Bukan Harold!
Suki melompat berdiri dan beringsut menjauhi mayat itu sembari membekap hidungnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengibas-ngibas mencoba mengenyahkan bau tak sedap yang menyergap penciumannya.
“Aku sudah memperingatkanmu,” gumam Thunder sembari memutar-mutar bola matanya.
“Kau membuatkan ketakutan setengah mati!” sembur Suki, memelototinya.
“Sori,” gumam Thunder sembari mengangkat bahunya.
Suki Thomas mendesah kasar dan kembali terunduk menatap mayat di dekat kakinya.
Yang lain-lainnya juga berhimpun mengerumuni mayat itu.
Mayat itu tampaknya sudah tenggelam berhari-hari, terbawa arus dari hulu sungai.
Mau tak mau mereka harus melapor pada pihak berwajib.
Oh, tidak! Jangan lakukan! harap Valentine dalam hatinya, kemudian mengirimkan isyarat memohon ke arah Thunder. Kita penduduk gelap, ingat? Matanya ikut bicara.
Thunder memahaminya. Ia menimang-nimang sesaat, kemudian mendesah dan mengedar pandang dengan sorot mencari-cari yang tajam. Tatapannya berhenti pada sebatang besi karatan yang teronggok sembarang di atas rerumputan, mungkin bekas kerangka truk atau apalah. Ia mengambilnya dan menggunakannya untuk mendorong mayat itu ke tengah sungai.
“Apa yang kau lakukan?” protes teman-temannya.
“Aku benci berurusan dengan polisi,” tukas Thunder acuh tak acuh.
“Lalu bagaimana dengan Harold?” Suki menyela setengah berteriak. “Dia menghilang! Cepat atau lambat kita akan tetap berurusan dengan polisi!”
Thunder meluruskan tubuhnya dan menghela napas kasar. Kemudian menatap ke arah Suki. “Baiklah,” katanya tak sabar. “Kita akan menghubungi polisi sekarang, kemudian mereka akan datang ke sini dan menggeledah tempat ini, menanyai setiap orang. Apa yang akan kau katakan pada mereka? Bahwa kita berkumpul di sini berkat postingan Ele di Line Efs?”
Suki langsung terdiam.
“Inikah rencanamu?” Thunder bertanya setengah menuduh. “Mengekspos persembunyian kami?”
“Apa kau bilang?” Suki meninggikan suaranya.
“Jangan lupa, kau yang mengajukan diri untuk bergabung!” Thunder mengingatkan. “Lalu sekarang Harold menghilang. Kau yakin itu bukan bagian dari skenario kalian?”
“Tidak—bukan begitu!” tukas Suki terbata-bata. “Maksudku…”
“Kuberitahu kau, ya!” Sergah Thunder memotong perkataan Suki. “Meski kita berbeda divisi dan terus bersaing di dalam segala hal, kita berada di jalur yang sama. Dan itu berseberangan dengan aparat!”
Suki kembali bungkam.
Diam-diam Valentine melirik Thunder. Michael bilang, dia tak bisa mempercayai siapa pun di Kota Ghostroses. Apakah Thunder termasuk?
Bagaimanapun alasan kedatangan Thunder ke sini awalnya hanya ingin memperingatkan Ele Seven karena telah mengekspos tempat persembunyiannya. Persembunyian kami, katanya!
Dia tak menganggapku sebagai orang lain, pikir Valentine.
Ele bertukar pandang dengan Jessifer. Deadheart membeku menatap Thunder.
“Kalau sampai tempat ini diketahui pihak lain, aku akan menyalahkanmu!” Thunder memperingatkan Suki.
Ele mengerjap gelisah dengan raut wajah bersalah.
Suki tertunduk dengan mulut terkatup. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Ele berdeham dan mendekat ke arah Suki, kemudian menyentuh bahunya dengan hati-hati.
Suki mengedikkan bahunya dan berbalik. Kemudian bergegas ke mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu menghambur keluar meninggalkan kamp.
Untuk sesaat, tidak satu pun dari mereka anak-anak Line 7 itu tahu apa yang harus dilakukan.
“Bantu aku membereskan ini!” Thunder menginterupsi, menarik semua orang ke dalam kesadaran.
Valentine dan Deadheart segera membantunya sementara Jessifer dan Ele kembali ke tenda.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berkumpul lagi di pekarangan.
Dan mengenai Harold yang hilang malam itu, mereka terpaksa mengenyampingkannya dulu.
“Ada hal yang lebih penting,” kata Jessifer. “Persembunyianmu sudah tak aman lagi,” katanya pada Valentine. “Kau harus segera pindah dari sini!” Ia menyarankan.
“Ini salahku,” sesal Ele.
