Saat Rendy hendak masuk, tiba-tiba ada tangan yang menahan bahunya.
"Benar dengan nak Rendy?" tanya pemilik tangan itu. Rendy sontak menoleh ke belakang. Blue ikut menoleh dengan terkejut.
"P-pak Ron?" gumam Rendy. Guru laki-laki dengan kumis tebal itu tersenyum tipis.
Pak Ron memegang ujung rambut Rendy. "Apa ini? Setelah izin sekian lama. Kembali dengan rambut sepanjang ini?" Rendy menelan ludahnya.
"Aku tidak ikut campur." Blue mundur perlahan.
"E-eh, Blue! Jangan! P-pak! Yang bernama Jack ju–"
"Yang tertangkap kamu, jadi kamu yang baru bisa dimarahi ..."
"Ta-tapi kan Pak, ini mumpung di depan kelasnya ..."
"Nanti kamu aja yang jelasin ke mereka, sekarang ke ruang saya."
"Tidaaaak!!"
...***...
"Ketua mana?" tanya Lucy pada Blue yang berjalan kaku ke bangkunya.
"K-ketua ya? Ahahaha, a-aku tidak tahu ..." jawab Blue tertawa canggung dengan senyuman kaku.
"Lha? Tadi bukannya denganmu?" timpal Jack. Paul masih menatap tajam ke Jack.
"Kurasa dia tertangkap guru BK ..." Blue memalingkan pandangannya.
"Hah!?"
...***...
"Khehehehe! Rupanya ketua kita tidak tertib!"
Bletak!
"A-auw!" Jack memekik begitu kepalanya mendapat sebuah pukulan tajam dari Rendy.
Ketujuh orang itu kini perjalanan ke salon, untuk memotong rambut Rendy. Rendy merasa pusing sekarang, di ruang BK ia dimarahi habis-habisan oleh guru killer di sekolah itu yang dikenal dengan panggilan Pak Ron.
"Selepas ini kita akan ke rumah Blue." Semua menoleh heran ke arah Rendy.
"Ada yang ingin kubicarakan dengannya," sambung Rendy.
...***...
"Hah ... kita menunggu di luar begini gak seru!" keluh Jack menghentakkan kakinya ke lantai. Kini keenam remaja itu duduk di bangku depan salon. Menunggu ketua mereka keluar dari pintu.
"Kok bisa tertangkap guru BK, sih?" tanya Lily kesal.
"Kurasa memang karena dia tidak potong rambut selama di Halfen Lab."
"Heh, Mike, Jack, Blue! Lalu kenapa rambut kalian tidak panjang juga?" tanya Lucy.
"Ekh!" Semua lelaki itu tersentak.
"I-itu karena ... waktu itu, kami mau potong rambut bersama ke permukaan. Tapi saat kami hendak mencari Ketua di perpustakaan ..." Jack tidak melanjutkan ceritanya.
"Jack menyuruh untuk meninggalkannya," sambung Mike santai.
"Oh jadi begitu?" Tiba-tiba suara tidak familiar terdengar dari samping Jack. Bulu roma Jack langsung bergidik merinding.
"Kalian berani meninggalkanku?" tanya Rendy sekali lagi.
"Bu-bukan begitu, Ketua. Lagipula, rambutku juga sudah sedikit panjang kan ..." Jack berusaha mengelak, tapi hasilnya tetap dia habis di tangan Rendy.
"Hey! Lu ... cy? Kalian kenapa?" Rendy baru sadar jika semua gadis memandanginya aneh.
"Kalian kenapa?" tanya Rendy bingung.
"Ke-kenapa jadi jauh lebih tampan!?!?" batin ketiga gadis itu memerah seperti tomat.
"Hey, Blue, Mike ... mereka kenapa sih?" bisik Rendy.
"Saya tidak tahu pastinya." Mike menggaruk pipinya.
"Haha, sepertinya posisi kita akan langsung tergeser oleh ketampanan Ketua," gumam Blue terdengar oleh kedua teman lelakinya itu.
"He? Apa sih yang kau bicarakan?" tanya Rendy.
"Sudah lupakan!" jawab para gadis serempak.
"Irine pun jadi berubah juga ..." batin Rendy.
"Hey ... bagaimana kalau kita makan dulu ..." ucap Jack lesu.
Mereka baru berjalan sekitar 250 meter untuk ke stasiun. Namun memang semuanya sudah lesu karena belum makan. Tapi pengecualian dengan Rendy yang masih santai berjalan.
"Tidak bo–" ucapan Rendy terpotong.
"Aku traktir deh ..." sela Jack.
"Oke!" Rendy langsung menyahut dengan semangat.
Akhirnya karena persetujuan semuanya. Mereka ke kafe terdekat untuk makan siang.
"Apa-apaan ini!? Kau makan makanan manis segini sendiri!? Apalagi kue-kue mahal! Apa kalian tidak mengasihani dompetku?"
Jack memelas. Tapi dengan teganya, semua temannya menggelengkan kepala tegas.
"Hahaha, siapa suruh bilang 'Aku traktir deh ...'!? Kyahahahaha!" ledek Lily tertawa puas.
...***...
"Haih ... dompetku langsung tipis ..." keluh Jack. Akhirnya mereka tiba me stasiun. Untuk ke Beryl District, dimana rumah walikota Korea berada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments