Chapter 3

“Bagaimana sekarang?” tanya Imo Glass.

“Keluar,” jawab Valentine tanpa ekspresi.

“Excuse me?” Imo Glass melengak tak yakin.

“Keluar dari mobil!” ulang Valentine sedikit meninggikan suaranya. Kemudian merenggut ransel yang dilemparkannya secara sembarang ketika ia masuk ke dalam mobil—sekarang tergolek di lantai mobil di belakang tempat duduknya.

Imo Glass masih terlihat ragu.

Valentine membuka pintu mobil dan menyelinap keluar sembari menyampirkan ransel di bahunya. Kemudian menutup pintu dengan bantingan keras.

Imo Glass terperanjat dan buru-buru membuka pintu, kemudian menyelinap keluar mengikutinya.

Bersamaan dengan itu, sebuah mobil muncul di belakang mereka.

Imo Glass terperangah dan membeku di tempatnya.

Sekonyong-konyong Valentine menerjang ke arah Imo dengan cara melompati kap mobil, kemudian menarik gadis itu ke sisi jembatan dan mendorongnya terjun ke sungai di bawah jembatan itu. Lalu ia sendiri melompat menyusul Imo.

Gluguk, gluguk…

Imo Glass gelagapan di dalam air, tangannya menggapai-gapai dengan kalang kabut.

Sementara itu di atas jembatan, dua pria menyeruak keluar dari mobil yang baru tiba itu. Mereka menarik pistol dari pinggangnya masing-masing dan memeriksa mobil curian yang terparkir secara sembarang di ujung jembatan itu, kemudian mengerang bersamaan.

Salah satu dari mereka menggebrak kap mobil dengan kepalan tangannya.

Mereka berpencar ke kedua sisi jembatan dan memeriksa sungai.

Valentine melingkarkan satu lengannya di leher Imo dan membawanya menyelam, kemudian membawanya berenang menjauh dari jembatan.

Imo Glass meronta-ronta, kemudian menyikut dada Valentin dan menendang lututnya.

“Apa sebenarnya yang kau lakukan? Dasar sialan!” umpat Imo Glass setelah berhasil melepaskan diri dan muncul di permukaan air.

Valentine tak menggubrisnya, dengan cepat ia merenggut tangan Imo sekali lagi, kemudian menyeretnya ke tepi dan menariknya keluar dari air.

Posisi mereka sekarang sudah cukup jauh dari jembatan dan terdampar di area pinggiran kota.

“Kau hampir membunuhku!” Imo Glass masih mengomel terengah-engah ketika mereka bergegas menyeberangi sebuah lapangan rumput menuju sebuah trailer—box mobil bekas yang dijadikan tempat tinggal.

“Yang penting kau masih hidup,” tukas Valentine tak mau tahu. Napasnya juga terengah-engah.

“Tapi sekarang kita sudah kehilangan satu-satunya kendaraan yang kudapatkan dengan susah payah,” gerutu Imo.

“Takkan berguna kalau kau mati,” sanggah Valentine acuh tak acuh.

“Aku tak akan mati kalau kau tak memaksaku keluar dari mobil!” sergah Imo Glass.

“Well—yeah, pikirmu siapa yang mematikan mesin mobil di saat genting?” Valentine balas menyergah.

“Memangnya aku tahu mereka sudah berhasil mengejar kita?” Imo Glass berkilah.

Langkah mereka akhirnya sampai di depan pintu trailer itu.

Valentine berhenti dan memanggil pemilik trailer, tidak mempedulikan ocehan Imo. “Anybody home?”

“Are you crazy?!” Imo Glass memelototinya. “Kita di Kota Ghostroses!” Ia mengingatkan. “Siapa pun bisa membunuh kita. Dengan caramu yang seperti ini, bukankah tidak ada bedanya dengan mengundang maut? Dari mana kau tahu mereka tak akan membunuh kita?”

“Kalau mereka sembarang membunuh orang, populasi mereka sudah lama punah!” sanggah Valentine.

“Tetap saja harus waspada,” Imo Glass menimpali dalam gumaman pelan.

“Kau ada ide?” tantang Valentine.

Imo Glass langsung terdiam.

Valentine mendesah dan memutar tubuhnya menghadap Imo. Kemudian menyentuh kedua bahu gadis itu dengan kedua tangannya dan merundukkan sedikit kepalanya untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Imo.

“Dengar, Nona Glass!” katanya dalam bujukan lembut yang membuat Imo seketika mendongak, menatap ke dalam mata Valentine.

“Aku bisa mengerti perasaanmu,” ungkap Valentine. “Terpisah dari keluarga dan semua orang yang kita kenal, terbuang dari tanah kelahiranmu, jauh terasing di seberang lautan. Apa yang kau rasakan, itulah yang kurasakan. Bukankah aku juga di sini? Aku hanya sedikit salut kau tidak menangis!”

