「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」

Kringg

Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan dimulai. Semua murid berhamburan masuk ke dalam kelas. Dan terakhir guru.

Ketua kelas, Johnson Hardson berseru mengomando seluruh siswa-siswi untuk berdiri lalu memberi salam bersamaan.

"Baik pagi juga anak-anak." Semua kembali duduk dan diam.

"Hari ini, kita kedatangan murid baru empat sekaligus. Mereka adalah murid-murid pertukaran pelajar yang dipilih atas persetujuan walikota Amerika, Jepang, Perancis, Korea, Inggris, dan tentunya walikota Indonesia. Silakan memperkenalkan nama kalian.”

“Saya Lily dari kota Amerika.”

“Saya Jack dari Perancis.”

“Saya Blue dari Korea.”

“Saya Irine dari Jepang.”

“Saya Mike dari Inggris.”

“Baik, sekian. Jika ada yang ingin berkenalan lebih lanjut silakan tanyakan saat istirahat. Kita lanjutkan pelajaran kita kemarin.”

Sepanjang pelajaran, semua tidak ada yang berani berisik. Karena guru wanita kali ini, terpampang jelas dari wajahnya bahwa dia adalah guru killer. Dan parahnya, pelajaran yang dibawakannya adalah pelajaran matematika.

“Psstt! Rendy!” panggil Jack berbisik. Beruntung suara panggilannya terdengar karena bangku Jack berjarak dua bangku ke kiri dari Rendy. Ya, dia sebangku dengan Paul.

“Siapa itu!?” Sialnya, ternyata juga terdengar sampai ke meja guru.

“Aduh! Ulangan mendadak! Kenapa selau begini sih nasibku!?” gumam Jack menggerutu.

Rendy hanya bisa tersenyum geli, temannya tertangkap basah. Rendy tentu saja tidak perlu bertanya ke orang lain denga otak encernya itu. Dan berbanding jauh sekali dengan si rambut merah.

“Rendy?” panggil Mike dengan nada biasa.

“He? Curang!” bisik Jack. Ya, Mike menggunakan pengendalian suaranya.

“Pft! Bukannya ini dilarang ya?” tanya Rendy menahan tawa.

“Baiklah, aku akan sambungkan seluruh teman-teman. Kuharap kita bisa bekerja sama dengan ini. Lily yang meminta. Katanya ada yang ingin dia bica--”

“Hey! Tidak ada! Aku hanya kasihan dengan Jack yang tertangkap basah!” potong Lily dengan suara yang agak menggema.

Walau dengan suara yang keras, sebenarnya suara mereka hanya akan terdengar di telinga Rendy, Jack, Blue, Lily, Irine, Lucy, dan tentu Mike sendiri.

“Jadi kenapa?” tanya Rendy serius.

“Anu! Aku tidak bisa mengerjakan soal!” ujar Jack bersemangat.

“Nomor berapa?” tanya Rendy.

“Semua!”

“ ... ” Seketika ruang suara itu hening,

“Mike, ulang semua suara Jack tadi tepat di gendang telinga Guru.”

”Oke.”

“Eit! Jangan! Kumohon! Aku tidak mau mati! Tidaak!”

“Anu! Aku tidak bisa mengerjakan soal!”

“Semua!”

Guru matematika yang sedang bersantai langsung menunjukkan muka seramnya. Matanya langsung beredar ke semua siswa sebelum berteriak keras.

“SIAPA ITU!!???”

“Jack!” seru Rendy, Mike, Blue, dan Lily.

“KELUARR!!”

“TIDAAK!!” Jack akhirnya berakhir di depan kelas dengan wajah merah hampir menangis.

“Kalian kejam …” bisik Irine terdengar di ruang suara milik Mike. Semua yang mengadu tadi tertawa geli tertahan-tahan.

...***...

Bel sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Namun, guru belum mengizinkan murid-muridnya untuk beristirahat. Dengan alasan masih ulangan.

