terang Yasser sang sutradara.
Tim penulis dan sutradara sepakat untuk mengangkat beberapa cerita rakyat Betawi sebagai issue utama film tahun ini. Yang nantinya akan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari khas remaja masa kini dalam menggapai cita.
Tujuannya tentu agar generasi muda seperti mereka mengenal kisah-kisah cerita rakyat. Yang biasanya sarat akan makna dan nilai luhur yang tak lekang oleh waktu. Sekaligus melestarikan budaya daerah yang mulai tergerus dan terlupakan oleh jaman yang semakin modern.
Semua ini membuatnya very excited. Ia bahkan selalu tersenyum sepanjang proses reading berlangsung. Puas memandangi Dipa yang duduk tepat segaris di hadapannya.
"Ja, karakter Mirah itu cewek kuat, mandiri, penuh percaya diri. Kalau lo ketawa terus kek gitu, ntar jatohnya malah ngelawak!" sembur Yasser di akhir proses reading tanpa tedeng aling-aling.
Membuatnya tersenyum malu. Memang kelihatan banget ya kalau ia seharian tersipu sendiri gara-gara terlalu excited? Ya sudah, berarti ke depannya ia harus lebih bisa menahan diri.
Dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu, shoot day 1 dari tiga hari yang dijadwalkan. Ia masih duduk di meja rias, ketika tiba-tiba jantungnya melompat keluar. Demi melihat orang yang sedang memasang rigging kamera di salah satu sudut.
"Kenapa dia ada di sini?!" tanyanya kesal sambil mengkerut.
"Siapa? Oh, Cakra. Dia kan cameramannya," jawab Priska sang MuA enteng.
What is going on, here?!
Ia bahkan tak pernah tahu, jika Cakra dulunya pernah mengikuti ekskul Cinema.
"Dia paling bagus sih kalau ambil gambar. Siapapun sutradaranya pasti cocok. Makanya diajak lagi di project ini," lanjut Priska lagi seolah ingin menuntaskan keingintahuannya.
Dan melakoni adegan sesuai skenario dengan sepasang mata tajam yang mengawasinya dari balik kamera, jelas bukan hal mudah.
Beberapa kali ia salah saat mengucapkan dialog mudah. Atau lupa moving selanjutnya hingga harus berkali-kali take ulang. Bahkan tiba-tiba blank saking groginya. Hingga ia hanya bisa bengong di depan kamera, tanpa melakukan apapun saat pengambilan gambar close up.
Memalukan. Bodoh dan memalukan. Grgrrgrhrhrhrhr kenapa harus dia sih yang jadi kameramannya. Membuat suasana tak nyaman dan jauh dari kata kondusif.
"Ada yang salah?" tanya Yasser penasaran. "Kemarin waktu reading lo udah oke banget lho. Kenapa sekarang jadi amburadul begini?!"
"Sori Yas," ia hanya bisa meringis. "Kayaknya semalam gue kurang tidur makanya nggak bisa konsen," ia lebih memilih untuk berbohong. Daripada harus ketahuan orang lain, telah salah tingkah gara-gara si berandal. Yang bahkan sejak take pertama, selalu menyunggingkan senyum miring dari balik kamera sambil menatapnya tajam. Sialan!
"Okey, sekarang scene selanjutnya,"pungkas Yasser. "Ingat durasi ya gaes. Come on. Come on."
Dan adegan selanjutnya jelas menjadi favoritnya. Di mana ia harus beradu akting secara intens dengan Dipa. Kehadiran Dipa tepat di depan matanya, tentu menjadi sarana pendistraksi terbaik dari sepasang mata tajam di balik kamera.
Dipa berakting baik. Ia juga. Bahkan sangat baik dan begitu menjiwai. Semua mengalir tanpa hambatan. Tapi tidak dengan orang di balik kamera. Cakra mendadak uring-uringan tak jelas.
Mulai dari salah framing lah, keliru saat menyesuaikan kamera dan lensa lah. Gambar yang diambil menurut Yasser jelek lah, kepotong lah, tenggelam lah. Membuat pekerjaan sempurnanya menjadi kacau balau. Gara-gara ketidak becusan kameraman dan harus berkali-kali take ulang.
Membuat kepalanya yang akhir-akhir ini sering tiba-tiba pusing langsung cenat-cenut tak karuan. Take yang sejatinya dijadwalkan hanya sampai jam 12 siang, kini telah lewat dari jam 5 sore bahkan belum kelar.
"Tadi PU, sekarang kameraman!" omel Yasser kesal. "Kalian bisa serius nggak sih?! Kita dikejar waktu nih. Cuma bisa take weekend doang. Kalau begini terus kapan selesainya?!?"
Yasser masih terus meluapkan kekesalan dengan mengomeli semua orang tanpa kecuali.
Ketika kepalanya semakin bertambah pening. Ditambah rasa begah yang membuat tubuhnya sama sekali tak nyaman. Disusul pandangan mata yang perlahan mulai berkunang-kunang. Untuk kemudian semuanya menjadi gelap.
***
Cakra
Dulu awal-awal, ia sempat bergabung di klub fotografi. Lalu pindah ke ekskul sinematografi saat pembuatan film pendek di sekolah-sekolah sedang booming.
Namun hanya sebentar. Kesulitan biaya jelas menjadi alasan utama. Karena mengikuti ekskul mahal seperti sinematografi jelas membutuhkan biaya yang tak sedikit. Sementara beasiswa prestasinya telah dicabut. Membuatnya tak memiliki fasilitas mengikuti seluruh ekskul yang ada for free.
Tapi minimal, ia telah mengambil ilmu yang diperlukan. Memahami bagaimana cara mengoperasikan kamera, pengambilan angle gambar yang tepat, dan sedikit proses editing.
Menjadi bekal baginya saat bergabung sebagai crew freelance event di EO milik teman Bang Fahri. Awalnya menjadi helper yang disuruh-suruh kesana kemari. Lama kelamaan mulai menjadi asisten fotografer untuk prewedding. Selanjutnya mulai dipercaya memegang project foto kecil-kecilan. Hingga akhirnya lambat laun, sesekali diperbolehkan memegang kamera untuk event penting.
Dan terbiasa terjun langsung di lapangan, membuat skill nya semakin terasah. Suatu ketika, Darwin, sesama freelance di EO, mengikut sertakannya dalam sebuah project pembuatan film pendek. Yang tak disangka berhasil memenangkan penghargaan di Global Indo Short Movie Award, dalam kategori best cinematography.
Keikutsertaannya dalam kemenangan film tersebut, berhasil diketahui anak-anak Cinema di sekolah. Sejak saat itulah, ia sering diikutsertakan dalam project-project Cinema.
Seperti kemarin, ketika Yasser memintanya secara khusus untuk membantu project film akhir tahun sekolah besutan Cinema. Tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya. Selain karena dibayar secara profesional dengan jumlah yang jauh melebihi upah di tempat Bang Fahri dan insentif di Retrouvailles. Ia juga ingin ikut berperan di project sekolah meski kecil, sebelum kelulusan semester depan.
Namun yang paling tak disangkanya adalah, akan bertemu dan melihat Anja yang tengah duduk di salah satu sudut lokasi pengambilan gambar.
"Cewek itu ngapain di sini?" tanyanya ingin tahu kepada Yasser di sela-sela briefing.
"Siapa? Oh, Anja? Dia PU gue."
Dan wajah pucat ditambah tubuh kurus Anja dibanding kali terakhir mereka bertemu, sedikit mengganggu pikirannya. Apakah Anja sedang sakit? Semoga tidak. Cewek berisik itu jelas terlalu galak dan tangguh untuk sekedar sakit.
Sepanjang pengambilan gambar, ia masih bisa menguasai diri. Meski Anja jelas-jelas terlihat grogi dan salah tingkah.
Ia bahkan sesekali masih bisa tersenyum senang, tiap kali Anja nge-blank di depan kamera. Karena bisa puas menatap wajah cantik nan pucat itu. Hingga membuat Yasser uring-uringan. Karena jadwal take molor hingga sore hari.
Namun beberapa scene terakhir mulai sangat mengganggu dirinya. Terlebih saat adegan Anja dan Dipa yang lumayan intens, berhasil membuatnya melakukan kesalahan paling tak penting. Yang seharusnya tak dilakukan oleh orang seperti dirinya.
Dan ketika Yasser yang sejak awal selalu mengomeli Anja, kini justru berbalik memarahinya. Tapi sudut matanya justru menangkap bayangan tubuh Anja yang merosot ke bawah tanpa daya. Pingsan.
Semua orang panik. Ia yang awalnya ingin berlari menolong, harus mengurungkan niat. Demi melihat Dipa langsung meraih tubuh Anja. Lalu membawanya ke tempat teduh.
Ia masih gelisah menunggu, ketika Yasser memutuskan untuk menyudahi hari. Dari kejauhan, ia sempat melihat wajah Anja yang semakin memucat, tengah dipapah oleh Dipa memasuki mobil.
Keesokan hari, ia berniat menanyakan keadaan Anja, dan memberinya dua kaleng Bear Brand untuk dopping. Namun cewek berisik itu tak lagi terlihat, digantikan oleh kemunculan Tiara dengan senyum sumringah.
"Yas, PU yang kemarin ke mana?" ia bahkan menanyakan langsung kepada sang sutradara.
"Siapa? Oh, Anja? Dia masuk rumah sakit. Mau nggak mau harus diganti sama yang lain," jawab Yasser yang sudah bersiap-siap untuk take.
"Hari ini lancar ya, Ngab," lanjut Yasser ke arahnya. "Jangan kacau kek kemarin."
Pengambilan gambar yang dijadwalkan selama dua hari, yaitu hari ini dan hari Sabtu minggu depan. Di iluar dugaan berlangsung cepat dan amat sangat lancar.
Sebab jadwal dua hari ternyata bisa selesai dalam sehari. Membuat seluruh crew bersuka cita karena segmen terakhir telah selesai. Minimal beberapa crew yang juga anak basket, bisa berkonsentrasi latihan guna menghadapi Championship Series yang akan berlangsung dua minggu lagi. Tepat setelah pelaksanaan PAS (penilaian akhir semester) semester satu.
"Gila! Ini gila sih!" Yasser mengacungkan jempol berkali-kali pada mereka semua. "Thank you kerjasamanya semua gaes!"
"We are the best!!!" teriak semua crew senang karena setengah tugas telah terlewati dengan baik.
Ia juga cukup surprise pengambilan gambar berjalan terlalu lancar. Entah karena Tiara yang memang cerdas dan berbakat akting, atau suasana nyaman antar PU hingga adegan langsung jadi. Jarang ada scene yang di take ulang. Membuat semua berjalan lancar.
"Habis ini kita mau ramai-ramai nengok Anja. Yang mau ikutan kolektif, daftar ke Priska," Yasser memberi pengumuman saat ia masih membongkar rigging.
Dan ketika ia baru selesai memasukkan peralatan syuting ke dalam mobil Yasser, seseorang memanggil namanya.
"Cakra!"
Setelah menutup bagasi mobil, ia menoleh ke arah suara. Di mana telah berdiri Dipa dan Tiara, yang menggelayut manja di sebelah.
"Manggil?" tanyanya sinis.
"Thank you!" Yasser lewat sambil menepuk bahunya. "Kita ketemu di rumah sakit?" lanjut Yasser sebelum masuk ke dalam mobil.
Ia mengangguk.
"Ok, sip!" Yasser mengacungkan jempol. "Dip! Buru Dip! Jalan ke sana macet gila kalau jam segini!" teriak Yasser kearah Dipa sebelum menutup pintu mobil.
"Gue nyusul," jawab Dipa yang berjalan mendekatinya. Sementara Tiara lebih dulu masuk ke dalam mobil Dipa.
"Itu jaket lo?" sebelum mereka saling berhadapan, Dipa lebih dulu menunjuk jaket navy yang sedang dipakainya.
Ia mengernyit heran, sungguh pertanyaan yang aneh.
"Iya," jawabnya singkat.
Dipa tersenyum kaku, "Gue mo nanya. Hari Sabtu waktu Final HSBL, lo di mana?"
Ia semakin mengernyit heran, "Bukan urusan lo!" jawabnya sinis sambil berlalu. Demi menyadari sebagian besar anak-anak telah beranjak pergi menuju rumah sakit tempat Anja dirawat. Ia tentu tak boleh ketinggalan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 197 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
ak panggil dab aj lh.... soalnya dipa nih tipe " yg gmn gt.
2024-09-15
0
Raufaya Raisa Putri
weissss...ganti pu lgsg kyk bis.lancar jaya.ad ap tuh sm dua hati yg sudah terpaut
2024-09-15
1
Raufaya Raisa Putri
dibalik kebrandalany Cakra ternyata tersimpan mutiara yg kl diasa akan berkilau.syg karena keterbatasan.tp karena keterbatasan ny mlh bisa memanfaatkan momen
2024-09-15
1