"Jangan bergerak."
"Percuma kamu bergerak, itu akan memperparah lukamu sendiri" Perintah Ian. Untung saja Ian menyadari lokasi dia terlebih dulu. Perempuan itu nampak pucat karna kekurangan begitu banyak darah.
"Tenang,aku bukan mereka.biarkan aku menyembuhkan mu." Ian mencoba menenangkannya.
Perempuan itu pun menjadi tenang dan merilexkan tubuhnya. Ian sandarkan dia di tembok terdekat. Ian bisa melihat luka perempuan itu lebih jelas.Luka yang berada pada perut perempuan itu. Ian segera memegang perutnya untuk ia sembuhkan menggunakan anugerah Ian.
"Transfer" Ucap pelan Ian. Tanpa Ian sebutkan pun Ian bisa menyembuhkannya, namun ini selalu hal spontan bagi Ian.
Cahaya muncul di antara tangan Ian dan perut perempuan itu. Perlahan luka perempuan itu pun segera menutup.
Biasanya orang lain akan terkejut jika luka mereka menutup saat Ian memegangnya.Namun, perempuan itu hanya menampakkan ekspresi kosong saja atau mungkin dari awal dia memang terkejut tetapi Ian tidak menyadarinya.
"Kenapa menolong ku?" Dia bertanya pelan.
"Apa salahnya menolong? Kamu juga Anugerah kan? Bukankah kita harus saling menolong?" Menjawab pertanyaan Dia. Perempuan itu tak merespon, Dia sepertinya sudah mengerti dengan jawaban yang Ian berikan.
Tetap saja akan ada bayarannya jika menggunakan anugerah pada setiap individu. Luka gadis itu memang sudah sembuh, namun luka itu berpindah ke Ian. Darah mulai mengalir di tubuh Ian karna luka yang terbuka pada perutnya. Berkat kemampuan regenerasi Ian, Ian bisa pulih dengan cepat dengan rasa sakit yang membekas.
"Oke sudah sembuh,apakah kamu masih ada tenaga untuk berdiri?"
Perempuan itu mengikuti arahan nya. Ian membersihkan pakaian dirinya dan membawa Perempuan itu masuk ke kamar Ian melalui jendela yang tepat di belakang mereka. Untungnya posisi mereka berada di belakang kamar Ian. Ian pun membuka jendelanya dan membantu perempuan itu untuk masuk.
"Entah kenapa seperti menyulik anak orang ya" Benak Ian.
Perempuan itu kini sudah berada di dalam kamar Ian. Ian tidak ikut masuk ke kamarnya melalui jendela, tetapi kembali ke dalam rumah lewat pintu depan. Adik-adik Ian masih menunggu Ian di ruang tamu.
"Abang ada apa??"
"Kenapa paman itu memasuki rumah kita??"
"Bang bang"
Puluhan pertanyaan yang dilontarkan oleh adik - adik Ian ketika melihat Ian di sela pintu masuk.
"Tidak apa , semua aman. Kita lanjutkan makan malam kita" Ian tidak ingin Adik-adiknya memikirkan kejadiannya tadi. Cukup Ian dan mbak Fia yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
" Dia bisa menenangkan diri' Ucap Ian dalam hati sambil melangkah ke ruang makan yang tertunda sesaat.
...
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9, menandakan bahwa sudah waktunya tidur malam.
"Waktunya tidur semua!" Perintah mbak Fia sehabis melihat jam dinding.
"Ah Ibu! Kenapa selalu mengganggu kami lagi asyik main!" Ucap Rere keras.
"Rere jangan tidur kemalaman! Dan yang lain cepat tidur,jangan melawan !" Bantah mbak Fia. Mereka ketakutan di saat mbak Fia marah dan segera menuju ke kamar masing-masing dengan berlarian.
"Ian kamu juga ke kamar sana, mbak tadi sore dikasih tau sama guru kamu kalau kamu suka ketiduran dikelas" Ucap mbak Fia.
"Iya mbak, tapi nilai Ian masih aman." Ucap Ian membela dengan senyum candanya.
"Walau aman atau tidak, jangan suka tidur di kelas Ian. Jangan mengada - ada sambil senyum cenge- ngesan"
"iya-iya" Melangkah menuju kamar.
Ian membuka pintu kamar di. Ian melihat Perempuan itu sedang bersandar pada kasur Ian sambil menutupi perutnya karena pakaian yang ia kenakan sudah terurai.
"ini pakaian untuk mu, ganti. Tidak mungkin kamu tidur dengan keadaan seperti itu. bahaya walau aku tidak melakukan" Sambil menyerahkan pakaian pria yang Ian ambil dilemarinya. Tentu Ian peka apa yang dibutuhkan olehnya.
Ian kembali keluar dari kamarnya supaya perempuan itu bisa berganti pakaian. Mbak Fia sempat berkomentar kepada Ian mengapa masih belum masuk kamar dan menunggu di depan pintu Ian.
"Kenapa kamu masih didepan pintu seperti itu?"
"Barusan melihat ada serangga di kamar, itu membuat ku terkejut" Bohong nya.
"Sudah Sekolah Tingkat atas, hal seperti itu takut. Ada ada aja kamu" Mbak Fia masih heran bahwa anaknya masih takut hal seperti itu.
"Ya gimana lagi, mbak bagus kekamar aja, nanti masuk ke kamar kok Ian. terkejut aja tadi" Ucapan halus untuk membuat Mbak Fia pergi.
Mbak Fia tanpa curiga kepada Ian, Ia segera menuju kekamarnya. Wujud Mbak Fia sudah tidak terlihat lagi pada lorong rumah ini. Ian menghela nafas dan duduk di depan pintu kamarnya.
"Apakah sudah selesai?" Tanya Ian bertanya pelan kepada perempuan yang berada di balik pintu. Tidak ada jawaban yang keluar. Ian kembali menatap langit atap untuk mengisi waktu nya.
"Kamu bisa masuk" Suara dibalik pintu itu. Suara begitu pelan namun terdengar jelas.
Ian kembali masuk ke kamarnya, membutuh kan waktu 15 menit untuk menunggu perempuan itu sudah bersiap. Dia yang menggunakan pakaian merah, kini sudah menggunakan kaos hitam berlengan panjang dan celana hitam milik Ian.
Pakaian yang cocok bagi Ian karena begitu terpadu dengan rambut perak dan mata merahnya. Ian tau bahwa dia bukan termasuk orang disekitar sini. Begitu jarang memiliki rambut perak seperti perempuan, walau Ian juga memilikinya secara alami dari lahir.
"Anggun" Ucap ian pelan, Ian melihat aura anggun dari dia.
"Terima kasih" ucapan balasan yang perempuan itu lontarkan dengan tatapan kosong.
Keheningan kembali menguasai situasi. Memang sewajarnya bahwa hening menjadi tokoh utama pada situasi seperti ini.
"sudah malam, tidur saja dikasur. Aku akan tidur dibawah" Ucap Ian yang mengakhiri keheningan itu. Memang seharusya tidak ada topik pada hari ini, Apalagi melihat tatapan kosong pada perempuan itu. Dia juga hanya diam dan mengikuti Ian.
Suara jangkrik di sekitar rumah terdengar dan itu bagaikan musik hening yang bisa membuat orang tertidur dalam sekejap. Malam pun berakhir.
*****
Kukuruyu
Suara ayam sudah terdengar, walau cahaya matahari belum terlihat sepenuhnya, Ian harus segera bangun untuk melakukan reunitas biasanya, sekolah. Ian sempat bingung kenapa Ia bisa tidur dilantai,namun ketika melihat ada orang pada kasur nya, Ian mulai mengingat kejadian kemarin.
Ian tidak ingin membangunkannya karna yakin bahwa perempuan itu lelah dalam pelarian kemarin. Ian pun keluar dengan membawa pakaiannya yang akan dikenakan dan pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri.
Kegiatan pagi dilakukan seperti biasanya, semuanya menikmati makanan masing-masing. Selesai melakukan kegiatan pagi, Ian juga berangkat ke sekolah. Tidak lupa, Ian membawa makanan ke kamar untuk gadis merah yang masih tertidur di kamarnya.
....
Perjalanan Ian ke sekolah seperti biasanya, tak ada kegiatan yang berubah pada masyarakat sekitar. Kecuali para aparat yang sedang mengawasi lingkungan ini.
"Lapor pak, di daerah B belum ada tanda kehadiran nya" Ucap Prajurit yang melapor ke atasannya.
"Cari lagi" balasan si Atasan.
Ian yang baru saja melewati prajurit yang melapor itu, Ian bisa mendengarkannya.Dalam benak, Ian mulai berpikir bagaimana cara menyembunyikan perempuan yang ada dirumahnya, Pasti tidak akan selalu aman untuk dia apalagi Ian yang membantunya.
"Pagi Ian" Sapa Hiro yang membuyarkan lamunan Ian.
"Pagi" balas Ian.
"Jangan baca pikiran ku "Lanjut Ian.
"Sudah terlanjur"
"Yah,Jadi bagaimana pendapat mu? " Ian kesal dengan kebiasaan ini.Hiro. Namun karna juga ingin mencari solusi kedepan. Ian mengesamping kan rasa kesal itu.
Hiro sedang berpikir untuk memberi solusi kepada temannya ini. Namun Hiro menggelengkan kepalanya.
"Sudah ku duga. Rencana awal ku, aku akan membawa gadis itu ke rumah lama ku. Tak mungkin akan tetap berada di rumah ku yang sekarang. Jika dibiarkan ia menetap disana, pasti akan menjadi hal yang buruk" Ian menjelaskan panjang lebar walau sudah tau bisa menyuruh Hiro untuk membaca pikirannya.
"Apa yang membuat mu melakukan hal ini semua? ini ada resiko nya Ian " Tanya Hiro khawatir bahwa identitas Ian sebagai Anugerah juga ketahuan.
Ian menanggapi pertanyaan Hiro dengan senyum kecil saja.
"Nanti ku kasih tau" Sayang sekali Ian tidak bisa memberi jawaban kepada Hiro.
" Oke, nanti aku akan berusaha untuk membantu" Hiro melangkah jauh.
Ian berjalan memasuki ke kelasnya. Tidak ada yang berubah, semua sama seperti biasa. namun, dengan tambahan orang yang bukan warga kelas ini.
"Ian" Sapa Tari seperti biasa.
"Hy Tari"
"Oi Ian, apa imajinasi ku saja ya? Kelas semakin rame" Tanya Tari.
"Kau tidak berimajinasi ri, mereka memang bukan penghuni kelas ini" jawab Ian sambil merapikan meja.
" he...fyuhhh baguslah, aku tidak gila sendiri dapat halusinasi seperti ini " balasnya senang.
Tak lama, guru pun datang. kehadirannya orang itu, dianggap normal seolah mereka tidak ada oleh penghuni asli kelas ini. karna tanggapan kelas Ian normal, maka Ian tidak mempertanyakan lebih lanjut dan ikut menanggapi orang baru itu memang tidak ada.
****
Waktu sudah berlangsung lama,bel pulang pun berbunyi. sore ini, Ian akan bersiap siap untuk membawa Gadis Merah itu pergi. Selama perjalanan pulang ke Panti, Ian terus berlari.
" Hei! Liat paka mata dong!"Ucap abang kelas yang tak sengaja Ian tabrak.
"Maaf bang" Ian berbalik sebentar lalu kembali berlari.
"Aku harap Gadis itu tidak ketahuan, aku benar benar tidak mau Panti terlibat"Entah apa yang merasuki Ian, Ian yakin bahwa dia sudah bersikap tenang, namun perasaan ini seakan- akan bahwa ada sesuatu yang aneh.
Sekitar 5 meter Panti sudah terlihat,Ian melambatkan langkahnya.
"Aku pulang" Ian ucapkan kata yang selalu diucapkan saat sampai rumah. Pandangan yang Ian lihat adalah mbak Fia yang melototi ke Ian, wajahnya berekspresi marah.
"Mbak? " sambil tersenyum canggung.
"Kamu tau apa resiko yang kamu lakukan ini Ian?! " tanya marah mbak Fia.
Belum sempat Ian untuk menjelaskan, ada yang memanggil pemiliki rumah ini dari luar.
" Permisi " suara orang yang diluar rumah.
Ian dan mbak Fia pun keluar dari rumah. saat mereka sudah diluar, Ian melihat 3 prajurit berada di depan rumah mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Angelenzyy
ada prajurit?? wahhh..
Like like salam The Black Missions Dan The Hidden Love kakj
2020-09-23
0
anggiebae25
Uda aku like
2020-09-23
0
Bunda umu
semangat
2020-08-30
0