...---------->[ Balaikota ]<----------...
...----------> [Rendy's POV] <----------...
Aku segera masuk ke dalam balaikota dan menuju ke meja layanan, atau biasa disebut customer service. Rencanaku adalah segera memberikan kartu ini ke customer lalu pulang. Selesai.
“Selamat pagi, ada yang bisa kubantu?” sambut customer ramah. Aku pun merogoh saku jaketku, di mana kartu itu kusimpan. Lalu kuletakkan di meja depan customer.
Customer itu memandangi kartu dari plastik tersebut dengan serius lalu kembali tersenyum ramah sambil keluar dari tempatnya.
“Saya sudah menunggu anda cukup lama, Tuan Rendy…” ucap customer itu.
Bagaimana dia bisa tahu namaku? Kenapa tiba-tiba semua orang tahu namaku?
“Mari, ikut saya!” ajaknya.
Aku bingung kenapa malah begini? Aku kan hanya ingin mengembalikan. Dan aku memilih tuk diam mencerna kejadian.
“Ayo Tuan, saya tunjukkan pemilik kartu itu.”
Akhirnya aku hanya bisa mengikuti wanita customer itu. Sebelum melangkah aku segera berbalik mengambil kartu yang malangnya nyaris tertinggal.
Customer itu berjalan menuntun. Di persimpangan pertama ia berbelok ke kiri. Aku hanya mengikuti di belakangnya.
Di belokan itu terlihat pada ujung jalan ada lift. Yaitu lift barang dan lift umum. Balaikota apa ini, yang ada lift barangnya?
Di dalam lift, kami hanya diam seribu diam. Tak ada topik, toh sebenarnya tujuanku hanya mengembalikan kartu ini kan?
“Tuan Locius sudah menunggu anda lama. Beliau sudah merencanakan pertemuan ini,” ujarnya menekan tombol lift entah berapa apa peduliku. Aku lebih penasaran dengan perkataannya.
Kenapa ia mengatakan ‘merencanakan’? Apakah yang bernama Locius yang dia maksudkan adalah walikota? Tapi kenapa ia merencanakan semua ini? Apa tujuannya mengundangku dengan cara ‘itu’?
Ting!
Suara lift menandakan kami sudah sampai di lantai tujuan. Ia keluar terlebih dahulu dan berbelok kanan. Seperti tadi, aku hanya membuntut di belakangnya
Tak lama, kami sampai di depan pintu kayu. Ruangan itu jelas ruangan yang penting. Karena corak pintu kayu itu cukup megah.
Customer itu mengetuk pintu, dan tak butuh waktu yang lama. Ada jawaban suara pria dari dalam mengizinkan masuk. Langsung saja customer itu membuka pintu itu ke kanan dan kiri.
“Saya mengantar tamu Anda, Tuan.”
“Baik, terima kasih. Silakan lanjutkan pekerjaan Anda, Bella.” Segeralah customer yang bernama Bella itu mengundurkan diri.
Saat aku menengok wajah pria di meja kerja itu. Aku membelalak sempurna. Bagaimana aku bisa lupa dengan orang itu, walau sudah bertahun-tahun tak pernah bertemu lagi.
“Kau?! Pria misterius!?” kagetku spontan.
Aku sendiri saja, terkejut karena aku berteriak begitu. Di depan orang penting lagi. Bodoh! Rendy bodoh! Aku ingin mengutuk diriku sendiri!
“Ah, maaf. Maaf atas kelancangan saya, Pak Walikota.”
“Tak apa, jadi kau memanggilku selama ini dengan sebutan itu? Tak apa … tapi yang pasti sekarang kamu sudah tahu namaku kan?” jawabnya tersenyum riang.
“Ya ... Pak Locius.”
“Hm… Sebenarnya aku kenal dengan ayah dan ibumu. Bisa dibilang aku adalah pamanmu, tapi aku tak suka dengan sebutan itu. Jadi bagaimana kalau kau panggil aku ‘ayah’?” tawarnya.
Bagai petir di siang bolong. Aku sungguh tak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Selain ia mengetahui ayah-ibuku, lalu ia ingin memintaku memanggilnya ayah?
“Maaf Pak Locius, tapi setelah semua yang telah Anda perbuat. Saya rasa itu berlebihan,” jawabku menolak.
“Hm begitu ya … baiklah … silakan duduk dulu, Rendy.”
Pak Locius menunjuk sofa di dekat meja kerjanya itu. Yang sepertinya juga ia gunakan sebagai tempat istirahat dan menjamu tamu.
Raut wajah beliau langsung berubah serius begitu aku duduk.
"Jadi apa yang ingin kau lakukan kemari?” tanyanya.
Aku meletakkan kartu nama tadi di atas meja kerjanya dengan sedikit berdiri dari sofa. Beliau memandanginya cukup lama. Lalu berteriak ke ruang sebelah. Ruangan tanpa pintu itu sepertinya ruang asistennya.
Tak selang waktu yang lama, asisten wanita bernama Astrid itu keluar dari sana. Ia berulang kali hormat sambil berterimakasih. Aku hanya tertawa canggung karena tak tahu harus menanggapi apa.
“Jadi Rendy, sebenarnya Nona Astrid bukan tidak sengaja menjatuhkan kartu namanya. Karena yang merencanakan semua ini adalah Bapak,” ucapnya dengan nada datar.
