Imo Glass!
Valentine hampir tak percaya melihat wajah itu lagi.
“Kau masih hidup?” Desisnya nyaris berbisik.
“Kau mengharapkan aku mati?” Imo Glass spontan merongos.
“Bukan!” tukas Valentine cepat-cepat. “Maksudku—”
“Ikut aku!” potong Imo Glass. Kemudian merenggut lengan Valentine dan menghelanya berjalan. “Kita harus pergi dari sini!”
“Tapi—” Valentine tergagap-gagap.
Imo Glass tak menggubrisnya. Dengan sedikit sentakan keras, ia menarik Valentine keluar gang.
Sebuah mobil sport terparkir di tepi jalan tak jauh dari gang itu.
Imo Glass memaksa Valentine masuk ke dalam mobil, kemudian menyelinap ke balik kemudi, menyalakan mesin dan memacu kendaraan itu dalam kecepatan tinggi.
“Imo—sebenarnya apa yang terjadi?” Pekik Valentine sedikit ngeri.
Imo Glass tidak menjawab.
“Pelankan mobil sialan ini!” hardik Valentine.
Imo tampak tidak peduli.
“Katakan, sebenarnya ke mana saja kau selama ini?” cecar Valentine tak mau menyerah. “Apa yang telah dilakukan Michael padamu? Bagaimana caramu menyelamatkan diri? Di mana dia sekarang? Apakah dia masih hidup? Dari mana kau mendapatkan mobil? Kau mencurinya lagi? Katakan sesuatu, sialan!” Valentine meninggikan suaranya.
“You, shut up!” hardik Imo Glass dengan suara yang lebih tinggi.
Valentine menggeram dan memukulkan tinjunya ke permukaan dasbor. “Sungguh salah aku mengkhawatirkanmu,” gerutunya tak sabar.
Imo Glass meliriknya sekilas dan menghela napas. “Sorry,” ungkapnya melembut. “Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang. Kita harus keluar dari sini secepatnya.”
“Keluar dari Ghostroses?” tanya Valentine tak yakin.
“Ya!” Imo Glass menjawab singkat sembari mengintip kaca spion samping.
Seorang pengendara sepeda motor sport menyeruak di belakang mereka di antara arus mobil yang berebut saling mendahului.
Imo Glass menginjak pedal gas, menaikan kecepatan secara mendadak hingga mobil itu tersentak dan terasa seperti akan terbang.
Valentine terhenyak dan terbelalak. Dan sebelum ia sempat memprotes, mobil itu tergelincir ke tepi di atas permukaan jalan yang berkelok menurun.
Imo Glass memutar kemudi dan entah bagaimana roda mobil itu dapat lurus kembali sebelum mereka tergelincir keluar jalur.
Pengendara sepeda motor di belakang mereka juga menaikkan kecepatannya sambil melejit dalam teknik jumping hingga melambung tinggi melompati mobil sedan di depannya.
BRUAAAK!
Sepeda motor sport itu mendarat dengan bantingan keras dan menyenggol mobil lainnya.
Pemilik mobil bereaksi spontan, mengerem dan membunyikan klakson hingga timbul kebisingan di antara mereka.
Pada saat itulah Valentine menyala apa yang salah.
“Apakah orang itu sedang mengejarmu?” tanya Valentine. “Siapa dia?”
“MD,” jawab Imo Glass sembari meliukkan mobilnya dan menaikkan kecepatannya lagi.
“MD?” Valentine mengernyit sambil meringis, mencengkram erat hand grip di atas kepalanya hingga buku jarinya memutih. “Michael Deanson?”
“Yep!” Imo Glass menjawab malas.
“Dia masih hidup?” gumam Valentine setengah terpekik.
Bersamaan dengan itu, Michael Deanson sudah hampir menjejeri mobil mereka. Membuat Imo Glass makin menggila.
Imo Glass menaikkan lagi kecepatannya sebagai jawaban. Lalu berbelok ke arah yang tidak seharusnya.
“Imo—kau gila!” teriak Valentine.
Alih-alih mendengarkan teguran Valentine, Imo malah semakin menaikkan kecepatan.
Valentine mengatupkan matanya lekat-lekat dan mengetatkan pegangan. Jantungnya serasa meloncat ketika mobil mereka menukik tajam menuruni jalanan sempit satu jalur yang berliku-liku.
Perasaan Valentine semakin berkecamuk antara ngeri dan jengkel. Sebagian karena tak puas dengan sikap Imo yang sering terlalu mendominasi dengan berlagak misterius. Sebagian lagi karena mobil mereka sedang menukik menuruni gunung di jalanan sempit yang berkelok-kelok melawan arah dengan wanita gila yang mengemudinya—Imo melepas satu tangannya dari kemudi dan merogoh ke belakang ikat pinggangnya.
Valentine melihat lembah yang curam di sebelah kanan bawah mereka dan tidak ada pagar pelindung di sepanjang sisi jalan, sementara langit mulai gelap.
Ban mobil tiba-tiba menderu.
Diam-diam Valentine menghela napas. Tapi embusan napasnya ternyata tidak sepelan yang dipikirkannya.
Imo meliriknya dengan seringai mengejek.
“Bisakah kau menyetir dengan dua tangan?” pinta Valentine tergagap-gagap.
Imo akhirnya menarik tangannya dari balik punggungnya, tapi alih-alih mengendalikan setir, ia malah menurunkan kaca jendela dan menodongkan sepucuk pistol ke arah Valentine.
Valentine spontan tergagap dan memucat.
Sedetik kemudian…
KLAK!
Imo menarik pelatuk, dan…
SLAAAASSSH!
Michael menyerang dari sisi kiri mobil di mana Valentine duduk.
Bersamaan dengan itu, sebutir peluru melesat keluar dari moncong pistol Imo.
DUAAAAARRRR!
Peluru itu meledak di luar jendela, disusul suara berdecit dan berderak di sekitarnya.
Michael berhasil mengelak.
Valentine masih membeku di tempatnya dengan mata dan mulut membulat. Tidak bergerak, tidak berkedip, bahkan tidak bernapas.
“Ambil ini!”
Suara Imo Glass menyentakkan Valentine dari keterpukulan.
Gadis itu mengulurkan pistolnya pada Valentine, dan Valentine hanya menanggapinya dengan mengerjap dan menelan ludah.
Apakah dia menyuruhku membunuh Michael? Pikir Valentine.
Bagaimanapun pria itu sudah seperti guru baginya.
Haruskah aku membunuhnya? Valentine menimang-nimang.
“Ambil ini, dan habisi dia!” hardik Imo tak sabar.
Mobil mereka mulai tergelincir. Benar-benar melaju dengan cepat.
Valentine merebut pistol itu cepat-cepat, terpaksa menerimanya supaya Imo tenang.
Imo membalik kemudi ke arah yang berlawanan dari arah tergelincir sembari menginjak rem, tapi laju mobilnya tidak melambat.
Kami akan sampai ke tepi, pikir Valentine. Kami akan tergelincir ke sisi jurang. Ia mengatupkan matanya lagi, tapi tidak membantu. Ia masih bisa merasakan mobil yang tergelincir. Perutnya terasa mual ketika mobil mulai berputar. Tak bisa bernapas, tak bisa berkata apa-apa.
Valentine membuka matanya dan mendapati Imo tengah memelototinya.
Mobil itu berputar sekali, lalu berhenti. Ban depannya terperosok ke lubang jalan.
Sepeda motor Michael terpelanting karena menghindari tubrukan, melenceng dan terseok-seok. Tapi dengan cepat, pria itu berhasil mengembalikan keseimbangan meski sepeda motornya terus meluncur ke bawah hingga menghilang di belokan tajam.
Valentine menghela napas dan melemaskan tangannya. Merasa lega karena masih hidup, tidak tergelincir dari jalan dan masuk ke dalam jurang. Tapi ia hanya merasa lega sedikit.
Imo menoleh padanya dan memelototinya sekali lagi.
Valentine mengangkat bahu dan mengembangkan telapak tangan di sisi tubuhnya. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Tidak mengerti isyarat tatapan Imo.
“Kenapa kau tidak melakukannya?” geram Imo dengan raut wajah kencang. “Kau tidak berani atau kau sudah tidak mengerti lagi bahasa manusia?” semburnya makin meninggi. “Kubilang habisi dia! Atau dia yang akan menghabisi kita!”
“Aku hanya tak yakin kenapa aku harus melakukannya,” kilah Valentine bernada muram.
Imo Glass memelototinya lagi, menghujamkan tatapan mencela.
“Oke, aku tak tahu apa yang telah dia lakukan padamu,” tukas Valentine beralasan. “Tapi kau masih hidup, dan… kau bilang kita akan keluar dari Ghostroses!”
Imo Glass menggertakkan gigi dan memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal. Kemudian memundurkan mobil ke jalan dengan tak sabar.
Valentine mengatupkan matanya lagi sewaktu gadis itu melakukannya.
Mobil itu bergerak tersendat-sendat, berhenti, bergerak lagi, lalu melonjak dan mulai berjalan.
Valentine membuka mata dan menghela napas. Lalu kembali bicara. “Well, aku hanya pengecut. Itu saja!” katanya.
“Kau tak ingin melakukannya karena dia tak melakukan apa pun padamu,” sungut Imo. “Karena bukan kau yang harus pontang-panting ke sana-kemari dan mencuri mobil di sana-sini!” ia menambahkan dengan sengit.
Valentine tidak menjawab—lebih tepatnya tak bisa menjawab. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
Langit kian menggelap.
Sebuah truk besar melesat dengan cepat ke arah mereka.
Jalanan menyempit, terlalu sempit untuk dilewati mereka berdua secara bersamaan.
Truk itu membunyikan klaksonnya yang mendengking tanpa mengurangi kecepatannya.
Imo menginjak rem, tapi tampaknya tidak dengan cara yang baik. Mereka mulai tergelincir, tepat di jalan truk itu.
Valentine membeku terbelalak. Tiba-tiba rasanya seperti segalanya berlangsung dalam gerak lambat.
Valentine mendengar klakson truk itu lagi, kali ini lebih keras. Suaranya yang memekakkan telinga membuat tulang-tulangnya bergetar dan bergemeretak.
Valentine mengatupkan matanya lekat-lekat, bersiap-siap menghadapi kecelakaan. Kemudian merasakan deru mesin truk yang seolah melindas mereka lebih dulu, seakan-akan mobil mereka terdorong oleh empasan angin dari truk itu.
Sedetik kemudian, terdengar suara berderak nyaring bersama suara ledakan yang membahana, disusul suara mendengking.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Obelix...
Kagak keberatan perut tuh ..😌
2021-07-14
0
Alexza Sri
di Amazone bukannya cuma ada anaconda sama piranha🤣🤣🤣
2021-07-13
0
Nusan
cek typo... cek typo
ayo! ayo!
mana Ese yang jeli???
2021-06-18
0