「Aɴᴀκ Bᴀʀu」

“Ada apa, Pak Locius?” tanya Rendy.

“Apa benar kamu belum tujuh belas tahun?” tanya Pak Locius.

Rendy diam, ia lalu menjelaskan bahwa selama ini ia tidak tahu tanggal lahirnya. Tanggal ulang tahunnya ditetapkan di hari ia dibawa ke panti asuhan saat masih kecil. Dan menurut tanggal itu, ia baru berumur enam belas tahun.

“Baiklah, agar tidak membuat yang lain menunggu lama. Sementara ultah kamu pura-puranya tanggal .... hm ... dua puluh delapan ya?"

“Baik,” sahut Rendy. Rendy akhirnya diminta Pelatih Bennetta untuk kembali ke ruang pertemuan.

...***...

“Hey, Rendy. Ada apa?” tanya Jack begitu Rendy kembali duduk.

“Tidak ada urusannya denganmu,” jawab Rendy dingin.

“Ayolah, kita kan teman!”

“Sejak kapan kita berteman?”

“He? Kau kenapa jahat sekali sih, Rendy?”

“Baik, pertemuan berikutnya akan dimulai tanggal dua puluh sembilan! Sambil menunggu usia matang dari tuan Rendy! Apa ada yang keberatan?” ujar Pelatih Bennetta berhasil membuat ruangan kembali sunyi.

“Saya.”

Salah seorang mengangkat tangan, tak lain adalah Blue, putra Poseidon.

“Apa hal yang membuat anda keberatan Tuan?” tanya Bennetta.

“Kenapa tidak langsung saja pelatihannya? Bukankah jika hanya karena satu orang akan menghambat yang lain?” protesnya.

“Baik, saya paham hal itu. Tapi, perlu diingat! Kita di sini bergerak secara kelompok, Tuan Blue. Bukan individu! Satu senang semua ikut senang. Satu susah semua ikut susah, paham?” jelas Bennetta. Terdengar suara erangan dari Blue tak terima.

“Lalu Tuan Rendy, anda bisa bersekolah normal dahulu seraya menunggu hari ultah Anda. Sedangkan yang lainnya akan tinggal di asrama mulai sekarang.”

“Baik!” jawab semua serempak. Lalu Pelatih Bennetta keluar dari ruangan.

Semua kembali ricuh, ada yang masih berlanjut memperdekat diri satu sama lain dan juga hanya perbincangan ringan.

“Hey Rendy? Kamu tidak merasa jadi penghambat kami?” tanya Jack agak cengengesan, kesannya adalah meledek.

“Tidak, aku merasa bukan aku yang menjadi penghambat tapi orang lain,” jawab Rendy santai.

“Hah? Siapa? Blue kah?”

Begitu namanya disebut Blue melirik tajam ke arah Jack.

“Itu kamu,” jawab Rendy santai lalu meninggalkan Jack yang masih keheranan.

“Hey, Frost!” panggil seseorang menghentikan Rendy.

“Ada apa, Blue?” jawab Rendy menoleh ke belakang. Blue menghampiri Rendy, kini mereka berdiri saling berhadap-hadapan.

“Jangan pernah harap menang dariku, ingat itu!” ancamnya.

Aura di sekitar dua orang ini tiba-tiba menjadi mencekamkan. Semua menelan ludah, memperkirakan bahwa akan terjadi pertikaian di antara mereka.

Tapi tidak, Rendy berbalik melanjutkan jalannya untuk pulang. Seakan Blue tidak pernah mengajaknya bicara sama sekali.

...***...

“Rendy, bagaimana? Apakah sudah menemui Pak Walikota?” tanya Bi Angel sukses membuat mata Rendy melebar.

“Jangan bilang, Bi Angel dan Nek Durma adalah suruhan Pak Locius juga?” tanya Rendy tepat sasaran.

“Hohoho, anak satu ini memang pintar ya,” puji Nek Durma.

“Tapi percayalah, Nak. Kami sudah menganggapmu seperti keluarga kami sendiri,” lanjut Nek Durma.

“Sudah-sudah, makanannya jadi dingin tuh!” celoteh Bi Angel.

...***...

Kriiiiiiing!

Suara alarm kembali menggema di telinga Rendy. Membuyarkan mimpi indahnya semalam.

Segeralah Rendy membuka matanya. Walau sudah bangun, sulit rasanya ingin melepaskan diri dari jeratan nyaman Kasur.

Dengan sekuat tenaga, Rendy mengumpulkan tenaga di kakinya lalu bangun dengan satu hentakan kedua kakinya.

"Hah ..."

Rendy menghela napas berhasil keluar dari belenggu kasur. Tanpa babibu, ia ke kamar mandi dan segera makan sarapannya. Lalu pergi ke stasiun seperti biasanya.

Begitu sampai di stasiun, seperti kemarin ia menunggu kereta datang. Saat berjalan ke bangku yang tersedia, Rendy tak sengaja menabrak seseorang.

"Akh!" pekik orang itu. Rendy segera menutup bukunya dan meminta maaf.

"Kalau jalan lihat jalanmu! Jangan lihat buku!" omel orang itu.

Gadis berambut putih dengan pupil mata coklat mengkilap. Pupil mata coklat itu memandang dengan tajamnya, bagai sebilah pedang. Terpampang jelas kepintaran gadis itu dari matanya.

Gadis itu memandangi Rendy dari ujung sepatu hingga ujung rambut. Begitu juga Rendy ke gadis berambut putih itu.

"Apakah ...

"Kamu putri Athena!?"

"Kamu cucu Poseidon!?" tanya keduanya kompak.

"Dari mana kamu tahu, heh?" tanya sinis Sang Putri Athena itu.

"Dari auramu menunjukkan keangkuhan ibumu," sindir Rendy.

"Hah, tampangmu memang bagus seperti ibumu. Tapi sepertinya sifatmu sama-sama menyebalkannya dengan kakekmu," balas gadis itu.

"Siapa namamu, bocah?" tanya Rendy.

"Lucya Athena."

"Rendy Winter Frost."

Rendy menjulurkan tangannya. Bukannya dibalas dengan terbuka dan ramah, Lucy justru menampar tangan Rendy. Diperlakukan seperti itu, Rendy menatap tajam ke gadis di depannya itu.

"Baiklah, aku memaafkanmu soal itu. Kau akan kemana?" tanya Rendy menahan emosi.

"Aku tidak perlu pengampunanmu. Tentu saja sekolah, bodoh!" jawab Lucy.

"Sekolahmu di mana, cerewet?"

"SMA Diamond 2, dasar kepo."

Rendy sempat kaget, bahwa gadis ini sesekolah dengannya. Tapi ia hanya membulatkan bibirnya membentuk oval. Saat kereta tiba, Lucy naik dan di belakangnya diikuti Rendy.

Begitu tiba di pemberhentian berikutnya, Rendy masih tetap di belakang Lucy. Mengetahui hal itu, Lucy marah. Ia berbalik kasar menghadap ke Rendy.

"Hey, stalker! Jangan ikuti aku!" bentak Lucy.

"Siapa yang mengikutimu?" balik Rendy mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Lalu kenapa kau di belakangku terus?" tanya Lucy kesal.

"Aku siswa SMA Diamond 2 juga, tahu!"

Rendy menunjukkan kartu pelajarnya ke Lucy. Seketika wajah Lucy memerah malu.

"Ya bilang lah! Kan bisa bikin orang parnoan kalau kamu tidak bilang, huh!"

Lucy berbalik lagi dan menggembungkan pipinya. Mereka pun kembali berjalan kaki ke sekolah mereka yang sudah tinggal berjarak lima meter.

Saat masuk gerbang, Rendy mendahului Lucy. Lucy tak peduli akan manusia di depannya. Jika ingin lewat ya lewat saja, begitu pikirnya. Rendy akhirnya jauh meninggalkan Lucy di belakang. Lucy begitu memasuki sekolah, ia baru menyesal membiarkan Rendy pergi dahulu.

Sekolah ini terlalu luas untuknya. Ia adalah anak pindahan dari Beryl District. Ditambah lagi, banyak orang berlalu lalang yang menambah kepala Lucy pening melihatnya.

"Pe-permisi? Ruang TU dimana ya?" tanya Lucy ke salah seorang murid di sana. Murid itu menunjuk arah ruang TU. Segeralah Lucy berlari ke arah yang ditunjukkannya.

"Permisi? Saya murid baru," salam Lucy membuka pintu TU sedikit.

Terpopuler

Comments

E×odia

E×odia

Lucy tsundere kah?

2020-09-24

5

lihat semua
Episodes
1 「Pʀoʟoԍ」
2 「Fᴇsтιvᴀʟ」
3 「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4 「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5 「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6 「Bᴇʏoɴᴅ」
7 「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8 「Avʀᴀ Tᴇsт」
9 「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10 [Próti Exétasi]
11 「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16 「Aт Scнooʟ」
17 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21 「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30 「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31 「Pʀoмιsᴇ」
32 「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33 「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34 「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35 「A Fᴀтнᴇʀ」
36 「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37 「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38 「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39 「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40 「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41 「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42 「Moтнᴇʀ」
43 「Hᴇcᴀтᴇ」
44 「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45 「Rᴀнᴀsιᴀ」
46 「Boᴅoн」
47 「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48 「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49 「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50 「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51 「Gᴇʟᴀᴘ」
52 「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53 「Aʀтᴇмιs」
54 「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55 「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56 「Hᴀɴтu」
57 「Iɴsιᴅᴇ」
58 「Tᴀмu」
59 「Iмᴘosтoʀ」
60 「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61 「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62 「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63 「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64 「Cнᴀɴԍᴇ」
65 「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66 「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67 「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68 「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69 「Sᴇɴιoʀ」
70 「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71 「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72 「Sι Aʟʙιɴo」
73 「Tuנuᴀɴ」
74 「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75 Pengumuman S2!!
Episodes

Updated 75 Episodes

1
「Pʀoʟoԍ」
2
「Fᴇsтιvᴀʟ」
3
「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4
「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5
「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6
「Bᴇʏoɴᴅ」
7
「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8
「Avʀᴀ Tᴇsт」
9
「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10
[Próti Exétasi]
11
「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16
「Aт Scнooʟ」
17
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21
「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30
「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31
「Pʀoмιsᴇ」
32
「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33
「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34
「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35
「A Fᴀтнᴇʀ」
36
「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37
「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38
「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39
「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40
「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41
「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42
「Moтнᴇʀ」
43
「Hᴇcᴀтᴇ」
44
「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45
「Rᴀнᴀsιᴀ」
46
「Boᴅoн」
47
「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48
「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49
「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50
「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51
「Gᴇʟᴀᴘ」
52
「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53
「Aʀтᴇмιs」
54
「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55
「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56
「Hᴀɴтu」
57
「Iɴsιᴅᴇ」
58
「Tᴀмu」
59
「Iмᴘosтoʀ」
60
「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61
「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62
「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63
「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64
「Cнᴀɴԍᴇ」
65
「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66
「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67
「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68
「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69
「Sᴇɴιoʀ」
70
「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71
「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72
「Sι Aʟʙιɴo」
73
「Tuנuᴀɴ」
74
「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75
Pengumuman S2!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!