Chapter 7

Dengan tergesa-gesa, Valentine menjejalkan pakaiannya ke dalam ransel, kemudian membereskan barang-barang Imo Glass dan memasukkan semuanya ke dalam ransel gadis itu.

Aku harus mencari Imo! Valentine memutuskan.

Yah, tapi cari ke mana? Pikirnya kemudian. Lalu mengedar pandang sembari berkacak pinggang. Mendesah berkali-kali dan mengerang dengan frustrasi. Mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambut sendiri.

“Keparat sialan ini sebenarnya membawa Imo ke mana?” Geramnya tidak sabaran.

Apakah Imo masih hidup?

Apakah masih ada harapan untuk menyelamatkannya?

Apa yang harus kulakukan?

Apa yang bisa kulakukan?

Ia bertanya-tanya dalam hatinya.

Ia melemparkan kedua ransel tadi ke jok belakang dan tertegun sesaat sebelum akhirnya menghambur ke dalam trailer Michael dan mengepak semua barang-barang yang mungkin diperlukannya. Laptop, senjata, pakaian, apa saja!

Kemudian memasukkan semuanya ke dalam bagasi mobil.

Ia menyelinap ke balik kemudi dan menutup pintu, kemudian menyalakan mesin dan menghambur dari situ. Mendatangi semua tempat yang pernah mereka kunjungi bersama Michael selama pelatihan sambil menyisir setiap tempat sepanjang perjalanan.

Tapi tak menemukan jejak mereka maupun tanda-tanda keberadaan salah satunya.

“Sialan!” Umpatnya sekali-kali.

Bagaimana kalau aku tak bisa menemukan mereka? Pikirnya semakin tak keruan.

Bagaimana kalau Imo terbunuh?

Apakah Michael akan membunuhku juga?

Apa yang harus kulakukan jika itu terjadi?

Lapor polisi?

Apakah polisi di kota sialan ini bisa diandalkan?

Apa yang akan mereka lakukan pada penduduk gelap tanpa identitas yang meminta perlindungan?

Akankah mereka melindungiku?

Atau malah sebaliknya?

Tidak seorang pun dibiarkan keluar hidup-hidup, katanya!

Apakah mereka akan menghabisiku?

Seperti inikah cara semua orang menghilang di Kota Ghostroses?

Apakah mereka juga seperti aku?

Tidak bisa! Pikir Valentine.

Aku harus kembali ke kamp Michael!

Paling tidak di sana aku tak perlu berurusan dengan aparat karena masalah identitas. Tak perlu berurusan dengan lebih banyak orang lagi. Hanya Michael!

Lagi pula di sana ia difasilitasi perbekalan yang cukup, lingkungan dan peralatan yang mendukung semua kebutuhannya—makanan, pakaian, senjata, kendaraan, bahan bakar hingga aliran listrik dan jaringan internet.

Kalau dipikir-pikir lagi, kamp Michael sebenarnya sudah seperti surga kecil baginya di tengah segala keterasingan ini.

Lalu ia memutuskan untuk kembali, setelah menyadari tak ada yang bisa dilakukan. Lebih tepatnya, tak ada yang bisa dia lakukan.

Ketika ia kembali, tempat itu belum berubah. Keadaannya masih sama seperti ketika ia pergi.

Valentine melemas di tangga besi di depan pintu trailer dengan raut wajah frustrasi. Rambut dan pakaiannya kusut masai dan tidak keruan.

Ia tak bisa berhenti memikirkan Imo dan mencemaskannya. Namun bersamaan dengan itu, ia juga tak bisa berbuat apa-apa.

Kesadaran bahwa ia tak bisa menyelematkan Imo membuatnya semakin terpuruk dan merasa dirinya tidak berguna.

Ketidakberdayaan menggelayutinya bersama keputusasaan.

Ia mencoba menguatkan dirinya lagi dan berusaha menenangkan diri. Kemudian menarik bangkit tubuhnya dengan paksa dan menurunkan kembali barang-barangnya dari mobil, mengatur ulang semua perabot dan membenahi seluruh tempat hingga semuanya kembali seperti sedia kala—layak huni.

Ia juga mencopot jemuran dan tenda, kemudian merapikan semuanya ke dalam gudang dan memasukkan mobil ke garasi. Lalu mengunci semua pintu.

Ia menyisi ke pekarangan, membuat perapian dan menunggu dengan waspada sepanjang malam. Tapi sampai dini hari, baik Michael maupun Imo tak pernah kembali.

Begitu juga dengan pagi harinya, siangnya, besoknya dan besoknya lagi. Begitu seterusnya hingga berhari-hari. Hingga segala kekhawatiran dan kewaspadaannya berangsur-angsur memudar.

Kehidupannya baru berjalan normal ketika ia terbangun dengan gelisah suatu pagi.

Tubuhnya mulai merasakan semacam guntur di kejauhan, yang, meskipun masih di kejauhan, tidak menunjukkan pertanda baik.

Itu belum menjadi sebuah gejala, hanya semacam gangguan di perutnya.

Valentine memang sering mengalami ketegangan seperti ini di perutnya sejak Imo Glass menghilang bersama Michael Deanson. Tidur dengan gelisah dan terbangun dengan tersentak.

Tapi biasanya tidak terasa sakit. Ia sudah lama kebal terhadap rasa sakit sejak terdampar di benua yang asing ini. Membuat semuanya terasa seperti bukan dalam kenyataan.

Baru kali ini ia merasakan sakit lagi. Rasanya seperti ada cakar yang mencengkeram ususnya dan membolak-balikkannya seperti seseorang membuka sarung tangan.

Itulah yang membunyikan alarm.

Gelombang keringat dingin bermunculan di kening Valentine dan pada saat itulah ia tahu ada serangan frontal telah dilancarkan pada sistemnya.

Sesuatu tampaknya telah menancapkan gigi taringnya, memukul-mukul dan mencakar-cakarinya. Sesuatu yang tidak dikenal, tetapi yang paling penting, sesuatu yang sangat ganas, dan karenanya sangat mematikan.

Semakin banyak keringat dingin, semakin kuat rasa mualnya.

Demamnya naik dan turun seperti roller coaster. Satu saat, tubuhnya menggigil karena kedinginan. Di saat lain serasa terbakar.

Valentine bisa merasakan monster yang murka itu melabrak masuk, menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya seperti bom napalm.

Ia bisa merasakan bagian dalam tubuhnya retak-retak dan hancur.

Monster kecil itu sedang mengunyah dengan suara berisik, menyantap dengan rakus, menyulut api di sana-sini.

Tampaknya aku tak punya waktu banyak, pikirnya. Ia tahu itu akan melumpuhkannya hingga tak berdaya kalau ia membiarkannya. Tapi ia bahkan tak punya kekuatan untuk sekadar berguling dan menarik bangkit tubuhnya.

Punggungnya terasa dingin dan panas dalam waktu bersamaan. Titik-titik sarafnya seperti meledak di sana-sini. Ususnya serasa dipenuhi gelembung soda yang meletup-letup. Telinganya berdenging dan seketika seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.

Dunia di sekitarnya mendadak bising.

Ia mendengar suara-suara berdesing dan menderu, meletup dan menggelegar, lalu suara bergeluguk, berderit, mendengung, berdering, berdecit, berderak, berdebuk, berkeriat-keriut dan berdebam ribut.

Milyaran gelombang berebut masuk dan beresonansi di sela-sela otaknya. Membuat sarafnya berdenyut-denyut. Kepalanya merayang dan bergemuruh.

Suatu jaringan raksasa sedang mengambil alih tubuhnya.

Ia meringkuk menekuk perutnya yang mulai kejang. Lalu tubuhnya tersentak-sentak. Seperti sedang meregang nyawa. Kemudian terkulai dan tidak sadarkan diri.

Ia terbangun dari ketidaksadaran yang penuh keringat keesokan harinya. Bangun dengan tersentak seperti kena tembak.

Udara di paru-parunya berdesing keluar saat ia melompat duduk. Kedua matanya melebar. Tatapannya yang panik menyapu sekeliling dan ingat ia ada di mana.

Ia memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan mengembuskan napas lelah. Mencoba sebisa mungkin menghalau kebingungannya akibat serangan panik tadi.

Hanya serangan panik! pikirnya. Serangan panik sialan yang sama seperti biasanya sejak Imo menghilang.

Dengan gemetar, ia menyisir rambutnya yang kusut dengan jemarinya secara perlahan.

Ia menarik duduk tubuhnya dan tertegun menyimak sekitar.

Ia mendengar suara langkah, suara menggumam, suara memekik, mengerang, merintih, hingga suara napas dan jari yang sedang mengetik di layar ponsel.

Ia beranjak dari tempat tidur dan berjinjit ke arah pintu. Ia membuka pintu dan melongok keluar, memeriksa sekeliling.

Sepi!

Tidak ada tanda-tanda aktivitas di luar sana, di seberang lapangan, maupun di kiri-kanan.

Tapi suara-suara kesibukan terdengar semakin jelas.

Decit ban mobil di kejauhan, deru mesin kendaraan, sirine, derak roda brankar, suara-suara langkah yang berdebuk ribut, suara berderit dan berdetak seperti mesin perekam jantung.

Dari mana datangnya suara-suara itu? Valentine bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian melayangkan pandang ke seberang pekarangan.

Beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri, Valentine melihat logo sebuah rumah sakit di puncak bangunan tinggi menjulang.

Suara-suara tadi memang terdengar seperti kesibukan di rumah sakit, pikirnya.

Tapi jaraknya lumayan jauh dari sini!

Benarkah aku bisa mendengarnya?

Terpopuler

Comments

Alexza Sri

Alexza Sri

terpotek babang Glo....🤣🤣🤣

2021-07-12

0

Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт

Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт

Ditempa sendirian lu, Glo!

2021-07-10

0

Nusan

Nusan

astaga, p.u.k.a.s jurnalisme🤭

2021-06-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!