Lagian, kedua kakak Berlian ganteng juga.
Itung-itung Ana cuci mata, kan?
"Tuh, Ana juga gak keberatan, kita kan kangen sama Berlin, gak ada yang bisa diganggu"
"Gak ada? Kalian yang ganggu! udah pergi sana!" Sahut Berlian sambil melempari mereka bantal.
"Ana kita titip Berlin ya? kalau ada cowok yang deketin dia_"
"Enggak ada!" sahut Berlian cepat, dengan mata melotot tajam.
"Si Rio tengil itu apa kabar?"
"Dia mantan pacarnya Ana, bye the way!" tegas Berlian galak.
"Jadi Ana single dong sekarang?" tanya Berlio.
"Mau jalan sama kita nggak?" sahut Baryl
"KALIAN PILIH KELUAR ATAU AKU PANGGIL BUNA" Berlian benar-benar merasa malu sekarang karena sikap kedua kakaknya.
Sementara Ana hanya tersenyum canggung sambil berfikir 'kuat tidak ya tinggal dirumah seperti ini?'
Entah mengapa, Ana langsung teringat pada Gara. Satu-satunya manusia yang berbuat baik pada Ana setelah Ano yang entah ada di mana...
Juga satu-satunya orang yang sekarang Ana fikirkan saat pulang ke rumah.
Mungkin tidak ya? Kalau Gara juga menantikan kepulangannya...
****
Pagi hari usai Ana menginap dirumah Berlian, ponsel gadis itu berbunyi nyaring.
Tangan Ana menggapai-gapai, dan meraih ponselnya. Menjawab panggilan dengan mata tertutup.
Suara berat laki-laki terdengar dari kejauhan. "pagi sayang" ucapnya.
"pagi say...eh.." Ana menyipitkan mata, lalu melirik nama yang tertera di layar, ternyata Rio Scott.
Panggilan sayang udah ngga pantas buat mereka.
"Kenapa, Rio?" tanya Ana mengganti sapaan mereka.
"Pagi ini gue jemput ya? kita berangkat bareng"
"Hah, gak usah! hari ini gue berangkat dari rumahnya Berlian"
"Beneran? lo nginep disana?"
"Iya! udah ya bye, Rio!"
Tut
Ana memutuskan panggilan
Ana bukannya jual mahal, tapi tak mau memperpanjang urusannya dengan Rio dan memberinya harapan palsu.
Ah, sudahlah memikirkan Rio membuat Ana menguap.
Namun saat hendak melanjutkan tidurnya, ponsel Ana tiba-tiba berbunyi untuk kedua kalinya gadis itu reflek dan menjawab.
"Halo, sayang.."
"Apa lagi Rio?!" Ana menyanggah sapaan mesra itu dengan ketus.
"Dih udah salah, ngegas pula!" sahut seseorang.
Ana mengerjapkan mata dan melirik nama yang tertera di layar ponsel 'Nama tak dikenal'
Tapi Ana langsung bisa menebak suara Gara Mahendra. Entah dari mana Gara tau nomer ponselnya, karena yang Ana ingat dia tak pernah memberikan nomer ponselnya.
"Sorry, gue kira Rio" ucap Ana
"Berharap banget Rio nelpon lo?" ejek Gara cemburu
"Gara please, gausah sok tau! ngapain nelpon gue sepagi ini?!"
Gara terkekeh kecil "Gue cuman mau nanya, lo simpen di mana sepatu gue?"
Ana berfikir sebentar "Di lemari paling bawah, mungkin ketutup sama baju yang di gantung"
"Oh, iya, ini ada. Terus t-shirt gue yang warna putih ada dimana?"
"Di lemari bagian kiri" ucap Ana sambil mengucek matanya.
Beberapa saat hening, mungkin Gara sedang mencari bajunya di lemari."Gak ketemu" sahut Gara tak lama kemudian.
"Ck, coba ganti mode Vidio call"
Gara mengubah mode panggilan, lalu tersenyum bisa melihat wajah Ana yang baru saja bangun tidur.
"Baru bangun ya? emang bisa tidur tanpa gue?"
"Apaan sih!?" Ana merengut, tersipu karena sejujurnya dia merindukan Gara semalam.
"Mana tunjukin coba lemarinya, arahin kameranya yang bener! Nah itu ada t-shirt Gara! di bawah baju cream! mangkanya di cari dulu yang bener sebelum nanya!"
"Okey deh, Thanks ya, berangkat sekolah perlu di jemput ngga?"
"Nggak perlu! gue berangkat bareng Berlian, bye"
Tut
Ana mematikan panggilannya, begitu melirik ke samping Ana terkejut dengan Berlian yang sedang menguping.
Ternyata temannya itu sudah bangun, bahkan sejak Rio menelepon tapi memilih diam untuk mendengarkan.
"Lo sama Gara udah macam suami istri sumpah! Bokap gue juga kaya gitu kalo lagi nyari dasi, dan nyokap bisa langsung tau dasinya dimana"
Berlian berceloteh bersemangat sambil mengguncang pelan bahu Ana.
"Berlian, apaan sii" Ana salah tingkah sendiri, sebenarnya Ana tahu karena baru merapikan barang bersama Gara kemarin.
"Udah sih, paling bener lo tinggalin Rio sama Gara aja, biar petakilan, Gara kayaknya perhatian banget sama lo"
"Astaga Berlian! lo lupa se red-flag apa Gara? Dia putusin Gara gitu aja, terus langsung nyium gue!"
"Gimana kalau suatu hari gue yang dia putusin terus langsung nyium cewek lain misalnya, gila aja kan?" celoteh Ana
"Iya juga sih.. sulit juga hidup lo, mending kaya gue ngehindari cowok, terlibat sama mereka bikin pusing"
Berlian mengibaskan rambutnya bangga. Padahal Ana tau kalau Berlian punya gebetan juga.
"Menurut gue, lo terlalu trauma sama kakak-kakak lo sih! gak semua cowok seberisik mereka kok"
"Gak! mereka yang terburuk!"
"Gue gak yakin, mereka baik kok"
Mereka terus berdebat, sampai akhirnya Ana menarik kata-katanya tentang kakak Berlian. Nyatanya saat makan bersama kedua kakaknya itu memang berisik luar biasa.
*****
Selama disekolah Ana tidak berani keluar kelas karena menghindari Gara ataupun Rio.
Berlian bahkan sampai take-away makanan kantinnya ke dalam kelas. "Gue tadi pesen dua porsi, lo makan juga ya?" ucap Berlian
"Thanks Berlin..." Ana terpaksa menterinya, meski dalam hatinya merasa tidak enak dan ber hutang budi banyak pada Berlian.
Sebelum menyantap makan siang, Berlian beranjak dari tempatnya dan mengikatkan rambut Ana memakai kunciran bunga-bunga besar yang tampak lucu.
"Rambut panjang lo bagus banget, sayang kalau kena saus. Lo bisa pake punya gue, karena gue punya dua, jadi kita couple yeayy" Seru Berlian.
"Lucu banget ihh"
Ana mengambil cermin kecil miliknya dan menatap gemas ikat rambut dari Berlian.
Tepat saat itupun Rio yang tidak menemukan Ana di kantin pun menghampiri kelas gadis itu dengan sepotong cup cake rasa strawberry di tangannya.
Ana dan Berlian yang sedang makan pun langsung teralihkan dengan munculnya cowok familiar itu.
"Sekarang rasanya bener kan?" tanya Rio sambil meletakkan cup cake nya tepat di depan gadis itu.
"Ini bukan soal rasanya Rio! gue gak bisa nerima_"
"Gue gak akan ganggu lo kok. Habis ini gue ada rapat OSIS, bahas study tour angkatan.
"Jadi lo makan aja yang tenang, dan jangan kebanyakan mikirin gue" Ucap Rio penuh percaya diri.
"Dih, siapa juga yang mikirin lo?" Jawab Ana ketus
Rio hanya merespons nya dengan decak tidak percaya. Sebenci apapun Ana dengannya, Rio yakin gadis itu masih punya sisa rasa.
Kemudian, Rio mengacak pelan rambut Ana sambil menatapnya penuh perhatian sebelum pergi begitu saja.
Beruntung Gara tak ada, Ana sendiri bingung harus memasang ekspresi seperti apa jika ada Gara didepannya setelah menciumnya kemarin.
Tapi ternyata, semenghindar bagaimanapun Ana, mereka malah berpapasan saat keluar dari pintu toilet yang posisinya bersebelahan.
"Ana!" panggil Gara, saat Ana hendak kabur begitu saja. Sialnya cowok itu berhasil menahan pergelangan tangannya.
"Lepasin! kita udah sepakat buat gak saling kenal selama di sekolah!" ucap Ana sambil melihat ke kanan dan kirinya, buat memastikan gak ada orang lain selain mereka.
"Ikut gue!"
Gara membawa Ana ke dalam gudang yang tak jauh dari toilet, mereka bertatapan dalam remang karena pencahayaan gudang ini minim sekali.
"Mau apa sih? kita masih bisa ngobrol nanti dikamar!" tanya Ana risih
"Gak bisa! gue butuh ngobrol sama lo sekarang!"
"Kenapa?"
"Karena gue kesel banget! tadi pagi lo ngira telepon gue itu dari Rio, dan barusan gue juga lihat Rio ke kelas lo bawa cup cake strawberry" Gara menggerutu, seperti anak kecil.
"Terus kenapa? lo pikir gue seneng kalo Rio ganggu gue?"
"Lo pernah setergila-gila itu sama Rio, lo pasti baper lagi kan sama dia?"
Ana menyipitkan mata mendengar sisi posesif Gara Mahendra yang tidak pernah dia sangka-sangka."Gue baper atau nggak itu bukan urusan lo!"
"Ini urusan gue, karena gue sayang sama lo!" Gara menjawab dengan mantap.
"Gara, lo bercanda? kita bahkan baru kenal! gimana caranya lo bisa langsung sayang sama gue?!"
Gara selangkah maju, membuat gadis itu mundur sampai pinggang Ana menabrak meja.
Hap
Ana terbelalak ketika Gara tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya pada meja berdebu, dan mengungkung gadis itu.
"Dari sudut pandang lo, kita mungkin baru kenal. Tapi dari sudut pandang gue, lo bukan orang asing. Gue suka sama lo dari lama..."
Ana berdiam sebentar mendengar ucapan Gara barusan."Lo fikir gue bakal percaya?"
"Gue berani sumpah. Gur udah nahan diri selama ini! dan gue bahkan kerjasama bareng Dasa buat pisahin lo sama Rio!"
"Gue sayang sama lo Ana, dan gue gak bisa nunggu lebih lama lagi. Gue takut gak bisa ngendaliin rasa cemburu gue sama Rio...."
Karena sunggu, Gara ingin menyingkirkan Rio pakai cara apapun jika saja dia bisa.
Tapi Gara tak mungkin gegabah dan malah melakukan sesuatu yang membuat Ana mungkin saja membencinya.
"Siapa sangka takdir mihak sama gue? kita sewa kamar yang sama, dan detik itulah gue bertekad buat dapetin lo dengan cara yang berbeda..."
Gara menangkup pipi Ana, menatap matanya dalam lalu mendaratkan bibirnya pada bibir merah Ana.
Seakan memanfaatkan momen ketika Ana tak bisa memikirkan hal lain setelah mendengar pengakuannya.
Ana masih terpaku, kaget karena mengetahui Gara Mahendra menggilainya selama ini, bahkan membuat sekenario dengan Dasa?
Meski ingin marah, Ana tak bisa melakukannya. Gadis itu hanya mengalungkan tangannya pada leher Gara, dan membalas lumatan bibirnya sebaik mungkin.
Entah mengapa, Ana terbuai oleh perasaan Gara. Terasa amat tulus dan penuh kasih sayang dari siapapun yang pernah Ana kenal selama ini.
"Jadi cewek gue..." Gara berbisik sambil mencium Ana berkali-kali.
Ana menjauhkan wajahnya "Itu permintaan?"
"Please, jadi cewek gue Ana.."
Ulang Gara
Ana menghela nafas "Kasih gue waktu..."
"Kasih gue kesempatan satu kali kencan, dan gue yakin lo bakal langsung berubah fikiran!" ucap Gara
"Lo kepedean"
Gara terkekeh kecil, kemudian memangut bibir Ana sekali lagi seakan-akan gadis itu sudah menjadi miliknya.
Terlalu asyik membuat Ana dan Gara tak menyadari kamera ponsel merekam keduanya dibalik kaca ventilasi pintu gudang...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments