Part 12 : Terjebak

"iya?" Ian tersenyum paksa karna 'Azka' juga nama panjangnya.

"betapa bodonya aku memakai nama itu!" ngumpat Ian yang merasa bodoh.

"Ahh akhirnya, ku kira kamu imajinasi ku aja. menghilang bagai setan kamu ini" Ucap Nira merasa senang bertemu dengan Azka.

"Hahaha" sialan.

"Wah, Siapa ini?" Tari sudah selesai dengan urusannya dan kembali ke tempat Ian dan Hiro sambil menunggu namanya di panggil.

Ian bingung mengatakan apa, situasi ini sungguh merepotkan bagi dia. Ian ingin mengatakan tidak namun akan menyinggung perasaan Nira, jika mengatakan Iya maka Ian pasti akan menjadi masalah untuk ke depannya.

" Eh Tari, kamu kesini juga?" sapa Nira ke Tari. Terlihat bahwa mereka saling mengenal satu sama lain.

"Dr.Nira, KEBETULAN sekali ketemuan disini" Tari menekan kata itu.

" Iya, lama tidak ketemu. Dia kenalan mu?" Nira menunjuk ke arah Ian.

Tari mengatakan iya dan menjelaskan Ian adalah teman sekelasnya dan pria disamping Ian adalah Hiro yang juga teman sekolahnya. Tari bertanya kembali kepada Nira apakah Ia mengenal Ian juga.

" Azka hanya kenalan, kami pernah bertemu. Iya kan Azka?"

Ian mengatakan Iya.

" Aku lupa namamu ada Azka juga Ian" ucap Tari.

Ian menjelaskan bahwa nama 'Azka' merupakan nama keluarganya, Sehingga tidak ada salahnya memakai nama itu.

Hiro dan Asisten Dr.Nira hanya bisa memerhatikan Obrolan mereka bertiga.

" Tari" nama gadis itu terdengar keras di pengeras suara. Tari langsung pamit dari mereka untuk menyelesaikan urusannya.

Setelah Tari pergi, Nira pun bertanya banyak hal ke Azka yang menghilang tiba tiba.

" Kenapa kamu menghilang dan berbohong. apa kamu mau lari ke negeri sebelah?" Tanya Nira.

Orang orang disekitar Ian yang mendengar suara Nira langsung fokus dengan percakapan mereka berdua. Ketika mereka melihat seragam dari Nira, mereka kembali dengan kegiatan masing masing.

"Bisakah suara Dokter bisa pelan, aku tidak pergi ke negeri seberang." jelas pendek.

Ian mengatakan itu membuat Nira sadar bahwa remaja didepannya belum diketahui oleh publik, terbukti dari kata "pelan suara". Nira menatap teman Ian yang bernama Hiro merasa sudah biasa dengan apa yang dikatakan Nira.

Semakin yakin juga kalau kedua remaja didepanya termasuk Anugerah yang belum diketahui.

"Apa kau?" tanya Nira.

belum sempat Ian menjawab, Tari telah kembali dengan urusannya.

"Hiro Ian, ayok pulang. udah mau malam juga tidak baik untuk kalian" Ajak Tari seperti buru buru.

" Terbalik Sialan" jitak Hiro kembali ke Tari yang seolah olah bahwa Hiro dan Ian yang dilindungi.

"Bisakah kau berhenti menjitak ku? Padahal aku berharap Ian yang menjitak bukan dirimu Hiro" Tari memegang kepalanya yang habis dijitak oleh Hiro.

" Nira kami kembali ke tempat ya, Sampai nanti" Ucap Ian kegirangan dan segera pulang cepat sambil menarik tangan kedua teman nya yang berdebat.

" Semoga waktu menemukan kita Azka.Mungkin jika takdir kita akan dipertemukan secepat mungkin" Ucap Dr.Nira

"Haha" Ian senyum paksa kembali dan berharap mereka tidak akan pernah bertemu.

Ian dan teman temannya telah hilang dari bayangan pupil Nira.

"Ayok kita lanjutkan urusan ini" Wajah Nira berubah menjadi dingin , mengajak asisten nya untuk segera melanjutkan urusan ini.

Nira dan Asistennya telah melewati orang orang dan dinding putih. hingga akhirnya mereka telah sampai di ruangan pertemuan.

Nira membuka pintu putih secara gegabah.

" kalian berdua juga sama aja, Nira" ucap pria yang berada di tengah kursi tak lain adalah Berun

*******

" Ian jangan terlalu terburu buru, udah jauh kita" Hiro risih dengan tarikan tangan yang Ian lakukan.

" Ian pegang aku aja, jangan Hiro" Tari berharap Ian tidak melepaskan pegangannya saat Hiro menyuruh untuk melepaskan.

Ian melepaskan pegangan nya ketika sudah menjauh dari Dr.Nira

" Udah lah lanjut pulang aja kita" kata Ian yang lelah dengan kejadian hari ini.

Ian sungguh lupa dengan keadaannya bahkan wajahnya sudah diketahui oleh salah satu orang mereka, salah satunya Dr.Nira.

Mereka bertiga melangkahkan kaki keluar. Namun saat Ian mau keluar, penjaga pintu masuk tadi mencegat Ian untuk keluar dari gedung ini.

Tari dan Hiro terkejut ketika teman mereka dilarang untuk meninggalkan gedung pusat. Mereka berdua berusaha untuk membujuk penjaga pintu membiarkan Ian pergi.

" Maaf, Ananda dilarang pergi dari tempat ini dikarenakan angka yang lebih dari pada umumnya" ucap penjaga memegang tangan Ian ditakutkan bahwa Remaja didepannya ini tipe kabur.

" Tapi itu bukankah angka sedikit pak!" Bentak Tari yang tidak terima Ian di tahan. Hiro ingin membentak juga namun sudah diwakili oleh Tari, jadi Hiro hanya diam.

Penjaga itu tetap pada pendiriannya untuk menahan Ian, dan mengacam kepada dua remaja didepan bahwa Ian selama prosedur diperlakukan tidak baik.

Hiro memilih mengalah, Ia meminta maaf kepada penjaga secara pura pura dan menarik tangan Tari untuk pergi meninggalkan Ian.

" Kamu kenapa sih, itu teman mu tak boleh keluar?!!" Tari kesal dengan Hiro seakan akan tidak peduli, Ditambah Hiro adalah sahabat Ian.

" jika kita memaksa, bisa bisa kondisi Ian kedepan bisa parah. Dalam pikiran mereka, Jika masih memaksa juga berarti sama halnya mengakui Ian termasuk Anugerah. Apakah kamu mau begitu? Tau kan Angka Ian masih sedikit" Jelas Hiro.

Tari terdiam,Ia tau dengan penjelasan Hiro.

"Lebih baik kita mengabari keadaan Ian ke tempat Pantinya" ajak Hiro membelakangi Tari yang masih berdiam diri.

" Kenapa?" tak kunjung Tari mengikuti langkah Hiro Membuat Hiro bertanya kepadanya.

" Aku ada urusan, kamu duluan aja" ucap Tari pelan. Hiro mendengar suara pelannya itu.

" Mau aku temenin? di jam ini tidak baik untukmu"

" Tidak perlu, aku bisa sendiri"

" hmm baiklah aku mengerti, jangan macam macam dengan kejadian ini Tari"

" baiklah" Tari berbalik arah, Langkahnya perlahan menghilang.

Hiro tidak mempertanyakan urusannya, namun yang pasti, Hiro akan pergi ketempat tinggal Ian untuk menjelaskan supaya tidak perlu menghawatirkan keadaan Ian

.....

Ditempat kantor pusat dimana Ian masih menetap disitu. Ian tidak sendirian di tahan, namun ada beberapa orang juga bersama dengan nya.

"Padahal aku cuma beda dikit, kenapa ikut masuk sih" batin Ian.

#bersambung

hehe dikit ya? seperti judulnya yang 'terjebak', saya pun terjebak dengam kalimat terakhir chapter ini. Pelajaran untuk ini ialah "jika ada ide, tuangin aja di sebuah coretan. jangan nunggu peristiwa dulu baru di tuangin. Akhirnya akan terjebak".

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!