Part 2 : Meminta Pertolongan REVISI

"Apakah tadi hanya pengunjung? aku begitu jarang melihatnya. Mungkin memang tamu" Gumam pelan Ian.

Mau itu tamu atau bukan, Ian sudah tidak peduli lagi. Apa yang dinamakan moralitas ketika menabrak seseorang, sudah Ian lakukan. Jadi tidak akan ada yang terjadi juga.

Ian segera menuju ke kelasnya. Ian ingin sekali menenangkan diri. Karna dengan dikelas, Ian akan merasa terlindungi dari apa yang selalu di takutkan.

"Dengan berada ditempat keramaian juga, tidak mungkin ada yang berani melakukan hal berbahaya."

Ucapan itu ataupun pemikiran itu, tentu tidak akan selalu benar. Ian yang mengira semua akan berjalan seperti hari biasa, tidak terjadi disaat ini.

Disaat Ian memasuki kelasnya, apa yang ia lihat bukanlah kegiatan yang dilakukan siswa pada umumnya. Ian bahkan tidak bisa bersuara, sesuatu ada yang menahan pada pita suaranya dan pupil mata Ian juga mengecil.

Darah berada dimana - mana, halusinasi yang Ian rasakan tadi sekarang berada didepan mata Ian. Begitu banyak prajurit dengan baju hitamnya mengepung kelas ini. Perempuan yang Ian lihat tadi juga sudah tertangkap oleh mereka.

"A-apa y-ang te-rjadi?" Ucapan Ian yang terbata - bata.

Memang bukan waktu yang tepat untuk Ian berbicara, lebih baik gunakan waktu untuk berlari. Tapi, Ian tetap tidak bisa melakukannya, ia tidak ingin melarikan diri lagi.

Lantai, dinding, dan seisi kelas, sudah dihiasi seperti tema halloween yang belum musimnya. dengan tema pembunuhan berantai.

Vin yang sebelumnya main bersama dengan ade, sekarang mereka terbaring dengan saling menimpa.

Tari yang mengobrol dengan perempuan lainnya, sekarang mereka sudah tergeletak dengan banyak noda merah pada baju putih.

Semua teman sekelas Ian sudah tergeletak tak bernyawa, kecuali seorang disana yang sedang merengang nyawanya.

"A-nu-ge-"

Clik!

Ian tidak bisa melanjutkannya. Ian tidak bisa menggunakan kekuatan miliknya. Sesuatu menodong ke Ian di belakang kepalanya.

"Hanya kamu yang tersisa disini?" Suara yang menodongnya.

Pria itu mendorong Ian lebih masuk menuju papan tulis. Pria itu tidak ingin murid didepannya melarikan diri karna berada dekat dengan pintu keluar. Untung saja dia memang berada diluar saat itu.

Ian bisa melihat wujud siapa yang menawannya melalui pantulan lemari kaca yang berada tepat didepan papan tulis.

bukankah itu pria yang kutabrak?

"Maafkan kami yang membuatmu melihat pemandangan ini. Kami hanya sekedar melakukan tugas, cuma tidak ada yang menuruti kami sehingga kami hanya menggunakan cara kasar" Ucapan maaf Pria itu.

Walau ia meminta maaf, tapi tidak akan pernah mencairkan suasana mencekam seperti ini.

"Haah" Hela nafasnya.

"Napi itu memang susah untuk diajak kerja sama. Karena dia, aku harus melakukan hal kasar seperti ini. Karena dia juga membuat ku harus membersihkan semuanya" Sempatnya pria itu mengeluh.

"To-to-long"  Perempuan cermin itu meminta tolong dengan suara pelan. Walau pelan, entah mengapa Ian bisa mendengar dengan jelas.

"Kamu masih bisa bergerak rupanya, cepat berikan dia obat bius sebelum dia mengamuk lagi" Perintah pria yang menawan Ian.

Segera saja salah satu prajurit mengepung kelas ini bergerak dan memberikan sesuatu berbentuk serum kepada perempuan cermin itu.

"Oke, untuk kamu anak muda. Tunggu sebentar" Lanjut pria yang menawan Ian sambil mengecek sesuatu pada sakunya.

"Aku akan memeriksa mu terlebih dahulu" Ian tidak tau apa yang terjadi dengan apa yang dibelakangnya, tapi dari pantulan lemari kaca,  Ian ditodong dengan 2 bentuk senjata.

Pria itu terlihat seperti koboi sekarang karena memegang 2 senjata tembak sekarang.

Bib!

Setelah bunyi itu, raut wajah nya seketika berbeda.

"Untuk apa aku meminta maaf kepada mu" Sikap dia juga berubah.

"Walau kau memiliki persentase sedikit, tapi kau juga termasuk dengan napi itu!" Kebencian yang terlihat dari nada  bicara tegas Pria itu.

"Kau juga tidak akan berguna untuk kami" tangan yang memegang pistol itu mulai bergerak.

Ian tidak tau apa yang membuat dia berubah begitu cepat.

DAR!

...

BRUK!

"Ada apa dengan mu Ian!" Panik Tari melihat Ian terjatuh dari kursinya.

Haa.. Haa nafas Ian memberat, Ian Dejavu saat ini.

"Dirimu mimpi apa sampai berkeringat sekali hah?!" Tari masih panik melihat temannya. Ian memang sering sekali tidur, tapi tidak pernah Tari melihat temannya seperti itu hanya karena mimpi.

"Tidak ada apa - apa, aku baik - baik saja"

"Ku tidak begitu yakin kamu baik - baik saja Ian. Ini ambil minum ku, minumlah terlebih dahulu. Aku tidak akan menanyakan lagi" Menyodorkan minuman ke Ian. Tari tau batasan, Tari tau Ian tidak akan menceritakan apa yang baru saja ia mimpikan.

Tari peduli sesaat, lalu tidak peduli lagi. bukankah hanya mimpi buruk saja? Tari mungkin percaya diri bahwa mimpi yang pernah Tari lihat lebih buruk dari Ian.

"Terimakasih. Gluk" Ian menerima pemberian dari Tari dan meminumnya. Kini, Ian sudah bisa tenang perlahan.

"Sama - sama"

"Lebih baik, kamu kembali ke tempat duduk terlebih dahulu daripada cemas kepadaku"

"Kenapa memang nya?"

"Seseorang segera masuk ke kelas ini" Ucap ku

"Hee! bagaimana dirimu tau ada yang datang!Dari tadi kamu tidur." Heran Tari.

"Entah kenapa aku sensitif sehabis tidur, jadi aku bisa merasakan kehadiran orang. Sekarang kembali ketempat duduk mu" Mendorong Tari ke tempat duduknya.

"Iya ... "  Perempuan itu  membiarkan dirinya didorong oleh Ian.

Setelah ucapan itu, yang benar saja. Seseorang masuk ke kelas Ian. Ia memakai pakaian formal sambil membawa sebuah buku absen yang selalu wajib dibawa untuk seorang guru.

"Apakah itu guru baru?"

"Bukan kah begitu cepat ada guru pengganti?" Bisik sekelas dengan orang yang berada didepan papan tulis itu.

Awal Ian tidak begitu memerhatikan wajah nya sekilas, Ian memang tidak tertarik siapa guru baru untuk saat ini karena kejadian mimpi buruk itu.

Tapi karena Ian berada di bangku depan, mau tidak mau Ian akan mengetahui siapa pun wajah yang ada didepan kelas.

Ian terkejut. sama seperti mimpinya. siapa yang didepan itu adalah orang yang mirip seperti mimpi Ian tadi. Pria yang menodong Ian sebelumnya walau tidak terjadi.

"Semoga mimpi hanya sekedar mimpi belaka" Harapan Ian.

"Pagi semua" Ucapan pembuka dari Pria itu.

Ia memberi salam dengan senyum hangat nya. Tentu tidak akan ada yang bakal mengira bahwa dia sesuatu yang menakutkan.

Ian masih memikirkan mimpi itu, Raut wajahnya begitu terlihat jelas sekali. Orang itu tentu melihat kebingungan apakah ada yang salah dengan dirinya.

"Pagi"  Balasan murid secara bersamaan.

Ian yang sadar dengan reaksi orang itu, Ian segera membuang muka seperti tidak tau apapun.

"Perkenalkan saya Guru baru pengganti guru bahasa inggris kalian, nama bapak adalah Luther. Bapak juga guru baru BK, jadi jika Ada masalah datanglah kepada bapak " Ucapnya.

Tampak guru baru itu terbilang cukup muda atau bisa dianggap seumuran. Sekolah Menengah Atas pasti bisa dibilang banyak memiliki guru yang hampir seusia dengan muridnya.

Teman sekelas terdiam dan kelas menjadi canggung.

"Baiklah, Karena ini hari pertama saya mengajar. Kalian boleh menanyakan sesuatu ke bapak" Ucap Pak Luther.

Murid dalam kelas mulai menampakkan senyumannya karena tidak belajar hari ini, mungkin ini menjadi tradisi untuk guru yang memulai pelajaran pertama dari setiap kelas.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan murid ke Pak Luther. Dari berbagai pertanyaan pribadi sampai umum.

***

Waktu telah berlalu.pelajaran bahasa inggris diganti pelajaran berikut nya hingga jam pulang telah tiba.

Ian merasa hari ini begitu aneh pada dirinya. Ian menganggap bahwa dirinya begitu banyak pikiran. Tetapi, walau setiap saat Ian begitu banyak berpikir. Ian tidak akan seaneh hari ini.

"Ian,ayo pulang bareng" Tari mengajak.

"Duluan aja Tar, aku mau ke Super Market dulu untuk belanja kebutuhan seminggu" Ian menolak.

"Yah, baiklah. Lain waktu saja" Terlihat jelas wajah Tari cemberut walau sedikit.

"Hati - hati Ian" Salam perpisahan dari Tari.

"Hati hati juga"Sambil melambaikan tangan.

Ian segera meninggalkan kelasnya.

Dalam perjalananya menuju gerbang sekolah, Ian melihat berbagai kegiatan murid angkatannya atau kakak kelasnya. Ada yang sibuk menjalankan piket kelas, ekskul, membawa buku ke ruang guru. Begitu normal kegiatan pada sekolah ini.

"Yo Ian" Ucap Hiro dari kejauhan

"Hiro,  masih suram hari sekolah mu seperti biasa" Balas Ian.

"Kau pikir kehidupan sekolah ku suram terus!" Memukul Pundak Ian.

"Aduh! Haha memang iya bukan"

"Haa, terserah padamu. Aku mau pulang duluan. Istirahatlah yang cukup Ian. Hari ini begitu berat bukan bagimu" Pergi meninggalkan Ian.

Ian paham maksud dari Hiro. Hiro telah membaca pikirannya.

....

Supermarket ke jarak rumah Ian mungkin terbilang tidak cukup dekat namun tidak juga cukup jauh. Begitu banyak orang berlalu lalang karena mengurus kepetingan pribadi pada kantor pemerintah yang baru saja Ian lewati.

Clakk!

Suara pintu supermarket yang dibuka Ian.

Suara sambutan pegawai kepada pelanggan yang baru saja masuk sudah terdengar ditelinga Ian dengan samar.

Ian membalas dengan senyum walau samar dan menuju ke rak yang akan Ian butuhkan. Ian  tidak terlalu memikirkan sekitar dan fokus apa yang ada dalam pikiran Ian. Sampai suara dari Televisi hologram yang terpampang di atas kasir, memberi sebuah informasi.

Berita TV

"Napi lepas dan kini dalam pencarian. dicari Napi lepas dengan  berciri ciri perempuan berambut putih. Jika warga melihat Napi dengan ciri - ciri yang disebutkan, maka tolong hubungi 1537 karena napi ini cukup berbahaya "

Orang-orang yang berada di super market langsung melihat isi berita itu, berbagai macam komentar yang dilontarkan terdengar oleh Ian. Ian demikian juga sama, Ia begitu fokus memerhatikan berita itu.

"To-tolong"

Suara perempuan itu kembali berada dalam pikiran Ian. Ian memegang kepala dan perutnya karena mengingat kembali luka yang ia dapat melalui mimpi itu.

