Tak jauh dari lokasi Ian berdiam diri, Suara tangisan bayi terdengar jelas ditelinga nya. Suara tangisan itu berasal dari ruangan yang menjadi tempat para penjaga untuk beristirahat.
Ian berinisiatif untuk melihat mengapa bayi itu menangis, tinggal bersama adek adeknya membuat Ian yakin pada dirinya mungkin bisa menghentikan tangisan itu.
Penjaga tidak menghentikan tindakan Ian, dan membiarkan Ian bergerak menuju kemana yang Ia mau melangkah.
Penjaga hanya menghentikan jika Ian melangkah meninggalkan gedung pusat ini. Dengan kesempatan ini juga, Ian masih bisa menghampiri suara tangisan itu.
“ Cup Cup” Terlihat wanita sedang mengoyangkan badannya kekiri dan kanan bagai ayunan bagi bayi.
Upaya yang dilakukan wanita itu tidak membuahkan hasil dan bayi yang ia pegang masih menangis keras. Bayi yang dipegang wanita itu berkisaran umur 2 bulan.
“ Kamu kenapa nak? Dari tadi nangis terus” keluh wanita itu yang sudah melakukan usaha apapun supaya bayi yang dipegangnya tidak menangis lagi.
Ian memerhatikan wanita itu mengeluh dengan tangisan bayi tak kunjung berhenti. Tanpa ragu Ian langsung menghampiri wanita itu dan memerhatikan bayi yang di pegangnya.
“ Bayi nya daritadi menangis terus ya buk?” tanya Ian sambil bermain dengan bayi didepan dengan berharap bayi itu terhibur.
“ Iya, mimik udah,popok juga sudah diganti” jawab wanita sambil melihat Pemuda didepan bermain dengan anaknya.
Apa yang dilakukan Ian membuahkan hasil, anaknya perlahan berhenti menangis dan berusaha meraih tangan Ian.
“ bayinya berhenti menangis buk, wah lucunya” Ian gemas melihat bayi itu tersenyum dan merespon apa yang dilakukannya.
Wanita yang dipanggil ibuk oleh Ian, masih memerhatikan Ian dan mencari identitas. Merasa yakin tidak mengenali Ian.
wanita itu bertanya, “ Kamu bukan staff sini kan?”
“ eh saya?” Ian menunjuk dirinya dengan tangan yang dimainkan oleh bayi itu. Merasa tangan itu menjauh, bayi digendong Ian menangis kembali.
“ Saya, bisa dibilang ditahan karna angka lebih dari angka normal (?)” ucap Ian dengan ragu sambil bermain lagi dengan anak wanita didepannya.
“ wajah kamu begitu asing disini, ternyata salah satu suspect. Hebat juga kamu sudah berkeliaran seperti ini” wajah wanita itu menjadi dingin.
Ian menciut dengan wanita itu dan tersenyum kaku untuk meresponnya.
Tentu, manusia normal membenci Anugerah. Walau hanya status suspect, orang orang akan tetap membenci dan mengucilkannya. Hal tersebut menjadi alasan Anugerah terus bersembunyi di balik bayang.
“ kamu pandai juga mengurus anak kecil, apa karna kamu punya adek sehingga bisa menenangi anak ibuk ini?” wanita itu bertanya lagi dan mengesampingkan status pemuda didepannya.
“ Saya tinggal dipanti, banyak berbagai usia anak disana. Jadi lumayan bisa mengatasi anak ibuk. Apa saya boleh mengendongnya?” tawar Ian untuk mengendong.
“ ini silahkan, lagian kamu juga tidak bisa kemana mana apalagi keluar dari sini. Apa saya yang beruntung atau kamu yang kesialan” wanita itu menyerahkan anaknya ke Ian dan mempercayai bahwa akan aman ketika pemuda itu menjaganya.
Ian pun mengendong bayi itu, bayi yang dipegang Ian semakin senang bahwa Ian mengendongnya. Hal ini ditunjukkan bahwa bayi itu semakin senyum menampakkan gigi nya yang belum tumbuh satupun.
“ O iya buk, nama bayi nya siapa?” tanya Ian supaya tidak menyebut anak didepannya bayi terus.
“ Fia, dan kamu nak?” tanya wanita.
