"Akhh Ian! Tolong!" Siluet itu meminta tolong ke Ian, Ia begitu kesakitan. Ian tau bahwa itu hal menyakitkan namun adegan aslinya lebih dari kata menyakitkan.
"Sudahlah hentikan, dirimu hanya mengulang masa kelam ku kan?" Ian hanya bisa menutup matanya karna lelah untuk melihat apa yang dilakukan siluet hitam itu.
Ian dan siluet hitam itu berada ditengah kawanan 'Bunga Lily', Ian tidak bisa kemana kemana dan hanya bisa didalam kawanan itu.
Disaat berupaya untuk keluar, Ian selalu kembali ketengah dan bertemu dengan Siluet hitam yang meniru adegan kenangan kelam Ian.
Melihat Ian berada didekat Siluet Hitam, Ia mendorong Ian dengan paksa untuk mengantikan posisinya yang berada tepat ditengaj dan menggerakkan bunga ditimpa Ian dengan tangannya untuk menahan agar Ian tidak merubah posisi itu.
Tentu Ian tau maksud dari tindakan Siluet hitam itu, Namun adegan ditahan dengan bunga kutukan inilah yang tidak dimengerti oleh Ian. Ian hanya pasrah dan menunggu Ia segera terbangun.
"Dokter sialan! Karna dia aku melihat ini semua kembali!" Merasa kesal dengan dokter itu dan membuat Ian hanya bisa mengumpat.
"Kenapa mereka tidak bisa masuk?" Ian bertanya kepada Siluet Hitam karna merasa bosan. Memang Ian juga penasaran, orang orang diluar kawanan bunga berlomba lomba memasuki kedalam kawanan Lily, namun mereka tidak berhasil dan pada ujungnya mereka terpental lalu hanya dimakan oleh monster yang menyerangnya.
"Mereka tidak terlibat" jawab Siluet Hitam singkat.
"Apa maksudmu? Mereka bahkan korban! kenapa dibilang tidak terlibat!" Ian marah dengannya.
"Ternyata benar, kau bukan dia. Tapi orang yang menirukan dia!" Ian menyatakan bahwa Siluet itu bukanlah yang Ian kenal.
"Mereka bukanlah peran penting" Siluet itu tidak menanggapi celoteh Ian, dia langsung mengatakan inti.
"Peran penting? Ok jadi mau mengatakan mereka hanya pelengkap begitu?!" Ian benar benar muak ketika Siluet dihadapannya menganggap mereka tidak penting.
"Diamlah. Tugas mu hanya menunggu"
"Menunggu mereka mati dengan tercabik cabik, dimakan, terlindas, dipijak, apalagi huh?!" Cibir Ian.
Tidak menjawab pertanyaannya Ian, Siluet hitam itu kembali mencekik Ian dengan keras seperti mimpi sebelumnya.
Ian tidak bisa membebaskan diri, tubuhnya ditahan oleh bunga merah ini.
"Ke-napa Mence-kik aku?!" tanya In terbata bata.
"Ha-" mencuri nafas.
****
"Hentikan Kubilang!" Ian terbangun lagi, kini lebih banyak selang ditubuhnya dibanding sebelumnya
"Selamat Siang Ian" Sapa Dr.Nira disamping Ian yang menunggu remaja didepannya bangun.
Ian tidak mempedulikan sapaan Nira dan berinisiatif untuk membuka selang yang menempel ditangannya. Pikiran Ian hanya tidak ingin melihat mimpi buruk itu.
"Heh?!" sesuatu yang menahan tangan Ian. Ian melihat apa yang membuat tangannya tidak bisa bergerak.
"Aku tau kamu saat bangun mau melepaskan infus ini, jadi ikat aja deh tangannya" Wajah Nira mendekat ke wajah Ian. Suaranya menjadi lebih keras yang membuat udara dari mulutnya itu masuk ketelinga Ian.
"Bisa kau lepaskan semua ini Nira!" Marah Ian.
"Araaa.. minta lah lebih lembut Ian" mengarahkan tangan Nira menyentuh ke dagu Ian dan tangan lain menyentuh suatu alat yang ada di selang itu.
Ketika Nira menyentuh alat itu dan melakukan sesuatu yang tidak baik bagi Ian. Yang benar saja, Air yang memasuki tubuh Ian melalui selang menjadi lebih deras.
Tentu Ian merasakan pusing berat dengan cepat.
Tadinya Ian bertenaga kuat menjadi tidak, namun bedanya Ian masih sadar tidak seperti sebelumnya.
"Tidak baik kasar dengan wanita yang menggoda mu Ian" ucap Dr.Nira sambil menjauh dari tubuh Ian yang sudah tidak bertenaga lagi.
"Hentikan... " Ucap Ian pelan, Ian dilanda pusing yang lebih berat dari sebelumnya.
"Nah begitu, inilah Ian yang diinginkan. Bisa berbuat lembut" Nira senang Ian menurutinya.
Melihat cairan yang memasuki tubuh Ian tinggal 1/4, langsung saja Nira mempercepat cairan itu hingga Habis.
Ian menjadi lebih lemah, Ian berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Sebenarnya sejak tangan Nira melakukan sesuatu pada alat itu, kesadaran Ian hampir hilang. Namun ia tetap bertahan karna tidak ingin melihat kenangannya.
Ya, Ian kabur dari masa lalunya. Masa Lalu dimana semua berubah lebih cepat.
Nira senang melihat Ian tetap sadar walau cairan berbahaya yang masuk kedalam tubuh Ian lebih dari dosis.
Nira melihat ponsel miliknya lalu membuka aplikasi seperti menganalisa tubuh seseorang.
"Anak ini, sel selnya bergenerasi lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin kecepatan ini tergantung pada niat si inang. Apa niat yang membuat anak itu terus mempertahankan kesadarannya?" Bertanya pelan sambil melihat Ian.
Ian tidak mendengarkan ucapan Nira. Ian hanya merebahkan diri dengan tatapan kosong.
Setelah isi cairan itu habis,selang yang menempel pada tubuhnya segera dilepas oleh Bawahan Nira.
Melepaskan semua selang yang menempel pada tubuh Ian,Nira menyuruh bawahannya untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
"Regenerasi mu hebat juga Ian. Karna mu aku bisa melakukan beberapa uji coba!" berterimakasih atas bantuan pada tubuh Ian.
Ian menatap marah Nira. Perlahan dengan perlahan, Ian sudah tidak merasakan pusing berat itu. Apa yang dilakukannya membuahkan hasil, namun Ian tetap hanya bisa berbaring.
Tentu seperti biasa Nira menjadi senang, senang,senang dan senang.Melihat kembali ponselnya bahwa keadaan Ian semakin lama semakin membaik.
Kenapa Nira mengetahui kondisi Ian hanya melihat dari ponselnya? Karna gelang yang Ian pakai.
Apa kalian tau? bahwa banyak ilmuwan yang mencari tubuh bergenerasi seperti Ian. Dengan suspect yang memiliki tubuh itu, ilmuwan tentu saja bebas melakukan penelitian terhadapnya.
Sebelum semua ini, Nira berdebat dengan ilmuwan lain sehingga Ia menjadi pemenangnya dengan alasan bahwa Nira menemukan Ian duluan. Hal ini membuat Nira bisa bersama dengan Ian.
"Katanya ada orang baru dikamar ini!" ucap semangat anak kecil masuk keruangan Ian sambil memegang boneka beruangnya. Anak yang memakai pakaian yang sama dengan Ian, pakaian pasien bewarna biru untuk operasi dulu.
"Lutka, kamu ngapain kesini? kamarmu bukan disini!" Nira memarahi anak yang dipanggilnya Lutka
" Y-yah Dokter, Lutka kan senang dapat t-teman baru" Lutka mau menangis ketika Dr.Nira memarahinya.
Kedatangan Lutka kesini hanyalah penasaran, mendengar ada seseorang disebelah kamarnya membuat Lutka senang. Akhirnya Lutka bisa mendapatkan teman, hanya tempat inilah yang membuat Lutka sedih namun sejak kedatangan seseorang Lutka menjadi begitu bersemangat.
"Baiklah, jangan kamu jadikan kakak ini boneka" Nira pasrah dengan anak ini karna tau Lutka kesepian, Nira pun mengijinkanya.
"Boneka?!" Teriak Ian dalam hati. Ian mendengarkan percakapan mereka semua namun Ian masih tidak bisa mengeluarkan suara.
"Kakak yang pakai jubah itu dok!" Lutka bersemangat lagi karna mengenal Ian lebih dulu.
"Iya, akhirnya dia bergabung dengan kita"
"eh bergabung?! Jadi kakak ini bukan orang sini?" tanya nya lagi.
"Ya begitulah"
"Ouhhh" tanggapan Lutka
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Trappic Warrior
Next next😊
2020-11-23
0
Rasya
semangat Thor
2020-11-20
0