Begitu dekat, Wanita ini begitu dekat dengan diriku
"Aku juga yakin 100% kamu pasti tidak akan lama disini Ian ... Insting ilmuwanku mengatakan kamu itu berbeda dari yang lain... Jadi ... aku akan mengawasi mu ..."
Wanita itu berbisik pada kalimat terakhir di telinga Ian yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Nira! Apa yang kamu lakukan!? Jangan bikin kerjaan ku terhambat! Ian cepatlah" Luther berteriak ketika orang itu sadar Ian sudah jauh darinya.
" Dah.. Ian,selamat tidur. Aku tidak sabar menunggu esok hari" pamit Nira, Dokter baik hati memberi salam hangat selamat tidur ke Ian.
****
"Kenapa? ada masalah lagi Rita?" Berun menatap wanita yang masih berada diruangannya.
" Bukankah, dia yang kamu cari selama ini?" tanya Berun sekali lagi.
Berun berencana memancing emosi wanita didepannya. Wanita itu masih saja terdiam dan tidak merespon apa yang dikatakan Berun. Wanita itu menompang dagunya sambil berpikir.
"Aku hanya tidak percaya itu dia" akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya dari sekian menit.
"Anak itu menarik, yang awalnya seperti tidak ada spesial namun ternyata dia bisa dibuat jadi tiruan" ucap Berun.
Rita menatap tajam Berun saat mengatakan 'Dia bisa dibuat jadi tiruan'.
"Jangan bermacam-macam dengan dia!" ucap Rita mengancam dingin.
" Selama anak itu masih bisa dikendalikan, maka kupastikan dia akan aman. Justru dirimu jangan macam macam Rita."
Berun tersenyum puas ketika melihat Wanita didepannya terpojok dengan ucapannya. Mereka saling menatap tajam satu sama lain.
Rita pun pergi meninggalkan Berun sendiri diruangan.
Rita melepaskan sayapnya dan terbang kelangit untuk mengawasi Anugerah yang akan bertugas untuk tengah malam nanti.
Begitu dengan Nira, yang pergi meninggalkan kantor untuk menuju ke Perbatasan Utara. Namun berbeda dari yang biasa, Nira akan kembali ke tempat ini dengan senang hati.
Sementara untuk Ian, Ia masih mengekor gurunya.
" Seperti yang dijelaskan, kamu akan berada di laboratorium. Pasti hari ini sangat berat bukan?"Luther membuka suara duluan. Memang selama perjalanan mereka hanya berdiam saja.
Ian masih diam meski Luther memberikan pertanyaan. Sungguh aku sangat lelah saat ini. mulutku juga tidak sanggup untuk ku angkat.
"Untuk kamu saja yang akan istirahat. Haha seperti pangeran ya dapat perlakukan khusus"
Pada ujungnya saya akan diperlakukan seperti ternak kan! Aku hanya bisa membalas senyuman ke guru baru ini. Sudah lah dia tidak akan kupanggil Guru.
" Dan tempat mu ada sini" Luther membukakan pintu ruangan.
Didalamnya bukan seperti labotarium dipikirkan Ian. Ian berpikir bahwa tempatnya seperti ruangan operasi,namun tempat ini seperti kamar pasien rawat inap yang diceritakan mbak Fia.
...Setelah dipikir lagi, aku lupa nama anak bu Wulan mirip dengan mbak Fia. Patut nama itu tidak asing ditelinga....
" Selamat tidur pangeran, kamu jangan begadang karna esok akan menjadi hari yang sibuk"
menyuruhku tidur dengan nyenyak?! aku bukan mengantuk namun aku hanya lelah Kawan.
Ian menatap Luther saja, namun guru itu pasti tau arti tatapan Ian.
Luther pun meninggalkan Ian diruangannya dan ia pergi untuk kembali bertugas.
Punggung Luther sudah tidak terlihat lagi,
Bukan tidak terlihat namun daritadi memang tidak terlihat. Maksud dari perkataan ku, akhh sudahlah intinya hawa keberadaan Luther sudah tidak kurasakan lagi.
Bagaimana aku bisa tau? hmm entahlah. semenjak dari kecil suka keluar masuk perbatasan Utara, Aku bisa merasakannya tanpa ku sadari.
Oke, dia sudah tidak ada.
Ian merebahkan diri ke kasur yang telah disediakan. Ian melihat gelang diberikan oleh Nira dan menganalisa apa yang akan terjadi jika ini lepas atau tidak dilepas.
Jawaban dari penasaran diatas ialah, gelang ini tidak bisa dilepas oleh Ian.
" Setiap ada usaha untuk melepaskan gelang ini, maka aku terkena sengatan" ucap Ian yang baru saja terkena sengatan. Memang sakit,namun tidak begitu terlalu menyakitkan.
Tanpa Ian sadari, sengatan itu bisa membuat orang normal menjadi trauma akan listrik
hah... nafas lelah Ian.
"Sejujurnya aku bisa saja melepaskan ini Nira. Cuma, jika aku menunjukkannya saat ini mungkin dia akan membuatnya menjadi susah..." guman kecil Ian sambil memasang senyum..
"Dan.. tinggal mencari seseorang dari luar sini.. " lanjutnya membuat senyum yang baru saja dipasang menjadi lebih lebar
****
Sudah 2 hari Anna berada di rumah ini. Walau sudah lolos dari kejaran mereka, namun Anna tidak menurunkan kewaspadaannya.
Kini, Anna bersama dengan seorang wanita didepannya sambil meminum air yang ada dirumah ini.
" Maafkan saya, saya tidak tau bahwa kamu adalah penjaga tempat ini" Anna meminta maaf dengan nada biasa.
" Saya yang seharusnya meminta maaf Ratu, saya tidak mengetahui juga bahwa anda Ratu.
Maaf mengetes anda terlebih dahulu" ucap maaf dari wanita yang diajak obrol Anna dengan nada yang sama dengan Anna.
Mereka disungguh saling meminta maaf dari lubuk hati,tetapi jika dilihat dari sudut pandang orang, Anna dan gadis itu terlihat seperti putri dari kerajaan yang mengadakan pesta teh.
"Aku bukanlah Ratu! Raja masih ada!" Anna menegaskan dan terus memberitau ke wanita didepannya bahwa Ia bukanlah ratu.
"Terserah anda mau menanggapi apa,namun ..." Wanita itu tidak peduli dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Anna.
"Hmm?"
Sebelumnya..
Anna berkeliling disekitar rumah Ian untuk melihat keadaan. Stamina Gadis itu sudah pulih sehingga mungkin sanggup untuk berkeliling sementara memastikan aman.
"Hei" Seseorang memanggil Anna.
Anna langsung saja melihat kebelakang dengan waspada, namun sifat waspada itu tidak terlalu terlihat.
setelah melihat kebelakang,Anna melihat Gadis dengan kawanan burung hantu di sekitarnya.
Keberadaan gadis itu membuat Anna menjadi lebih bingung, namun apa yang terlintas di pikirannya ialah mungkin gadis didepannya ini berkamuflase dengan kawanan burung hantu itu.
" hu...hu.. aku mendengar dari burung hantuku, bahwa ada pengunjung baru." ucapnya meniru suara burung hantu dimalam hari.
Anna masih memasang waspada dengan sosok itu, Anna bahkan sudah mempersiapkan diri.
" Hu.. hu.. selamat datang disini"
" hu.. hu.. silahkan tenangkan diri disini"
" Hu.. hu.. namun mulai dari sini ikutlah dalam peraturan hutan"
Apa yang diucapkan gadis didepan Anna seperti bersenandungkan sebuah lagu.
Sosok itu menggerakan tangannya keatas, lalu Ia mengayunkan kedepan seperti memberi perintah. Kawanan burung hantu bersamanya mengikuti gerakan tangan itu dan langsung menyerang Anna dari depan.
Anna menghindari terpaan kawanan burung hantu dengan trolling cepat kekiri. Karna serangannya tidak mengenai Anna, Gadis itu terus menggerakkan tangannya kemana Anna bergerak.
Anna terus menghindari kawanan burung itu.
" Ha.. ha... " nafas Anna memburu.
yang membuat Anna kesusahan ialah, burung yang menerjangnya tidak mengeluarkan suara ditambah dengan gelapnya malam.
Anna melirik biang kerok yang mengendalikan kawanan burung ini.
"Hilang!" gumam Anna.
Syutttt
Angin kecil terasa dileher Anna, Anna menghindari namun mungkin sedikit terlambat. Lehernya terkena cakar kecil, goresan dari cakar gadis burung itu.
"Cakar?!" kaget biasa.
Melihat Anna berhasil menghindar dari serangannya, Ia mundur beberapa langkah.
Gadis burung kembali mengayunkan tangannya untuk memerintah kawanan burung kembali menyerang.
selama burung burung itu menyerang membutakan Anna, gadis itu menggunakan kesempatan untuk melakukan penyerangan lagi.
Meloncat sambil mengepakkan sayap dengan bantuan pakaiannya yang lebar dibagian perlenganan. Kedua kaki gadis itulah yang digunakan untuk menyerang Anna.
Anna yang masih menghindari kawanan burung itu tidak menyadari serangan gadis ini. Sehingga Anna terkena serangan yang begitu kuat.
Brutuk brutuk
Terguling guling ditanah yang keras, pohon tempat gadis burung hantu tadi yang mengakhiri guling guling Anna.
Anna merasa kalah bertarung dengan nya.
"Tidak! Tidak!" teriak Anna pelan sambil berdiri perlahan walau sudah tidak sanggup untuk berdiri.
Aura merah muncul disekililing tubuh Anna.
"Aku tidak akan kalah dengannya! Aku masih ingin mencari semuanya!" bangkit Anna.
Aura merah menjadi begitu besar dari sebelumnya. Bukan hanya dikelilingi Aura merah, namun mata Anna ikut bercahaya.
Anna memainkan tangannya kearah kiri dan kanan seperti menari tradisional. Setiap gerakan tangan yang dimainkan, ada cahaya merah yang mengikuti gerakan itu.
Anna terus melakukanya dengan tujuan mengumpulkan cahaya itu hingga terbentuklah seperti bola kecil.
melihat berhasil membentuk cahaya kecil, Anna bersiap untuk mengarahkan bola itu ke gadis didepannya.
" Ok anda lulus" ucap gadis burung yang memerhatikan Anna tadi.
....
Anna terdiam sesaat
"Kamu melukai ku daritadi dan mengatakan aku lulus?" ucap dingin Anna dengan mode tadi.
kembali menggunakan bola kecil tadi untuk menyerang gadis didepannya, namun reaksi Gadis Burung Hantu itu tetaplah diam.
"Anna hentikan!"
#Bersambung
btw kalimat 'Gadis Burung', saya ambil dari lagu Kokia-Future.
yang ingin merasakan suara gadis itu, dengerin aja lagu nya dibagian dia muncul ya :D
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments