Chapter 6

Program pelatihan ketat sialan! Gerutu Valentine dalam hatinya. Merasa sedikit jengkel.

Targetnya adalah seorang wanita biasa berusia tiga puluh tahun. Pegawai rendah sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang jasa optimasi SEO dan media sosial.

Hanya figur lemah yang tak bisa melawan meski mereka menyerang secara frontal.

Dan metode pembunuhan sederhana yang dipilih Michael, terasa seperti meremehkan kemampuan Valentine sebagai amatir. Membuat pemuda itu merasa kecewa.

Sesuai perhitungan mereka, wanita itu keluar sekitar pukul sembilan malam.

Valentine bergegas dengan langkah-langkah lebar ketika target mulai menyeberang.

Sekitar tiga langkah di depan target, Valentine mengangkat sebelah tangannya pura-pura melihat jam. Begitu target mendekat, Valentine menurunkan tangannya dan menabrak wanita itu sembari menancapkan alat suntik kecil yang diselipkan pada tali arloji di bawah lengan jaketnya.

Alat suntik itu telah diisi cairan arsenik yang dalam takaran 200 miligram saja sudah bisa membunuh. Itu setara dengan satu tetesan hujan.

Sesederhana itu, dan misinya sudah selesai!

Dia benar-benar menganggap kami pemula! Pikir Valentine.

Untuk apa berlatih begitu keras kalau akhirnya hanya begini? Sesalnya dalam hati. Ia mengharapkan aksi lebih menantang.

“Kenapa? Kau terlihat tak puas,” tegur Michael setelah Valentine kembali ke dalam mobil.

Imo Glass mengawasi wajah Valentine melalui kaca spion depan.

Pemuda itu diam saja.

“Misi nyata berbeda dengan latihan,” tutur Michael saat mobil mereka mulai berjalan. “Belajarlah dari yang paling sederhana. Harga rendah, pastikan ambil risiko lebih rendah.”

Valentine tetap bergeming.

“Kalian masih muda,” imbuh Michael. “Tak perlu terburu-buru untuk mencapai puncak dunia. Jalan kalian masih panjang. Kalian akan bertumbuh seiring pengalaman. Karena setiap pengalaman akan mengajarkan metode baru!”

Valentine mendesah dan tertunduk. Raut wajahnya yang semula kencang mulai mengendur.

Keesokan paginya, berita kematian seorang wanita di dalam bus, tersiar di layar kaca.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Michael, “Halte bus Saint Paulus. Paper bag Armando Bakery. Pukul 10:13.”

“Apa maksudnya?” tanya Valentine saat Michael menunjukkan pesan itu.

“Ambil uangnya,” jelas Michael. “Beli sesuatu di Armando Bakery sebelum menemuinya. Dia membawa kantong yang sama dari Armando Bakery. Kau hanya perlu menukar kantongnya saja. Kau mengerti?”

“Aku mengerti,” sahut Valentine. “Aku hanya tidak mengira pembayarannya dilakukan secara tunai.”

“Apa yang kau harapkan?” Michael terkekeh tipis. “Menunggu klien mentransfer uang ke rekeningmu? Cara seperti itu akan meninggalkan jejak!”

“Benar juga,” gumam Valentine.

“Pergilah!” Instruksi Michael. “Untuk hal sekecil ini, kurasa kami tak perlu menemanimu, kan?”

Valentine hanya mengangkat bahu, kemudian Michael memberikan ponsel dan kunci mobilnya.

Beberapa saat kemudian, Valentine sudah meluncur menuju Armando Bakery mengikuti petunjuk aplikasi maps, memesan burger dan satu cup kopi. Kemudian berangkat lagi menuju halte yang dijanjikan.

Seorang wanita berusia kira-kira dua puluh lima tahun berpakaian formal duduk membungkuk di halte itu. Sebuah paper bag Armando Bakery bertengger di sisinya.

Valentine muncul dengan pakaian formal—setelan jas rapi dengan kacamata baca berbingkai tebal—sesuai arahan Michael. Satu tangannya menenteng tas kerja, tangan lainnya menenteng paper bag Armando Bakery.

“Tunggu sampai dia menghubungimu!” Kata-kata Michael terngiang dalam benaknya.

Tak lama kemudian, ponsel Michael bergetar di kantong celananya.

Valentine menurunkan paper bag Armando Bakery itu dan meletakkannya tepat di sisi paper bag Armando Bakery yang sama milik wanita itu. Kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.

Bersamaan dengan itu, wanita tadi beranjak sambil merenggut paper bag milik Valentine dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke sana kemari. Bersikap seolah-olah segala sesuatunya berjalan wajar, tidak menyadari apa pun yang terjadi.

Valentine membaca pesannya, “Thanks! Senang bekerja sama dengan Anda.”

Setelahnya, nomor itu tak dapat dihubungi lagi.

Valentine mengantongi kembali ponselnya dan menyambar paper bag yang ditinggalkan wanita itu, kemudian kembali ke mobilnya.

Ia memeriksa isi paper bag itu dan menyeringai. Setumpuk uang sudah menunggu untuk dihitung.

Valentine menghitungnya. Uangnya pas!

Lalu ia bergegas pulang dengan wajah semringah.

Tapi hanya sesaat.

Begitu ia tiba di kamp Michael, wajahnya berubah pucat.

Tenda dari hootch yang dibangunnya bersama Michael telah terkoyak dengan barang-barang di dalamnya terserak keluar seperti habis digasak.

Jemuran mereka putus. Pakaian mereka berceceran.

Peti-peti kayu buah-buahan bekas tempat duduk mereka di sekeliling perapian terjungkal di sana-sini. Bekas perapian terpencar dan berhamburan.

Rumput di pekarangan luluh lantak seperti bekas dilanda banjir.

Pintu trailer menganga terbuka.

“Michael! Imo!” Valentine menghambur ke arah pintu, melompati dua tangga sekaligus dan menyeruak ke dalam trailer sembari berteriak gusar memanggil keduanya.

Hening.

Tidak ada Michael. Tidak ada Imo Glass. Tidak ada suara maupun tanda-tanda kehidupan di dalam sana.

“MICHAEL!” Valentine menghambur kembali keluar dan memanggil dengan suara yang lebih keras. Lalu berlari ke sana kemari mengelilingi pekarangan dengan kalang kabut.

Apa yang terjadi? Pikirnya panik. Ke mana perginya semua orang?

“IMO!”

Valentine memeriksa ke dalam garasi dan memanggil keduanya sekali lagi. “Michael! Imo!”

Tak ada yang menjawab kecuali pantulan suaranya sendiri.

Lalu ia berlari ke tepi sungai, dan meneliti setiap sudut tempat dengan tatapan nyalang.

Tidak ada tanda-tanda mereka pernah ke sana.

Lelah dan frustrasi membuat Valentine terpuruk di ruang kerja Michael di dalam trailer.

Sebenarnya apa yang telah terjadi? Pikirnya. Apakah mereka diserang dan melarikan diri? Apa mereka diculik?

Mengingat kemampuan tempur Michael, rasanya tak masuk akal mereka bisa diculik, apalagi melarikan diri!

Setelah sejenak menenangkan diri, Valentine kembali memeriksa seluruh tempat, dimulai dari ruang kerja Michael yang berantakan, tempat tidur yang kacau balau, dan perabot-perabot yang jungkir balik di sana-sini.

Semuanya terlihat seperti bekas pertarungan.

Ada sejumlah lubang bekas tembakan senjata api di dinding dan atap trailer, selongsong peluru di lantai, percikan darah dan jejak sepatu.

Valentine berjongkok di lantai memungut satu selongsong peluru dan memeriksanya. Kemudian mengerutkan keningnya.

Selongsong peluru itu memiliki ciri khas yang tidak dimiliki selongsong peluru lain yang pernah dilihat Valentine.

Satu-satunya selongsong peluru dengan ciri khas semacam itu hanya ditemukannya di laci meja Michael ketika pria itu menjelaskan banyak hal tentang metode pembunuhan. Pria itu mengeluarkannya dari laci dan memperlihatkannya pada Valentine dan Imo Glass sembari menjelaskan perihal asal-usul dan kelebihan peluru khususnya.

“Hanya ada satu orang yang bisa merancang peluru semacam ini,” katanya. “Jadi persediaannya sangat terbatas. Aku hampir tak pernah menggunakannya kecuali benar-benar gawat!”

Jadi, situasinya benar-benar gawat sekarang? Pikir Valentine semakin gusar.

Lalu apakah mereka baik-baik saja sekarang?

Apakah mereka masih hidup?

Siapa sebenarnya yang telah menyerang mereka?

Valentine memeriksa pekarangan sekali lagi. Meneliti setiap jejak kaki sembari mengira-ngira seperti apa situasinya.

Ia mengedar pandang sekali lagi, menyapu sekeliling dengan lebih teliti.

Semuanya berantakan tapi tidak ada yang hilang, katanya dalam hati. Kemudian berjongkok dan memperhatikan jejak kaki di dekat kakinya.

Salah satu jejak kaki, ukurannya lebih kecil dari ukuran sepatunya.

Jejak kaki Imo Glass! Valentine menyimpulkan. Lalu mengerjap menyadari sesuatu.

Setiap jejak kaki hanya terdiri dari jejak kaki Imo Glass dan Michael Deanson. Tak ada jejak kaki orang lain.

Mereka tidak diserang! Pekik Valentine dalam hatinya.

Mereka berkelahi!

Apakah Michael membunuh Imo?

Terpopuler

Comments

Nusan

Nusan

keputusan yang bagus, Gloria

2021-06-17

0

Dandy Pratama

Dandy Pratama

ngerihhh

2020-11-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!