Part 19 : Troublesome

Hari selasa, hari kedua para murid dan pekerja untuk melakukan kegiatan rutin mereka,dan itu masih menjadi hari yang melelahkan bagi mereka.

"Tolong beritahu ke mbak Fia, aku baik baik saja" Ian dalam hati pada waktu itu, kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Hiro.

"Masih memikirkan teman mu?" Perempuan dengan selendang merah dilehernya bertanya kepada Hiro yang masih mendogak dagunya.

"Bisakah jangan datang tiba tiba" ucap hiro merasa kesal dengan perempuan di depannya.

"Ceritanya aku ingin mengejutkan mu layaknya hantu, namun kamu udah biasa dengan kedatangan ku" Perempuan itu langsung duduk kursi kosong disamping kiri Hiro dan mengikuti gaya duduk lelaki di sampingnya.

"Bagaimana aku akan terkejut disaat seperti ini Asna" Hiro berbicara pelan dengan Asna supaya tidak dicap gila oleh kawan sekelas, untuk saat ini tidak dulu.

"Jadi ada apa?" miringkan wajah nya kearah kiri sehingga kedua mata mereka saling bertemu.

"Seharusnya kamu sudah tau Asna, kan kamu bebas kemana saja"

"Walau aku bebas, tapi mataku masih sama seperti kalian. Ada dua bola mata! Aku bukan monster membuat mu jadi ketakutan dan nangis seperti bayi, Pfft" Ledek perempuan di sebelah Hiro.

"Hey, jangan ingat kejadian lampau! Dan jangan mengarang cerita!"

"Pffft pffft, jadi apa yang membuat mu berpikir. Udahlah jangan di pendam begitu. Tau tidak? aku dengar rumor dari ibuk-ibuk kalau seseorang bisa meninggal karna hati bolong" jelas perempuan itu panjang lebar.

"Setelah di pikir pikir ... " menatap Hiro

" Pendam aja! biar kita bisa bersama!" Mata perempuan itu membinar bersemangat.

" Hy, kebanyakan orang berharap pasangannya hidup! kenapa malah berharap aku mati!" Hiro berteriak. Teriakan itu membuat teman sekelasnnya memerhatikan Hiro.

"Ahh maaf, aku lagi telpon" Alasan yang digunakan untuk menutupi bahwa Hiro mengobrol dengan pacarnya dulu, ya dulu sekali..

Namun tidak akan diceritakan karna itu akan membuang waktu. Suatu saat akan diceritakan.

Hahahahah perempuan selendang itu tertawa melihat tindakan pria disamping nya

"Pertanyaan ku masih sama, apa?" Tanya Asna sekali lagi.

"Ian ditahan di pusat, aku tidak menyangka dengan reaksi bibinya"

Senin Malam

Hiro pergi ketempat tinggal Ian untuk menjelaskan supaya tidak perlu menghawatirkan keadaan Ian.

Dalam perjalanan menuju rumah Ian, tentu Hiro bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh orang pada normalnya. Hiro mencari Asna 'Perempuan Selendang Merah' disekitar namun tidak menemukannya.

"Kemana sih itu anak? dasar hantu suka ngilang" Tak menyadari bahwa Hiro sudah berada didepan pintu rumah Ian.

Hiro tidak lagi memikirkan kemana perginya Asna lalu fokus untuk didepannya.

tok tok

Suara ketukan pintu yang disebabkan oleh Hiro.

"Sebentar" jawab wanita ketika mendengar ketukan itu, tak lama kemudian wanita itu keluar dengan masih memakai celemek.

"Hiro? ada apa kesini? tumben" dengan nada senang ketika melihat teman Ian datang ke panti ini.

"Halo mbak Fia, kedatangan saya kesini hanya soal Ian..." ucap Hiro begitu pelan.

"Ouh Ian, Bukankah dia ikut acara kemah yang diadakan pemerintah? atau kamu mau menyampaikan pesan dari Ian supaya kami tidak terlalu khawatir?" jawaban dari Mbak Fia membuat Hiro bingung.

"Ta-"

"Anak itu memang suka mengkhawatirkan kami, itulah yang kusuka dari Ian. Dan sepertinya Ian beruntung bertemu dengan kamu anak muda, terimakasih telah berteman dengan Ian" mbak Fia mengucapkan ucapan terimakasih kepada Hiro.

"Tidak mbak, seharusnya saya yang berterimakasih" mencegah perempuan didepannya untuk membungkuk.

Sekolah

"Seperti itu ceritanya, aku bingung kenapa mbak Fia mendapat laporan yang seperti itu" Hiro bercerita kepada Asna dengan suara batin, yup kemampuan lain dari Hiro.

"Namun, mungkin itu yang terbaik. kau tau bagaimana nanti ekspresinya ketika tau Ian adalah 'Anugerah'" lanjut Hiro.

"Mungkin mbak Fia sudah tau dengan identitas Ian, kan dia yang sudah membesarkannya,kenapa kamu berpikir seperti itu?" posisi Asna memeluk Hiro dari belakang.

" Bisakah tidak memeluk ku dibelakang? itu tidak begitu-" ucap Hiro yang risih, Ia berpikir bagaimana orang melihat mereka begitu mesra padahal Asna tidak bisa dilihat oleh mereka.

"Sudahlah, tidak ada yang melihat kita seperti ini. Biarkan aku memeluk mu lebih lama" pelukan Asna semakin erat jika dilihat (Seharusnya), namun pelukan itu terasa jelas tetapi Hiro tidak mempedulikannya dan bersyukur bisa merasakan Asna.

"Ha ... " Lirih Hiro.

"Untuk pertanyaan mu ada benar juga sih, namun pasti jika Ian partisipasi dengan kemahpemerintah ya mbak Fia bisa berpikir kalau Ian tertangka-"

"Stttt" jari jemari Asna memegang mulut Hiro, memberi kode untuk tidak melanjutkannya.

"Sudahlah jangan dipikirkan lagi ... " wajah Asna yang begitu dekat dengan Hiro.

"Mau dirimu hidup atau mati, tetap ngeselin seperti biasa Asna" ucap Hiro pelan namun terdengar jelas oleh Asna.

"Haha, mungkin benar Hero ku" senyum kecil terpapang diwajahnya ditambah air mata keluar menuju pipi gadis itu,Hiro tidak menyadarinya.

Disaat Hiro dan Asna saling bermesraan dikelas walau beda alam. Tari yang berada dikelas berbeda tetap seperti biasa menjalani kehidupan sekolah seolah tidak terjadi apapun.

****

" Dan ini menjadi terakhir" Ucap Nira sambil memegang suntikan serum ditangannya.

"Jika masih melakukan ini, aku akan begadang nanti malam" tatapan tajam Ian kearah Nira. Ian tau bahwa apa yang dialaminya murni dari perbuatan Nira.

"Yah, padahal mau melakukannya" Nada ngambek seperti anak kecil yang dikeluarkan Nira.

Ian menjadi terdiam,bukan karna terpojok melainkan kembali mengingat Siluet Hitam itu.

"Sudahlah, tidak bagus aku mengingat kenangan lama. Akhirnya aku bisa menggerakan tubuh ini, serasa bermimpi panjang..." Ucap Ian dalam hati.

Nira menyuruh Ian untuk mengikutinya, Lutka yang daritadi bersama mereka pun mengekor dua orang didepannya.

"Ok sudah sampai, sekarang dibalik pintu ini adalah tim kamu dan Lutka" jelas Nira menunjukkan pintu putih.

"Jadi Lutka belum dapat? kukira dia udah lama disini" Ian bertanya sambil melihat Lutka yang masih cengar-cengir.

"Belum, Dia baru selesai di tes. this child is troublesome for us tame" Nira berbisik ke Ian dengan tujuan Lutka tidak mendengarnya.

"Merepotkan?" Ucap Ian pelan.

Nira mengangguk kepala sebagai balasannya. Lutka tau bahwa Nira dan Ian membicarakan dirinya, namun Lutka melanjutkan bermain dengan Teddy dan menganggap hal itu tidak penting.

"ok kita lanjutkan saja" membuka pintu putih dengan pelan.

"Selamat Datang di Tim 77"

#**bersambung

maaf jarang up (︺︹︺), Saya lagi melaksanakan ujian sekolah soalnya. Mungkin para pembaca juga jadi Ganbare!

Saya juga lagi terpojok sih ( Penyakit para Author yang buntu cerita), bukan cerita tapi Buntu karakter saja :"D**

Terpopuler

Comments

Sky Queen

Sky Queen

fav❤

2021-01-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!