Esok hari,yaitu dini hari. Hari dimana Rendy kembali mengikuti ujian pertama yaitu penentuan ketua Demi-God. Rendy hanya bisa tidur selama 3 jam, itu saja karena memang dia tiba-tiba ketiduran di perpustakaan. Ia tidak bisa berhenti khawatir tentang pertandingannya dengan Irine hari ini. Dia mati-matian belajar memahami beberapa teknik baru.
“Yo! Sepertinya ada jenis baru di sini,”celoteh Jack lalu duduk di depan Rendy tepat. Para lelaki berkumpul satu meja, Rendy dengan tatapan lesu menatap malas Jack.
“Apa maksudmu jenis baru?” tanya Rendy. ”Panda Demi-God!” ledek Jack sebelum tertawa lepas, juga sebelum mendapat sebuah sendok terbang.
“Apa-apaan ini!? Masa aku dilempar sendok? Lempar uang sih mending!” gerutu Jack. “Bagaimana jika dilempar beruang teddy?” sela Blue dengan tatapan menggoda.
Bulu roma Jack berdiri seketika, “Haha, siapa yang butuh boneka terkutuk itu?”
“Kalau begitu, kamar tuan Jack penuh dengan benda terkutuk dong?” nimbrung Mike lalu melahap makanannya. Jack membuang muka malu. Mukanya sudah memerah padam sebab dipermalukan habis-habisan oleh teman-temannya.
“Hey, ubanan kenapa kantung matamu jadi sehitam itu? Kurang cocok dengan rambut ubananmu,” ujar Blue menopang dagunya dengan tangan.
“Aku begadang di perpustakaan semalam,” jawab Rendy membuat seisi meja berteriak terkejut. “Hei! Telingaku belum sembuh total tau!”
“Makhluk apa kau betah di perpustakaan?!” heran Jack. “Sepertinya kamu yang memang aneh, Jack…. Pertanyaan yang tepat adalah, apa yang kau lakukan di sana semalaman?” balas Mike.
“Aku bingung, bagaimana pertarunganku hari ini dengan Irine. Walau pada akhirnya aku sudah mendapatkan pencerahan saat di perpustakaan. Hasil kerja keras selama semalaman lah,” jelas Rendy tersenyum lebar.
“Aku baru pertama kali melihatnya sesenang itu,” gumam Lucy melirik ke arah Rendy dan teman-temannya yang sedang mengobrol asyik.
“Iya! Irinya dengan para lelaki itu!” imbuh Lily. “Hey, kalian sudah dengar kabar Stephanie belum?” sahut Lucy. Mereka menggeleng kecuali Irine yang memang sedaritadi memojok dan tidak memedulikan pembicaraan para gadis.
----------<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass ><\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass ><\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >----------
Setelah pembukaan seperti biasanya, semua penonton mencari posisi nyaman masing-masing untuk menonton pertandingan. Banyak yang berdesas-desus tentang kedua pihak pertandingan. Lalu semua hening ketika kedua peserta muncul di kedua pintu masuk arena. Kedua saling tatap tajam sebelum diminta memilih persenjataan.
Keduanya lau memasuki arena dan bertemu di titik temu biasanya, yaitu di tengah-tengah. Rendy mengkerutkan alisnya. Ia heran akan perlengkapan Irine.
“Nona, apakah anda terlalu meremehkan saya?” tanya Rendy bingung. Ya, Irine hanya mengenakan armor kulit. DIa tidak memegang satupun senjata di tangannya.
“Saya tidak memerlukannya.”
“Bukankah ini pertandingan yang cukup serius?”
“Ya, tapi saya tidak akan bertarung secara serius. Hanya jika terpaksa saja,” sahut Irine santai. Rendy semakin bingung.
“Mulai!”
Rendy kembali meluncurkan Avra dari pedangnya seperti pada pertarungan sebelumnya. Ia bermaksud untuk menguji kemampuan Irine. Sebagai tangkisan, Irine mengangkat tangan kirinya, terbuat dinding bayangan dari bayangan miliknya. Irine segera membalas serangan Rendy dengan membangkitkan pasukan bayangan. Lima bayangan terbentuk, semua menyerang Rendy bersamaan dengan cakar panjang mereka. Rendy agak kewalahan karena kecepatan bayangan itu tidak bisa diremehkan. Setelah menghindar, Rendy segera membekukan bayangan-bayangan itu, dan menghancurkannya dengan menusukkan katana miliknya.
