“Tuan Blue tidak apa, ia akan segera siuman. Hanya hipotermia ringan,” jelas Pelatih Raven.
“Siapa suruh membekukan dia di suhu tidak normal, huh?” marah Pelatih Raven berkacak pinggang.
Lucy dan Rendy hanya diam. Lucy sambil tertawa canggung menyikut pinggang Rendy, sehingga terdengar pekikan lirih dari Rendy.
“Yah, tapi siapa lagi yang bisa mengontrol es di sini selain Anda, tuan Rendy.”
“Terima kasih atas pujiannya,” timpal Rendy santai.
“Aku tidak sedang memujimu, bodoh!”
Alhasil telinga Rendy adalah sasaran Pelatih Raven. Rendy ke kantin dengan telinga memerah. Semua temannya hanya melihat tanpa bersuara sedikit pun selepas pertarungan tadi.
“Kenapa kamu memilih membekukannya? Bukankah itu beresiko membunuhnya, apalagi Avranya yang terkuras tingkat regenerasi pun juga menurun!” omel Lucy.
“Nona strategi perang, tidakkah anda mengerti?” tanya Rendy lalu menidurkan kepalanya dimeja dengan tangan sebagai bantalan.
Lucy menatap heran ke Rendy. “Apa yang tidak kumengerti, hah?”
“Avra yang terkuras cepat dalam jangka waktu 15 menit, apakah nona tidak merasa ada kejanggalan?” uji Rendy. Lucy nampak berpikir, ia langsung tersentak, matanya melebar tak percaya.
“Ia mencoba membunuhmu sekuat tenaga?” terka Lucy.
“Anda benar sekali, mengontrol air sebesar itu, dengan kecepatan tinggi memerlukan Avra yang besar. Ia bersungguh-sungguh hendak membunuhku. Jadi aku harus bertahan dengan niat membunuh juga,” jelas Rendy. Semua yang mendengar langsung bergidik merinding.
“Ta-tapi, dia kan tetap saja teman kita!” elak Lucy membenarkan diri.
“Teman? Teman apa yang ingin membunuh temannya?” tanya Rendy lagi.
“Gila, baru permulaan latihan saja persaingan sudah seketat ini!” pikir Lily.
“Maka dari itu, saya berkata untuk berhati-hati dengan tuan Blue.”
“Saya rasa ada sangkut pautnya dengan Mr. Newt,” timpal Finne.
Semua menoleh, lalu memejamkan mata sambil mengangguk setuju.
“Memang watak pejabat asal Amerika itu tidak meyakinkan, sudah kuduga dari dulu!” sahut Jack sok pintar. Semua langsung menyerbu Jack dengan tatapan curiga.
“Hey, kenapa kalian menatapku seperti itu?”
“Tidak ada!” jawab mereka serempak.
...***...
“Perkenalkan saya Pelatih Max, saya melatih dalam hal ilmu sihir. Um, saya ada sesuatu untuk tuan Rendy. Berhubung tadi Avra Ball sudah dihancurkan. Saya membuat Avra Ball dengan upgrade terbaru!” jelasnya mengeluarkan sesuatu dari kantong using berwarna ungunya itu.
Semua melirik ke dalam kantong penasaran. “Tada! Silakan tempelkan tangan anda dan alirkan avra anda, tuan!” pinta Pelatih Max menyodorkan bola berwarna hitam keunguan ke Rendy.
Rendy segera menyentuhnya dan mengalirkan Avra ke sana. Seketika cahaya menyilaukan keluar dari bola itu, semua berusaha menutup mata agar tidak terlalu silau.
“Hebat! Avra anda langka, kami menyebutnya Rare Av—”
“Iya, tahu! Karena langka makanya namanya Rare Avra. Tidak menarik!” sergah Jack.
“Agar mudah untuk diingat, tuan. Maaf jika kurang kreatif, tapi memang saya lebih pintar dalam hal sihir daripada memberi nama, hehe.”
“Tidak seperti Jack, yang bisanya cuma makan, minum, cerewet!” olok Lily.
“Hahahahaha, baru kali ini aku bisa setuju denganmu, bocah!” tawa Lucy.
“Awas ya kalian!” gumam Jack geram
“Kenapa, hah?” tantang Lucy.
“Eh, gak apa kok.”
“Nyalinya langsung menciut dia!” kekeh Lily.
“Bisa diam tidak?”
Hawa di sekitar meja itu langsung menurun drastis. Hanya dengan satu kalimat keluar dari Rendy, semua diam seribu bahasa.
“Ada apa sih?” tanya Lucy.
“Aku sedang berpikir.”
“Hei, hei, hei! Rendy ini memang berpikir apa, hah?” Jack kembali unjuk suara dan tetap mendapatkan tatapan yang sama dari semua.
“Kenapa setiap aku bicara kalian menatapku aneh sih?!” keluh Jack.
...***...
“Kau tidak di sekolah tidak di sini, sarangmu selalu perpustakaan. Kalau kau pergi sendiri sih tidak apa, tapi kenapa malah mengajak aku?!” rutuk Lucy.
“Aku kan sudah meminta pendapatmu,” jawab Rendy santai.
“Ta-tapi kan kalau …” Lucy tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kalau? Kalau apa?” tanya Rendy penasaran.
“Kalau kamu yang minta, bagaimana caranya aku menolak?” gumam Lucy.
“Hah, apa? Ngomong yang jelas, jangan ditelan suaranya!” tandas Rendy.
“Sudah bukan urusanmu!” tampik Lucy.
“Perempuan memang aneh…” gumam Rendy.
BRAK!
“APAA!!??” bentak Lucy.
“Kau memang terbiasa menggertak orang ya? Jangan lupa, walau di sini tidak ada orang. Tapi ini tetaplah perpustakaan,” nasihat Rendy.
“Ma-maaf deh,” sesal Lucy duduk kembali.
“Kau benar-benar ingin mati bersama buku-buku atau bagaimana sih? Sebenarnya apa yang kau cari?” cecar Lucy.
“Aku persiapan untuk latihan mendatang. Aku termasuk tertinggal dibandingkan kalian yang sudah lebih dahulu tahu tentang kekuatan kalian."
“Oh begitu, tuan sok rajin. Jadi, kau bisa membekukan air tadi juga mencari-cari di buku?” cecar Lucy lagi.
“Kurang lebih begitu, aku mencari cara mengontrol Avra di perpustakaan daerah. Ada buku misterius di sana yang sudah termakan umur dan rayap, setidaknya aku masih bisa menggunakannya di sisa-sisa hidupnya yang akan berakhir di daur ulang.”
Lucy mengangguk-angguk paham, ia baru sadar bahwa kepintaran lawan bicaranya sekarang tidak boleh diremehkan sekalipun.
“Lalu kenapa kamu mengajakku?” tanya Lucy.
“Ada yang ingin kubicarakan.”
“Hah?! Tunggu, jangan di sini! Aku belum siap! Setidaknya di resto atau taman kek! Kau itu mau kenang-kenangan seperti ini di per—” Lucy seketika seperti orang gelagapan akan tenggelam.
“Apa sih yang kau bicarakan?” sela Rendy kebingungan.
“Aku hanya mau tanya tentang Tree of Knowledge Black Sapphire dan kembarannya. Kenapa kau langsung salah tingkah begitu?”
Seketika muka Lucy memerah padam, ia malu bukan main.
“Kau sakit?” tanya Rendy.
“ARGH!! SUDAHLAH! CARI SENDIRI!!” bentak Lucy meninggalkan Rendy dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. “Menyebalkan!” omelnya lirih.
“Ilmuwan itu benar, wanita itu hal yang paling misterius…”
...***...
Pelatihan dasar-dasar kekuatan para Demi-God makin lama makin sulit dan memadatkan agenda dalam sehari. Setiap hari, semuanya selalu berakhir di kamar kelelahan.
Tak heran jika hasilnya juga memuaskan. Oh iya, Author lupa cerita bagaimana kelanjutan tes avra giliran Jack. Jack yang Malang.
...***...
Tok, tok, tok
“Permisi, tuan Jack? Apakah anda sibuk?”
Terdengar suara lelaki dari balik pintu kamar Jack. Jack yang termenung segera ke arah pintu dan segera membukakan sang tamu.
“Ada. Oh! Pelatih Phon, ada apa kemari?” tanya Jack dengan sifat girang nan gilanya.
“Anda dipanggil kembali ke ruang latihan untuk tes ulang.”
“A-apa Anda yakin? Saya itu sama saja dengan murid yang gagal, hanya membuang waktu saja jika anda masih bersikeras untuk mendidik saya, Pelatih.”
“Ap-apa maksud Anda, tuan Jack?” Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari balik punggung Pelatih Phon.
“Lawfinne?”
“Ti-tidak ada! Saya …” Lawfinne menunduk, berusaha menutupi rona merah di pipinya.
“Sa-saya khawatir pada Anda, selepas tes itu, pasti berat rasanya menjadi yang tertinggal. Sebab saya sendiri pernah mengalami hal itu. Jadi saya bermaksud me-membuatkan anda kue agar suasana hati Anda membaik,” jelas Lawfinne ragu-ragu.
“Fin … ne?” Jack merasa terharu. Seketika ia meloncat dan memeluk Finne.
“Terima kasih ya! Kau memang satu-satunya gadis paling baik hati di kelompok ini!” soraknya senang.
“Bagaimana, tuan Jack? Apakah Anda akan ikut tesnya?” ulang Pelatih Phon. Jack mengangguk mantap lalu melepas pelukannya.
“Se-semangat ya!” hibur Finne.
Jack mengangguk percaya diri, lalu mengikuti Pelatih Phon ke ruang latihan.
Seusai tes, Jack ternyata memiliki potensi yang besar ia bisa menggunakan serangan jarak jauh dan jarak dekat, bola itu berubah menjadi warna biru ketika dialiri Avra Jack.
Jack sendiri tak menyangkanya tapi ia bersyukur dan berterima kasih kepada Finne yang sudah menyemangatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Alice(*˘︶˘*).。.:*♡
sungguh jack bodoh
2021-01-17
1
E×odia
Lucy itu tsundere? Kok kayak suka marah marah gitu ama Rendy
2020-10-01
3