“Hah!” Imo terkekeh masam sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah.

“Memang bukan kemauan kita berada di sini,” lanjut Valentine. “Tapi kita sudah di sini. Jika kita dilempar ke tengah kawanan serigala, kita harus kembali sebagai pemimpin mereka!”

Imo Glass kembali mengangkat wajah, kemudian menatap ke dalam mata Valentine sekali lagi. “Kau memang berubah,” katanya. Seulas senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya.

Imo Glass benar. Banyak hal telah berubah dalam diri Valentine.

Bahkan Valentine sendiri terkejut dengan perubahannya.

Tak hanya perubahan fisik. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya juga turut berubah seakan dia tumbuh dewasa dalam sehari.

“Jadi…” Valentine menggantung kalimatnya sesaat sebelum melanjutkan, “Maukah kau percaya padaku?” tanyanya ragu-ragu.

Imo Glass menanggapinya dengan senyuman lebar. Kemudian mengedikkan bahunya.

Valentine balas tersenyum. Kemudian menurunkan tangannya.

“Kalian memilih mempercayaiku?” seseorang menyela mereka.

Keduanya tersentak dan menoleh serempak ke sumber suara.

Seorang pria berusia kira-kira tiga puluh tahun tahu-tahu sudah berdiri di ujung jalan setapak di tepi lapangan. Tingginya sekitar seratus delapan puluh senti, langsing berisi dengan dada bidang berbahu lebar. Rambutnya berwarna hitam, ikal bakung sebahu dalam potongan shaggy. Wajahnya terlihat datar namun matanya seperti sedang tersenyum. Pakaiannya seperti rocker—celana jins yang dipadu dengan t-shirt hitam berlapis jaket kulit, namun pembawaan sikapnya memancarkan karisma ketampanan seorang raja.

Pria ini tak sederhana! Pikir Valentine.

“Sudah berapa lama kau berdiri di situ?” tanya Imo Glass.

“Cukup lama untuk mengetahui asal-usul kalian,” pria itu menjawab datar, kemudian melangkah ke arah trailer melewati mereka.

“Jadi, kau tidak keberatan menampung kami?” tanya Valentine tak ingin berbasa-basi.

Pria itu berhenti dan menoleh. “Karena kalian memilih mempercayaiku, maka aku takkan menyia-nyiakan kepercayaan kalian,” katanya sembari tersenyum tipis. “Kemarilah!” ajaknya sambil meniti tangga besi di depan pintu trailernya, kemudian mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka gembok.

Valentine menoleh pada Imo. Gadis itu masih terlihat ragu.

“Namaku Michael by the way!” Pria itu memperkenalkan dirinya tanpa menoleh, kemudian mendorong pintu trailernya. Barulah ia menoleh. “Michael Deanson!” Ia menambahkan. “Siapa nama kalian?”

“Aku Valentine Morgenstein!” jawab Valentine. “Dan dia Imo Glass!” katanya sambil menunjuk Imo.

Imo Glass mengerjap dan berdeham, akhirnya mengekor di belakang Valentine.

“Masuklah!” Michael memiringkan sedikit kepalanya ke arah pintu, mempersilahkan mereka masuk. “Aku punya cukup makanan dan minuman,” katanya. “Tapi aku tak punya pakaian untuk kalian. Dan… seperti kalian lihat, aku juga tak punya cukup tempat!”

“Tidak masalah,” sahut Valentine sembari menunjuk ransel di punggungnya dengan ekor matanya. “Kami membawa pakaian kami sendiri!”

“Kalau begitu aku akan menunggu di luar!” Michael Deanson menjauh dari pintu dan kembali turun ke pekarangan.

“Ladies first!” Valentine menoleh pada Imo sembari menyorongkan tangannya ke arah pintu.

Imo Glass mengulum senyumnya, kemudian menyelinap masuk ke dalam trailer sementara Valentine menunggu di depan pintu.

“Kau punya tenda?” tanya Valentine pada Michael. “Kami akan berkemah di luar!”

“Well…” Michael terlihat ragu. “Kurasa tidak,” katanya. “Tapi jangan khawatir, aku punya hal lain untuk menggantinya!”

“Kalau begitu terima kasih!” ungkap Valentine.

“Tak perlu sungkan,” tukas Michael. Seulas senyuman miring tersungging samar di sudut bibirnya. “Bukankah tak ada yang gratis?”

Valentine langsung tergagap.

Terpopuler

Comments

Alexza Sri

Alexza Sri

lebih baik melakukannya dengan benar dari pada menghadapi penghinaan❤❤❤

2021-07-12

0

NA_SaRi

NA_SaRi

Hebat sekali si Ayah, rasa pedulinya level dewa🤧

2021-07-06

0

Harold

Harold

fix Gloria berangkat
gak bakal ngecewain ayahnya kan

2021-06-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!