“Hm, jadi benar yang dikatakan customer tadi. Anda sengaja mengundang saya dengan cara ‘itu’. Lalu apa tujuan Anda mengundang saya dengan cara rumit?” Aku tersenyum masam begitu tahu kenyataan itu.
“Baiklah. Anda adalah Demi-God.”
“Apa? Bisa ulangi?”
“Anda seorang Demi-God. Rendy, kamu tidak salah dengar, atau Bapak tidak sedang bercanda. Ibumu adalah seorang dewi Angin, Anemoi Skeiron.” Bahkan kenyataan ini melebihi ekspetasi dari kehidupanku. Pantas saja, aku bisa mengalahkan monster sekolah, bisa regenerasi dengan tingkatan di luar nalar manusia biasa.
“Haha … Pantas saja, ia memberiku selamat. Lalu namanya seperti nama dalam sejarah …”
“Apakah beliau menemui anda?’
“Ya! Selalu mengganggu tidurku!’
“Tenangkan diri Anda …” Aku menghela napas kasar.
“Lalu tujuan utamaku kemari juga bukan hanya pemberitahuan itu kan?” Raut wajah pria di depanku lagi-lagi berubah menjadi seperti puas dan lega.
“Syukurlah aku tak keliru. Anda benar anak beliau, pandai. Tentu saja, Rendy– tujuanmu kemari adalah mengikuti latihan untuk para Demi-God agar menjadi Demi-God dewasa.”
“Apakah hanya aku yang akan lati—”
Tiba-tiba saja buka ruangan dibuka kasar hingga terantuk ke tembok. Tentu saja itu membuat semuanya terkejut, termasuk aku.
“Hai Paman~~” salamnya yang tidak normal. Seorang lelaki remaja berambut merah panjang, sampai dikuncir kecil seperti ekor ikan. Dan untuk tambahan, dia gila.
Saat sampai di depan meja kerja Pak Locius. Ia melirikku heran.
“Hey Paman, siapa bocah itu?” tanyanya dengan perasaan tak bersalah.
Kurang ajar! Aku sudah SMA masih dibilang bocah?! Lalu kau apa, hah!?
“Dia juga sama denganmu, Jack …” Pak Locius memijat keningnya.
“Hah?! Jadi … dia … Demi-God?” Ia memerhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Eh!! Kau!! Kau pasti anak dalam ramalan!?” serunya. Aku segera berdiri dan mendekat.
“Hai, aku Jackson Fireson! Putra Dewa Api, Hephaestus!” salamnya menjulurkan tangan. Aku balas jabat tangannya.
“Kau pasti Rendy Winter Frost!” lanjutnya.
“Ya, kau sepertinya lebih tahu-menahu tentang diriku daripada aku sendiri.”
“Bagaimana bisa begitu? Aku saja sudah tahu sejak kecil …”
“Jack, dia baru saja hari ini Paman beritahu ...” Pak Locius kembali memijat keningnya.
“Oh … baiklah! Ayo kita ke taman!”
Tanpa meminta pendapat, ia langsung menarik tanganku. Aku hanya bisa mengikuti ritme larinya agar tidak terjungkal atau tersandung.
Taman itu cukup jauh dari ruang kerja walikota. Harus ke lantai dasar, lalu ke belakang balaikota. Dan perjalanan dilakukan dengan berlari. Aku sempat berpikir bahwa anak merah ini hyperaktif.
Saat sampai di taman, ia berhenti dan terdiam. Aku menengok ke depannya, karena ia terlihat seperti melamunkan sesuatu. Benar saja, ada seorang gadis berambut pirang sedang berjongkok di rerumputan.
“Rendy, siapa dia?” bisik Jack.
Aku menggeleng pelan. Gadis itu menoleh ke arah kami. Jack langsung berlari mendekatinya, dan menarikku juga tentunya.
“Siapa kamu?” tanya gadis itu seraya berdiri.
“Aku Jackson Fireson, putra Dewa Hephaestus. Dan kamu?”
“Lilyanne Zeus, putri Zeus.”
“Woah! Putri Dewa Langit!” seru Jack terkagum-kagum.
“Dan kakak tampan?”
“Ekh! Kok kamu panggil dia tampan sedangkan aku?”
“Diam, jelek!”
“Ahaha … aku Rendy Winter Frost … putra Dewi Anemoi…”
“Dan …” imbuh Lily. Aku memiringkan kepala bingung.
“Cucu Poseidon!” serunya.
”Oh.. Jadi ayahku adalah anak Poseidon?”
“Ya! Dan kamu Alpha Demi-God. Alpha Demi-God adalah Demi-God yang memiliki dua atau lebih keturunan dewa!” jelasnya semangat.
“Oh … Kurasa kalian memang benar-benar tahu-menahu tentangku …”
“He? Kan kau anak dalam ramalan kenapa bisa tidak tahu bahkan pernah dengar?” tanya Lily. Jack mengangguk setuju dengan Lily.
“Sebenarnya aku baru beberapa menit yang lalu tahu tentang kebenaran diriku.”
“Oh …”
“Yasudah, ayo kita berkumpul dengan lainnya!” ajak Lily menarik Jack, dan aku ikut ditarik.
“Ekh! Lainnya?!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
IPR4Z
up up up
2021-05-08
1
hikimori!
kira kira untuk apa sih buat demi-god ? ada tugas di dunia fana?
2020-10-28
4
Manusia hidup
pandangan orang goblok yaitu saya sendiri dalam nose bego:TBC=TULI BUDEK CONGEEEEEE
2020-10-26
6