SIIIIING…!
Valentine memiringkan kepalanya sedikit. Peluru itu melintas di dekat pelipisnya dan melewatinya.
Bersamaan dengan itu, pistol di tangan transporter itu terlontar ke trotoar. Peluru Valentine berhasil menembus punggung tangannya.
Detik berikutnya, Valentine sudah menghambur ke sudut pertigaan di mana transporter itu menjatuhkan pistolnya.
Tapi transporter itu sudah melarikan diri dan menyelinap ke dalam taman.
Sepintas Valentine sempat melihat punggungnya sebelum menghilang. Pemandangan itu sedikit familier. Tinggi badan dan cara berpakaian transporter itu sama persis dengan seseorang yang menyerangnya di kamp Michael.
Orang itu bukan sedang mengawal target, pikirnya. Tapi sedang mencoba menghabisiku! Ia menyadari.
Siapa dia sebenarnya?
Dan siapa pengemudi truk besar itu?
Pertama dia mencoba mencelakaiku. Sekarang dia melindungiku!
Mungkinkah bukan aku sebenarnya sasarannya?
Mungkin pemilik mobil itu!
Kalau dipikir-pikir, mobil yang dibawa Imo juga Bugatti Chiron.
Valentine menoleh ke arah Bugatti Chiron yang teronggok sembarang di sudut pertigaan itu dengan dahi berkerut-kerut.
Mungkinkah yang tadi itu Imo?
Tidak! Ia menepiskan pikiran itu cepat-cepat. Mana mungkin Imo mencoba membunuhku! Untuk apa dia melakukannya? Imo tak punya alasan untuk menghabisiku. Dia temanku!
Itu pasti kaki-tangan Michael!
Yah, memangnya bisa siapa lagi?
Aku tak mungkin punya musuh di kota yang baru kutinggali kurang dari satu bulan.
Imo hanya mencuri mobil, dan si pemilik mobil adalah target si pengemudi truk. Atau bisa jadi si pengemudi truk itu sendiri pemilik Bugatti Chiron.
Ya, katanya dalam hati. Pasti begitu! Ia menyimpulkan.
Tapi dipikir bagaimanapun terlalu berbelit-belit.
Bukankah truk itu muncul secara kebetulan ketika Imo nekat melawan arah. Tidak ada unsur kesengajaan ketika tabrakan itu terjadi. Itu memang kesalahan Imo.
Itu murni kecelakaan!
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanyalah ‘kebetulan’.
Kebetulan Imo mencuri mobil Bugatti Chiron dan bertabrakan dengan truk besar. Kebetulan transporter itu mengendarai Bugatti Chiron dan ditabrak truk.
Mungkin keduanya sebenarnya kendaraan yang berbeda. Hanya kebetulan saja dua-duanya sama-sama.
Argh! Erang Valentine dalam hatinya. Kebetulan-kebetulan ini membuat perutku mual!
Ia mendesah dan tertunduk menatap pistol yang ditinggalkan transporter itu, kemudian membungkuk mengambilnya dan mengamatinya.
Suara-suara berdebuk di sisi lain kemudian mengusik Valentine.
Jessifer masih berjibaku dalam pertarungan sengit melawan target mereka, dan gadis itu sudah tersudut.
Valentine menghambur ke tengah-tengah pertarungan dan langsung menerjang menghalau target yang tengah mendesak Jessifer ke tepi pagar pembatas jembatan yang di bawahnya terdapat sungai.
“Apa sebenarnya yang kau lakukan?” Pekik Jessifer dengan suara tercekat di tenggorokan. Lalu terbatuk-batuk.
“Sori,” ungkap Valentine sambil menerjang ke arah target sekali lagi.
BUG!
Target itu terjengkang terkena pukulan telak di lehernya.
Jessifer berjalan terhuyung-huyung dengan napas tersengal ketika coba memungut ransel berisi paket penting yang diinginkan klien mereka. Target mereka berusaha melemparkannya ke sungai tapi Jessifer berhasil mencegahnya.
Ransel itu sekarang tergolek di trotoar dengan tali yang sudah terkoyak akibat direnggut paksa ke sana-kemari.
Valentine sudah berhasil mengunci target dengan menodongkan pistolnya ke dahi target.
Pria itu membeku dalam posisi terlentang sementara Valentine berdiri membungkuk di ujung kakinya.
Valentine hampir menarik pelatuk pistolnya ketika Jessifer meneriakinya memberi peringatan.
“Jangan tembak!”
Valentine spontan mengerling ke arah Jessifer.
“Kau belum mengerti, kenapa klien menyarankan pertarungan jarak dekat?” kata Jessifer. “Dia menginginkan kematiannya seperti kecelakaan!”
“Oh! Aku mengerti,” gumam Valentine, akhirnya menurunkan pistolnya.
Pria itu beranjak dan melompat berdiri. Lalu menerjang secara tiba-tiba.
Valentine masih bergeming.
“Watch out!” jerit Jessifer memperingatkan.
BUG!
Pria itu mencoba mendaratkan tendangan, tapi Valentine berhasil menyergap kakinya dan memelintirnya.
Jessifer mendesah lega. Refleksnya lumayan baik, pikirnya.
Tapi target mereka juga tampaknya bukan sembarang agen transporter amatir. Refleksnya juga lumayan baik di samping daya tahan dan teknik tempurnya yang nyaris sempurna. Jika dalam kondisi normal, pria itu sama sekali bukan tandingan Valentine. Bahkan Jessifer yang sudah sedikit lebih berpengalaman hampir kewalahan menghadapinya.
Kalau dipikirkan, tujuh ribu dolar tidak sebanding! rutuk Jessifer dalam hatinya, merasa sedikit jengkel.
Tapi melihat ketenangan sikap Valentine, Jessifer kembali bersemangat. Dia bukan pemula biasa, katanya dalam hati. Mungkinkah dia sebenarnya salah satu pemain?
Dia terlihat payah beberapa saat yang lalu, batin Jessifer tak habis pikir. Begitu situasi berubah genting, tiba-tiba berubah seperti orang lain.
Dari mana asalnya orang ini?
Apa latar belakangnya?
Dari aksen bicaranya, penampilan dan pengetahuannya tentang dunia Assassin yang kurang memadai, dia tidak terlihat seperti penduduk asli Ghostroses. Tapi seperti sudah terlatih menghadapi situasi kritis.
Sementara Jessifer terus membatin, Valentine sudah melejit dan memantul-mantul menjejakkan kakinya di sana-sini, di tubuh lawan, di trotoar, di tepi pagar jembatan, kemudian menyapukan tendangan memutar di udara.
Target mereka sudah tersudut dengan punggung terdesak ke pagar jembatan.
“Tulang belakang merupakan salah satu organ paling vital di samping jantung dan paru-paru!”
Kata-kata Michael melintas begitu saja di benak Valentine.
Valentine pun tak memberi kesempatan lawannya untuk beranjak lagi. Bahkan untuk sekadar menghela napas.
Dalam sepersekian detik, ia kembali menerjang dan menjejakkan kakinya di perut pria itu, menekan punggungnya ke pagar jembatan dan memutar punggung kakinya dalam sentakan keras hingga menyebabkan tulang belakang target berderak dan berkeretak.
Jessifer memekik tertahan sembari membekap mulutnya dengan telapak tangan.
Target mereka terhenyak dan terbelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Sedetik kemudian, tubuhnya meregang dan bergetar, lalu tersentak dan terkulai dan tidak bergerak lagi.
Jessifer masih membeku terbelalak ketika Valentine akhirnya menurunkan kakinya dan tubuh target mereka ambruk ke trotoar seperti kain basah.
Valentine menoleh ke arah gadis itu dan gadis itu ingat untuk menarik napas.
“Lempar jenazah dan sepeda motornya ke sungai,” instruksi Jessifer dengan suara tercekat di tenggorokan.
Valentine membungkuk memeriksa tubuh target untuk memastikan tidak ada paket yang tertinggal yang mungkin disembunyikan dalam tubuhnya, kemudian memeriksa juga sepeda motornya.
Tak lama kemudian, mereka sudah menggotong jasad korban dan melemparkannya ke sungai disusul kendaraannya.
“Sekarang bagaimana?” tanya Valentine setelah semuanya selesai.
“Ambil ini!” Jessifer melemparkan ransel yang dirampasnya dari target mereka pada Valentine. Kemudian mengambil sepeda motornya. “Kita ke tempat Thunder,” katanya.
Valentine mengedar pandang meneliti sekitar. Tempat itu benar-benar sepi. Betul-betul strategis untuk melakukan kejahatan, pikirnya pahit. Tidak mengira dirinya akan terlibat hal seperti ini. Sangat menegangkan dan berbahaya.
Jika itu di negaranya, ia pasti ketakutan setengah mati setelah melakukannya. Pihak berwajib akan memburunya cepat atau lambat.
Apakah di sini akan sama? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian melirik Jessifer yang sudah menggelindingkan sepeda motornya ke dekat Valentine.
Gadis itu terlihat tenang-tenang saja setelah membunuh orang. Seolah-olah pekerjaan membunuh itu tidak ada bedanya dengan pekerjaan lain yang bukan kejahatan. Seperti hanya membuang sampah dan semacamnya. Tidak menampakkan kekhawatiran bahwa mungkin pihak berwajib akan menangkap mereka. Atau jangan-jangan aksi mereka terekam CCTV.
Mungkinkah tak ada hukum di kota ini? Pikir Valentine.
Tapi lagi-lagi perkataan Michael melintas dalam benaknya.
“Meski pekerjaan membunuh sudah menjadi semacam rahasia umum di Kota Ghostroses, tapi hukum tetap berlaku.”
Baiklah, katanya dalam hati. Mungkin ada…
Tapi hanya sekadar formalitas!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
G.O.B.LO.K.SSSSSSS
2021-07-14
0
The One kings
Ilustrasinya top
2020-11-22
0
Van Je
Ilustrasinya keren
2020-11-22
0