Part 11 : Bertemu Kembali

" Padahal aku berharap bisa berduaan dengan Ian" Tari bergumam.

" Apa kau mengatakan sesuatu?" Ian bertanya karna tidak mendengar apa yang diucapkan Tari.

"Tidak ada"

Sudah setengah perjalanan mereka lalui, mereka ke tempat tujuan dengan berjalan kaki dan Hari sudah menunjuk pukul 5 sore.

"Hiro dimana rumah mu?" tanya Tari sekali lagi.

" Woi woi, ceritanya code usir? aman kok, setelah tempat kantor tinggal lurus lagi"

" Tak apa lah, masih ada waktu kami berdua"

" karna aku penasaran apa yang kamu lakukan, aku ikut aja ya"

" Akhhh Hirooo"

" Tidak semudah itu, aku tidak akan membiarkan teman ku ini untuk dapat pasangan sebelum diriku" jelas Hiro tak mau kalah.

Ian berada di tengah mereka selama berdebat, Ian hanya bisa diam dan berkata dalam hati

' bahkan kalian seperti sepasang kekasih sedang bertengkar'.

Hiro secara cepat menginjak kaki Ian saat sibuk dengan pikiran tentang hubungan mereka.

" Oi? kenapa main pijak segala?"

" aduh kakiku kegeser, maaf Ian"

" Tak ada alasan seperti itu".

Sementara itu, orang orang yang berada di sekitar mereka bertiga.

" Hey buk liat, harusnya si cewek di tengah, kok malah dipinggir sih?"

" si cowoknya kagak mau lindungi si cewek, kok kasian ya saya buk. padahal si cewe cakep loh buk"

" begitulah anak muda jaman sekarang buk"

" Apa mungkin si cewe kelahi ama pasangannya, makanya cowok ditengah sebagai penengah mereka"

" iya juga buk"

kembali dengan keadaan trio.

" Btw Tar, ada urusan apa hingga ke kantor segala?" tanya Ian yang membuat Hiro dan Tari berhenti berdebat.

"Ouh itu, buat tanda kartu pengenal"

" Tapi kenapa sampai pak Luther tau?"

" kalian tak tau ya? pak luther itu pindah tugas sementara, dia dari pusat loh"

" lah? tau darimana?" ucap Hiro dan Ian serempak.

" ada teman cewek cerita kalau liat pak luther disitu"

" Para cewek begitu bahaya mengenai informasi" ucap Hiro.

Gedung Pusat sudah berada di depan mereka. Hiro, Tari dan Ian memasuki gedung itu, namun setiap memasuki gedung para penjaga akan mengecek orang yang ingin masuk menggunakan alat yang dituju ke dahi mereka. Mereka bertiga pun mengantri seperti pada umumnya.

" Masalah cek ini aku jadi ingat rumor di jaman kakek kakek" Tari berbicara dengan tema rumor

" tentang covid itu ya?"

" Iya, tidak tau berita selanjutnya yang terpenting ditahun itu masalah yang lebih besar terjadi secara berurut. Dengan kata lain peristiwa 10 tahun itu termasuk" jelas Tari.

tak ada yang berkomentar ketika Tari sudah menjelaskan itu. 10 tahun lalu mungkin itu masih peristiwa kecil ketika dibanding apa yang terjadi kedepannya.

" Mungkin akan terjadi peristiwa besar ketika ada alat itu, kira kira apa ya?"

" Entah lah" jawab Hiro.

Ian hanya bisa mendengarkan mereka berbicara hingga akhirnya mereka sudah mendapat giliran untuk di periksa.

Hiro dan Tari berhasil lolos dalam pengecekan. Namun Ian ada angka yang melebihi orang normal walau hanya sedikit.

Penjaga pengecekan itu melapor dengan angka ini, Dan mendapat jawaban bahwa Ian boleh masuk karna mungkin ada kesalahan dalam alat itu.

Ian akhirnya lega dan dibilang normal, pada saat cek ia kebingungan harus bagaimana karna lupa dengan alat ini. Namun ia lebih bingung bagaimana Hiro bisa lolos begitu saja.

Ian hanya beranggapan bahwa Hiro mampu untuk menyembunyikan untuk bisa menjadi normal.

" Tenang aja, kalau kamu tidak normal maka aku selalu ada disamping mu Ian" Tari memberi semangat kepada Ian yang sudah lemas itu.

" Yang ada kau tidak akan bisa ketemu kesayangan mu Tari, jaga mulut mu" ucap Huro sambil memukul kepala Tari.

" Hiro! apa kau tau cowok dilarang memukul wanita?!" Tari protes sambil memegang kepalannya yang habis di jitak.

" Ha?!! peraturan macam apa itu?! "

Tari langsung memegang ponsel nya dan mengetik dengan cepat.

" Oi oi apa yang kau lakukan?" tanya Hiro.

" Hiro musuh cewek, hiro musuh cewek" kata yang Tari ketik ke gc grup para cewek.

" Jangan bikin diriku sebagai penjahat!" Hiro merebut hape yang Tari pegang.

"Cih! Kembalikan hapeku" Tari pun merebut hapenya yang di pegang Hiro. Tingkah mereka seperti Ibu disuper market yang mengambil Jajanan Anak dengan paksa karna tau uang belanjaan tidak akan cukup.

" Bisa kalian hentikan? kalian bikin kita jadi pusat perhatian" Ian menjitak kepala mereka hingga menjadi diam.

"Maaf" ucap bersamaan.

Orang orang yang berkumpul memerhatikan mereka telah bubar dan kembali ke kepentingan masing masing.

Tari menuju ke tempat resepsionis dan segera menyelesaikan urusan, sedangkan Hiro dan Ian menunggu Tari di kursi tunggu yang di sediakan oleh pusat.

......

Wanita berjalan di antara orang menjadi begitu mencolok dikarenakan jas seperti dokter yang dikenakannya.

" Kenapa segalanya kesini sih?! udah tau perbatasan sangat jauh untuk diriku yang malas jalan?!" keluh Nira sambil memarahi asisten dibelakangnya.

" Udah dok, Anda kesal saya yang kena embatnya" Nasehat asisten Nira.

"Kamu diam juga! berani ya menasehati ku"

Nira memarahi asistennya. Nira berjalan menuju ke resepsionis untuk melapor bahwa ia sudah sampai dan segera menyuruh untuk mempercepat.

resepsionis itu pun menelepon. Menunggu jawaban dari resepsionis, Nira menatap disekitar. Matanya menanda bingung karna melihat wajah tak asing dari antara penunggu lain.

Di Tempat Duduk Ian. Ian dan Hiro mengobrol kecil mengenai event yang diadakan di sekolah mereka.

Ian yang posisi duduk nya mengarah ke resepsionis, melihat gambaran wanita yang tak asing dari pandangannya.

Mata Ian menajam dengan wajah buram yang dilihatnya sambil mengingat ingat dan Ian kini mengingat siapa wanita itu.

'Aduh dr.Nira' Ian langsung menutupi wajahnya supaya Wanita yang di lihatnya tadi tidak melihat Ian.

"Ada apa Ian?" tanya Hiro yang melihat Ian melakukan gerak gerik aneh.

"Baca aja pikiran ku" Ucap Ian.

Hiro membaca pikirannya dan langsung mengerti tindakan kawannya ini.

"Harap bersabar kawan, selamat berjuang" Hiro mengancungkan ibu jari kearah Ian untuk memberikan semangat. Ian pun semakin kesal dengan Hiro.

" Dengan Ibuk Nira, anda bisa menunggu di tempat Mr.Berun terlebih dahulu." ucap resepsionis kepada Dr.Nira yang sibuk mengingat siluet laki laki itu.

"Baiklah" ucap Nira.

bukannya langsung menuju ke tempat tunggu dimaksud, Nira malah menunggu ditempat ruang tunggu umum.

Ian semakin bahwa Nira sudah mengenali wajahnya dikarenakan Nira berjalan kearahnya.

"Dok kenapa ke situ, ayok kedalam" ucap asisten Dr.Nira

Nira menghiraukan yang dikatakan oleh Asistennya dan tetap ke ruang tunggu umum.

Ian di yang melihat tindakan Nira sudah was was.

"Azka itu kamu? " ucap Nira saat berada di depan Ian.

#Bersambung

Terpopuler

Comments

Kakiku bergeser, alasan yang indah, bisa kujadikan contoh :v

2020-10-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!