“Rendy?” panggil seseorang. Rendy terbangun karena suara orang tersebut.
“Eng?” Rendy sepanjang malam tidur di ruang perawatan. Ia tidur di kursi sebelah Irine terbaring, belum sadarkan diri.
“Kamu sama sekali tidak kemana-mana semalaman? Nanti punggungmu sakit lho.”
“Lebih menyakitkan Irine pastinya, Lucy.” Lucy menghela napas, ia menarik kursi di dekat situ lalu duduk di sebelah Rendy.
“Kau bisa bersiap untuk pertandingan nanti, sekarang aku yang gantikan menjaga Irine. Oke?” ucap Lucy. Rendy memandang Lucy agak lama sebelum mengiyakannya.
“Terima kasih.”
“Hum!”
...***...
Rendy tidak menyiapkan dirinya, ia merasa sudah cukup sekarang. Ia hanya berkeliling, berjalan-jalan menyusuri Halfen Lab itu.
Ada beberapa yang menyapa Rendy. Ada juga yang tidak, juga yang berbisik-bisik membicarakannya tentang pertandingannya dengan Irine.
Setiap mendengar bisikan nama Irine yang orang-orang bicarakan. Yang bisa Rendy lakukan hanya tertunduk. Ia menatap lantai sendu, penuh penyesalan.
Buk!
“Ah, maaf-maaf!” Rendy tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang.
“Eh? Nona Astrid?”
“Ah, tuan Rendy. Lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda?” salam Astrid.
“Baik, bagaimana dengan anda?” Astrid mengangguk.
“Boleh saya tanya sesuatu?”
“Tentu!”
“Apakah Anda mendapat kabar Nenek Durma dan Bibi Angel?” Astrid terdiam sebentar lalu tersenyum hangat.
“Bagaimana seusai ujian, anda menemui sendiri beliau?” saran Astrid. Rendy berpikir sejenak, lalu ia berterima kasih dan berpamitan.
Rendy berjalan cukup jauh dari Astrid. Astrid memandangi punggung Rendy.
“Tak kusangka, ternyata sudah sebesar itu ya?” gumamnya lalu mengalihkan pandangan dan berjalan kembali ke arah tujuan sebenarnya.
...***...
“Masih pukul delapan kurang dua puluh. Mungkin aku harus mengisi perut terlebih dahulu,” gumam Rendy lalu berbelok arah ke kantin.
Untungnya makanan di kantin belum habis, koki sempat menanyakan keadaan Rendy yang semalam tidak terlihat.
“Maaf membuat anda khawatir, Chef Yona. Saya menunggu teman saya yang dirawat di ruang perawatan,” jelas Rendy.
“Hm, begitu ya. Kalau begitu, saya akan membuatkan porsi jumbo untuk anda. Karena semalam belum makan apa-apa, pasti lapar bukan?” ucap koki pria bertubuh besar itu.
Ia menggulung lengannya, semua tatto disana tampak jelas. Dengan terampil ia memasak, wajan ia gerakkan dengan luwesnya.
Selang beberapa menit kemudian, makanan sudah matang. Tercium aroma sedap semerbak dari masakan itu.
Masakan itu semakin membangkitkan selera, saat disajikan dengan rapi di atas piring putih berukuran besar.
“Ini, tuan. Semoga anda menyukainya,” ucap Chef Yona tersenyum ramah, kumisnya seakan melengkung juga seperti senyumannya.
“Terima kasih, Chef.” Segeralah Rendy melahap masakan bernama nasi goreng itu.
Duk!
“Yo! Rendy!”
“Prft! Ohok! Uhuk! Uhuk! Uhuk! A-air!” Rendy terkejut dan mendadak tersedak, karena tepukan Jack di bahu Rendy secara tiba-tiba.
“Ah, eh? Maaf-maaf! Ini air!” ucap Jack tanpa memasang muka sesuai perkataannya.
“Maaf jidat kakekmu! Kalau nyapa orang itu lihat keadaan dulu, kek!” omel Rendy dengan wajah pucat, hampir saja malaikat maut mengintipnya.
“Hahaha, iya-iya. AKu minta maaf deh,” ulang Jack tertawa canggung.
“Bagaimana keadaan Irine?” Tiba-tiba Blue datang, seakan bergilir mengejutkan Rendy.
“Pft! Uhuk!” Lagi-lagi Rendy tersedak. Namun untungnya tak terlalu parah.
“Bisakah datang dengan normal?!”
“Bisa kok,” gabung Mike.
“Hanya Mike yang waras di sini …”
“APA?!” teriak Blue dan Jack bersamaan.
Setelah mengomel, kedua merah dan biru itu ikut memesan makanan. Lelah mengomel, mereka ikut makan jua. Dan tepat pukul setengah sembilan, Rendy bergegas ke arena untuk memulai pertandingan. Tentunya diikuti Blue yang berlari di sampingnya.
“Ingat, tidak boleh ada kesungkanan di sini. Ini pertarungan, ubanan.” Rendy hanya melirik malas. Tanpa diberitahu pun juga sudah tahu, pikir Rendy.
...***...
Keduanya kini berada pada tengah arena.
“Mulai!”
Tahu-tahu, tanpa aba-aba. Blue langsung mengayunkan trisula dari besinya itu. Ombak yang lebih besar daripada pertarungan pertama mereka, muncul dengan kecepatan tinggi. Seakan siap melahap Rendy kapan saja. Rendy langsung berguling menghindari terkaman ombak maut itu.
Air tercecer kemana-mana, belum menyerah. Blue mengayunkan kembali trisulanya. Air yang tersebar itu kembali berkumpul dan menyerang targetnya yang terlepas.
“Serangan sebesar itu di awal pertarungan? Apa tidak berlebihan?” batin Rendy.
“Jangan remehkan aku lagi! Avraku sudah lebih besar daripada sebelumnya, bodoh!” teriak Blue seolah-olah dapat membaca pikiran Rendy.
Kraak!
Tidak menghindar, Rendy justru membekukan ombak raksasa itu. Blue berdecak kesal serangannya tidak bisa digerakkan lagi.
“Jangan harap menggerakkan lagi yang sudah dialiri Avra milikku! Hya!” Rendy menghadapkan tangannya ke Blue.
Seketika es besar itu memanjang dan meruncing bagai cakar yang memanjang siap membunuh siapapun yang terkena. Blue dengan sigap menghindar sedikit, lalu ia menyentuh es itu.
Avra Rendy serasa tertarik, kemudian keduanya terjadi tarik-menarik Avra. Karena seri, es besar itu justru hancur lebur seperti dilelehkan.
Rendy dengan segera mencabut katana dari sarungnya. Ia melesat secepat kilat, ia tarik katananya sampai di atas kepalanya. Dan mengerahkan segala kekuatan untuk memotong Blue.
Hendak melindungi diri, Blue membuat sebuah tangan dari air dan melakukan gerakan untuk menghempaskan Rendy.
Sedetik sebelum tangan air itu mengenai Rendy, Rendy menyengir. Dengan cekatan, Rendy segera mengubah Avra air itu menjadi miliknya. Air membeku secepatnya dan bergerak membungkus pedang Rendy.
Kejadian itu hampir tidak bisa tertangkap mata manusia biasa. Bahkan Blue sendiri terkejut bukan main.
Beruntung memiliki reflek bagai air, Blue berguling menghindar. Pedang berselimut es tebal itu hampir menabrak lantai. Namun langsung berbelok ke arah Blue.
Blue yang setengah siap segera meloncat. Potongan es yang sengaja dilepas dari pedang itu terlempar jauh. Menabrak dinding kaca, hingga terdengar suara dentuman keras.
“Kyaa!” jerit penonton di dekat dinding kaca itu berusaha menghindar.
“Semua tenang saja, dinding kaca sudah dimodifikasi ketebalannya sepuluh kali lipat dari sebelumnya,” sela pembawa acara.
“Apa-apaan itu tadi? Terlambat sedikit saja aku sudah penuh terbelah menjadi dua …” batin Blue.
Rendy berlutut, dengan pose pedangnya dipegang mengarah ke Blue. “Terima kasih …” gumamnya menyengir. Blue membelalak.
Semua es yang tercecer akibatnya, berkumpul ke dirinya. Seketika armor es terbentuk. “Aku jadi tidak perlu repot-repot membuat air berjumlah banyak.”
“Ck, sial …” umpat Blue lirih.
Secepat kilat, Rendy menerjang kembali Blue. Blue berulang kali menampik serangan Rendy dengan dinding airnya. Walau tetap terpental, tapi dapat meminimalisir walau sedikit.
“Frost Armor : Second Stage!”
Ketebalan zirah Rendy bertambah dengan aura biru bersuhu amat rendah, juga tambahan duri-duri di bahunya.
“Kusarankan jangan sampai menyentuh sedikitpun zirah ini. Karena kau akan menjadi patung es yang terindah …” cengir Rendy.
“Ka-kau pasti bercanda … Seventh Sea Spear!”
Blue menerjang Rendy. Namun dalam hitungan detik, air itu membeku dan hancur menjadi bongkahan karena zirah dan pedang Rendy.
“Sial, sial, sial … SIALAN!!” Blue tiba-tiba memancarkan aura biru, matanya memancarkan cahaya biru terang. Avra pekat terpancar dari tubuhnya.
“Kh … KHAHAHAHAHAHA!” Rendy tertawa lepas.
“Sesuai rencanaku …” gumamnya.
Blue menciptakan naga air. Semua penonton takjub dengan naga dari air itu. Naga air itu seakan keluar dari bawah Blue.
Blue hanya diam dengan aura biru terus memancar, di tengah-tengah naga yang terus keluar memanjang.
“Matilah kau!!” seru Blue mengarahkan naga airnya ke Rendy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Alice(*˘︶˘*).。.:*♡
haha
2021-01-17
1