Valentine menoleh ke sisi lain, kemudian mendengar jenis kesibukan yang berbeda.
Seperti…
Derit barrier gate di pos penjaga parkir—setidaknya itulah yang diduga Valentine. Mungkin juga suara pintu geser atau apalah!
Yang jelas, ia juga mendengar sapaan selamat jalan dan ungkapan terima kasih. Lalu terdengar desir halus mesin kendaraan disusul derit yang sama.
Valentine tercenung dalam waktu yang lama. Setelah sesaat menyimak dengan seksama, ia bahkan bisa menentukan arah berdasarkan asal suara.
Apa yang terjadi? Pikirnya. Kenapa aku mendengar semua itu seolah mereka berada di dekatku?
Sekonyong-konyong terdengar suara meletup, disusul suara berdesing.
Sebutir peluru melesat ke arah Valentine.
Dan Valentine tahu persis dari mana datangnya peluru itu. Entah sejak kapan penglihatannya menjadi sebaik itu. Tapi ia bisa melihat dengan jelas gerakan peluru itu seperti dalam gerak lambat.
Dengan cepat, ia mengelak—dengan spontan, seakan telah terlatih melakukannya.
Seakan-akan tubuhnya memiliki sensor.
SLAAAASSSH!
Peluru itu menyerempet pangkal lengannya, menggores lengan baju dan permukaan kulitnya. Tapi Valentine tidak merasakan perih sama sekali.
Setelah siuman pagi ini, tubuh kembali kebas. Tapi ia bisa merasakan hangat darahnya menetes di bawah lengan t-shirt-nya.
Valentine menyentakkan kepalanya ke samping, melontarkan tatapan tajam ke arah si penyerang dengan mata terpicing.
Siapa yang menyerangku? Pikirnya.
Apakah itu Michael?
Valentine melihat si penyerang berbalik dan melarikan diri di gang di mana ia biasa keluar-masuk mengendarai mobil, lalu menghilang di kelokan.
Valentine memperkirakan, tingginya tak lebih dari seratus tujuh puluh senti tapi tak bisa menebak berapa usianya. Orang itu mengenakan masker ketat berwarna hitam di bawah topi trucker dan kacamata biru. Penampilannya seperti penembak jitu dari suatu kesatuan khusus.
Bukan Michael! Valentine menyadari.
Siapa lagi yang mungkin mengincar nyawaku?
Tempat ini tampaknya sudah tak aman lagi!
Valentine menyelinap ke dalam dan menutup pintu, kemudian menguncinya.
Ia bergegas ke meja Michael sembari memeriksa lukanya. Lukanya tidak terlalu dalam, pikirnya. Kemudian menarik laci, tidak mempedulikan lukanya. Ia mengeluarkan pistol dan mengisinya dengan peluru, kemudian merenggut jaket kulitnya dari gantungan, meraih ponsel dan mengantonginya.
Ketika ia membungkuk untuk mengenakan sepatu, ia terkejut mendapati lukanya telah menutup.
Ia menyingkap lengan t-shirt-nya yang robek dan bernoda darah, kemudian meraba kulitnya. Sisa darahnya masih tertinggal, tapi lukanya sudah benar-benar hilang.
Aneh sekali! Pikirnya. Apakah sekarang tubuhku juga memiliki kemampuan menyembuhkan diri?
Gen mutan macam apa sebenarnya yang tertanam pada tubuhku?
Setelah selesai memakai sepatu dan mengenakan jaketnya, Valentine menghambur ke arah pintu, menyelipkan pistol di belakang ikat pinggangnya, membuka pintu dan mengintip ke pekarangan—memeriksa situasinya, kemudian menyelinap keluar dan menggembok pintu.
Tak lama kemudian, ia sudah melesat dengan mobil Michael. Menyeruak cepat di gang dan berbelok ke arah orang itu menghilang.
Tatapannya yang jeli menyapu tepian jalan di sepanjang blok dengan teliti.
Tapi orang itu seolah menguap begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Tak ada tanda-tanda orang itu pernah melintas di sana.
Ponsel Michael bergetar dalam sakunya.
Sebuah pesan masuk dari 111—semacam operator jaringan (mungkin)---dengan format pesan digital disertai tautan URL.
“Anda baru saja menerima misi!”
Misi? Pikir Valentine.
Terakhir kali ia mengambil misi, Michael dan Imo menghilang dan tidak kembali lagi. Itu adalah misi pertamanya sekaligus misi terakhirnya.
Ia memelankan laju mobilnya dan menimang-nimang apakah ia perlu mengetuk tautan itu. Beberapa tautan mengandung spyware.
Tapi jika dugaannya benar pesan itu dikirim oleh operator jaringan, untuk apa mereka menebar virus semacam itu?
Tapi yang lebih tidak masuk akal, kenapa operator jaringan mengirim misi?
Misi apa?
Apakah misi yang dimaksud sama seperti yang dipikirkan Valentine?
Lalu entah bagaimana, tiba-tiba Valentine bisa memahami format standar rangkaian karakter itu berasal dari sumber resmi.
Ia belum pernah belajar coding. Tidak mengerti apa-apa soal program komputer. Tapi bisa mengerti bahasa grafis pemrograman komputer.
Aneh sekali! Pikir Valentine.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?
Kenapa rasanya semakin lama semakin aneh?
Apakah aku masih manusia?
Lalu perkataan Imo Glass melintas dalam benaknya.
“Kita hanyalah mutan!”
Apakah gejala kejang yang kualami belakangan ini semacam pembaruan sistem yang akan terus meningkat? Valentine membatin gamang.
Kalau tak salah aku mulai berubah setelah kejang!
Seluruh inderaku menjadi sangat sensitif, namun semakin kebal terhadap rasa sakit.
Mula-mula tak bisa merasakan sakit, sekarang bisa memulihkan diri!
Dari tak bisa apa-apa, tiba-tiba menguasai beladiri. Lalu tiba-tiba memiliki refleks yang bagus, dan sekarang bahkan bisa melihat gerakan peluru yang sedang melesat.
Dari tak tahu apa-apa, tiba-tiba mengerti bahasa pemrograman.
Ia menepikan mobilnya dan memarkirnya di sudut sebuah taman. Lalu tertunduk meneliti dirinya, membolak-balik kedua telapak tangannya sembari tercengang takjub.
Apakah ini benar-benar terjadi padaku? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Tak hanya kekuatan fisik, kecerdasanku juga meningkat secara drastis!
Wawasanku bertambah secara otomatis!
Benar-benar fantastis!
Apa lagi yang bisa kulakukan?
Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?
Aku akan segera mengujinya! Valentine memutuskan. Kemudian mengetuk tautan di pesan tadi.
URL itu mengarahkannya pada sebuah halaman platform media sosial bernama Line Efs.
Misi apaan? Pikirnya merasa tertipu. Ternyata hanya modus promosi!
HOAKS!!!
Tutorial pertamanya berisi perintah: PINDAI WAJAH TAMPAK DEPAN!
Lalu pindai wajah tampak samping, pindai mata dan fingerprint.
Perintah berikutnya berbunyi: KATAKAN SESUATU!
“What the f√cking hell?” seloroh Valentine acuh tak acuh.
Panduan sistem menanggapinya dengan jawaban: BERHASIL MEMINDAI!
“Whatever!” erang Valentine sembari memutar-mutar bola matanya.
Lalu muncul perintah baru: BUAT GERAKAN DENGAN JARI ANDA!
Valentine mengacungkan jari tengahnya.
Lagi-lagi panduan sistem menanggapi dengan jawaban: BERHASIL MEMINDAI!
Valentine terkekeh dengan seringai sinis.
Tak lama, muncul notifikasi: SUDAH TERDAFTAR!
NAME: VALENTINE MORGENSTEIN
CODE NAME: SEVENTHSON
GENDER: MALE
AGE: 20
NATIONALITY: EUROPE
DESIGNATION: IN REPAIR
Mata Valentine spontan membulat. Apa-apaan ini? Pikirnya terkejut.
Aku bahkan belum mengetikkan namaku!
Dan mereka bahkan sudah mengetahui usiaku?
Dan apa itu designation?
In Repair?!
Apa ada gelar semacam itu?
Dalam perbaikan?
Apa maksudnya?
Di tengah-tengah kebingungannya, Valentine menerima antrian notifikasi dari fitur cabin—semacam chat grup—yang secara otomatis mendaftarkannya sebagai anggota kelompok bernama Seri Tujuh.
Lagi? Gumam Valentine dalam hatinya.
Lagi-lagi tersinkronisasi angka tujuh.
Apakah ini terkait dengan tanggal lahirnya?
Tanggal tujuh, bulan tujuh…
Itulah tanggal lahirnya.
Valentine membuka ruang obrolan itu dan memeriksa daftar anggota. Jumlahnya tak sampai dua puluh orang, dan setiap profil pengguna hanya menampilkan foto dan nama gelar. Begitu juga dengan profilnya—In Repair.
Benar-benar sialan! Gerutu Valentine dalam hatinya.
Ia mengetuk salah satu profil anggota bergelar Captain.
NAME: JESSIFER ILLUCY
CODE NAME: NUMBER SEVEN
GENDER: FEMALE
AGE: 20
NATIONALITY: ASIAN
DESIGNATION: CAPTAIN
“Whoaaa…!” Valentine menggumam takjub. “Keren!” Sosok dalam foto itu membuatnya terpukau. “Aye aye, Captain!” godanya sambil melontarkan ciuman jauh seolah gadis dalam foto bisa melihatnya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di fitur chat pribadi.
Number Seven: “Sudah cukup melihatnya?”
Valentine spontan tergagap.
Dari mana dia tahu aku sedang memelototi foto profilnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Alexza Sri
Bob Sheldon...dari Sydney....mau ke indonesia pake pelatian ranjau...di eropa pula...👍👍👍
2021-07-13
0
Nusan
Ya... ya.... aku juga setuju soal Eseye Winson adalah makhluk yang unik
2021-06-18
0
Gerhana
Jadi intinya Eseye Winson adalah sejenis mutan atau MaCan alias Manusia Cangkokan 😂
2021-06-15
1