Chapter 17

“Tidak ada paket penting,” gumam Jessifer. “Hanya tumpukan dokumen usang! Dan sekarang orangnya juga tak bisa dihubungi. Mau diapakan dokumen-dokumen ini?”

“Kurasa dokumen usang itulah paket pentingnya,” komentar Thunder. “Biar aku saja yang menyimpannya,” ia menawarkan. “Kita tunggu sampai orangnya menghubungi lagi. Aku sendiri yang akan mengantarnya nanti. Bagaimanapun akulah yang menerima misi!”

Setelah berbincang-bincang beberapa saat lagi, ketiganya jatuh tertidur di depan perapian.

Setelah pagi tiba dan kabut mulai menipis, Jessifer dan Valentine berpamitan dan beranjak pergi.

Jessifer mempercayakan sisa perjalanan mereka pada Valentine.

“Kita akan mengantarkanmu pulang terlebih dulu,” katanya. Jadi ia membiarkan Valentine yang mengemudi.

Sepanjang perjalanan itu, mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal tentang Athena Minor.

Awalnya Valentine membicarakan Thunder. “Aku baru tahu dia juga pendatang,” katanya.

“Sebagian besar penduduk Ghostroses awalnya hanya pendatang,” imbuh Jessifer.

“Kau juga?” Valentine mengerling padanya dengan mata terpicing.

“Ya,” jawab Jessifer. “Aku dan Thunder berasal dari tempat yang sama.”

Valentine mengerjap dan membelalakkan matanya. “Maksudmu… Thunder juga Orang Asia?”

“Yeah!” Jessifer menoleh padanya. “Kenapa?”

“Tidak,” tukas Valentine. “Hanya saja, dia lebih mirip Orang Eropa!” katanya sambil tertawa.

Jessifer juga tertawa. “Kau bukan orang pertama yang mengatakan begitu,” katanya.

Lalu mereka tertawa lagi. Hanya tawa ringan untuk mencairkan suasana. Selebihnya, mereka berbincang-bincang lagi. Tanpa sadar, kecepatan bertambah sedikit demi sedikit.

Jessifer melirik spidometer diam-diam. Kecepatan mereka sudah di atas seratus dua puluh.

Valentine tidak menyadarinya!

Dalam penglihatan Valentine, laju mobilnya semakin pelan seiring jarak tempuh yang kian bertambah.

Jessifer melirik wajah Valentine dan memperhatikannya dengan dahi berkerut-kerut. Dia tampak ketakutan saat dibonceng, pikirnya. Tak disangka bisa begitu tenang saat mengemudi di atas kecepatan normal.

Mungkin karena kami cuma satu-satunya mobil yang ada di sini, katanya dalam hati.

Kabut belum sepenuhnya hilang, dan sinar matahari masih tertutup pepohonan. Jessifer yakin Valentine tak dapat melihat apa pun.

Wiper kaca depan memang bisa membersihkan kaca dengan baik, tapi kabut semakin tebal di kaki gunung, dan udara menjadi berwarna putih.

Tak ada bisa dilihat!

Setelah mereka turun gunung dan memasuki kawasan tertib lalu lintas, Valentine akhirnya menurunkan kecepatan setelah Jessifer mengingatkannya untuk melihat spidometer.

“Sori,” katanya tergagap-gagap, merasa terkejut sendiri. “Aku sungguh tak sengaja melakukannya!”

Jessifer tersenyum maklum.

Perjalanan itu berakhir di kawasan pergudangan yang terbengkalai, di mana Valentine tinggal selama ini.

“Kau tinggal di sini?” tanya Jessifer ketika Valentine memarkir mobilnya di depan salah satu gudang bobrok yang sudah lama tidak terpakai.

“Well—yeah,” jawab Valentine bernada pahit. “Aku sama seperti Thunder, ingat?”

“Aku tak keberatan dengan itu,” tukas Jessifer cepat-cepat. “Maksudku… hanya ingin memastikannya saja,” jelasnya terbata-bata. “Well, kau tak bilang kau tinggal di kawasan pergudangan.”

Valentine mengulum senyumnya. “Aku juga tak keberatan dengan itu,” jawabnya. “Aku hanya tak ingin kau mengira aku mencoba menipumu!”

“Ah—tentu!” Jessifer mengerjap dan tersenyum kikuk. “Aku mempercayaimu!” Ia menambahkan.

“Thanks, untuk misi dan fasilitasnya!” Valentine tersenyum lebar dan membuka pintu.

“Tunggu!” Jessifer menghentikannya. “Ambil ini,” katanya sembari mengulurkan amplop yang mereka temukan dari ransel target.

Valentine menatap amplop itu dengan ragu.

“Kau simpanlah dulu!” kata Jessifer. “Kita akan membaginya nanti setelah aku cukup beristirahat.”

“Oke, aku mengerti!” Valentine akhirnya menerima amplop itu. “Hubungi aku setelah kau ada waktu,” katanya sambil menyelinap keluar.

Jessifer juga keluar dari bangku penumpang, memutar dan berpindah ke bangku kemudi. “Aku akan mengunjungimu nanti!” Katanya disertai senyuman penuh arti.

“Kalau begitu pastikan kau membawa bahan makanan!” Valentine menimpali.

“Deal!” Sahut Jessifer bersemangat. Kemudian menutup pintu dan kaca jendela mobilnya setelah say goodbye.

Valentine masih berdiri di gang mengantar kepergiannya dan baru berbalik setelah mobil itu menghilang dari pandangan.

Memasuki pekarangan kamp Michael, Valentine dikejutkan oleh keberadaan truk besar yang sangat familier.

Truk besar yang hampir melindasnya kemarin, juga truk besar yang sama yang menyelamatkan nyawanya tadi malam, sekarang terparkir di pekarangan kamp-nya.

Dan pintu trailernya menganga terbuka!

Valentine menarik pistol yang terselip di belakang ikat pinggangnya, kemudian mendekat perlahan ke pintu sembari menodongkan pistolnya.

Seseorang membungkuk di depan meja tulis Michael. Mengaduk-aduk laci dan membongkar isi lemari.

Valentine menghambur ke dalam dan menghampiri orang tersebut sambil terus menodongkan pistolnya.

Orang itu mengangkat wajah dan menatapnya.

“Michael?!” Valentine mengerjap dan terkesiap. Kemudian menarik pelatuk pistolnya dengan rahang mengetat.

“Aku hanya mengambil beberapa barang. Aku memerlukannya,” jelas Michael tanpa ekspresi, tidak menampakkan ekspresi takut maupun gugup.

Valentine menelan ludah. Tiba-tiba menjadi ragu. Tapi tidak menurunkan pistolnya.

“Kau boleh tetap tinggal di sini selama kau mau,” Michael menambahkan sambil tertunduk, kembali melanjutkan kesibukannya—mengaduk-aduk laci mejanya. Ia memasukkan sejumlah barang dan setumpuk dokumen ke dalam ransel, kemudian menutup ritsleting dan menyampirkan ransel itu ke bahunya sembari menyelinap keluar dari balik meja.

Valentine menghadangnya dengan menempelkan moncong pistolnya ke pelipis Michael. “Di mana Imo?” desisnya. “Apa yang telah kau lakukan padanya?”

Michael berhenti dan mendesah. “Bukankah kau sudah bertemu?” tukasnya dengan tenang. Tidak nampak terganggu dengan moncong senjata api yang menempel di pelipisnya.

“Well—yeah!” Valentine terkekeh masam. “Dan kau hampir membunuh kami,” katanya sembari menekankan moncong pistolnya semakin dalam ke pelipis Michael.

“Kau takkan terbunuh hanya karena dilindas truk,” kata Michael.

“Apa maksudnya?” Desak Valentine sembari mengertakkan giginya.

“Aku tidak berniat membunuhmu!” sergah Michael, sedikit meninggikan nada bicaranya. “Mungkin kau takkan percaya kalau kubilang… aku berusaha menyelamatkanmu!”

“Dengan melindas kami menggunakan truk?” dengus Valentine.

Michael mendesah dan menoleh, tidak memedulikan pistol yang ditodongkan. “Dengar, Val!” katanya menasihati. “Kau tak bisa mempercayai siapa pun di Kota Ghostroses, bahkan orang terdekat sekalipun!”

“Kalau begitu kenapa aku harus mempercayaimu?” tukas Valentine.

Michael tersenyum pahit. “Aku melatihmu dengan cukup baik,” katanya dalam bisikan muram.

Valentine mengerjap dan menelan ludah. Bola matanya bergulir dengan gelisah.

“Jaga dirimu,” imbuh Michael sembari beranjak pergi.

Valentine mematung di tempatnya dengan pistol masih terbidik. Kemudian menurunkannya setelah Michael menghilang di balik pintu. Aku tak bisa melakukannya, katanya dalam hati.

Michael benar, pikirnya. Dia telah melatihku dengan cukup baik!

Dia bisa saja membunuhku kalau dia menginginkannya.

Tapi apa maksudnya dia berusaha menyelamatkanku?

Apa maksudnya aku tak bisa mempercayai siapa pun di Kota Ghostroses?

Apakah itu termasuk Imo?

Tapi Imo adalah temanku!

Kami berasal dari tempat yang sama, negeri yang sama, kota yang sama.

Lebih dari itu, kami juga teman senasib—sependeritaan.

Cukup lama Valentine mematung di situ. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

Terdengar deru mesin menyala, kemudian menjauh.

Michael sudah benar-benar pergi sekarang. Tapi Valentine masih membeku.

Sebenarnya apa yang terjadi? Valentine masih tak habis pikir.

Terpopuler

Comments

Alexza Sri

Alexza Sri

jangan bilang gloria setelah pelatihan jadi pembunuh bayaran atau mafia🤭🤭🤭

2021-07-14

0

Nusan

Nusan

metode paling populer nih sampe diangkat juga di film-film Barat Sono kan hahahaa

2021-06-18

0

Qiya

Qiya

roge

2021-05-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!