“ Aku menjadi teringat bapak memang menjadi bagian sini, rumor perempuan ternyata bukan rumor belaka” ucap Ian menjadi teringat info yang diberikan oleh Tari. Ian begitu yakin bahwa gurunya itu menjadi bagian penting dipemerintah. Dilihat dia juga menghandiri rapat ini.
“ perempuan menakutkan juga ya” respon pria yang menjelaskan kepada lan, Pak Luther.
Perempuan diruangan yang sama langsung menatap tajam kearah mereka berdua, namun tatapan paling tajam ialah ke arah Luther.
“ Apa misi nya mengawasi saya sehingga menjadi guru baru disana?” tanya Ian main main ke guru baru.
“ Bukan bukan, kamu hanya misi lain. Kalau di game mungkin disebut misi harian bukan? Jadi kamu secara kebetulan aja ada ditempat saya bertugas.” Luther menjawab dengan hal yang sama yang dilakukan Ian.
“ Begitu..baiklah”
“ Tidak penasaran dengan misi saya?”
“ Penasaran iya, namun percuma saya akan bertanya jika jawaban nya pasti akan tidak boleh diketahui oleh saya”
“ Haha,tau aja kamu. Muridku memang pintar” tawa Luther melihat muridnya.
“ jadi apa kamu paham dengan penjelasan saya” Luther bertanya kepada Ian apakah muridnya mengerti.
“ hmm, saya paham sedikit. Namun saya juga tidak tau kalau ada begituan”
“ atau jangan jangan kamulah yang kami cari?” tanya Zyne yang daritadi menyimak percakapan antara murid dan guru itu.
“ Walau, saya anugerah type medis yang disini sebut. Namun tidak mungkin akan seperti itu.”
“ berarti kamu mengaku sebagai Anugerah, bukan suspect.”
“ ah..ituu-"
“ Namun saya tidak yakin jika Ian adalah Sendatzailea “ Nira ikut bergabung untuk berpendapat. Orang orang ruangan ini teralih ke arah Nira dan menjadi terdiam.
“Bukankah itu terlalu berat bagi anak ini? Selama saya memerhatikan ia ditempo hari. Ian seperti melakukan Transfer.”
Masih dalam kebingungan dengan penjelasan Nira.
Nira sadar bahwa mereka masih tidak mengerti.
" Dasar manusia" Nira menjadi geram dan mengambil pisau mini dari saku dokternya.
" Ni-ra?" Ian panik ketika Nira mengeluarkan pisau kecil yang mirip dengan pisau bedah.
Nira melukai dirinya ke tangan kiri menggunakan pisau bedah. Darah keluar lumayan banyak sehingga menetes membasahi warna merah Ipad di depannya.
" Ian kemarikan tangan mu" Nira menarik tangan Ian dengan paksa.
setelah Ian memegang tangan Nira, luka ditangan kiri Nira kembali tertutup dengan mulus, membuat tidak ada luka yang terlihat disana.
Namun, tangan Ian yang menjadi luka. Ian tidak merasa kesakitan, Ian sudah mengalami kesakitan lebih parah dari ini. Luka ini hanya akan terasa menyakitkan bagi orang awam.
" seperti ini maksudnya, lebih mirip dengan sistem transfer dan anak ini bisa memulihkan diri sendiri, itulah keunggulannya . Dia terlihat seperti anugerah jenis medis.
Dan andai dia Sendatzailea, bukankah anak ini menjadi tidak selamat? Karna dimedan nanti, ada yang kepala lepas, kaki lepas, atau anggota tubuh yang rusak.
Coba pikirkan, apa dia akan selamat? jika Iya lagi, bagaimana dia mengobati semua secara bersamaan?" jelas Nira.
"Namun, jika berlatih maka Ian menjadi lebih unggul karna bakatnya bisa memulihkan diri sendiri"
" Dan jika kita ada rencana gila, anak ini bisa dijadikan mesin pembunuh kalau bisa kita kendalikan" Jelas Nira dengan penuh semangat.
"Jika kalian ada rencana seperti itu, jangan bilang di depan orangnya! kalian gila?!" ucap Ian dalam hati. Jika itu memang benar, Ian akan membuat rencana kabur lebih cepat.
Mereka mengangguk bersamaan mengerti mendengar penjelasan Nira.
Berun terus memerhatikan mereka berdebat dan kadang ia melirik Ian.
Ian sadar akan lirikan Berun, bahkan pria itu tersenyum ketika mereka saling tatap.
