Athena datang pagi-pagi sekali. Dan benar-benar membawa bahan makanan. Banyak sekali!
Ia juga membawa bir.
Lalu ia menghubungi yang lain di Cabin Line 7. Tapi yang datang hanya Deadheart dan Ele Seven.
“Ke mana perginya semua orang?” gerutu Jessifer. “Kenapa hanya kalian berdua yang datang?”
“Please, don’t ask!” erang Deadheart. Semua orang tahu, tak banyak misi yang dapat diambil Deadheart dan Ele Seven. Tentu saja mereka paling banyak menganggur.
“Tempat ini seperti kamp militer,” komentar Ele menyela mereka. Gadis itu sedang meneliti seluruh tempat di sekeliling kamp Valentine dari sudut pekarangan.
Deadheart dan Jessifer menghampiri Ele Seven dan mengikuti arah pandangnya.
“Wow, keren!” seru Deadheart bersemangat.
“Apakah itu benar-benar digunakan?” Ele bertanya pada Valentine sambil menunjuk lapangan tembak.
“Tentu,” jawab Valentine sambil berjalan mendekat dan bergabung dengan mereka. “Hanya ketika aku belum tahu cara menggunakan senjata!” Ia menambahkan.
Jessifer tersenyum dan menatapnya. “Jadi sekarang kau tak menggunakannya lagi?”
“Well, kurasa sebaiknya aku menghemat peluru!” Valentine beralasan.
Ketiga temannya tertawa menanggapinya.
Tak lama mereka berpindah ke lapangan di mana Valentine biasa lari pagi dan berolahraga.
Jessifer menantang Ele balapan lari. Kemudian Valentine dan Deadheart memprovokasi mereka. Sebaliknya, Ele menantang mereka untuk bersaing juga.
Pada akhirnya keempatnya bersaing balapan lari sambil tertawa-tawa, hanya untuk sekadar bersenang-senang.
Setelah selesai balapan lari, mereka bermain basket di sisi lain lapangan. Kemudian Valentine mengusulkan untuk bermain perang-perangan menggunakan pistol zap mainan yang digunakannya bersama Imo saat belajar dasar teknik tempur dibawah asuhan Michael.
Sekejap rasa kehilangan menghinggapi Valentine.
Di mana mereka sekarang? Pikirnya. Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara mereka?
Ketika hari mulai gelap, mereka membangun tenda dari hootch di pekarangan samping trailer, di mana Michael pernah mendirikan tenda untuk Valentine. Lalu membuat perapian di tempat yang sama.
Mereka menggelegar barbeque sambil berbincang-bincang dan mengaktifkan akun Line Efs mereka.
Ele Seven mengunggah foto barbeque itu di kabar terbarunya, dan direspon teman-temannya dari divisi lain.
“Dapatkah kami bergabung?” Komentarnya disertai foto pasangan remaja seperti Ele Seven dan Deadheart.
“Bagaimana, Seventhson?” Ele bertanya pada Valentine untuk meminta pendapatnya. “Mereka dari Line 5, tapi kami pernah menjalani misi bersama. So…”
“Tidak masalah,” jawab Valentine cepat-cepat. “Lagi pula makanan ini terlalu banyak,” katanya sambil menunjuk panggangan. “Tidak ada salahnya berbagi dengan divisi lain.”
“Bagaimana, Jess?” Ele beralih pada Jessifer.
“Aku juga tak keberatan,” jawab Jessifer.
“Well, karena semuanya tak keberatan, aku akan mengundang mereka!” Ele Seven memutuskan. Kemudian menanggapi komentar itu dengan balasan, “Kemarilah!”
“Kirim lokasi!” Pengguna itu membalas lagi.
Kemudian Ele Seven membagikan lokasinya di kolom komentar.
Beberapa saat kemudian, pasangan itu tiba di sana.
“Aku Suki Thomas,” gadis Line 5 itu memperkenalkan dirinya pada Valentine. “Dan dia Harold Isaac!” Ia juga memperkenalkan partnernya.
“Aku Seventhson!” Valentine balas memperkenalkan dirinya.
Lalu mereka semua bersulang dan makan bersama.
Kemunculan sepeda motor di pekarangan kamp menarik perhatian mereka.
“Siapa yang datang?” tanya Valentine. Kemudian melirik Ele Seven. “Apa kau juga mengundang teman lain.
Ele Seven hanya mengangkat bahu.
“Tunggu!” Jessifer tiba-tiba menyela, merasa familier dengan suara knalpot sepeda motor itu. “Kurasa itu Thunder,” katanya.
“Dari mana dia tahu alamat ini?” Tanya Valentine.
Lalu semua mata bergulir ke arah Ele.
“Kau telah melakukan kesalahan besar, Ele Seven!” teriak pengendara sepeda motor yang baru tiba itu dari atas sepeda motornya.
Semua orang serentak menoleh ke arahnya. Ternyata benar. Thunder!
“Oh, ya Tuhan! Maafkan aku!” Ele Seven buru-buru mengakses Line Efs-nya dan segera menghapus komentar berisi lokasi kamp Valentine. “Kenapa aku begitu ceroboh,” sesalnya.
Beruntung hanya Thunder yang datang! Pikirnya.
Tautan itu bisa saja mendatangkan pihak yang berniat menyerang.
“Karena kau sudah datang, kenapa tidak bergabung dengan kami?” Valentine menyapa Thunder.
Thunder mematikan mesin dan memarkir sepeda motornya di dekat tangga trailer. Kemudian bergabung dengan mereka.
“Hey, Seventhson! Beritahu kami di mana kamar kecilnya?” Harold menyela sebentar.
“Trailer kedua!” Valentine memberitahu.
Harold beranjak dan bergegas ke trailer satunya. Lalu menghilang dalam waktu yang lama.
“Kenapa lama sekali?” Suki Thomas menggumam sembari memeriksa jam di layar ponselnya.
Setelah hampir setengah jam dan Harold tak juga kembali, Suki Thomas akhirnya memutuskan untuk mencarinya.
Beberapa saat kemudian, Suki Thomas sudah kembali. Tapi tidak bersama Harold. “Dia… menghilang,” katanya dengan suara tercekat.
Semua orang serentak tergagap.
“Jangan bercanda!” Sergah Ele setengah menghardik.
“Aku tidak bercanda,” tukas Suki. “Dia benar-benar menghilang!”
Valentine melompat dari tempat duduknya, kemudian menghambur ke arah trailer kedua.
Yang lainnya ikut beranjak dan mengekor di belakangnya.
Valentine memeriksa ke dalam trailer yang berfungsi sebagai gudang sekaligus garasi. Kamar kecil itu berada di sudut trailer di ujung ruangan.
Pintu kamar kecil itu terbentang membuka.
Valentine melongok ke dalam. Tidak ada siapa-siapa!
Valentine berbalik dan meneliti sekeliling. “Harold!”
Yang lainnya berjejal melongokkan kepala di ambang pintu.
Valentine menarik laci meja di sudut lain ruangan di seberang kamar kecil itu dan mengeluarkan senter, lalu bergegas ke arah pintu.
Teman-temannya segera menjauh dari pintu. Valentine menerobos keluar dan bergegas ke pekarangan.
Jessifer dan Suki mengikutinya, sementara yang lain berpencar.
“Harold!”
“Harold!”
Teriakan mereka menggema di sana-sini di sekeliling kamp itu di antara suara-suara berdebuk dan berdebam ribut tumit sepatu mereka.
Ele dan Deadheart, menyisir lapangan tembak sementara Thunder menyisir tepian sungai.
Valentine memeriksa setiap gang antara tumpukan mobil-mobil bekas bersama Jessifer dan Suki.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Harold!
Lima menit kemudian, mereka sudah berkumpul lagi di dekat gang masuk kamp. Semuanya mengangkat bahu dengan ekspresi hampa.
“Aku tak percaya dia meninggalkanku,” gumam Suki setengah meratap. “Dia takkan meninggalkanku kecuali sesuatu benar-benar salah! Pasti terjadi sesuatu padanya!”
“Tenanglah!” Jessifer merangkul bahu gadis itu.
“Di mana Thunder?” Ele tiba-tiba menyela.
Semua orang serentak membeku.
“Jangan bilang dia juga menghilang!” Deadheart menggerutu.
“Oh, you shut up!” Jessifer memelototinya. Kemudian bergegas menyeberangi lapangan dengan langkah-langkah lebar.
Valentine segera menyusulnya.
Bersamaan dengan itu, Thunder menghambur ke arah mereka dari arah sungai sambil berteriak panik. “Semuanya! Ikut aku!” katanya terengah-engah.
Yang lainnya segera menyerbu ke arah mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Suki nyaris menjerit.
“Di sana!” Thunder menunjuk ke arah sungai. Sejurus kemudian, semua orang sudah menghambur ke arah yang ditunjuknya.
Sesosok tubuh tertelungkup di tepi sungai dengan sebagian tubuhnya terendam di air.
“Tidak!” Jerit Suki sambil menghambur ke tepi sungai.
“Hentikan!” Teriak Thunder sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah Suki. Terlambat.
Suki sudah berjongkok merenggut bahu orang yang tertelungkup itu dan membalik tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Lu udah tegak sendiri berarti, Glo!
2021-07-16
0
Alexza Sri
aku mohon jangan ada perang😭😭😭....
2021-07-14
0
Nusan
hi, aku balik lagi 🤭
2021-06-18
0