「Pʀóтι Exéтᴀsι」

Walau Lily, Jack, Finne, dan Mike tidak lulus Pra-Exam, mereka tetap diikutkan ujian. Hanya saja, mereka ada hukumannya setelah Pra-Exam, dan taka da satu pun yang diberitahu apa hukuman berat mereka.

Sudah dipastikan berat, karena yang memberi mereka hukuman adalah Pelatih Bennetta. Yang terkenal garang, kuat, dan kejam.

Besok adalah hari dimana pertarungan dimulai, pembagian sudah diberitahukan. Rendy mendapat giliran pertama melawan Mike. Mike adalah putra salah satu dewi muses, dewi Euterpe.

Tentu saja, keahlian Mike selalu berhubungan erat dengan suara atau musik. Namun, belum pernah adayang tahu spesifik kekuatan Mike. Karena Mike adalah jenis Demi-God yang berbeda.

Ibunya hanya dewi musik, tidak ada kelebihan lain selain mengetahui segala hal tentang alat musik. Sedangkan Mike adalah mengendalikannya. Apalagi, Mike terkenal dengan sifat pendiam. Jadi untuk sekarang pengetahuan Rendy tentang Mike adalah nol.

“Rendy?” Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya dari balik pintu kamarnya.

“Siapa yang berkunjung malam-malam begini?” pikir Rendy menoleh ke pintu. Rendy belum beranjak dari posisi tidurnya di kasur.

“Rendy? Aku tahu kamu belum tidur, jadi buka pintunya!” ulang suara itu. Rendy menghela napasnya, ia barulah berjalan membukakan tamu di malam hari itu.

“Lucy? Apa yang kau lakukan malam-malam begini, dan lagi ini kan asrama la—”

“Makanya segera bukakan dan izinkan aku masuk!”

Lucy langsung membungkam mulut Rendy lalu mendorong lelaki itu masuk. Gerak-geriknya seperti maling yang mengendap-endap saat menutup pintu.

“Huft!” dengus Lucy melemaskan tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanya Rendy sedikit kesal.

“Aku … hanya kepikiran kamu terus …” jawab Lucy tertunduk.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Pertandinganmu besok! Mike itu sama sekali tidak tahu kemampuannya apa, yang pernah kulihat ia hanya bisa mengeluarkan gelombang suara dari telunjuknya! Ia terus-menerus menggunakan jurus itu … aku khawatir kalau kamu akan kesulitan …” jelas Lucy.

“Hey?”

“Um?”

“Kau yakin mengkhawatirkanku?” Rendy mengangkat alisnya. Lucy langsung mencubit hidung Rendy kuat-kuat.

“A, a, a, sakit! Hidung! Hidungku! Aku tidak bisa bernapas! Hah!” Lucy melepas cubitannya dari hidung Rendy, alhasil hidung Rendy merah.

“Aku benar-benar khawatir! Bodoh! Apa aku terlihat berbohong?”

“Tidak, bukan begitu. Aku bahkan bisa menyelesaikan Pra-Exam hanya dalam lima menit, kau masih khawatir, huh?” cengir Rendy.

“Hm … baiklah …”

“Sekarang keluar! Ini sudah malam, nanti malah ada gosip yang tidak mengenakkan tentang kita!” usir Rendy mendorong punggung Lucy keluar dari kamarnya.

“He, hei! Tunggu!!” Lucy menahan dirinya, Rendy berhenti lalu menatap Lucy heran.

“Apa lagi, heh?”

“Aku ….”

Kruyuuk

Seketika wajah Lucy memerah bagai tomat. Suara itu membuat keduanya terdiam. Rendy melongo mengetahui suara itu berasal dari perut Lucy.

“Jadi … kau kemari karena lapar?!” tanya Rendy kesal.

“Bu ... bukan be—”

“Bilang kek dari tadi! Aku kan tinggal membuatkanmu makanan!” omel Rendy segera keluar kamar.

“Ayo! Mau makan tidak?”

“Yaudah deh …”

Mereka berdua berjalan denga berhati-hati, takut akan membangunkan yang lain. Mereka menuju ke kantin, dan masuk ke dapur. Rendy dengan segera mengambil apron putih bergaris yang tergelantung di balik pintu.

“Kamu bisa memasak?” tanya Lucy memiringkan kepalanya.

“Aku belajar sedikit dari tetanggaku. Jangan khawatir tidak akan meracunimu kok nona cerewet,” jawab Rendy.

Rendy segera ke depan kulkas, membuka dan memeriksa bahan makanan yang tersisa. Ia mengambil beberapa dan segera ke depan kompor, kemudian mulai memasak.

Selang beberapa menit kemudian, aroma sedap memenuhi dapur. Lucy sampai menengadah menghirup habis asap dari masakan Rendy.

“Ini, Tuan Putri …” cengir Rendy meletakkan sepiring bakmie goreng. “Hanya ada sisa makanan ini di kulkas, jadi makan saja seadanya kalau lapar.”

Lucy agak ragu mengambil garpu. Ia merasa tidak yakin dengan masakan seorang lelaki dingin di depannya.

“Tidak kuracun, tenang.”

“Ish! Iya-iya, bawel! Hap!" Satu suapan mendarat di lidah Lucy. Matanya melebar dan berbinar-binar. Serasa ada pelangi melintas di lidahnya.

“E … enak!” serunya.

“Benarkah? Baguslah kalau kau suka, cepat habiskan aku mengantuk,” ucap Rendy lalu menenggelamkan mukanya ke tangannya dan terlelap.

...***...

“Hey, Rendy?” Badan Rendy serasa bergoyang-goyang, ia terbangun akibat guncangan seseorang.

“Engg?” Rendy menoleh, matanya masih belum jelas. Ia mengucek matanya, begitu pandangannya jelas,

“WAAA!!” Rendy dikejutkan Lucy yang menjadi banyak orang. Ternyata, Lily, Jack, dan Mike sudah berada di tempat. Dan ada dua orang tambahan yang berada di kejauhan. Tak lain adalah Irine dan Blue.

“K-kenapa kalian jadi ke sini semua?!” tanya Rendy berusaha menekan suaranya agar tidak bising.

“Kau yang harusnya dipertanyakan kenapa di kantin malam-malam begini?” tanya balik Jack. “Tanya pada gadis putih itu!” jawab Rendy malas menunjuk Lucy.

“Anu, aku … aku …” Lucy terlihat malu-malu.

“Sudahlah …” Irine dan Blue mendekat. Semua memandangi keduanya yang akhirnya mau mendekat setelah sekian lama hanya di kejauhan.

“Hey, aku mau masakan yang kau berikan ke Lucy tadi!” pinta semuanya serempak. Rendy tersentak, tak disangka aroma masakannya bisa sampai ke asrama.

“Ba-bagaimana kalian bisa tahu aku yang memasak?” tanya Rendy.

“Sebenarnya …”

Begitu ada suara ketukan pintu di malam hari. Semua terbangun, begitu mengetahui bahwa itu suara Lucy di kamar Rendy, para lelaki secara tak sengaja keluar dari kamar bersamaan. Lalu mengangguk menandakan bahwa mereka sepemikiran.

“Apa yang mereka lakukan di malam begini?” tanya Blue menempelkan telinga ke pintu.

“Tak kusangka, ternyata Rendy orang yang begituan.” Semua langsung menatap datar ke Jack. Lalu Blue kembali menempelkan telinga.

“Suaranya tak begitu jelas, mereka berbisik-bisik!” lirih Blue.

Mike segera mengisyaratkan Blue untuk menyingkir.

Ia tempelkan telapak tangannya ke pintu, lalu memejamkan matanya. Seketika gelombang suara terlihat di sekitar tangannya bersamaan suara dialog Rendy dan Lucy yang terdengar jelas.

“Woaa! Mike memang hebat!” puji Jack. Lalu ketiganya berusaha diam dan mendengarkan baik-baik dialog orang yang menjadi target mereka bertiga.

Tiba-tiba saja suara di telapak tangan Mike berubah menjadi suara hentakan kaki di lantai. Ketiganya langsung kaget dan buru-buru lari ke kamar terdekat. Jack yang terdorong-dorong mengeluh.

“Hey! Hey! Jangan dorong-dorong dong!”

Saat suara pintu terbuka pelan, Mike langsung membuka pintu kamar Jack yang bertepatan di sebelah kamar Rendy. Jack yang merasa tidak mau kamarnya dimasuki orang lain menahan diri. Tapi didorong Mike dan Blue yang bersikeras mau bersembunyi dari Rendy.

Bruakhh!

Dengan sigap Mike mengeluarkan Avra di seluruh tubuhnya, sehingga suara mereka jatuh tidak terlalu terdengar. Jack yang tertindih kedua orang mengaduh-aduh keakitan.

“Aduh … cepat berdiri, kalian berat!” jerit Jack. Mike membungkam mulut Jack.

“Ssstt! Mereka tidak jadi keluar.”

Blue mengintip sedikit dari balik pintu. “Hey, bagaimana kalau kita kembali mengu—”

Kalimat Blue tak dilanjutkan, ia melongo melihat isi kamar Jack. Begitu juga dengan Mike yang sudah menganga sedaritadi.

“A … pa i … ni?” gumam Blue.

“Makanya aku berusaha menahan kalian …”

Kamar Jack dipenuhi nuansa beruang teddy, di kasurnya ada boneka teddy sebanyak 2 buah. Bahkan perlengkapan Jack semuanya selalu ada gambar teddy.

“Buahaha—” Mike segera membungkan mulut Blue yang hampir hilang kendali.

Krieet

Suara pintu dari kamar Rendy terdengar, mereka kembali siaga akan mengikuti kedua pasangan itu. Setelah langkah kaki terdengar sayup-sayup, barulah ketiga orang itu keluar untuk menguntit. Rupanya arah tujuan kedua tersangka itu adalah kantin. Ketiga penguntit itu semakin keheranan.

“Tak kusangka selera Rendy melakukan begituan di kantin ya?” gumam Jack lalu kembali mendapatkan tatapan tidak enak dari kedua temannya.

“Apa yang kalian lakukan di sini, hah?”

“HIYY!!” Tiba-tiba saja ada suara lain dari arah belakangan ketiganya di persembunyian mereka.

“Oh … Lily, Finne, dan Irine …”

Ternyata mereka adalah Lily, Finne dan Irine yang secara kebetulan juga membuntuti teman seasrama mereka, Lucy.

Mereka berakhir memata-matai berenam. Dan karena aroma masakan yang menggiurkan juga Jack yang tidak bisa mengontrol diri lalu keluar dari persembunyian. Terpaksalah yang lainnya juga keluar, dan berakhir seperti sekarang.

“Hah?! Kenapa aku? Kalian buat saja sendiri!” jawab Rendy kesal.

“Tidak mau!” balas mereka serempak.

“Bahan makanannya lagipula juga sudah habis.”

“Hish … hey, bocah ubanan—”

“Rambutku juga putih, Biru Busuk!” sergah Lucy melipat kedua tangannya.

“Hah, iya-iya! Hey, bocah tengik! Kalau aku bisa mengalahkanmu, buatkan aku masakan anehmu tadi!” tantang Blue membuang muka.

“Se … begitu pentingnya bakmi itu ya?” gumam Rendy. Tatapan tajam langsung menusuk ke arah Rendy.

“Iya-iya! Jangan melihatku seperti itu!”

...***...

Semua sudah berkumpul di sebuah ruang luas dengan ada ruangan berlapiskan kaca di tengah-tengah. Ruang berbentuk lingkaran dengan luas seperti lapangan itulah yang akan menjadi arena pertarungan.

Eits, walau kaca jangan remehkan temuan para peneliti itu. Kaca itu tahan akan ledakan bom atom dan nuklir sekalipun. Itulah kelebihannya, walau hanya ketebalan 5 cm tapi sekokoh itu kaca anti nuklir itu.

Setelah pembukaan, Rendy diminta masuk ke ruang kaca itu lalu dari pintu di seberangnya terlihat Mike sedang menyiapkan sesuatu.

“Tuan Rendy, segera pilih alat perang anda di sini!” ucap salah satu orang di Halfen Lab.

Rendy melihat-lihat jejeran senjata. Ia bingung akan memilih yang mana. Yang pasti dia akan memilih pedang, tapi melihat semua pedang memiliki bobot yang justru hanya akan memperlambat geraknya.

Rendy akhirnya hanya memilih sebuah katana. Rendy segera memakai armor kulit. Agar memudahkan gerakannya ia memilih armor kulit.

“Kedua peserta silakan memasuki arena!” Dengan pelan namun gagah, Rendy berjalan ke tengah, di mana titik temunya dengan musuhnya, Mike.

Rendy bingung begitu melihat Mike, ia hanya menggunakan armor kulit seperti dirinya dan …

“Harpa?” gumam Rendy. Ya, Mike membawa sebuah harpa kecil mungil sekitar setinggi 30cm, sehingga ia bisa membawanya dengan satu tangan.

Triingg ting ting

Suara harpa dimainkan oleh Mike, Mike memainkan jari-jemarinya di senar harpa dengan lihai. Seakan jarinya sedang menari di senar itu dengan lemah gemulai.

“Jangan remehkan sebuah alat musik walau berada di medan perang, tuan Rendy.”