"Apa juga hubungan ku dengan dia. Mimpi hanya sekedar mimpi" Ucap teguh menolak keberadaan mimpi itu.

Ian pun mengacuhkan dengan isi berita itu, tidak akan mungkin seseorang akan kabur menuju ketempat Ian. Hanya ada kemungkinan persen yang sangat kecil untuk bertemu.

"Semua nya 50" Ucap kasir didepannya.

Ian mengambil dompet nya dan menyerahkan 50 ke Kasir dan pergi keluar membawa belanjaan nya.

"Sudah mau gelap"

...

Di Hutan

Sytttttt suara kebasan rumput

Seorang Perempuan tengah berlari dari kejaran para prajurit.

"Tangkap dia! Jangan sampai lepas!" Perintah salah satu mereka sambil memegang peluru listrik tiap orangnya.

Perempuan itu lari dari pohon ke pohon supaya tidak terkena dengan peluru yang mengarah kepada perempuan itu. Tentu ini adalah trik buaya seperti orang bilang.

Dorr!!

Pistol lolos dari trik yang dilakukan perempuan itu mengenai perutnya. Perempuan itu mulai melambat dari yang tadi

"Sial!" Umpat perempuan itu.

Perempuan itu begitu panik, Ia berlari tanpa arah yang jelas. Ditengah paniknya, Ia merasa keberuntungan berada pada pihaknya. Tepat di kejauhan, Ia melihat siluet rumah kecil. Perempuan itu segera menuju ke rumah yang ia lihat. Walau itu resiko besar, tetapi ia terluka. Ia juga merasa akan aman bersembunyi di sana.

"Ayo anak-anak waktunya makan " ucap remaja laki-laki yang sedang memegang piring berisi makanan makan malam.

" ada orangnya ternyata..." ucap nya Perempuan itu pelan sambil mengintip isi rumah kecil tadi.

Perempuan itu tidak mau melibatkan mereka, Ia juga merasa bahwa apa yang ada didalam rumah itu sama dengan dirinya, Tidak memiliki keluarga. Ingin pergi, namun orang yang mengejar dirinya sudah dekat dengan posisi saat ini.

Dengan terpaksa ia bersembunyi di tempat cucian rumah itu yang berada diluar.

"Menghilang..." ucap Prajurit yang mengejar perempuan tadi.

" sfxx, lapor napi 1 menghilang dari pandangan kami komandan" Pengejar itu melapor ke komandannya menggunakan benda mirip walkie talking.

" sfxxx periksa sekitar, apa aja yang ada di sana"

Pengejar yang diperintah memeriksa disekitarnya,.Tak jauh dari posisi awal mereka, ia melihat sebuah rumah kecil.

" sfxx, komandan kami melihat rumah kecil yang mungkin isinya anak yang kehilangan keluarganya"

" sfxx periksa sekarang "

Karena perintah dari komandannya, mau tidak mau pengejar itu akan memeriksa rumah kecil yang dilihatnya. Tetapi, pengejar itu tidak akan memeriksa secara sembarangan. Ia akan meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik rumah.

Tok tok

"Iya sebentar" ucap pemuda didalam rumah itu, Ian.

" kalian lanjut makan aja ya.. Abang mau periksa dulu" mendengar suara ketokan, Ian pun akan menyambut siapa yang bertamu ke rumah kecil ini.

" ok kak!" Adik - adik Ian setuju dan mengijinkan Ian untuk meninggalkan mereka, karena mereka sendiri juga sudah lapar.

Ian melangkah ke pintu rumahnya. Apa yang pertama dilakukan Ian ketika tamu datang adalah mengintip melalui jendela.

"Haa..." Nafas berat ian keluarkan. Ian mengira sudah melupakan mimpi itu disaat masak tadi, nyatanya selalu saja datang yang mirip sekali dengan mimpi itu.

ian mengambil nafas sebentar dan mengendalikan raut wajahnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Masih menggunakan celemek dapur.

"Maaf nak, maaf mengganggu waktu makan kalian, kami disini ingin mengeledah rumah ini karena Napi yang kami cari menghilang disekitar sini" perintah nya.

"Apakah anda melihat orang mencurigakan?" menanyakan kepada pemilik rumah.

" Maaf, saya kurang tau, kami sedari tadi hanya menikmati makan malam. Tidak ada yang keluar disaat jam seperti ini" Jawab Ian

"Baiklah, saya akan mengeledah. Bukannya saya tidak percaya dengan ucapan anda. Tapi, kami hanya melakukan tugas kami" Permintaan dari Prajurit itu.

Ian melihat kearah mbak Fia yang baru saja menghampiri mereka. Mbak Fia mengangguk kepala dengan arti mengijinkan mereka mengeledah rumah ini.

Orang yang didepan Ian pun memberi sinyal dengan tangannya, Ia menyuruh regunya untuk menggeledah rumah ini. Dan banyak prajurit yang masuk ketempat ini. Walau menggeledah, namun mereka akan merapikan ruangan yang mereka periksa ke semula.

Anak - anak tentu takut ketika didatangi oleh orang pemerintah. Mbak Fia segera menenangkan mereka, Mbak juga menyuruh adik - adik Ian tetap melanjutkan makan malamnya dan mengabaikan orang pemerintah itu. Begitu ada usaha untuk membuat mereka percaya, hingga akhirnya mereka melanjutkan makan malam karena personil prajurit menenangkan bahwa mereka adalah orang baik.

"Pak, disini aman, tidak ada mencurigakan" lapor rekan Prajurit yang diperintah untuk mengeledah.

"di sekitar luar juga aman" lapor yang lain juga.

"Baiklah, terimakasih laporannya. dan kamu dek, kalau ada melihat orang itu tolong lapor ke kami. Terima kasih atas kerja samanya" perintah prajurit depan Ian

"Baiklah pak, terimakasih kembali" jawab Ian.

" kalian semua ayo bubar, cari lagi" Lanjut perintahnya. Mereka pun pergi meninggalkan rumah Ian. Mungkin akan lanjut ke tetangga Ian yang berada di sana.

Petugas itu meninggalkan rumah kami, untung ini hanya pemeriksan saja, bagaimana jika napi itu betulan kesini? Aku bisa membayangkan anak-anak sini akan disiksa karena dicap memberontak jika napi itu ada kaitan dengan orang atas.

Haa.. Haa terdengar suara sesak di pendengaran Ian. Ian kembali lagi untuk tidak lega bahwa semuanya selesai.

"He? Tidak mungkin betulan kan?!"Ian panik. Ian ingin pura - pura untuk tidak mendengar suara apapun. Namun

Haa.. Haa

suara itu seakan ingin meminta pertolongan, Seakan - akan ia terluka.

Ian mengikuti suara nafas itu, Suara yang mengiring Ian ketempat cuciannya. Ian sekarang tau mengapa mereka tidak menemukannya karena tempat cucian itu memang cocok untuk bersembunyi. Tempat persembunyian Ian jika ingin kabur.

Ian melihat asal suara itu. Suara yang berasal dari perempuan yang lagi - lagi sama dengan mimpinya. Perempuan cermin.

Ian memerhatikan seksama dengan bersembunyi, tampak bahwa ia terluka pada bagian perutnya.

"A-akhirnya Me-mereka Per-gi juga" Ucap perempuan itu terbatah - bantah.

Clekk

Suara pijakan ranting kayu.

Perempuan itu kembali bersifat waspada.Ia tahu bahwa masih ada orang di depannya.

"Ranting kayu sialan!" Kutuk Ian dalam hati pada ranting kayu yang baru saja ia pijak.

Ian pun dengan cepat menuju ke persembunyian perempuan tadi, Ian hanya ingin menolong ia karena terluka cukup parah. Tetapi perempuan itu sudah tidak terlihat lagi.

Ian mencari keberadaan perempuan itu disudut manapun. Ketika Ian mencari, seketika udara dingin menyengat pada leher Ian.

"Dibelakang!"

BHUSS

"Jangan bergerak!"

#bersambung

Terpopuler

Comments

Sept September

Sept September

like

2020-09-23

0

Sept September

Sept September

semangat

2020-09-23

0

Angelenzyy

Angelenzyy

Boomlikeee

2020-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!