“Baik, silakan kumpulkan lembar jawaban kalian. Selesai tidak selesai. Dan silakan istirahat, saya sudah capek.”

“Nah gitu dong, daritadi!” seru Jack mengintip dari jendela.

Semua keluar, begitu juga gerombolan Rendy. Mereka berbondong-bondong menuju ke kantin untuk makan.

“Baiklah, begini … Irine, Blue, dan aku akan mencari meja. Lily, Lucy, Jack, dan Mike kalian membawakan makan siang. Oke?” Semua mengangguk dan segera pergi ke tugas mereka masing-masing.

“Di sini saja!” seru Blue melambaikan tangan ke Rendy dan Irine.

Keduanya langsung menghampiri meja kosong yang sudah ditemukan Blue. Tak lama kemudian kelompok satunya datang dengan membawakan makan siang.

“Apa ini?” tanya Lily. Rendy tersenyum, melihat mangkuk dengan isi kuah merah.

“Itu makanan Indonesia,” jawab Rendy lalu fokus kembali dengan bukunya.

“Kau kenapa membeli makanan dengan bau menyengat begini sih!?” Blue menatap tajam Jack.

“Habisnya berwarna merah seperti rambutku, jadi karena penasaran. Aku beli, jika kalian mau. Kita bisa saling cicip-mencicip.”

Semua kecuali Rendy mengambil sendok, dan menyendokkan kuah makanan itu ke mulut mereka. Beberapa saat kemudian, muka mereka berubah menjadi seperti warna kuah makanan itu.

“HUARRGHH!! PEDASS!!”

“Itu namanya Seblak, yang kalian pesan itu level lima. Dengan sepuluh cabai. Selamat menikmati ...” gurau Rendy.

Mereka yang malang langsung berpencar ke arah yang berbeda. Ada yang ke kamar mandi, ke kelas, dan membeli minuman.

“Jack, kau berhutang nyawa padaku. Aku benar-benar ingin membunuhmu karena hal tadi. Kau tahu?” Blue nyaris ingin mencekik leher lelaki berambut merah itu jika bukan karena di tempat umum.

“Salah siapa ikut mencicip?”

”Kau yang menawari duluan, mana bisa kami menolak?”

“Itu salahmu, Lil!” Jack berusaha membela diri.

“Tidak, perempuan selalu benar! Kau yang salah!” Dan berakhir keduanya beragumen.

...***...

“Oke, apakah sudah selesai makan?” tanya Rendy. Keenam remaja itu mengangguk pelan dengan penuh rasa penasaran.

“Karena masih ada waktu lama, bagaimana kalau kita cerita-cerita dahulu?”

”Cerita apa?” tanya Lucy.

“Masa lalu kita. Aku sebagai ketua kalian, tentu harus lebih tahu-menahu tentang anggotanya yang menjadi tanggung jawabnya, bukan?”

“Aku keberatan!” elak Blue.

“Kau kenapa? Kita ini satu tim, harus saling terbuka dong!” omel Lily.

“Privasi tetap privasi.”

”Kau ... !?”

“Tak apa, Lil. Jika Blue tidak mau cerita, biarkan. Yang ingin bercerita silakan bercerita.”

“Kita mulai dari … Lucy!” lanjutnya. Lucy langsung tersentak.

“A-aku?”

“Ya, aku sempat penasaran dengan rambut putihmu. Bukannya, Ibumu memiliki rambut coklat?”

“Fuh … Harus aku mulai darimana ya… Ayah angkatku, adalah keturunan para jendral yang kuat. Ia memang memiliki fisik yang hebat. Tapi tidak dengan kepintaranya, ia tidak pandai dari sekolah dasar.”

”Bagaimana dengan isunya?” tanya Lily.