“Shadow Soldiers!” Bayangan kembali muncul dari lantai. Kini bertambah dua kali lipat. Karena sudah paham, jika hanya menusuk saja akan percuma. Rendy masih menggunakan cara yang sama. Ia bekukan dan menghancurkannya. Begitu terus hingga beberapa saat.
Cukup sulit untuk mendekati Irine, bayangan terus bermunculan setiap ada yang dibunuh. Dan Irine sama sekali terlihat tidak kelelahan, mungkin karena Rendy terus menghindar tanpa istirahat sedikitpun, sedangkan Irine tetap pada tempatnya sambil mengerahkan pasukan bayangannya.
“Tuan Rendy, apakah kau meremehkan saya? Sedaritadi anda hanya melakukan teknik yang sama. Apa rencanamu yang sebenarnya?”
“Ini pertarungan, nona bayangan. Mana ada maling mengakui dirinya di depan polisi?”
“Baiklah, kalau begitu. Ingat saya akan mulai serius sekarang…”
“Terserah kau saja!” Rendy segera melesat kembali, ia menambah kecepatannya dalam menyerang bayangan. Tak terasa ia sudah sampai dekat dengan Irine, tepat sebelum akan menghunuskan pedang. Irine hilang dari pandangan, seketika ruangan terang tadi berubah menjadi ruang serba gelap yang entah dimana ujungnya.
Rendy kebingungan, beberapa kali ia mendapat serangan cakaran dari pasukan bayangan Irine. Namun semua seakan hanya hantu saja. Tidak ada apa-apa di sana.
“The Eternal Darkness…” Suara bisikan menggema di sekeliling Rendy. Semakin banyak dan cepat semua serangan cakar pasukan bayangan. Beberapa saat kemudian, Rendy merasa seluruh tubuhnya nyeri dan kaku. Sekujur tubuhnya sudah penuh dengan luka sayatan, mulai dari hanya lecet sampai luka dalam. Ruangan itupun juga makin lama makin gelap, seperti memang sengaja membuat Rendy menyerah.
“Kau hanya dibutakan, lakukan serangan dengan radius besar. Agar mengenai si pemunya ilusi ini…” Suara berdengung keras dalam kepala Rendy. Rendy berusaha bangkit, rasanya sakit sekali. Nyeri di sekujur tubuh, dan agak kaku. Lalu ia menggenggam katananya dengan kedua tangan erat-erat. Tapi ia diam sejenak.
“Kenapa tuan Rendy, ingin menyerah?” tanya bisikan Irine itu lagi.”Siapa bilang? Bersiaplah! Ancient Sword : Mountain Splitter!!” Rendy menebaskan pedangnya vertikal, semua di sekeliling Rendy tersapu. Pandangannya kembali pada ruang kaca. Terlihat Irine yang memegang perutnya, perutnya terluka cukup dalam.
PYAAR!!
Rupanya kaca juga ikut terbelah menjadi dua dan pecah keseluruhan. Semua penonton segera berlindung dari pecahan kaca.
“A-apa itu tadi?” tanya Bennetta dari balik CCTV. Ia sedang membenarkan kamera CCTV yang tiba-tiba menjadi blur karena serangan bertegangan tinggi miik Rendy. Lalu alarm segera berbunyi. Bekas tusukan tadi di seluruh dinding dan lantai dimanapun yang terkena perlahan membeku. Jack dan beberapa orang langsung dengan sigap mencairkan, tapi nihil. Es itu terus merambat hingga seluruh ruangan penonton itu terbekukan. Dinding-dinding menjadi gemerlapan akibat membeku.
Lalu Irine, ia kaku. Entah bagaimana, mungkin disengaja Rendy, hanya tersisa kepala yang tidak dibekukan olehnya.
“Ugh…” Irine muntah darah, walau es, namun luka di perutnya terasa panas. Rendy meletakkan tangannya di atas perut Irine yang membeku. Es itu perlahan menghilang, seakan diserap oleh Rendy.
“Teknik tadi kupelajari kemarin malam. Aku mengalirkan Avra dan kekuatan pengendalianku, teknik itu dapat membelah gunung sekalipun. Maka dari itu, aku menamainya Mountain Splitter. Lalu karena dialiri Avra pengendalianku. Maka semua yang tertusuk akan membeku, dan bekuan itu tidak dingin. Namun membakar perlahan. Maka dari itu, Jack tidak akan bisa mencairkannya,” jelas Rendy. Kemudian Irine mengangkat tangan lemah ke Pelatih, menandakan bahwa ia sudah menyerah dan tidak dapat melanjutkan pertandingan.
Selagi menyerap es di tubuh Irene, Rendy tak habis pikir dengan suara yang menolongnya tadi. Suara itu amat asing, tapi seakan muncul dengan sendirinya di dalam kepalanya.
"Siapa... Apa hanya khayalanku?" batin Rendy.
"Hey, aku sudah baik--" Tiba-tiba, Rendy membopong Irine ala bridal. Irine terkejut atas perlakuan Rendy.
“Hey! Turunkan aku! Ini memalukan! Walau lukaku dalam, aku masih mampu berja-- Ugh!” Irine memukul-mukul pundak Rendy, tapi karena banyak gerak, lukanya kembali berdenyut perih.
“Sudahlah! Jangan bawel!” Rendy langsung melesat ke ruang perawatan. Di sepanjang perjalanan, Irine hanya membenamkan wajahnya dalam pelukan Rendy. Ia lakukan karena malu jika wajahnya sebenarnya memerah padam.
“Pelatih Raven!” Sekali panggil, Raven langsung sigap menangani Irine. Rendy menidurkan Irine ke kasur perawatan.
“Te--” Belum selesai , Irine langsung tak sadarkan diri. “Irine?!”
“Tuan Rendy, harap keluar. Bairkan saya yang menangani ini,” ucap Pelatih Raven. Akhirnya Rendy memilih untuk menurut, ia menunggu di luar ruangan.
“Hey! Apa yang terjadi?” tanya seseorang berteriak dari kejauhan. Rombongan berlari menghampiri Rendy.
“Kalian bukannya sudah lihat dari kamera CCTV?” tanya Rendy menanggapi pertanyaan Lucy.
“Tadi secara tiba-tiba kamera mengalami kendala, sesaat sebelum kau mengeluarkan Avra hebat itu,” jelas Lily.
“Hm, Irine luka berat karena seranganku.”
”Hm, begitu ya…” gumam semuanya kecuali Rendy.
“Dia bertarung tidak sungguh-sungguh,” celetuk Jack. Rendy menatap tajam.
“Apa maksudmu?” tanya Lucy. “Dia belum mengeluarkan jurus yang waktu itu lho!” ucap Jack menyenggol Lily.
“Ish! Apaan sih?! Iya sih, aku juga tahu itu. Tapi kenapa?”
“Em… Kemarin malam, kami ke--”
”Ah! Ternyata kamu suka pergi malam-malam dengan ga--”
DUAKH!! UWAA!!
“Dengarkan dulu orang kalau mau bicara!” Lily menendang Jack hingga terbentur ke dinding.
“Lanjutkan, Ren!”
”Kemarin malam, ia di Indoor Forest. Ia memintaku untuk menolongnya.”
”Menolong apaan?”
“Dia sudah pergi duluan sebelum memberitahu,” jawab Rendy.
----------<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass ><\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass ><\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >----------
“Kekuatan apa tadi? Bahkan aku belum pernah tahu ada jenis Avra yang berlawanan dengan jenis pengendaliannya. Katanya akan membakar?” Para Pelatih berkumpul di satu ruangan saat ini.
“Apakah ramalan itu benar adanya?”
“Semua harap tenang, kita akan mengetahuinya di ujian berikutnya. Diharap untuk memberitahu Rendy jika terlalu sering menggunakan kekuatan itu, maka tubuhnya akan hancur perlahan. Karena bisa jadi akan ada penolakan oleh tubuhnya,” jelas seseorang yang diketahui adalah pemimpin para pelatih itu.
“Baik, tuan Frad.”
bersambung ....
[Like, Comment, Vote/Tips, Favorite]
[⭐⭐⭐⭐⭐]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
?.......?
semangat thor
2020-10-19
1