" Aku lebih yakin sekali lagi dia pandai membaca pola pikir" Ian berkata dalam hatinya.
"Jadi kemungkinan anak ini bukan? Walau masih mungkin, namun masalah itu kita bisa lebih tau. Anak ini juga bisa meminilasir jika digunakan dengan baik" ucap Zyne.
" Ok Sendatzailea 50% telah diketahui. sekarang masalah Napi01" ucap Berun yang dari tadi memerhatikan anggotanya berdebat.
Mereka kembali menatap Ian. Berun sungguh senang. Petunjuk menjadi terasa dekat karna keberadaan Ian,namun Ian yang menjadi keringat dingin karna merasa bodoh lupa dengan alat itu.
" Ada kemungkinan disini memiliki alat pendeteksi kebohongan. Hahaha dalam hal ini aku memang ahlinya!" kegirangan Ian bercakap dalam hati.
" Saya tidak tau keberadaan Napi01 dimana"ucap Ian percaya diri.
Mereka semua menatap posisi kursi yang berada didepan Ian, ada perempuan topeng yang duduk disana.
Rita mengangguk kepalannya untuk mengatakan bahwa itu adalah benar.
Ian menjadi lupa dengan Gadis itu, hawa keberadaannya mirip dengan Berun dan guru barunya Luther yang tipis.
" Untung saja selama ini aku hampir tidak berbohong, aku yakin dia bisa mendeteksi ketidakjujuran. Namun yanglebih berbahaya diruangan ini ialah ketua dari segala ketua" Ian kembali berkata dalan hati sambil menatap Berun.
" Baiklah rapat ini telah selesai. Zyne suruh team mu fokus ke Napi01. Tidak ada lagi team Sendatzailea, karna kita menemukan tersangkanya" perintah Berun.
"Saya masih dalam dugaan?" Ian melontarkan kata keberatan.
" Anugerah mu hampir mirip dengan dia, tapi fungsi saja. jadi bahasanya kamu itu tiruan" Nira menjelaskan ke Ian
Ian tidak sadar bahwa tindakan yang selama ia lakukan sewaktu kecil lah yang membuat mereka beranggapan Sendatzailea itu ada.
" Luther, antarkan muridmu ke labotarium, dia udah bukan suspect lagi. Terima kasih Ian, Berkat pembicaraan mu, kami tidak repot lagi dan pekerjaan ini menjadi lebih mudah" menatap Ian dengan wajah terima kasih.
"Haha sama sama. Tunggu kenapa ke labor?" tanya Ian, Ia menjadi teringat dengan perkataan Nira untuk menjadi mesin dan Teringat lagi bahwa Nira ingin sekali menelitinya.
" Anugerah yang tertangkap memang harus kesana, gimana lagi? tapi tenang, Nira tidak akan macam macam. dan kamu dapat tempat VIP" Berun menenangkan Ian walau itu tidak berguna.
"Karna itu saya khawatir" ucap pelan dan menatap Nira disampingnya yang bahagia.
" Dan karna sudah malam, jadi rapat ini akan berakhir. ouh iya jangan lupa pesan ke Wulan, bahwa selama rapat posisi nya sudah digantikan oleh Ian jadi bisa tenang untuk urus anaknya. Sekian bubar! " perintahnya yang membuat ruangan ini menjadi cepat sepi.
Ian ikut melangkah keluar, dan mengikuti gurunya dengan terpaksa lagi.
"Azka" panggil Nira yang membuat langkah Ian terhenti.
"Ada apa?" jawabnya pelan.
"Udahlah,jangan lesu. atau jangan jangan kamu sudah berada di waktu tidur? waduh saya lupa kamu akan tidur dimana" panik Nira pura pura
"Ah ada ide, kamu tidur di lab saja. disitu ada kasur untuk pasien" jawabnya senang.
"Wah terimakasih, perhatian sekali anda" Ian berterima kasih dengan paksa. Ian berniat kembali melangkah untuk menjauh dari Nira.
Saat mau melangkah, Nira memegang tangan kanan Ian dan memasangkan sesuatu yang berbentuk gelang
"Apa ini?" Tanya Ian karna mendapatkan Isting tidak mengenakkan.
" ini gelang" jawabnya
" iya aku tau ini gelang namun pasti fungsinya aneh. Aku yakin 100%" Ian begitu yakin dengan pikirannya.
" tau aja ada fungsi, itu alat pelacak. Jadi kamu tidak akan bisa kabur dari sini" mendekat kewajah Ian sambil memegang dagunya dengan wajah nafsu.
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments