Selesai mengurus segala keperluan untuk murid baru. Lucy segera ke kelasnya dengan panduan denah pemberian guru. Ia ikuti jalan sambil sesekali melihat-lihat sekitar.
"Ah! Ketemu juga!" Begitu melongo ke dalam, mata Lucy membelalak seketika.
...***...
Rendy bergegas ke kelasnya. Ia mendahului Lucy yang berjalan sangat lambat. Begitu sampai depan kelas, Rendy memasukkan bukunya. Ia buka perlahan pintu geser itu.
DUAAKH!! PYAR!
Darah segar menetes setetes demi setetes semakin keras. Rupanya ada seseorang yang meletakan vas bunga di atas pintu untuk mencelakai Rendy, siapa lagi jika bukan tukang preman sekolah, Axel. Gelak tawa puas mengelilingi kepala Rendy.
"Bagaimana hadiah dariku, kakek?" ledek Axel lalu tertawa keras. Rendy hanya menunduk, berusaha untuk tetap diam dan tidak memperdulikan Axel.
"Hey! Jika diajak bicara itu menjawab! Apa kau bisu, hah?!"
Axel mengangkat Rendy dengan mudahnya menggunakan satu tangan. Ia mencengkram kuat kerah Rendy hingga terangkat. Lalu Axel melihat wajah Rendy dari bawah.
"Bagaimana, suka tidak vas tadi? Itu aku beli lho..."
"Axel, bukannya itu vas milik guru ya? Hahahahaha, lucu sekali!" tawa salah satu geng Axel.
"Hah... bagus-bagus aku rencanakan... tapi malah jadi pecah ya?" Axel menatap pecahan-pecahan vas yang ada beberapa telah dilumuri darah segar.
Wushh!! Druakhh!!
"Ugh..." desis Rendy lemah. Rendy dilempar Axel ke depan kelas tepat. Semua berteriak kaget, terutama para gadis.
"Lumi?" panggil Axel ke pacarnya.
Lumi adalah pacar Axel, ia juga termasuk anak berandalan. Kancing bajunya bagian atas dibuka beberapa.
Rambutnya yang dicat kuning agak luntur bercampur warna hitam yang merupakan warna asli rambutnya. Lalu juga memakai make up saat di sekolah, adaah beberapa bukti bahwa gadis itu sudah dipastikan mendapat beberapa surat peringatan.
"Ya sayang?" jawab Lumi.
"Apakah kita akan bermain dokter-dokteran lagi?" sambung Lumi.
Trektektektek
Suara cutter dibuka, semua siswa menatap heran ke depan. Seakan Axel sengaja mempertontonkan hal keji di depan seluruh siswa di sana.
"Pertama, kita bedah bibirnya sampai ke pipi..." ucap Axel mengarahkan cutter tersebut ke bibir Rendy. Rendy hanya bisa pasrah karena dikunci oleh teman-teman Axel lainnya.
"KYAAA!! PEMBUNUHAN!!" Bibir Rendy dirobeknya. Tapi kegiatan Axel terhenti begitu ada suara pintu dibuka.
Tanpa aba-aba atau peringatan, sebuah kaki melayang dan menghantam kepala Axel. Semua berteriak terkejut, setelah mengetahui bahwa pemilik kaki tersebut adalah seorang gadis.
Axel terbentur ke papan tulis dibuatnya, ia terpental sekitar setengah meter dari tempat asalnya. Melihat ketuanya dikalahkan, pengunci Rendy melepas genggamannya. Mereka ketakutan hampir terkencing-kencing.
"Pembullyan di zaman seperti ini?" ucap gadis itu, Lucy.
"Memuakkan!" ucapnya menatap Axel dengan tatapan membunuh.
Rendy yang masih terkapar meraba bibirnya yang robek sekitar 1 cm. Ia hendak berterima kasih tapi tidak bisa menggerakkan mulutnya akibat rasa nyeri hebat di bibirnya itu.
Lucy berjongkok, ia mengulurkan tangan hendak membantu Rendy. "Hey kamu tidak apa-apa?" Rendy berusaha berdiri mengacuhkan Lucy. Tapi bukan itu tujuannya.
Buakh!
Tendangan cepat dan kuat tepat mendarat di muka Axel yang hendak melepaskan serangan balik ke Lucy. Lucy membelalak melihat pose menendang Rendy.
"Di-dia meniru jurus milikku dalam sekali lihat?!" batin Lucy.
Tendangan Rendy hampir membuat muka Axel seakan tenggelam. Asap bersekelebatan di area pertemuan antara kaki dan wajah itu.
Semua menganga dan mata mereka terbuka lebar. Orang yang selama ini selalu di posisi paling rendah, tiba-tiba menunjukkan potensi yang melampaui monster sekolah.
"Menyedihkan."
Tatapan Rendy jauh lebih menyeramkan daripada milik Lucy tadi. Sampai-sampai monster sekolah itu bergidik merinding dibuatnya.
Rendy berjalan pelan ke arah pintu. Semua orang yang dilewatinya mundur menjauh, takut salah langkah akan terkena tendangan sehebat tadi yang bahkan bisa menumbangkan preman sekolah. Lucy masih diam di tempat mencerna kejadian.
"Axel, kau tidak apa-apa?" tanya Lumi khawatir.
"Hihunghu hemuk....(hidungku remuk)" jawab Axel sesaat sebelum ia tidak sadarkan diri dan digotong ke rumah sakit oleh 4 orang temannya.
...***...
"B-bagaimana bisa kau meniru jurusku!?" tanya Lucy menggebu-gebu.
Rendy sama sekali tidak menjawab, bahkan melirik sedikitpun tidak. Kini mereka berdua berada di perpustakaan. Tempat Rendy bersemayam.
"Aku saja membuat tendangan dengan mempusatkan tenaga arah serangan dengan kaki yang sama dengan arah serangan itu ... selama satu bulan. Dan kamu menirunya dengan sempurna dalam sekali tengok!" protesnya. Rendy masih tidak peduli, ia masih sibuk dengan buku bacaannya.
"Emang apa nama jurus itu?" tanya Rendy tanpa melirik keluar dari bukunya. Ketahuilah, ia hanya pura-pura menanggapi ocehan gadis itu, sebetulnya ia sama sekali tidak peduli satu patah kata pun.
"Dance of Justice : Deathly Kick, tekanannya setara dengan bobot 2 truk."
"Oh."
"Lalu, di distrik ini ada pelatihan Demi-God kan?" tanya Lucy. Rendy mengangguk pelan.
"Kamu ikut?" tanya Lucy lagi.
"Aku belum tujuh belas tahun," jawab Rendy santai.
"APAA!!??" teriak Lucy menggemparkan perpustakaan.
Semua orang melirik tajam ke Lucy karena merasa terganggu. Lucy tertawa canggung sambil meminta maaf pada semua.
"Ta-tapi aku bisa merasakan Avramu saat kau melepaskan jurus tadi! Jangan bohong ya!" bentak Lucy.
Rendy melirik ke Lucy. Ia baru tertarik dengan pembicaraan Lucy selepas mengatakan tentang Avra.
Rendy membalik halaman bukunya, "Untuk apa berbohong pada manusia tak berguna sepertimu?" timpalnya.
"Avra adalah energi kekuatan yang dihasilkan tubuh untuk melancarkan serangan fisik atau nonfisik.
Bisa juga dialirkan ke senjata atau benda lain. Dan seharusnya untuk Demi-God sudah tujuh belas tahun baru bisa menghasilkan Avra. Sedangkan kau?"
"Aku tidak tahu."
...***...
"Saya minta pertanggungjawaban atas anak saya!" teriak seorang wanita yang diketahui ibu dari Axel.
"Tenang Bu, wali dari ananda Rendy belum datang," ujar Kepala Sekolah.
"Kau! Kau monster! Beraninya melukai anakku!" bentak ibu Axel menunjuk-nunjuk Rendy. Rendy hanya menatap malas, ia jadi tahu penyebab utama kenakalan Axel, dimanja.
"Saya hanya membela diri, itu salah anak anda yang berani melukai anak perempuan. Bahkan saya sendiri juga dilukai olehnya," jelas Rendy santai, lalu ia mengkorek kupingnya yang gatal.
"Bohong! Anak saya itu anak baik-baik!" Rendy mendengus malas.
Krieet
Pintu terbuka, "Maaf atas keterlambatan saya," ucap si pembuka.
"Mari masuk, Pak Walikota!" sambut Kepala Sekolah ramah. Ibu Axel langsung menganga ia gemetar hebat.
"Begini, Ibu Axel meminta pertanggungjawaban atas tindakan Rendy yang menyebabkan anak beliau masuk rumah sakit," jelas Kepala Sekolah ramah.
Pak Locius menepuk tangannya 2 kali. Ada seorang pria menaruh 2 koper ke meja. Lalu membukanya.
"Ini uang untuk biaya pengobatan. Sudah kan?" Ibu Axel semakin terkencing-kencing melihat uang tertata rapi sekoper dikali 2.
"Saya permisi dahulu, karena ada urusan. Saya pamit ya, Kepala Sekolah." Pak Locius menepuk Rendy, mengisyaratkan Rendy untuk ikut dengannya.
Mereka berdua berjalan beriringan keluar ruangan.
"Pak, saya minta maaf merepotkan anda. Saya tidak punya pilihan selain anda sebagai wali saya. Saya takut merepotkan Bi Angel," ucap Rendy tertunduk menyesal.
Pak Locius mengelus rambut Rendy lembut, "Sudah kubilang kan. Panggil aku ayah!" ujar Pak Locius tersenyum lebar.
Tanpa disadari garis lengkung tersungging di bibir Rendy. Rendy mengikuti Pak Locius sampai ke dalam mobil.
"Saya akan dibawa ke mana, Pak?" tanya Rendy masuk ke dalam mobil. Pak Locius di depan menoleh ke belakang, lalu tersenyum.
"Kita ke Halfen Laboratorium Kota lagi," jawab Pak Locius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
ryu hanbin
mc naif tolol
2020-10-29
5
Noejan
prtanyaan rendy yg terakhir kok kyk lgi diculik ama walikota ya? 😁
2020-10-14
5
E×odia
Itu si Axel pengen tak tonjok 😅
2020-09-24
3