Sudah sekitar satu setengah bulan semenjak tes avra. Tak terasa waktu mengalir begitu saja, kini adalah waktunya mereka benar-benar ditempa. Inilah awal dari petualangan mereka yang sebenarnya.
“Selamat pagi, semuanya!” sapa ketua dari pelatih, tak lain adalah Bennetta Sang Wonder Women di cerita ini. “Syukurlah, sepertinya kalian hanya kehilangan semangat kalian saja. Setidaknya bukan tangan, kaki, kepala,
atau pun nyawa ya?”
“Pelatih, apa maksudmu? Kami belum mau mati muda…” celoteh Jack berloyo-loyo di bangkunya. Pelatih Bennetta berjalan mendekat ke meja Jack, baris depan. Jack menengadahkan kepalanya malas kea rah Pelatih Bennetta yang sedang tersenyum manis. Semua menautkan alis, kebingungan atas perilaku pelatih mereka satu ini yang tiba-tiba tidak biasa.
BRAAAKK!
“BANGUUUNN!! PEMALAAAS!! INI JAM BERAPA DAN KALIAN MASIH MENGANTUK???!! BAGAIMANA KALIAN MAU MELINDUNGI ALAM SEMESTA KALAU KALIAN SAJA MENJAGA KEPALA TEGAK SAJA TIDAK BISA, HAH?!” Semua tersentak kaget, mata langsung segar bugar begitu meja Jack yang digebrak. Lalu pemilik meja
tersebut? Saking terkejutnya ia sudah berbusa dan mengompol.
---------->+<----------
“Baik, semua sudah cuci muka kan?” tanya Pelatih Bennetta. Semua mengangguk cepat, takut akan ada petir kedua di pagi yang cerah seperti ini.
“Hari ini tidak aka nada pelajaran,” terang Bennetta. “Yes!! Jamkos!” seru Jack. Seketika penghapus papan tulis berciuman dengan hidungnya.
“Tuan Jack, mohon mengontrol diri anda…” Jack mengaduh-aduh sambil mengelus hidungnya yang mimisan dan merah.
“Untung Pelatih tidak menggunakan Avra saat melemparnya tadi, atau hidungmu akan remuk,” bisik Lily.
“HIIY!!”
“Baik, saya lanjutkan yang ingin sampaikan tadi. Minggu depan kalian akan melaksanakan tahap tes untuk ujian pertama!” Semua membeliakkan mata, tak disangka ujian akan dating menghampiri mereka.
“Hah? Di sini juga ada ujian? Kenapa dimana-mana ada ujian sih? Pasti ujian tertulis lagi,” gerutu Jack memanyunkan bibirnya. “Sayangnya, ujian ini bukan ujian tertulis Tuan Jack.”
Jack langsung semringah mendengar pernyataan Bennetta, “Tapi ujian yang berat.” Raut wajah Bahagia itu seketika menghilang.
“Kalian ingat akan atribut-atribut yang diperlukan seorang Demi-God sempurna kan?”
“Ingat!”
“Sebutkan!”
“Senjata, Zirah, Spirit, dan Magical Beast!” jawab semua serempak. “Bagus, anak-anak!”
“Jadi, tujuan utama dari agenda kita adalah senjata. Bukan begitu, Pelatih?” tanya Lucy. Pelatih Bennetta tersenyum manis, “Bukan, kita akan menentukan nomor satu kalian sebagai ketua atau coordinator kelompok kalian. Ingat kita bergerak sebagai tim bukan individu!”
"Lalu apa guna kita menyebutkan atribut tadi? Pelatih kita ini agaknya kurang sehat hari ini..." batin Lily.
“Sebelum itu kalian akan diuji oleh salah satu pelatih,” lanjut Pelatih Bennetta. “Pra-Exam akan dilakukan dengan Pelatih Kay.”
