Hutan pinus itu membentang sejauh beberapa kilometer, kemudian berganti ladang ilalang dan padang pasir.
“Sebenarnya kita ada di mana?” tanya Valentine setelah lama terdiam.
Sudah lebih dari tiga jam mereka berkendara, dan selama itu mereka tidak bicara karena Imo Glass tak kunjung mengurangi kecepatan. Kengerian mencekam Valentine selama perjalanan hingga mulutnya kelu.
“Aku juga tak tahu,” jawab Imo acuh tak acuh. Perhatiannya tetap terfokus pada jalan yang berkelok-kelok di depan mereka.
“Lalu ke mana tujuanmu?” tanya Valentine lagi.
“Tidak tahu,” jawab Imo Glass tak peduli.
Valentine melengak menatap Imo.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apakah dia juga mengalami hal yang sama sepertiku?
Dipaksa masuk ke dalam kapsul hingga tidak sadarkan diri, kemudian terbangun di tempat yang salah dan dengan tak tahu apa-apa tiba-tiba diburu untuk dibunuh?
Valentine menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya dalam tiga jam terakhir, tapi tidak terlihat tanda-tanda kendaraan lain akan segera muncul.
Tak ada para pengejar seperti yang dikatakan Imo!
“Dari mana sebenarnya kau mendapatkan mobil?” Valentine bertanya lagi.
“Please, don’t ask!” erang Imo Glass sembari memutar bola matanya.
“Kau tidak mencurinya, kan?” Valentine memicingkan matanya.
Imo Glass hanya mengedikkan bahu.
Valentine mendesah pendek.
“Sekarang katakan! Kenapa mereka ingin membunuhmu?” tanya Imo Glass.
“Karena aku melihat yang tidak seharusnya,” jawab Valentine dengan muram.
“Apa maksudnya melihat yang tidak seharusnya?” tanya Imo Glass.
“Entah bagaimana aku terbangun di tengah ladang opium dan mereka mengira aku penyusup,” jelas Valentine. “Bagaimana denganmu? Kenapa kau juga ada di sini? Apakah mereka juga memasukkanmu ke dalam kapsul hingga tidak sadarkan diri, kemudian terbangun di tempat yang salah dan diburu dengan tak tahu apa-apa?”
“Well—yeah! Mereka memang memasukkanku dan semua anak ke dalam kapsul tapi tak sampai pingsan, apalagi tiba-tiba terbangun di tempat yang salah,” cerita Imo. “Mereka membuangku ke tempat ini karena aku cacat mutasi. Dan aku dikejar bukan tanpa alasan. Tapi karena mencuri mobil!”
“Apa maksudnya cacat mutasi?” tanya Valentine.
“Sama sepertimu,” jawab Imo Glass acuh tak acuh.
“Sepertiku?” Valentine tidak mengerti.
“Mereka sedang melakukan percobaan transgenik yang semula hanya dilakukan pada tumbuhan kemudian berkembang pada hewan dan akhirnya dilakukan pada manusia,” jelas Imo Glass. “Dan kita adalah kelinci percobaan mereka!”
“Jadi semua anak tetap dimasukkan ke dalam kapsul meskipun tak melakukan kesalahan?” gumam Valentine.
“Benar,” Imo Glass menjawab datar. “Hanya saja mereka yang melakukan kesalahan prosesnya dipercepat untuk mencegah kebocoran. Mereka yang mengikuti prosedur menandatangani perjanjian tak boleh membocorkan informasi apa pun keluar. Jika mereka melanggar, mereka akan dianggap cacat mutasi dan disingkirkan dari negara kita.”
“Disingkirkan dari negara?” Valentine memekik tertahan. “Jadi sekarang kita tidak sedang berada di negara kita?”
“Kau pernah dengar Athena Minor?” tanya Imo Glass.
Athena Minor adalah nama benua kecil yang terpencil dan tersembunyi di antara dua benua---Asia dan Eropa.
Ukurannya tak lebih besar dari benua Australia. Dan letaknya tersembunyi di laut Kaspia.
Sebagian orang menyakininya sebagai Surga Yang Hilang. Beberapa orang menyebutnya benua yang hilang.
Keberadaannya tidak terdata dalam atlas dunia, karena benua Athena Minor hanya lokasi fiktif ciptaan Penulis Keparat.
“Jangan bilang kita sedang berada di Athena Minor!” seloroh Valentine sembari tersenyum pahit. “Itu terdengar seperti ancaman ibuku saat aku masih duduk di bangku TK,” dengusnya. Kemudian menirukan gaya bicara ibunya. “Lakukan dengan baik atau aku akan mengirimmu ke Black Hole!”
Imo Glass terkekeh. “Sayangnya itulah yang tertulis di dalam kontrak!” katanya kemudian.
“Jadi kalian yang mengikuti prosedur dan menandatangani kontrak, mengetahui dengan jelas bahwa ini adalah malpraktik?” tanya Valentine.
“Sure,” jawab Imo Glass. “Tapi itu tidak membantu kami terbebas.”
“Lalu, menurutmu… bagaimana dengan Lulusan Super bergelar Paravisi itu?” Valentine bergumam sembari tercenung.
Imo Glass akhirnya menurunkan kecepatan dan turut tercenung. “Mungkin akhirnya mereka benar-benar berhasil,” gumamnya bernada muram.
“Aku hanya penasaran seperti apa kehidupan mereka setelah dijemput pulang oleh orang tua mereka masing-masing?” Valentine terkekeh sinis.
Imo Glass tidak menjawab.
“Maksudku… ada yang aneh pada tubuhku," kata Valentine. "Dan aku merasa itu adalah hal yang bagus. Aku tiba-tiba memiliki kemampuan bertarung dan kebal terhadap rasa sakit. Jika seperti aku dianggap cacat mutasi, bagaimana dengan mereka yang lolos uji coba?”
“Kau tidak penasaran seperti apa kehidupan kita setelah ini?” Imo Glass menanggapi dengan balas bertanya. “Kita tak punya kartu identitas sekarang, tak punya uang, tak punya tujuan pasti, tak punya apa-apa!”
Valentine langsung terdiam.
“Kita hanyalah mutan!” Imo Glass menambahkan. “Dan aku tidak merasakan ada hal bagus seperti yang kau katakan. Tidak ada yang aneh pada tubuhku!”
Valentine menoleh dan menatap Imo dengan mata terpicing.
Tiba-tiba Imo Glass mengerem mobilnya secara mendadak.
Valentine terlontar ke depan hingga dahinya membentur kaca.
KRAAAK!
Kaca itu pun retak seketika, dan Imo Glass terpekik sembari membekap mulutnya dengan telapak tangan, terperangah menatap kaca depan mobilnya.
Valentine menarik kepalanya menjauh dari kaca dan menghempaskan punggungnya ke sandaran jok. “Kenapa kau berhenti tiba-tiba?” erangnya sembari mengusap darah yang merembes keluar dari dahinya.
“So—sorry…” Imo Glass tergagap-gagap, kemudian merenggut tisu yang terselip di antara jok kemudi dan jok penumpang dengan kalang kabut. “Aku tidak mengira kau bakal menghancurkan kaca!” katanya sembari menekankan tisu itu cepat-cepat ke luka Valentine.
Valentine mengambil alih tisu itu dan menyeka sendiri darahnya. Ia memutar kaca spion depan di atas kepala mereka dan berdiri membungkuk untuk memeriksa barangkali ada pecahan kaca tertinggal pada lukanya.
Tak bisa merasakan sakit membuat Valentine sedikit kesulitan untuk menemukan apakah ada serpihan kaca tertancap di sana.
Lukanya tidak terlalu dalam! Pikir Valentine. Kemudian kembali ke tempat duduknya setelah memastikan tak ada serpihan kaca yang bisa ditemukan.
Tapi Imo Glass malah mematikan mesin mobilnya.
Valentine spontan menoleh dan menghujamkan tatapan heran.
“Lihat itu!” Imo Glass menunjuk ke arah gapura tinggi menjulang di depan mereka di ujung jembatan.
Mata Valentine serentak bergulir mengikuti arah telunjuknya dan terkesiap.
Tulisan besar yang tertera di atas gapura itu berbunyi: SELAMAT DATANG DI KOTA GHOSTROSES!
Ghostroses adalah sebuah kota misterius paling mematikan nomor satu di dunia. Satu-satunya kota paling bermasalah yang tak pernah tersentuh oleh tangan hukum mana pun.
Ghostroses semacam kota kematian yang menyajikan banyak mimpi buruk sepanjang sejarah.
Setengah dari penduduknya berprofesi sebagai pembunuh bayaran dengan beragam formalitas dan penyamaran. Selebihnya, hanya segelintir aparat lemah dan sejumlah sindikat mafia kelas dunia berkedok personil ilmiah dan pengusaha.
Seorang penulis artikel majalah budaya berkebangsaan Asia pernah hilang di kota ini setelah mengirimkan data liputannya.
Dalam data liputan terakhirnya, terselip sebuah pesan: "Tidak seorang pun dibiarkan keluar hidup-hidup..."
Catatan terakhirnya meninggalkan teka-teki yang mengundang banyak perhatian para analis di seluruh dunia. Lalu, satu per satu para ahli dari berbagai belahan dunia berdatangan ke Kota Ghostroses untuk mengusut kasus hilangnya penulis artikel majalah budaya itu. Tapi mereka semua tak pernah kembali.
Valentine bertukar pandang dengan Imo Glass, saling mempertanyakan keputusan satu sama lain.
Di depan mereka adalah kota paling mematikan nomor satu di dunia. Di belakang adalah padang belantara dengan sejuta kemungkinan yang tak kalah buruk dari sekadar pembunuh bayaran.
Mana yang akan mereka pilih?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Gloria di mari bukan tukang ngamen.,
😌😌
2021-07-08
0
NA_SaRi
Betuuul, pikirkan dulu sebelum mutusin sesuatu, Glori😌
2021-07-06
0
Wibisana
saya punya firasat tidak lama lagi saya ada di Afghanistan 😀
2021-06-18
0