Chapter 16

Valentine tidak menduga perjalanan ke rumah Thunder ternyata memakan waktu hingga setengah jam kurang, memasuki hutan pinus dengan jalanan sempit berkelok-kelok mendaki gunung.

Rumahnya berada di atas bukit di antara pohon-pohon pinus, bisa dibilang di tengah hutan. Sebuah rumah minimalis dari kayu merah yang lebih mirip pondok ski atau pondok berburu. Asap mengepul dari cerobong batu di sisinya. Di bawahnya, tepat di depan lapangan rumput di mana Jessifer memarkir sepeda motornya, terdapat garansi berukuran kira-kira dua meter.

“Sepertinya dia sedang di rumah,” kata Jessifer sembari membunyikan klakson.

“Dia tinggal sendirian?” tanya Valentine setelah melangkah turun dari boncengan.

“Ya,” jawab Jessifer sambil mematikan mesin dan menstarndarkan sepeda motor itu dan meninggalkannya di sana.

Mereka mulai berjalan beriringan meniti tangga batu di sisi garasi menuju teras sempit berpagar batang kayu seukuran lengan orang dewasa. Meski minimalis, rumah itu tampak elegan dengan nuansa alami relaksasi.

“Apa dia seorang petapa?” gumam Valentine antara bingung dan takjub.

Jessifer mengetuk pintu depan dengan keras. “Thunder! Apa kau di dalam?”

Angin bertiup di sekeliling pondok, membawa udara basah.

Valentine mengedar pandang ke pekarangan di luar pagar bercanda.

Tak ada yang bisa dilihat. Kabut tebal mengendap turun, dan seluruh tempat hanya terlihat putih.

Setidaknya itulah yang terlihat oleh Valentine.

Kabut masih tipis sewaktu mereka tiba di depan garasi tadi. Sekarang napas mereka saja bahkan mengeluarkan uap putih.

Jessifer mengetuk lagi. “Thunder!” panggilnya lebih keras lagi.

Tetap tak ada sahutan.

Valentine melongok arlojinya. Pukul satu dini hari. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu, pikirnya. “Kurasa dia sudah tidur,” katanya pada Jessifer.

“Jangan khawatir,” sahut Jessifer tanpa beban sedikit pun. “Dia tak pernah tidur di malam hari karena di tempat asalnya sekarang masih siang.”

Valentine menoleh dan menyeringai.

Dia benar-benar menarik saat tersenyum seperti itu, pikir Jessifer.

Valentine menutup ritsleting jaketnya dan menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan diri.

Jessifer meliriknya dan tersenyum membesarkan hatinya.

Tak lama, mereka mendengar langkah-langkah kaki dari dalam pondok, semakin lama semakin dekat, dan akhirnya pintu terbuka.

Thunder melongok dengan wajah berpeluh. Napasnya tersengal seperti habis berolahraga.

“Whoa,” gumam Jessifer sambil mengerjap. “Kami hampir mati beku, dan kau berkeringat?”

“Kalian juga akan kepanasan setelah berada di dalam,” tukas Thunder acuh tak acuh.

“Apa kau sedang membakar rumah?” tanya Jessifer sambil melongok ke dalam melewati bahu Thunder.

“Masuklah!” kata Thunder tanpa ekspresi.

Lalu setelah keduanya masuk, Thunder menutup pintu dan menguncinya.

“Lepas sepatu dan tanggalkan jaket kalian di sana!” Thunder menunjuk ruangan kecil di sebelah kiri pintu.

Dengan patuh, Jessifer dan Valentine mengikuti semua instruksinya.

“Sepeda motormu masih di luar,” kata Jessifer sambil melepas sepatunya.

“Biarkan saja! Tak akan hilang,” sahut Thunder tak peduli. Ia membungkuk di depan meja kitchen menanak air dan menyiapkan coffee set di atas nampan.

Tak lama kemudian, mereka sudah berhimpun di meja kopi di depan perapian.

Valentine mengedar pandang meneliti sekeliling.

Rumah itu tak jauh lebih besar dari trailer Michael yang ditempatinya.

Ruang perapian menjadi satu dengan dapur sekaligus ruang tamu yang hanya dibatasi meja kopi yang—tampaknya—juga adalah meja makan. Di sisi lainnya adalah kamar sekaligus ruang kerja dengan rak buku sebagai dinding penyekat yang memisahkan ruangan perapian tadi dengan kamar itu. Sesimpel itu namun terlihat berkelas.

Lalu di mana dia biasa menyembunyikan senjata? Valentine penasaran.

“Aku juga pendatang sepertimu!” Seakan bisa membaca pikiran Valentine, Thunder tiba-tiba membuka diri. “Penduduk gelap tanpa dokumen identitas. Hanya bisa menetap di tempat terbengkalai yang ditinggalkan pemiliknya.”

“Well—yeah,” Valentine tersenyum muram. “Itu memang terdengar seperti aku!”

“Oh, ya?” Thunder menanggapi dengan sorot penasaran. Itu adalah pertama kalinya Valentine melihat Thunder menampakkan ekspresi hangat. “Di mana kau tinggal selama ini?”

“Di tempat pembuangan mobil bekas di pinggir kota,” jawab Valentine. Kemudian menceritakan kisahnya.

Thunder menyimak dengan penuh perhatian.

Sementara Valentine bercerita, Jessifer membongkar isi ransel yang dibawa target mereka.

Isinya ternyata hanya setumpuk dokumen dan amplop.

Jessifer membuka salah satu dokumen dan mulai membacanya.

“Jadi kau bahkan belum sebulan berada di sini?” Thunder menyela ketika Valentine berhenti bicara untuk sekadar menghela napas.

“Benar,” jawab Valentine bernada pahit.

“Berikan aku nomor ponselmu!” Pinta Thunder sembari menyodorkan ponselnya pada Valentine.

“Sejujurnya aku tak tahu,” Valentine mengaku. “Ini bukan ponselku. Tapi ponsel pria yang menampungku.”

“Kalau begitu ketik nomorku dan buatlah panggilan ke sini!” Thunder mengusulkan.

Valentine menurutinya.

Dan setelah Valentine melakukannya, Thunder tampak terkejut melihat nomor yang muncul di layarnya.

“Ada apa?” tanya Valentine.

Jessifer spontan mengangkat wajah dan menatap keduanya bergantian.

Thunder mengerjap gelisah dan menjilat bibir bawahnya. “Nothing,” katanya sedikit tergagap.

Jessifer mengamatinya dengan mata terpicing. Kemudian mengintip layar ponselnya.

“Ada panggilan lain masuk ke ponselku,” tukas Thunder sambil memaksakan senyum.

“Benarkah?” Valentine memeriksa panggilannya dan mengerutkan dahi.

“Cobalah buat panggilan ke nomor Jess,” saran Thunder. “Aku akan menerima panggilan ini dulu!” katanya sambil beranjak bangkit dan menyisi ke dekat jendela kemudian menempelkan ponselnya ke telinga, tapi tak mengucapkan sepatah kata pun.

“Sebutkan nomormu,” Valentine beralih pada Jessifer.

Jessifer menyebutkan nomornya dan Valentine melakukan panggilan ke nomor itu.

Jessifer juga tampak terkejut melihat nomor yang muncul di layar ponselnya, kemudian melirik Thunder diam-diam.

Thunder balas meliriknya dengan isyarat samar yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Valentine menatap mereka, dan seketika keduanya bergerak gelisah di tempatnya masing-masing.

Valentine melihat gelagat aneh pada keduanya dan menyimpulkan ada yang salah pada nomornya. Tapi tidak berani mengorek lebih dalam karena situasinya mendadak kikuk. Jadi ia memutuskan untuk berpura-pura tak sadar situasinya.

“Aku sudah menyimpan nomor kalian!” Valentine memberitahu keduanya sembari menggoyangkan ponselnya di sisi wajah.

“Aku akan menyimpannya nanti,” kata Jessifer sembari mematikan layar ponselnya cepat-cepat. Pura-pura sibuk membolak-balik halaman dokumen yang sedang dibacanya.

Valentine mengalihkan perhatiannya ke arah amplop yang terselip di antara tumpukan dokumen lain di atas meja. “Apa ini?” gumamnya sembari memicingkan mata.

Mata Thunder dan Jessifer serentak bergulir ke arah meja.

“Pembayaran designation… kode misi…” Valentine membaca tulisan di amplop itu dengan dahi berkerut-kerut.

Jessifer merebutnya dan terkesiap. “Ini kode misi kita!” pekiknya.

Thunder menghambur ke arah mereka dan turut berebut amplop itu untuk memeriksanya. “Tunggu sebentar,” katanya sembari mengembalikan amplop itu ke tangan Jessifer, kemudian bergegas ke meja kerjanya dan menyalakan perangkat laptopnya.

Jessifer dan Valentine menunggu dengan tercengang.

“Tautannya sudah expired!” pekik Thunder.

Jessifer tergagap dan mengerjap, kemudian menatap amplop di tangannya dengan melengak.

Valentine bahkan belum berkedip.

Apa sebenarnya yang terjadi? Pikir mereka.

Bagaimana ceritanya seseorang menyewa pembunuh bayaran dan menyisipkan pembayarannya pada target?

Apa dia waras?

Terpopuler

Comments

Alexza Sri

Alexza Sri

aku jadi inget isis🤔

2021-07-14

0

Nusan

Nusan

eh, eh, eh, yakin ini bagian dari latihan?
jangan-jangan...😱

2021-06-18

0

Alinea

Alinea

aku juga benci mitos cinta sejati 😁

2020-12-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!