“Itulah, dari cerita bawahan Ayahku. Saat ia berkunjung ke panti asuhan anak. Kami bertemu, dan aku adalah anak terpintar di sana. Ayah ingin mengadopsiku, tapi karena statusnya yang belum menikah. Ia tidak bisa. Karena bersikeras menginginkan diriku, ia menculikku saat malam hari.”

“Dasar keras kepala!” gerutu Jack.

“Lalu, bagaimana dengan masalah rambutmu?” tanya Lily.

“Dari kecil, aku sudah dipaksa untuk membuat berbagai strategi perang. Menjadi bawahan dalam bayangan Ayahku. Karena banyak pikiran aku mengidap--”

“Syndrom Marie Antoinette,” sela Rendy.

“Apaan tuh?” tanya Jack polos.

“Bodoh makanya baca buku. Syndrom Marie Antoinette adalah kelainan atau ketidaknormalan yang terjadi pada seseorang yang membuat warna rambutnya berubah menjadi putih.

Hal itu diakibatkan tingkat emosional yang ekstrem dan tekanan mental juga.” Rendy menjelaskan panjang lebar, membuat Jack tercengang kebingungan.

“Brengsek!” umpat Lily sebal.

“Baik lanjut ke Jack!”

“He?? Aku? Kenapa aku? Apa aku terlihat memiliki masa lalu yang buruk? Aku kan ceria-ceria begini!”

“Ceriamu itu tanda kegilaan …” ejek Lily dengan wajah datar.

“Sudah, jangan mengelak. Aku tahu kau hanya berpura-pura. Saat Avra tes, aku mendengarmu menangis di kamar.” Jack membelalak atas penjelasan Rendy.

“Aku hanya, aku hanya … Takut … Dianggap berbeda …”

“Kau memang berbeda dan aneh, bo--”Lily langsung dibungkam Mike. Rendy menatap marah ke Lily, seakan berkata “Jangan dulu!”

”Kenapa? Kau tidak berbeda sama sekali, hanya bodoh …”

“Itu sama saja, dasar ketua …” batin Lily.

“Aku sejak kecil mengalami kelainan ... Bukan hanya Rendy yang dapat mengeluarkan Avra sebelum usia tujuh belas tahun. Tapi, Rendy karena bakat. Sedangkan aku karena obat pemicu.”

“Jangan bilang … obat illegal yang pernah disiarkan berita …” gumam Lucy.

“Ya, ada beberapa orang misterius yang ternyata mengetahui jika aku Demi-God. Mereka menangkapku, dan memaksaku meminum obat aneh itu. Lalu aku lupa apa yang terjadi setelah itu.

Yang kuingat, aku selepas itu selalu dipaksa bekerja di tempat pembuatan pedang. Aku tak hanya berhenti di sana. Ada banyak orang memperebutkanku. Dan lebih dari satu kali aku diculik.”

“Lalu?” tanya Mike.

“Walikota Perancis, Philip Macronne ternyata sudah mencari-cari dan mengirimkan berbagai mata-mata untuk mencari keberadaanku. Yang kutahu, suatu hari aku dibawa ke balaikota Perancis, diadopsi, aku tidak tahu bagaimana keadaan orang-orang yang menculikku dulu. Besar kemungkinan mereka dipenjarakan atau dihukum mati.”

“Jadi … kenapa jenis Avramu saat pertama kali tes itu … mengalami kelainan?” tanya Lucy.

“Itu karena, penelitian Perancis memeriksa diriku, katanya, karena pemaksaan Avra dalam tubuhku yang disebabkan oleh obat aneh itu. Avra ditubuhku memiliki sebuah kelainan, dimana produksi Avra yang berlebihan.

Hal itu akan beresiko kehancuran tubuh jika dibiarkan hingga dewasa. Karena jangka waktu pertambahan Avra yang dipercepat. Maka Ayah angkatku memerintah para ilmuwan membuatkanku obat baru untuk menahan produksi Avra.

Sehingga Avra yang diproduksi akan berhenti, seakan dikunci dari dalam. Setiap hari, aku meminum itu. Dan ternyata aku kelewatan di hari sebelum tes. Akhirnya… Saat itu, aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan Avra deh ...” jelas Jack panjang lebar.

“Hm … Begitu ya, baik lanjut ke Mike.” Mike hening sejenak, semua ikut diam sambil memandanginya penasaran.

“Aku tidak diharapkan terlahir.” Kalimat pertamanya sukses membuat semua bingung.

“He?? Maksudmu apa sih?? Bicara yang jelas dong!” omel Lily.

“Ibuku, saat masih di bumi, adalah selir dari Raja Britania Raya. Keberadaanku menggoyahkan permaisuri karena hanya memiliki anak perempuan. Alhasil aku dibenci oleh semua selir dan permaisuri. Aku sering dicambuki tanpa sebab, dipukuli, dikunci di bawah tanah, tidak diberi makan. Banyak hal yang membuat hidupku tidak tenang.

Suatu hari, Ibuku bercerita jika dirinya adalah seorang Dewi. Dan aku tentu saja Demi-God. Ia bilang kalau dirinya akan pergi ke Mount Olympus. Ia meninggalkanku sebuah harpa terbuat dari emas, tembaga dan permata sebagai hiasannya.”

“Jadi, harpa emas waktu kau ujian itu. Adalah pemberian Ibumu?” tanya Lucy.

“Ya, dan aku berjanji akan menjaganya. Tak akan kubiarkan rusak,” ujar Mike.

“Masa lalu yang … cukup menyakitkan,” gumam Blue.

“Sekarang lanjut Lily.”

“Lha? Kok aku? Kan bisa Irine, atau mungkin Blue jika mau. Atau Ketua sendiri …”

“Jangan mengelak …”

“Baiklah…"

Semua kembali memasang telinga baik-baik.

“Aku …”

Episodes
1 「Pʀoʟoԍ」
2 「Fᴇsтιvᴀʟ」
3 「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4 「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5 「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6 「Bᴇʏoɴᴅ」
7 「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8 「Avʀᴀ Tᴇsт」
9 「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10 [Próti Exétasi]
11 「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15 「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16 「Aт Scнooʟ」
17 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20 「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21 「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25 「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29 「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30 「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31 「Pʀoмιsᴇ」
32 「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33 「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34 「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35 「A Fᴀтнᴇʀ」
36 「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37 「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38 「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39 「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40 「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41 「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42 「Moтнᴇʀ」
43 「Hᴇcᴀтᴇ」
44 「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45 「Rᴀнᴀsιᴀ」
46 「Boᴅoн」
47 「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48 「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49 「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50 「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51 「Gᴇʟᴀᴘ」
52 「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53 「Aʀтᴇмιs」
54 「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55 「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56 「Hᴀɴтu」
57 「Iɴsιᴅᴇ」
58 「Tᴀмu」
59 「Iмᴘosтoʀ」
60 「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61 「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62 「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63 「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64 「Cнᴀɴԍᴇ」
65 「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66 「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67 「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68 「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69 「Sᴇɴιoʀ」
70 「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71 「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72 「Sι Aʟʙιɴo」
73 「Tuנuᴀɴ」
74 「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75 Pengumuman S2!!
Episodes

Updated 75 Episodes

1
「Pʀoʟoԍ」
2
「Fᴇsтιvᴀʟ」
3
「Bᴀʟᴀικoтᴀ」
4
「Hᴀʟғᴇɴ Lᴀʙoʀᴀтoʀιuм」
5
「Aɴᴀκ Bᴀʀu」
6
「Bᴇʏoɴᴅ」
7
「Bᴇʏoɴᴅ (Pᴀʀт 2)」
8
「Avʀᴀ Tᴇsт」
9
「Avʀᴀ Tᴇsт (Pᴀʀт 2)」
10
[Próti Exétasi]
11
「Pʀóтι Exéтᴀsι」
12
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 2)」
13
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 3)」
14
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 4)」
15
「Pʀóтι Exéтᴀsι (Pᴀʀт 5)」
16
「Aт Scнooʟ」
17
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 2)」
18
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 3)」
19
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 4)」
20
「Aт Scнooʟ (Pᴀʀт 5)」
21
「Déғтᴇʀι Doκιмí」
22
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 2)」
23
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 3)」
24
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 4)」
25
「Déғтᴇʀι Doκιмí (Pᴀʀт 5)」
26
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ」
27
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 2)」
28
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 3)」
29
「Uɴᴅᴇʀwoʀʟᴅ (Pᴀʀт 4)」
30
「Tнᴇ Kιɴԍ Wᴀɴтᴇᴅ」
31
「Pʀoмιsᴇ」
32
「Pʀoмιsᴇ (Pᴀʀт 2)」
33
「Tнᴇ Sᴀмᴇ Tʀιcκ」
34
「Coʀvιɴᴀʟ, ZᴀɴQuᴇᴇɴ, ᴀɴᴅ Tнᴇ Hᴀʟғ-Eʟғ」
35
「A Fᴀтнᴇʀ」
36
「Tнᴇ Scʀᴇᴀм」
37
「Tнᴀт Cʟuᴇ」
38
「Bιԍ Cʀᴇᴀтuʀᴇ」
39
「Pʀoנᴇcт Oɴᴇ」
40
「Pʀoғᴇssoʀ Hᴀʀᴘᴇʀ」
41
「Pʟᴀɴ Iɴ Tᴇʟᴇᴘᴀтнʏ」
42
「Moтнᴇʀ」
43
「Hᴇcᴀтᴇ」
44
「Aκu? Lᴇʟuнuʀмu」
45
「Rᴀнᴀsιᴀ」
46
「Boᴅoн」
47
「Puʟᴀu Lιcιsιᴀ」
48
「Sιsтᴇʀ's Hᴇᴀʀт」
49
「Uנιᴀɴ ᴅᴀʀι Sι Pᴀɴᴅᴀι Bᴇsι」
50
「Kᴇнᴀɴԍᴀтᴀɴ」
51
「Gᴇʟᴀᴘ」
52
「Aʟтᴇʀ Eԍo」
53
「Aʀтᴇмιs」
54
「Pᴇɴcιᴘтᴀ」
55
「Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ, Bᴀɴтuᴀɴ!」
56
「Hᴀɴтu」
57
「Iɴsιᴅᴇ」
58
「Tᴀмu」
59
「Iмᴘosтoʀ」
60
「Towᴀʀᴅs Huмᴀɴ Dᴇsтʀucтιoɴ」
61
「Kᴇмuɴcuʟᴀɴ Dᴇмι-Goᴅ Lᴀιɴɴʏᴀ」
62
「Bᴀʟᴀs Dᴇɴᴅᴀм」
63
「I ᴀм Tнᴇ Nᴀмᴇʟᴇss」
64
「Cнᴀɴԍᴇ」
65
「Pᴇɴʏιнιʀ Yᴀɴԍ Bᴇʀoʀԍᴀɴιsᴀsι」
66
「Huтᴀɴ Kᴇκᴇʟᴀмᴀɴ」
67
「Kᴇʟᴀs & Tιɴԍκᴀтᴀɴ」
68
「Pᴇмʙᴀԍιᴀɴ」
69
「Sᴇɴιoʀ」
70
「Iᴅᴇɴтιтʏ」
71
「Tнᴇ Tнιʀтᴇᴇɴтн Zoᴅιᴀc」
72
「Sι Aʟʙιɴo」
73
「Tuנuᴀɴ」
74
「Pᴇɴԍuмuмᴀɴ Eɴᴅ S1」
75
Pengumuman S2!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!