“Ya, kau benar. Apalagi alat musik yang dikendalikan olehmu,” timpal Rendy, raut mukanya seketika berubah serius.

“Mulai!” teriak pengadil. Namun kedua orang itu sama sekali tidak ada yang bergerak.

“Silakan maju duluan, tuan Rendy.”

“Tidak, kamu saja dulu.”

“Baiklah kalau begitu!”

Truiiing

Mike memetik harpanya dari ujung kiri ke kanan menuju arah Rendy. Seketika sebuah gelombang bertekanan tinggi meluncur ke Rendy. Dengan sigap rendy melompat menghindari serangan yang berasal dari harpa itu.

“Luar biasa! Harpa bisa menjadi pistol suara!” seru Jack melihat pertandingan dari monitor. Tak hanya dia yang kagum, semua yang ada di balik kamera CCTV juga terkagum-kagum.

Rendy melesat cepat ke arah Mike, ia berlari dengan katananya di belakangnya. Ia pegang kuat-kuat, begitu ia layangkan sebuah hunusan ke arah Mike.

Mike dengan santai memetik dua senar. Seketika katana beserta pemiliknya terpental jauh akibat berbentrokan sebuah pelindung transparan.

“Hah! Gelombang suara bisa menjadi tameng juga?” heran Jack.

Jika dilihat, sekeliling Mike agak bergelombang-gelombang. Itu karena ada semacam pelindung transparan yang melindungi area Mike dalam jangkauan

tertentu.

“Sudah kuduga, kau juga bisa melakukan hal itu. Cuih!’ Rendy meludah sesaat sebelum ia melesat kembali.

Terpopuler

Comments

Alice(*˘︶˘*).。.:*♡

Alice(*˘︶˘*).。.:*♡

Cuih😅

2021-01-17

1

lihat semua
Episodes
1 「Pʀoʟoԍ」
2 「Fᴇsтιvᴀʟ」
3 「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4 「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5 「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6 「Bᴇʏoɴᴅ」
7 「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8 「Avʀᴀ Tᴇsт」
9 「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10 [Próti Exétasi]
11 「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16 「Aт Scнooʟ」
17 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21 「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30 「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31 「Pʀoмιsᴇ」
32 「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33 「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34 「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35 「A Fᴀтнᴇʀ」
36 「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37 「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38 「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39 「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40 「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41 「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42 「Moтнᴇʀ」
43 「Hᴇcᴀтᴇ」
44 「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45 「Rᴀнᴀsιᴀ」
46 「Boᴅoн」
47 「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48 「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49 「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50 「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51 「Gᴇʟᴀᴘ」
52 「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53 「Aʀтᴇмιs」
54 「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55 「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56 「Hᴀɴтu」
57 「Iɴsιᴅᴇ」
58 「Tᴀмu」
59 「Iмᴘosтoʀ」
60 「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61 「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62 「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63 「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64 「Cнᴀɴԍᴇ」
65 「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66 「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67 「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68 「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69 「Sᴇɴιoʀ」
70 「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71 「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72 「Sι Aʟʙιɴo」
73 「Tuנuᴀɴ」
74 「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75 Pengumuman S2!!
Episodes

Updated 75 Episodes

1
「Pʀoʟoԍ」
2
「Fᴇsтιvᴀʟ」
3
「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4
「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5
「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6
「Bᴇʏoɴᴅ」
7
「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8
「Avʀᴀ Tᴇsт」
9
「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10
[Próti Exétasi]
11
「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16
「Aт Scнooʟ」
17
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21
「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30
「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31
「Pʀoмιsᴇ」
32
「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33
「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34
「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35
「A Fᴀтнᴇʀ」
36
「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37
「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38
「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39
「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40
「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41
「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42
「Moтнᴇʀ」
43
「Hᴇcᴀтᴇ」
44
「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45
「Rᴀнᴀsιᴀ」
46
「Boᴅoн」
47
「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48
「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49
「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50
「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51
「Gᴇʟᴀᴘ」
52
「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53
「Aʀтᴇмιs」
54
「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55
「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56
「Hᴀɴтu」
57
「Iɴsιᴅᴇ」
58
「Tᴀмu」
59
「Iмᴘosтoʀ」
60
「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61
「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62
「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63
「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64
「Cнᴀɴԍᴇ」
65
「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66
「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67
「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68
「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69
「Sᴇɴιoʀ」
70
「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71
「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72
「Sι Aʟʙιɴo」
73
「Tuנuᴀɴ」
74
「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75
Pengumuman S2!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!