Chapter 4

“Apa maksudnya tak ada yang gratis?”

“Selalu ada harga mahal yang harus dibayar!”

“Kau ingin memeras kami?”

Michael Deanson meledak tertawa. “Aku?” cemoohnya. “Memeras kalian?”

Valentine langsung terdiam.

“Dengar, Nak!” Michael kembali memasang wajah serius. “Kau tahu kan, aturan di masyarakat? Kalau kau punya uang kau harus membayar, tak punya uang harus bekerja. Kau mengerti maksudku?”

“I see,” sahut Valentine dengan suara tercekat di tenggorokan. “Kau ingin kami bekerja untukmu.”

“Kau tahu kan, mata pencaharian utama penduduk Kota Ghostroses?” Michael mengkonfirmasi.

Valentine kembali diam.

Michael mendesah dan menepuk lembut pundak pemuda itu. “Jangan khawatir,” katanya. “Bukankah sudah kubilang aku takkan menyia-nyiakan kepercayaan kalian?”

Apa boleh buat, batin Valentine. Untuk sementara ikuti saja dulu, bertindak sesuai situasi.

“Kau sendiri yang mengatakannya,” Michael menambahkan. “Jika kau dilempar ke tengah kawanan serigala, kau harus kembali sebagai pemimpin kawanan mereka!”

Valentine mengerjap dan menoleh pada Michael.

“Hanya serigala yang mengatakan begitu,” imbuh Michael sembari tersenyum miring.

Valentine membuka mulutnya dan mengerutkan dahi, bersiap untuk membantah ucapan Michael.

Tapi seakan bisa membaca pikiran Valentine, Michael menginterupsi, “Serigala tak bisa dikatakan jahat hanya karena membunuh domba,” katanya mengandung dorongan. “Serigala memang ditakdirkan untuk membunuh domba!”

“Jadi… menurutmu, kami tak punya pilihan?” Valentine akhirnya dapat bicara meski terbata-bata.

“Kau tak bisa memilih apakah kau ingin menjadi domba atau serigala,” kata Michael lagi. “Tapi ketahuilah, aku takkan memelihara domba di wilayah serigala!”

Bersamaan dengan itu, Imo Glass melangkah keluar sambil menjinjing pakaian basahnya.

Valentine kembali diam.

Imo Glass menatap keduanya dengan alis tertaut.

“Aku akan menyiapkan peralatan!” Michael berbalik dan menjauh.

Valentine masih bergeming di tempatnya.

“Val! Are you okay?” Bisik Imo Glass.

“I’m okay!” Valentine menjawab singkat tanpa berani menatap Imo. Lalu bergegas masuk ke dalam trailer.

Imo Glass memandangi punggung pemuda itu sampai menghilang di balik pintu. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Apa yang salah? Pikirnya. Kenapa raut wajahnya berubah muram? Apa sebenarnya yang mereka bicarakan selagi aku di dalam?

Beberapa saat kemudian, Valentine muncul kembali dengan pakaian bersih. Celana jins yang dipadu dengan t-shirt putih berlapis jaket kulit berwarna hitam.

Bersamaan dengan itu, Michael juga muncul membawa sekotak alat pergudangan dan segulung tali. “Bantu aku membuat jemuran dulu!” katanya pada Valentine.

Valentine menyerahkan ransel dan pakaian basahnya pada Imo, kemudian menghampiri Michael.

Setelah selesai membuat jemuran, Valentine dan Michael mulai mendirikan tenda dari hootch, sementara Imo Glass menjemur pakaian.

Satu jam kemudian, mereka selesai mendirikan tenda dan membuat perapian.

Michael mengeluarkan makanan kaleng dan minuman botol, kemudian makan malam bersama sembari berbincang-bincang mengenai rencananya terhadap mereka.

Valentine melirik Imo untuk melihat reaksi gadis itu.

Gadis itu tidak nampak terkejut sama sekali. “Selamat datang di Kota Ghostroses!” Bisiknya penuh arti.

Valentine langsung terdiam.

Michael kembali ke dalam trailer, kemudian keluar lagi membawa laptop. “Selanjutnya aku akan menetapkan rencana pelatihan yang ketat untuk kalian,” katanya sembari membuka dan menyalakan laptopnya.

Valentine dan Imo bertukar pandang.

“Pagi, latihan tempur yang sesungguhnya. Siang, membaca dan belajar.” Michael melanjutkan. Kemudian memutar laptopnya ke arah Valentine dan Imo sembari menambahkan, “Saat beristirahat, kalian harus mengingat semua informasi di basis data! Pelajari dan perhatikan dengan cermat, temukan setiap kelemahan masing-masing target, lalu pikiran bagaimana cara menyerang mereka.”

Valentine dan Imo membungkuk mendekatkan wajah mereka ke layar laptop, mencoba mempelajari apa yang terdapat di layar laptop itu dengan dahi berkerut-kerut.

“Sore, latihan stamina!” Michael menambahkan lagi. “Kekuatan, ketahanan, kecepatan, tak boleh ada yang kurang.”

“Are you kidding me?” Valentine dan Imo mengerang bersamaan.

“Hanya tubuh yang kuat yang bisa tahan terhadap latihan intensitas tinggi,” Michael berkilah. “Hanya dengan latihan terus-menerus, baru bisa membentuk pertahanan. Jika kalian berani melarikan diri, aku akan mencatat kalian sebagai target. Lihat itu!” Michael menunjuk ke arah laptopnya dengan dagunya.

“Apa ini?” tanya Imo Glass.

“Rating scale,” jawab Michael singkat.

“Rating scale?” Imo tidak mengerti.

“Data target!” jelas Michael.

“Sebanyak ini?” Valentine dan Imo terpekik bersamaan.

“Well—yeah,” gumam Michael. “Tuaian memang banyak, tapi pekerjanya sedikit!”

“Aku tidak mengerti!” sergah Imo Glass berterus terang.

“Di Kota Ghostroses, ada hukum tak tertulis di mana kematian seseorang ditentukan oleh sistem,” tutur Michael. “Tak peduli nama siapa yang akan muncul, dia harus mati. Dan itu akan bertambah setiap hari!” Ia menunjuk laptopnya sekali lagi. “Jika mereka tidak segera dibereskan, daftar target akan bertumpuk seperti itu.”

Valentine dan Imo kembali bertukar pandang.

“Welcome to Ghostroses!” seloroh Michael.

Valentine dan Imo melemas bersamaan.

Keesokan harinya, Michael benar-benar merealisasikan rencana pelatihannya.

Dimulai dari membaca dan belajar!

Sore harinya, mereka digembleng latihan fisik. Push-up, sit-up, lari, renang, panjat tebing, lompat tinggi hingga menembak dan angkat beban.

Setiap sisi wilayah di sekitar tempat tinggal Michael Deanson didukung zona yang memadai untuk semua pelatihan.

Ada tembok tinggi menjulang penyangga jembatan yang menjadi satu dengan pilar gapura kota untuk latihan panjat tebing.

Dan tentu saja ada sungai besar di bawah jembatan untuk berlatih renang dan menyelam.

Ada lapangan rumput di sekeliling trailer untuk olahraga atletik hingga lapangan tembak.

Segala sesuatu di tempat ini tampaknya memang telah disiapkan secara khusus untuk rencana pelatihan ketat yang dikatakan Michael, seolah sudah menunggu untuk digunakan.

Apakah Michael sendiri biasa berlatih seperti ini? Valentine penasaran.

Tempat itu sangat terpencil, tapi fasilitasnya lumayan lengkap. Mulai dari diesel pembangkit listrik hingga jaringan internet, dari alat peraga untuk berbagai cabang olahraga hingga alat pertukangan. Bahkan kendaraan. Semuanya telah tersedia.

Ada dua trailer teronggok dalam bentuk huruf L, yang sepintas terlihat seperti tempat pembuangan mobil bekas. Satunya dirancang lebih tinggi dengan tiga susun tangga besi sebagai rumah, satunya lagi dirancang rendah sebagai garasi dan gudang peralatan.

Meski kelihatannya hanya memiliki dua petak box mobil bekas, tapi Michael Deanson memiliki segala hal. Dan yang terpenting, tak ada orang lain tinggal di sana kecuali dirinya!

Siapa pria ini sebenarnya? Valentine bertanya-tanya dalam hatinya. Gaya hidup dan cara berpikirnya seperti ilmuwan. Tapi metode pelatihannya seperti tentara khusus.

Jika benar seperti yang dikatakannya bahwa… di Kota Ghostroses, kematian setiap orang ditentukan oleh sistem, maka bertemu orang seperti Michael Deanson di kota semacam ini, bukankah terlalu beruntung?

Tak mungkin begitu kebetulan, kan? pikir Valentine.

Sudah berjalan sejauh ini!

Mungkinkah semua hanya kebetulan?

Kenapa semuanya terasa seperti telah disediakan?

Jangan-jangan semuanya telah direncanakan?!

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dalam benak Valentine, kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Benarkah kami dibuang ke sini karena cacat mutasi?

Atau karena hal lain?

Michael Deanson memperlakukan mereka dengan cukup baik meski rangkaian pelatihan yang diberikannya sedikit terlalu ketat. Dalam hal pelatihan, pria itu memang sedikit keterlaluan. Tapi bukankah tujuannya sudah cukup jelas?

Ini adalah Pelatihan Khusus! Pikir Valentine.

Mungkinkah Michael Deanson adalah salah satu Guardian dari Sekolah Super?

Terpopuler

Comments

Alexza Sri

Alexza Sri

semakin aku berbohong, semakin aku percaya diri...🤣🤣🤣
kok gue bgt😁

2021-07-12

0

Harold

Harold

Maaf jadi curhat 😌

2021-06-18

0

Harold

Harold

saya jadi ingat dosa saya sama ibu 😁
waktu sekolah saya tengsin kalo ibu saya datang ke sekolah

2021-06-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!