“Aku tahu sebuah tempat untuk direkomendasikan,” lanjut Jessifer, tidak menggubris keluhan Ele.
Semua mata serentak bergulir ke arah Jessifer.
“Ini pondok ski,” jelas Jessifer. “Pemiliknya sudah meninggal dunia dan tidak punya keturunan. Tapi aku berani menjamin tak akan ada sengketa. Tempatnya memang terpencil dan letaknya cukup jauh dari sini, tapi bukankah itu lebih bagus?”
“Well, kedengarannya lumayan bagus untuk dijadikan markas persembunyian!” Komentar Deadheart.
“Bagaimana, Seventhson?” Jessifer mengonfirmasi. “Apa kau bersedia tinggal di sana?”
Valentine menimang-nimang, kemudian melirik Thunder meminta pendapat.
Pria itu pura-pura tak melihatnya. Tapi raut wajahnya terlihat keruh. Bola matanya tampak menyala memantulkan cahaya api di depan mereka.
Dia tak ingin berdebat dengan Jess! Valentine menyimpulkan.
Meski belum lama mengenal mereka, Valentine bisa melihat bahwa satu-satunya kelemahan Thunder adalah Jessifer. Tapi ia tak tahu apa sebabnya.
Valentine menebak, Thunder mungkin kekasih Jessifer.
Pada hari pertama ia bertemu Thunder, Valentine bisa melihat kilat kecemburuan di mata Thunder ketika Jessifer memutuskan untuk ambil bagian dalam misinya. Jelas sekali pria itu terlihat keberatan, tapi berusaha menahan diri.
Mungkin sebaiknya aku menolak tawaran Jess! Valentine memutuskan. Tapi sebelum ia dapat mengatakannya, Jessifer sudah beranjak dari tempat duduknya dan mengumumkan, “Ayo! Kita bantu dia berkemas! Malam ini juga, kita akan mengantarnya ke sana!”
Ele Seven dan Deadheart menanggapi dengan antusias.
“Tunggu!” Sergah Valentine cepat-cepat. “Aku belum menyetujuinya!”
“Ini demi kebaikanmu, Seventhson!” Tukas Deadheart. “Demi kebaikan kita!” Ia menambahkan.
Valentine kembali melirik Thunder.
Tapi pria itu terus tertunduk dengan sikap pasif.
Pada akhirnya, Valentine tak dapat menolak. Dan malam itu juga, mereka benar-benar berangkat ke perbatasan wilayah antara Negara Bagian Timur dan Negara Bagian Barat.
Ghostroses berada di Negara Bagian Timur Athena Minor, tidak ada pondok ski di wilayah ini karena iklim tropis.
Hanya wilayah Negara Bagian Barat Athena Minor yang memiliki empat musim.
Mereka berangkat dengan dua mobil sementara sepeda motor Thunder dititipkan di rumah Deadheart ketika mereka mampir sebentar untuk menaruh mobil.
Jessifer mengemudikan mobil Valentine, sementara Deadheart membawa mobilnya bersama Ele. Thunder memilih ikut di mobil Valentine di jok belakang. Valentine duduk di depan di samping Jessifer.
Valentine melayangkan pandangannya ke luar jendela ketika mobil mereka melaju di pusat kota, melewati deretan galeri seni, restoran, pusat olahraga dan sebuah toserba.
Tak jauh di depan mereka, terdapat sebuah menara dengan patung santa—hampir sama dengan patung Bunda Maria yang mendunia, disebut Menara Saint Edelweiss.
Entah ada kisah heroik apa di balik sosok wanita misterius yang disebut Saint Edelweiss itu hingga didirikan menara setinggi itu di pusat ibu kota negara. Tapi melihat patungnya dari kejauhan saja sudah membuat bulu kuduk meremang.
Keraguan menyergap Valentine ketika mereka melewati gapura besar tinggi menjulang bertuliskan: Selamat Jalan!
Dia membawa pergi mobil Michael, ponsel, laptop dan koleksi senjata juga barang-barang lainnya. Dan itu terasa seperti perampokan.
Bagaimana kalau Michael kembali dan mendapati trailernya sudah kosong?
Bagaimana kalau di mencari barang-barangnya?
Bagaimana kalau dia membutuhkan mobilnya?
Apakah dia akan menyalahkanku?
Valentine bertanya-tanya dalam hatinya.
Bagaimana dengan Imo?
Akankah dia mencariku?
Ke mana dia harus mencariku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Alexza Sri
berbaur, dan mempelajari kebudayaan sekitar adalah cara bertahan hidup paling mudah....❤❤❤
2021-07-14
0
Nusan
Karakter tokohnya bisa dibayangkan
2021-06-18
0
Ellennn
semangat terus kak 😄
2020-10-13
1