Rio: [Ah lo yang download aplikasi find my mate di hp gue kan? Ghotcha! Ketemu juga lokasi lo...]
Berlian: [Kok gak bales chat terus?]
Berlian: [Rio udah nemu lokasi lo! Gue sama dia mau nyamperin lo ya? Gue khawatir lo sakit!]
Ana terperangah melihat pesan Berlian. Cepat-cepat dia melirik ke arah Gara yang kini sedang menata gelas di pantry di kamar mandi kecil mereka
"Gara gawat! Rio sama Berlian mau ke sini!" pekik Ana
Ana sudah menghapus semua foto Rio di galeri, tapi ia melupakan aplikasi pasangan itu, hingga Rio bisa dengan mudah menemukan lokasinya saat ini.
"Hah, terus kenapa kalo mereka kesini?" tanya Gara, sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
"Kenapa lo tanya? Mereka bisa syok kalo tau kita tinggal bareng, lo sendiri gak mau kan kalo orang lain tau tentang ini?"
"Gue bisa aja ngusir Rio, tapi gue gak bisa ngusir Berlian yang pasti sedang khawatir sama gue"
Ana memijat dahinya saking bingung, menolak kedatangan mereka pasti percuma. Ana sendiri tau Berlian dan Rio sama-sama keras kepala.
"Terus gue harus gimana?" tanya Gara sambil bersedekap
"Lo pergi dulu kek, kemana gitu!"
"Dih ogah! Ini kan kamar gue"
"Please Gara!" mohon Ana sambil menggenggam tangan Gara Mahendra
Cowok itupun tersenyum penuh arti...
*****
Ana memastikan barang Gara aman dilemari bahkan sepatu cowok itu ia jejel sekalian kedalamnya.
Sementara Gara mendiri memilih sembunyi di kolong tempat tidur alih alih pergi dari indekos. Ana sendiri merasa kesal tapi membiarkannya kali ini selagi dia berjanji tidak akan keluar.
Tok Tok!
Suara pintu diketuk bersamaan dengan panggilan menyebut Ana terdengar dari luar.
Kedatangan Berlian cukup membuat Ana terkejut dan gugup hingga wajah Ana sendiri menjadi pucat pasi.
"Ya, ampun! Lo pucet banget! Lo beneran sakit ya?"
pekik Berlian sambil menangkup pipi Ana
Ana hanya tersenyum tipis "Gue ngga papa kok"
Rio menyahut "Apanya yang gak papa, lo mendadak kabur dari rumah lo, kemudian tinggal sendirian di indekos kumuh begini..."
Berlian langsung menyikut lengan Rio agar berhenti berbicara "Sorry gue ajak Rio, karena dia gak mau ngasih tau lokasi lo kalo nggak diajak!"
"Dan gue ngajak Berlian karena gue yakin lo gak akan bukain pintu kalo gak ada dia" jelas Rio
Ana menghela nafas kemudian membuka lebar pintu indekosnya agar Berlian dan Rio bisa masuk ke dalam.
Apa boleh buat, Ana tidak mungkin mengusir mereka niat baiknya, sampai menjenguk di pinggiran kota begini.
"Duduk biar gue bikinin minum" ucap Ana
Ternyata ada manfaatnya Ana dan Gara beli karpet, Rio dan Berlian tidak harus duduk dilantai tanpa alas sama sekali.
Gara juga mengajak Ana belanja ke supermarket untuk belanja kebutuhan dapur sedikit sebelum pulang ke indekos.
"Lo sakit bukan karena kemarin dicium Rio kan?" Tanya Berlian sambil duduk "Gue gak lihat sih, tapi gue denger ceritanya"
Rio langsung memprotes "Lo kira bibir gue beracun? Kalo iya, Ana mungkin udah keracunan dari dulu"
"Emang dulu lo udah sering nyum Ana?" Tanya Berlian sambil menyipitkan mata tak suka
"Menurut Lo?" Jawab Rio bangga
"Gak, mungkin, Ana pasti udah cerita heboh ke gue, kalo emang bener!" ucap Berlian
Berlian bahkan ingat betul bagaimana salah tingkahnya Ana saat Rio mencium Ana untuk pertama kalinya.
Tapi rasa-rasanya setelah itu, Ana tidak lagi bercerita tentang kontak fisiknya dengan Rio, dan tentu saja karena malu.
"Ana gak harus cerita semua hal sama lo kali!" Rio mencebik
Ana segera berdehem agar Berlian dan Rio menyudahi pembahasan masa lalu yang kelam itu.
Bukankah memalukan? menceritakan tentang ciuman dengan mantan pacar dan sahabat.
"Sekarang kalian udah lihat, kalo gue sehat-sehat aja kan? jadi jangan khawatir lagi"ucap Ana
Gadis itu meletakkan dua buah mug berisi sirup strawberry di atas meja lesehan.
"Tapi lo belum jelasin kenapa lo ngekost sendirian Ana...!" Ucap Berlian sambil menatap Ana khawatir
"Orang tua gue keluar negeri, dan gue gak ikut karena nanggung udah kelas tiga"
"Dan gue gak berani tinggal dirumah sendirian, jadi gue ngekost deh" Ucap Ana, sedikit berbohong
"Padahal lo kan bisa tinggal bareng gue!?" ucap Berlian
"Gue gak mau ngerepotin elo Berlin!"
"Bener! lagian di rumah Berlian ada tiga saudaranya yang berisik itu, mana mukanya sama semua lagi" ucap Rio
"Iya sih, kakak kembar gue semuanya rewel.." Ucap Berlian, dia tidak mengelak karena memang saudaranya sangat berisik.
Tring!
Tepat pada saat itu, suara ponsel berbunyi
"Eh, ada telepon dari nyokap, bentar ya!"
Berlian langsung pergi ke balkon untuk penjawab panggilan.
"Pergi yang lama...!" sahut Rio
Tersisalah Rio dan Ana dikamar. Tentunya dengan Gara yang diam-diam sedang menguping di bawah kasur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments