“Dia kehilangan banyak darah!”
“Apa yang terjadi?”
“Lakalantas!”
Suara-suara itu terdengar ribut di atas kepala Valentine di antara raungan sirine ambulans.
GRAK!
Sesuatu berderak di bawahnya, disusul suara-suara berdebuk dan berdebam.
Tak lama punggungnya menyentuh sesuatu yang dingin dan empuk. Tubuhnya berguncang dan bergetar, lalu seperti tergelincir. Rasanya seperti sedang melayang ke atas.
Bercak-bercak ungu tua melayang di depan matanya di antara gelap dan terang keredap cahaya merah yang berpendar-pendar.
“Cari tahu golongan darahnya! Siapkan transfusi darah!”
Suara-suara itu terdengar semakin bising, berdengung dan membahana.
Kesadarannya timbul-tenggelam.
Sebagian dari dirinya ingin tenggelam ke dalam kegelapan, tapi sebagian lainnya berjuang untuk sadar sepenuhnya.
Lambat laun, bercak-bercak ungu tua itu memudar, berganti menjadi abu-abu. Lalu tersaput cahaya putih berkabut.
Kabut menipis, dan muncullah wajah-wajah samar di atas kepalanya. Mula-mula jauh sekali. Lalu semakin dekat.
Semakin dekat.
Tubuhnya berhenti melayang.
Terdengar suara-suara berdebuk lagi, kemudian suara-suara berkeriut, berderak, berderit dan berdecit. Begitu ribut dan sibuk.
“Gawat!” Pekik suara seorang perempuan. “Golongan darahnya AB Negatif,” katanya terengah-engah. “Persediaan darah AB tipe Negatif sedang kosong!”
“Aku AB Negatif,” sela suara perempuan lainnya.
Lalu Valentine tak ingat apa-apa lagi.
Semuanya tenggelam perlahan ke dalam kegelapan.
Ia tak tahu berapa lama kegelapan itu menguasainya.
Ketika ia membuka mata, samar-samar tercium bau segar cairan antiseptik di bawah selimut. Dan ia merasa seolah bau itu sudah bercokol sejak dulu di rongga hidungnya.
Berkas-berkas gambar adegan suatu peristiwa berkelebat dalam benaknya seperti foto hitam-putih yang berkeredap dan berkedut-kedut.
Perutnya menegang seketika. Ia terhenyak dan bangkit dengan tersentak.
Udara di paru-parunya berdesing keluar saat ia melompat duduk. Kedua matanya melebar. Ingatannya terbentang seketika.
Seraut wajah seorang gadis kulit putih muncul dalam penglihatannya.
“Imo!” Pekiknya terengah-engah.
Ia mengedar pandang untuk mencari keberadaan gadis itu, tapi ruangan itu terlihat sepi. Hanya ada televisi, deretan brankar kosong, mesin perekam jantung dan alat infus.
Rumah sakit, ia menyimpulkan. Siapa yang membawaku ke sini?
Ia menyapukan pandangannya lagi ke arah lain dan berhenti di depan pintu toilet di mana terdapat sebuah wastafel dengan cermin.
Ia tertunduk menatap selang infus yang menancap di punggung tangannya, kemudian menelitinya sampai ke kantong cairan yang menggantung di atas kepalanya. Lalu kembali ke punggung tangannya dan memeriksa dirinya.
Ada banyak perban di sana-sini. Di lengan, di kaki. Satu tangannya bahkan dipasangi gips.
Ia mengangkat tangan itu dan menggerakkannya. Tapi tak merasakan apa-apa.
Lalu ia meraba pelipisnya. Kepalanya juga diperban.
Ia merenggut selang infus dari punggung tangannya dan mencabutnya. Lalu bergegas ke arah cermin di atas wastafel itu.
Ia membungkuk di atas wastafel itu dengan bertumpu pada kedua tangannya, memperhatikan bayangannya di dalam cermin. Lalu mencabut perban di pelipisnya.
Tidak ada luka apa pun di sana. Lalu ia membuka perban di satu tangannya, di sana juga tak ada luka.
Suara pintu yang terbuka membuat Valentine menoleh ke belakang.
Seorang perawat memasuki ruangan dan terbelalak sembari menahan napas. Sebelah tangannya membekap mulutnya yang ternganga lebar.
Mata Valentine spontan terpicing. Lalu meluruskan tubuhnya dan berbalik.
Serta-merta perawat itu berbalik dan menghambur keluar. “Dokter! Pasien nomor 157 sudah siuman!”
Valentine mendengar perawat itu berteriak gusar.
“Apa?” Terdengar suara seorang pria. “Mana mungkin?!”
Valentine mengerutkan keningnya. Kenapa semua orang begitu terkejut? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Tak lama kemudian, perawat itu kembali ke dalam ruangan bersama seorang dokter---seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan.
Dokter itu juga terkesiap mendapati Valentine sedang berdiri di tengah ruangan dengan sebagian luka yang tiba-tiba menghilang.
Detik berikutnya seraut wajah oval muncul di belakang mereka.
Rambutnya panjang sepinggang, ikal gelombang seperti rambut Imo Glass. Tapi warna rambut itu berbeda. Rambut Imo berwarna coklat. Warna rambut gadis itu hitam mengkilat, seperti pakaiannya.
Bukan Imo Glass! Valentine menyadari. Siapa dia?
Gadis itu juga tampak terkejut sewaktu melihatnya.
Sepasang matanya yang bulat berbulu lentik dan tebal, terlihat seperti mata boneka. Begitu juga dengan hidung mancung mendongak di atas bibir tipisnya yang juga mirip bibir boneka. Mengingatkan Valentine pada foto profil seseorang di media sosial barunya.
“Captain?” Valentine terpekik sembari mengerutkan keningnya.
Gadis itu mengerjap dan tertunduk sembari mengulum senyumnya. Dan Valentine ingat untuk menarik napas.
Jauh lebih cantik dari fotonya, pikir Valentine sambil balas tersenyum. Lalu berdeham dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah ketika menyadari semua orang sedang menatapnya. “Well,” katanya malu-malu. “Kenapa kau di sini?”
“Dia yang menemukan Anda,” jawab perawat yang tadi. “Dia yang memanggil ambulans!”
“Di mana temanku?” Valentine teringat lagi pada Imo Glass. “Apakah dia juga di sini? Apakah dia baik-baik saja?”
“Teman?” Perawat itu terlihat kebingungan. Begitu juga dengan sang dokter.
Lalu keduanya menoleh pada Jessifer.
“Well,” gadis itu mengerjap dan tertunduk. Lalu berdeham dan kembali mengangkat wajahnya. “Dia kabur ketika kami tiba,” katanya sambil tersenyum muram. “Jadi, kurasa dia baik-baik saja!” Ia menambahkan sembari mengangkat bahunya.
Valentine mengerjap dan menelan ludah. Bola matanya bergerak-gerak dengan gelisah.
Ia meneliti wajah semua orang satu per satu, dan ketika tatapannya sampai pada sang dokter, dokter itu mengerjap dan menghampirinya cepat-cepat. “Nak, kau baru siuman,” katanya seraya membimbing Valentine ke tempat tidur. “Jangan terlalu banyak bergerak!”
Tatapan Valentine tak lepas dari wajah Jessifer ketika dokter itu memaksanya duduk. Gadis itu berpakaian serba ketat berwarna hitam mengkilat berlapis jaket kulit yang juga hitam mengkilat. Seperti pecinta sepeda motor sport, pikir Valentine.
Gadis itu masih membeku di depan pintu, membalas tatapan Valentine tanpa berkedip.
“Biarkan aku memeriksamu dulu,” dokter itu membujuk Valentine untuk kembali berbaring.
Gadis itu akhirnya mengerjap dan melangkah pelan mendekati brankar Valentine. Lalu berhenti di belakang sang dokter, berdampingan dengan perawat tadi.
“Sudah berapa lama aku di sini?” Tanya Valentine setelah sejenak terdiam.
“Belum lama,” jawab dokter itu tanpa mengangkat wajah, sedang fokus memeriksa detak jantung Valentine dengan stetoskop.
Valentine kembali melirik Jessifer tanpa bisa menutupi perasaan kagumnya. Seulas senyuman tipis tersungging samar di sudut bibirnya.
Gadis itu menanggapinya dengan senyuman samar yang sama.
Dokter itu menarik kepala stetoskop dari dada Valentine, kemudian menurunkan earpieces dari telinganya. Ia melucuti semua perban dan melepas gips di lengan Valentine dengan dahi berkerut-kerut. Kemudian menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi campuran antara ngeri dan takjub. “Bagaimana bisa semua luka menghilang begitu saja?”
Jessifer tiba-tiba mengerjap gelisah. Menatap Valentine dengan cemas, seperti takut Valentine akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Aku…” Valentine menggantung kalimatnya dan tertegun, mencoba menimang-nimang apa yang harus dikatakan.
“Dia memiliki kelebihan sel darah putih!” Jessifer tiba-tiba menyela.
Valentine terkesiap. Dia mencoba melindungiku! Pikirnya terkejut. Apakah dia mengetahui sesuatu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Alexza Sri
meliput kawin paksa ke afganistan....🤣🤣🤣glo...glo...
2021-07-13
0
Nusan
kayak kemping SMA 😂
2021-06-18
0
Junior
Anjrittt
keren lu Thor
Ampe hapal 10 wanita paling kejam di dunia
jahahaha
2020-10-20
0