Pelatih Kay adalah pelatih bertarung para Demi-God. Kemampuan bertarungnya tidak bisa diremehkan sama sekali, bahkan hanya dengan tangan kosong pria bernama Kay itu bisa membuat Demi-God sebelumnya kewalahan. Demi-God pernah dilatih olehnya, namun tidak seperti pelatih lainnya yang setiap harinya
bertemu. Pelatih Kay hanya sekali dalam sebulan akan melatih. Jadi mereka hanya pernah bertemu sekali. Kecuali Rendy, yang pernah dua kali bertemu karena undangan beliau sendiri. Yang adalah murid dari ibu Rendy.
“Hai, anak-anak! Lama tak jumpa. Tak kusangka sudah sekitar sebulan kita tidak bertemu. Dan bertemu lagi sebagai pembimbing Pra-Exam kalian,” sapa Pelatih Kay, dengan nama Panjang Kayshin.
“Jelaskan saja langsung ke intinya Pelatih,” potong Rendy. ”Anda masih belum berubah ya, Tuan Rendy. Baik, akan saya jelaskan. Selama seminggu ini, kalian boleh bersiap-siap dahulu untuk Pra-Exam kalian. Untuk Pra-Exam,
jika kalian gagal boleh diulang terus setiap harinya. Dengan deadline sama, yaitu selama seminggu. Jadi kalian memiliki kesempatan tujuh kali percobaan.”
“Lalu, bagaimana tesnya, Pelatih?” tanya Blue. “Maaf, tuan. Untuk hal itu, akan dijelas minggu depan.” Raut muka semuanya langsung berubah, tak disangka jika tes untuk ujian akan semengejutkan ini.
“Selamat menikmati waktu kalian selama seminggu!” tutup Pelatih Kay keluar ruang latihan.
Keadaan sesaat hening, tidak ada yang berkutik dari pose berpikir masing-masing. Semua berpikir serius akan rencana mereka selama seminggu.
“Apa rencanamu, Rendy?” tanya Lucy berbisik. Lucy menoleh teman sebangkunya yang tampak berpikir lebih santai daripada yang lain.
“Aku sudah memprediksi hal ini, jadi aku tidak terlalu kaget. Untuk itu, aku harus menang,” jawab Rendy mengejutkan.
“Maaf, tuan Rendy. Tapi kau hanya akan bermimpi! Aku yang akan mengalahkanmu, dan jadi pemenang!” sahut seseorang, tak lain dan tak bukan adalah Blue.
“Teruslah bermimpi…” cengir Rendy.
“Sepertinya mereka berdua akan menjadi rival abadi….” gumam Lily. “Iya, aku setuju!” balas teman sebangku Lily, Jack. Keduanya menghela napas berat.
---------->+<----------
“Kamu sama sekali tidak bosan di sini sendirian, huh?” tanya Jack. Perpustakaan kini tamunya tidak hanya Rendy dan Lucy. Namun ketambahan pengikut lain yaitu Jack, Lily, dan Finne.
“Kalian yang kubingungkan justru,” timpal Rendy mendengus malas. “He? Kenapa?” tanya Lily.
“Kalian tidak belajar sesuatu kek? Kenapa menggangguku saja?” gerutu Rendy.
“Apalagi yang bergerumul semakin banyak. Awalnya hanya Lucy, lalu Lily, lalu si tukang onar, dan Finne!” imbuhnya.
“Kenapa aku tukang onar?” protes Jack. “Karena kau berisik!” sembur Lily.
“Memang apa yang kau baca?” tanya Lucy. “Kemampuan 7 pedang kabut,” jawab Rendy.
“Hah? Kenapa Tujuh Ksatria Pedang Kabut?” tanya Lily. “Kalian tidak tahu ya?!” tanya Rendy. Semua menggeleng termasuk Finne.
“Pelatih Kay adalah salah satu penerus Ketujuh Ksatria Pedang Kabut tau!”
“He!?”
“Inilah mengapa membaca itu perlu, bodoh!” ledek Rendy.
“Pantas dia sangat mahir menggunakan pedang, walau hanya pedang kayu!”
“Iya, menggunakan pedang saja sudah seperti membawa sebuah jarum!”
“Tidak! Bahkan seperti orang menari dengan sebuah jarum!”
“I-iya, saya se-setuju!”
“Hah… Makanya belajar!” ulang Rendy. Semua menatapnya datar, “Dasar kutu buku!!” teriak Jack, Lily, dan Lucy.
“Sa-saya setuju dengan nona Lucy dan nona Lily!” sambung Finne.
---------->+<----------
Hari dimana Pra-Exam dilaksanakan pun tiba, semua menunggu giliran masuk ruang latihan dengan jantung berdebar-debar. Semua merasa tidak siap dengan persiapan mereka selama seminggu ini mengingat pembimbing kali ini adalah Pelatih Kayshin. Dan kemungkinan terbesarnya adalah bertarung dengannya,
dengan Sang Ksatria Pedang Kabut.
Semua yang keluar dari pintu memasang mimik wajah yang berbeda-beda, tapi satu kesamaan yaitu menunjukkan kegagalan. Tiba giliran terakhir yaitu Rendy.
“Selamat datang, tuan Rendy!” sambut Kay antusias. “Siang, Pelatih.”
“Saya pikir anda akan lebih siap daripada rekan anda yang lainnya. Tapi melihat anda berkeringat, sepertinya anda bisa juga ketakutan ya?”
“Semua orang bisa ketakutan, tuan Shin. Tapi untuk anda ketahui, keringat ini bukan karena saya takut.”
“Hm, menarik! Baik, akan saya jelaskan peraturan dari tes kali ini. Waktu anda maksimal adalah lima belas menit untuk melakukannya,” jelas Kay lalu mengenakan sebuah topeng hitam.
“Rebut topeng ini dari saya, maka anda lulus!” sambung Kay memasang kuda-kuda dengan pedang kayunya. Rendy lalu mengambil pedang kayu yang ada di lantai.
“Mulai!”
***
Selang hanya 5 menit, mereka berdua sudah saling memunggungi. Kay menunduk, mukanya suram. Siapa sangka bahwa tangan kiri Rendy yang tidak memegangi pedang sudah mendapatkan topeng hitam itu dengan sedikit
retakan dibuatnya.
“Tak saya sangka, anda sengaja berkeringat untuk mengendalikan keringat tersebut….”
Kratatak!
“…..menjadi es.” Es tipis yang membekukan tangan dan kaki Kay, sehingga tidak bisa bergerak. Ditambah keringat yang dihasilkan oleh Kay sendiri, sudah cukup dengan kekuatan mengembangkan air hanya dengan beberapa mili keringat. Juga sudah cukup untuk membentuk es tipis sebagai belenggu musuh.
“Saya sudah yakin, hanya dengan mengandalkan kekuatan tidak akan mungkin bisa mengalahkan anda, Pelatih. Karena anda merupakan penerus Ksatria Pedang Kabut. Saya juga dusah menduga bahwa peraturan akan mengatakan hanya merebut tanpa peraturan tambahan. Ini juga berlaku melatih kemampuan menyusun
strategi,” jelas Rendy lalu berjalan meninggalkan ruang latihan setelah melempar topeng itu ke Kay.
Yang berhasil lolos hanyalah Rendy, Lucy, Blue, dan Irine. Dan ujian berikutnya akan diadakan dua minggu lagi. Pertarungan antar Demi-God demi memperebutkan gelar ketua di antaranya.
*bersambung ....
[**Like, Comment, Vote/Tips, Favorite]
[⭐⭐⭐⭐⭐***]
~Kosapedia~
Próti Exétasi : Ujian Pertama
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Bintang Biru
saya mampir tor, semangat terus ya. Salam hangat dari pangeran matahari.🤗
2020-10-24
1