Part 17 : Hitam

"Anna hentikan!" Suara pria muncul dipendengaran Anna.

Anna berhenti, Ia menghentikan niatnya untuk menyerang Gadis Burung hantu. Suara itu terdengar jelas, Anna akhirnya mendengar suara selain dirinya.

"Kak Yuno ..." gumam Anna, air mata Anna keluar sendirinya ditambah ia bahagia karna bisa bertemu dengan suara itu lagi.

...

"Kak?"

"Kak? dimana kamu?"

Anna terus memanggil kakaknya, "Ka-"

Kini Anna sadar, Ia berada ditempat yang begitu gelap. Walau gelap, Anna masih bisa melihat sekelilingnya.

"Anna" Suara itu kembali memanggil, Anna tidak mempedulikan berada dimana dia. Anna beranikan diri untuk melangkah kemana sumber suara itu berasal.

Terus melangkah..

Terus berlari...

Ditempat gelap ini..

Hingga akhirnya Anna melihat sosok yang dicarinya. Langkahnya menjadi lebih cepat untuk menuju ke sosok itu.

Sosok itu hanya diam seperti menunggu Anna menghampirinya.

Lari Anna menjadi lebih cepat lagi.

Lebih cepat!

Lebih cepat!

Mengabaikan kegelapan disekitarnya.

Melihat sosok itu hampir dijangkau oleh Anna, Anna melesat meluncur untuk memeluknya.

"Kakak! hiks hiks" tangis Anna sambil memeluk keras, Anna tidak ingin sosok yang dipeluknya pergi.

"Sudahlah jangan menangis adikku ..." Yuno menenangkan Anna yang terus menangis histeris. Sifat Anna yang ini tidak pernah ditunjukkan ke siapapun dan hanya Yuno bisa meluluhkan sifat yang ditunjukkan Anna dingin ke orang lain.

" A-aku t-tau k-kakak m-masih h-hidup" Ucap Anna terbata bata sambil menangis histeris bahagia. Anna begitu senang bisa melihat kakaknya lagi.

Yuno membalas tersenyum kepada adiknya. Yuno juga melakukan hal yang sama yaitu memeluknya.

" D-dimana yang lain kak? kenapa tempat ini begitu gelap" masih menangis

Yuno hanya diam.

"Kak?"

" Ada apa kak?"

"Anna hentikan ... jangan tunjukan kekuatan itu disaat ini yaa ... " Akhirnya Yuno berbicara, namun apa yang dikatakan olehnya tidak bisa dimengerti Anna.

"Apa maksud kakak?" Tanya Anna untuk meminta penjelasan.

"Kekuatan apa kak-"

Ucapannya terhenti. Apa yang membuat Anna terhenti adalah ketika Ia melihat kedua tangannya. Anna tersontak kaget, Ia bisa mengeluarkan Aura merah yang terkumpul menjadi bola kecil. Anna tidak sadar ia bisa melakukan apa yang seharusnya tidak bisa dilakukan oleh kaumnya.

"Kak- jangan bilang- " Anna kembali melihat Yuno, ia paham dengan dikatakan abangnya dan butuh penjelasannya mengapa hal ini bisa terjadi.

Namun disaat melihat Yuno, tubuh kakaknya perlahan memudar.

" Kamu mengerti kan?" Yuno tersenyum.

Melihat tubuh kakaknya yang memudar, Anna memeluknya lebih keras lagi.

" Kak jangan katakan itu! kamu masih hidup kak! Aku yakin sekali kekuatan ini menjadi milikmu lagi! Aku tidak akan memakainya!" Teriak Anna memohon untuk tetap bersama dan berharap pelukan keras itu menghentikannya.

" Hey, jangan katakan itu .. sudah seharusnya itu menjadi milikmu kan?" tubuh Yuno yang hanya tinggal dibagian atas.

" B-bagaimanapun aku akan mengembalikan ini semua! K-kak jangan pergi meninggalkan ku!" Teriak Anna lebih keras lagi.

" Sudahlah, jangan menangis" menghapus air mata Anna, Anna melihat ke wajah kakaknya.

"Ingat . . . aku selalu ada didekatmu .. adek kecil ku" akhirnya Yuno menghilang dari pandangan Anna. Sebelum menghilang, Yuno menyempati diri untuk mencium kening adeknya sebelum menghilang.

Anna sadar maksud dari kak Yuno.

" Hmm Baiklah kak .. " ucap Anna tersenyum. Kini yang tersisa dari tempat gelap itu ialah cahaya dimana kakaknya berdiri.

****

"Ian .."

"Ada apa?" tanya Ian ke siluet yang tinggi tubuh mirip dengannya.

"Ayok ikut dengan ku, disana ada kumpulan bunga cantik!" ajak siluet itu.

"Tu-tunggu aku" Ian mengejar siluet itu. Ian begitu penasaran apa yang menbuat siluet itu terpesona.

"Cepatlah! Kamu begitu lamban!" teriaknya.

Ian terus berlari, dan bisa melihat bunga yang dikatakan cantik itu dari kejauhan.

"Hey jangan kesana! Cepatlah kemari!" Ian menambahkan kecepatan larinya sambil berteriak memperingati siluet. Ian merasa tau kalau bunga itu bahaya.

"Apa maksudmu! Cepatlah!" siluet itu tidak mendengarkan peringatan Ian.

Ian hampir menggapai siluet yang ia kejar.

"kubilang Jangan kesana!" berhasil meraih tangannya dan menarik ketempat Ian.

Tarikan itu menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan yang membuat mereka berguling guling ke belakang.

Disaat mereka terjatuh bersama dan saling menimpa dengan tubuh Ian dibawah dan siluet itu diatasnya. Mahkota bunga bewarna merah berterbangan membuat mahkota itu yang menjadi latarnya.

" Ha.. ha.. kamu jangan kesana! dibilang jangan ya jangan!" Ian marah, nafasnya memburu.

"Hihi" tawanya.

"Kenapa kamu malah ketawa! cepatlah turun dari tubuh-"

Ian merasa aneh dengan mahkota bunga terbang diatasnya, seharusnya Ian tidak mendarat di kawanan "Bunga Lily."

"Tunggu?bagaimana aku tau namanya?" Memegang kepalanya karna pusing melanda.

"Kenapa kita mendarat disini?!" tanya Ian bingung.

HAHAHAHAHAHA

"Hey, Kenapa?! jangan membuat tawa mengerikan"

HAHAHAHA

"hey Jaw- Akh!" bukan pusing, namun kepingan memori yang menghantam kepala Ian.

"APA KAU INGAT SEKARANG! APA KAU INGAT!! KENAPA KAMU MASIH HIDUP SEDANGKAN DIRIKU DAN MAMA MATI!" Mencekik Ian yang dibawah tubuhnya.

"A-apa maksudmu?!" Ian menjadi ketakutan, tubuh siluet hitam itu sekarang memiliki lubang diperutnya ditambah cairan merah. Ian menjadi teringat kembali lagi masa lalu kelamnya.

"KAU JUGA HARUS MATI! KAU JUGA HARUS MATI!" cekiknya lebih keras.

"Ma-maafkan a-ku" Ian berusaha melepaskan cekikan itu.

siluet itu mendekatkan wajah nya ketelinga Ian dan Ia berbisik "Ayoo.. kita bersama.. seperti dulu. bersama papa,nenek dan Jack..."

"Haa....." Tarikan Nafas Ian

...

"Jangan Sekarang!" Teriak Ian sambil bangkit dari tempat tidurnya. Ian syok, masa lalu nya, mimpi buruknya, semua kenangan itu, muncul.

Ian melihat kesekitar tempaynya tidur,semua begitu berbeda dengan kamar yang biasa ia tempati.

"Apa ini?" tanya Ian ketika melihat selang yang menempel di tangannya dengan bantuan jarum untuk menancap supaya selang itu menempel. Didalam selang itu ada air yang tidak Ian ketahui.

"Itu infus" ucap wanita di samping Ian.

"Infus untuk orang sakit?" tanya Ian untuk memastikannya.

" Normalnya sih untuk itu" jawab wanita itu.

"Normal?" menatap siapa yang menjawab pertanyaan Ian.

"Tu-tunggu Nira?! apa yang kamu lakukan disini?" Ian teringat kalau dia tidak berada di rumahnya, melainkan di kantor pusat.

" duduk mengawasi mu, kenapa?" jawabnya.

"Aku tau kamu duduk, udahlah lewatin itu. kenapa tadi bilang 'Normalnya'? apa ini tidak normal?" curiga Ian.

" Ya intinya sih sama fungsinya, untuk memasukkan cairan ketubuh lebih cepat. Namun normalnya cairan kristaloid atau koloid" Jelas Nira dengan malas.

"lalu, apa yang dimasukkan kedalam tubuhku?" Ian semakin curiga.

"Cairan yang sebaliknya, yang mungkin bisa bikin kematian" Nira kali ini menjawab dengan bahagia.

" Pantas saja aku bermimpi buruk seperti mau mati .." memegang keningnya.

" Ouhh berarti efeknya mimpi buruk ya? bagus kamu lahir disaat kekacauan kemarin biar cepat menemukan obatnya"

"O...bat a..paa..." suara Ian semakin lama semakin pelan.

"ke-pa..la.. ku pu..sing..." Ian merebahkan dirinya kembali kekasur.

"Ah, efek samping, untuk orang sepertimu itu seperti obat untuk b-isa ti-dur.. seper-tinya b-ukan m-eng-antuk tapi pusin..g" Suara Nira tidak terdengar lagi, namun Ian paham apa yang dibicarakannya.

Ian pun kembali ke mimpi buruknya bertemu dengan keluarga disaat bencana itu datang.

^^^#Bersambung^^^

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!