“ Saya Ian buk, Ian Azka. Dan nama anak ibuk cantik.Saya kira dia laki laki karna tidak terlihat perempuan” sambil menatap Fia yang memakai pakaian warna biru.
Ian tidak terlalu bermasalah ketika menyebut namanya, karna dirinya sudah terlanjur tertangkap disini.
“ haha, banyak mengira Fia juga laki laki karna selalu memakai pakaian laki laki. Itu ide bapaknya. Kalau ibuk namanya Wulan.” Tak lupa Bu Wulan memperkenalkan dirinya.
Ian dan Wulan pun saling berbincang sambil Ian bermain dengan Fia.Penjaga disana.
membiarkan Ian masuk karna pemuda didepan mereka terlihat tidak mungkin keluar dari tempat pusat karna ia asyik bermain dengan Fia.
Ditengah perbincangan mereka berdua, Wulan mendapat panggilan dari smartphonenya.
Rapat akan segera dimulai, para ketua devinisi silahkan segera ke kantor Mr.Berun untuk memulai rapatnya.
Pesan yang tertulis disalah satu aplikasi khas pemerintah ini, aplikasi yang dikhususkan untuk para ketua untuk mencegah pembobolan oleh orang luar.
Wulan memberitau ke pemuda yang berbincang dengannya daritadi bahwa Wulan harus segera bergegas. Ian mengerti dan menyerahkan Fia kembali ke pelukan Ibunya.
“ Huaa Huaa” Fia menangis kembali ketika tau bahwa Iaberpisah dengan Ian.
Wulan dan Ian sudah berusaha untuk menenangkan Ian namun jawaban supaya Fia tenang ialah Fia berada di gendongan Ian.
“ Haduhh gimana nih, ngak mungkin juga bawa Ian ikut ke rapat” Wulan bingung dengan anaknya yang terus melekat dengan Ian.
Wulan sempat berpikir bahwa Fia ternyata Anak Kandung Ian ketika melihat anaknya terus melekat.
Alasan yang sebenarnya ialah Anugerah Ian aktif tanpa disadari oleh pemiliknya. Hal ini dikarenakan sedari awal mereka bertemu, Fia sedang mengalami virus ringan bagi orang dewasa namun bahaya bagi bayi.
Ian merasakannya dengan pusing namun mengganggap bahwa pusing yang dialaminya disebabkan memikirkan apa yang terjadi padanya saat ini.
Pada akhirnya Ian dibawa oleh Wulan untuk ikut bersamanya, dan menjadikan Ian sebagai babysitter anaknya.
“Kamu ikut aja, lagian Suspect akan diurus tengah malam nanti” jelas Wulan sambil berjalan menuju ruangan yang dituju.
Ian mengikuti langkah wanita didepannya sambil mengendong Fia yang tertidur pulas.
Ruangan yang dimaksud pun telah tiba. Ian disuruh Wulan untuk menunggu di kursi yang berada tepat didepan pintu Mr.Berun.
“ Kamu tunggu sini aja, nanti saya akan kembali lagi” perintah Wulan.
“ Baiklah” jawab Ian sambil duduk dikursi yang disediakan.
Tentu Ian tidaklah sendiri, para penjaga juga ikut bersama Ian karna mereka akan melihat gerak gerik pemuda yang mengendong bayi itu.
“ Fia jadilah anak yang baik, jangan merepotkan abang Ian”
pesan ibu kepada anaknya walau anaknya terlelap,Ibu yang tau bahwa sang anak akan mendengar pesannya.
Setelah merasa semua akan baik baik saja, Wulan pun masuk keruangan didepannya meninggalkan Ian dan anaknya diluar bersama penjaga.
***
Beberapa menit telah berlalu setelah Wulan masuk keruangan Mr.Berun. Wanita berambut putih mengenakan topeng sebagai pelengkap itu menjadi pusat perhatian orang orang sana.
Ditambah bulu bulu burung menjadi latar nya membuat wanita itu tampak seperti orang yang jatuh dari langit. Siapa lagi kalau bukan Rita, ketua divisi Anugerah.
Orang normal tidak bisa memgucilkan Rita, ditambah ia adalah orang penting dari pemerintah. Ketua setiap devisi ialah orang yang penting. Ian tidak akan sadar kalau dirinya pernah bertemu dengan 4 ketua setiap devisinya.
Rita masih menjadi sorotan hingga berada didepan pintu ruangan meeting itu. Ian tentu saja melihat kejadian itu. Bukan terpana dengan perempuan didepannya seperti penjaga disamping, namun Ian mengumpat dalam hati.
Ian hanya bisa tersenyum kaku lagi ketika perempuan yang berada didepan menatap dirinya yang sedang mengendong anak.
Rita sudah biasa dengan ekspresi yang Ian tunjukkan kepadanya namun apa yang tidak biasa dengan remaja itu ialah bayi yang ia gendong.
“mungkin...namun bukankah ini terlalu dekat?!” tanya Rita didalam hati. Rita pun membiarkan dan masuk kedalam ruangan meeting.
“ Kamu kenapa nak? “ tanya penjaga melihat Ian tersenyum kaku.
“ Tidak ada, dia siapa ya?” Ian bertanya.
“kamu tidak tau nak? Dia itu ketua divisi Anugerah, atau bisa dibilang dia ketua kamu nantinya” jawab penjaga satunya.
“pak, saya masih suscpect, jadi kemungkinan saya termasuk Anugerah pak” jawab Ian berbohong dan terus mengatakan bahwa Ian bukan salah satunya.
“ Hah, sama aja nak. Mau suspect atau anugerah, semuadapat perlakuan yang sama.”
***
“ kamu selalu menjadi yang terakhir datang Rita” Rita langsung disambut oleh Berun.
Disambut seperti itu menjadi idaman bawahan, namun tidak bagi Rita dan Nira. Dua wanita ini tidak menyukainya.
“baiklah kita mulai saja rapat ini, semua sudah berkumpul” Berun menjadi serius membuat ruangan ini menjadi begitu dingin.
Para ketua pun memasang hal yang sama membuat yang dibawah mereka menjadi terbawa
suasana dingin ini.
“ Zyne bagaimana dengan laporan mu?” Berun menatap pria berada didepannya.
“ Ijin untuk berbicara!” ucapnya tegas layaknya prajurit pada umumnya.
“ Untuk Napi-01 masih dalam pencarian, dan begitu juga untuk Sendatzailea. Jika mengikuti laporan terakhir,Mereka hanya terlihat terakhir di hari sabtu kemarin MR” jawab Zyne.
“ Teruskan pencarian untuk keduanya Zyne. Aku mengerti bahwa ini masih 2 hari dalam pencarian mereka. Namun aku ingin secepatnya mendapatkan kabar baik Zyne” komentar Berun.
“ Baik Mr! Apakah saya tetap melapor tentang anak itu?” tanya Zyne.
“ kalau ada laporan terbaru, silahkan saja”
“ Baik Mr” Zyne memainkan tangannya ke gelang yang dikenakan Zyne.
Gerakan tangan itu memunculkan sebuah
hologram ditengah meja rapat mereka.
“ Anak yang terakhir dan masih tersangka dalam perlibatan pelarian Napi-01, Ian Azka” Wajah remaja bernama Ian terpapang didalam hologram beserta biodatanya.
"Dia saat ini juga menjadi suspect Anugerah yang ditangkap digedung ini pada waktu 17.39” jelas Zyne.
“Eh?” Wulan dan Nira merespon secara bersamaan membuat mereka berdua saling tatap.
“ Ada apa dengan kalian? Bukankah sudah dibilang disaat kemarin?” tanya Rita melihat keduanya.
Pertanyaaan Rita mewakili semua orang yang ada disana.
“ aku tentu terkejut, kan kemarin diriku tidak hadir disini" Jelas Nira.
“ Ian Azka, orang yang kemarin menjadi asisten sementara, Dia yang kemarin juga diduga anggota baru namun ternyata tidak.”
“ Malam mana?" tanya Berun serius.
“malam dimana hadir yang kalian sebutkan Sendatzailea.”
“ Anak itu membuat ku tertarik, 2 peristiwa secara bersamaaan dan dirinya terlibat. Dan wulan, kenapa kamu memasang respon yang sama?” tanya Berun ke Wulan.
“ aku tidak menyangka aja bahwa anak it-“ Wulan menjelaskan ke Berun namun seseorang tak diundangg masuk kedalam ruangan ini.
“ Wulan, anak mu nangis!” teriak remaja lelaki yang wajah nya persis di hologram.
#Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments