Gara Mahendra

"Karna Berlian udah tau kondisi gue, lo bisa pulang sekarang aja nggak?" ucap Ana

"Masih marah karena gue nyium lo kemarin?" tanya Rio, sengaja menghindari permintaan Ana

Gadis itu menghela nafas dalam "Ya iyalah, cewek mana yang gak marah di cium sembarangan didepan banyak orang, udah gitu di bilang mainan?"

"Gue minta maaf"

Ana tak menyahut, kemudian Rio membuka buah tangan yang dari tadi dia bawa dalam plastik putih besar.

"Barusan banget gue beli kue ini di jalan, lo suka rasa strawberry kan?" bujuk Rio

"Berlian yang kasih tau?"

"Bukan, dia mana mau dukung gue. Gue inget dulu kita pernah ke toko kue dan lo dua kali nya pesen rasa yang sama"

Ana lagi-lagi menarik nafas panjang, gadis itu merasa berat hati ketika Rio menggenggam tangannya.

"Rio please, pulang sana...."

"Kasih gue kesempatan Ana.. gue tau gue salah selama ini, gue dingin sama lo dan terlalu malu buat nunjukin kepedulian gue"

"Tapi tolong percaya, meski gue nerima lo karena pas lagi butuh, pada akhirnya gue mulai nyaman, dan sayang sama lo"

"Gue bener-bener nyesel, gue ngerasa kehilangan pas lo ngejauh, ternyata lo berharga banget sampai gue gak sanggup buat lo tinggalin."

Meski dengan nada bicara dan sorot mata Rio terasa tulus, Ana tetap menepis pelan tangan cowok itu.

"Gue gak bisa, Rio.."

"Lo gak harus langsung nerima gue, tapi seenggaknya kasih gue kesempatan buat nunjukkin perubahan gue sama lo"

Rio tak mau melepas genggaman tangannya pada Ana, dia kecup pelan punggung tangan gadis itu.

"Lo masih punya sisa rasa kan buat gue?" tanya Rio, penuh harap

Lidah Ana terasa kelu untuk menjawab. Sebab Rio pernah menjadi sosok yang sangat berharga baginya.

Beruntungnya, Berlian kembali masuk ke kamar selesai menelepon, membuat Ana bisa menghindar dari Rio...

"Gue tunggu jawaban lo" bisik cowok itu

...

Satu jam kemudian setelah Berlian dan Rio pulang dari indekos. Ana tak bisa konsentrasi pada buku pelajaran.

Perkataan Rio, memenuhi kepalanya.

Biar bagaimanapun, satu tahun Ana mengejar cinta Rio. Dan satu tahun pula cintanya Ana menjadi kekasih yang tak begitu dianggap.

Perasaan Ana pada Rio memang terlalu besar...

"Jangan goyah" ucap Gara, seakan tahu dan paham kenapa Ana terlihat gelisah sambil membolak balik buku pelajaran.

"Apaan?"

"Lo goyah kan? sama kalimat bualan Rio? jangan percaya sama cowok kaya dia!" Gara bersungut kesal

Tanpa di jelaskan pun, Ana sudah bisa menebak kalau Gara pasti menguping obrolannya dari bawah kasur.

"Menurut Lo Rio beneran cuman membual? Gue gak pernah lihat Rio bicara setulus itu sebelumnya"

Ana menutup buku pelajarannya, kemudian berdiri dan bersandar pada ke dinding, dengan gelisah.

"Iyalah, dia ngerayu lo karena ada maunya! pokoknya jangan percaya! Rio itu jelek!"

Ana menahan senyum mendengar hinaan Gara pada Rio yang terlihat jelas mengada-ngada.

Nyatanya Rio Scott ga kalah ganteng juga dengan Gara Mahendra...

"Yah, lagian gue juga gak ada kepikiran buat balikan juga sih sama dia" ucap Ana, terus terang

"Awas aja kalau sampai lo balikan, gue bakal sebut lo cewek plin plan, labil, sasimo! pedes gak tuh buat lo!"

"Dih, terus lo sendiri gimana? baik banget sama gue, padahal lo masih punya Dasa! dasar cowok fakboy!" ucap Ana tak terima di katain sepihak oleh Gara

"Kalo gue sih bebas mau ngedeketin siapapun juga. Gue sama Dasa gak saling cinta kok"

"Terus kenapa lo gak tegas putusin dia?"

"Kenapa juga harus putus? lo berharap gue putus sama Dasa biar bisa jadian sama lo?"

"Nggak tuh, lo kali yang baper sama gue dan kepikiran sampe sejauh itu"

"Kalo bener gue baper sama lo terus gimana?"

Hening..

pertanyaan Gara mengawang ke langit-langit kamar saking mengherankannya bagi Ana.

Selama beberapa detik dia dan Gara

Hanya saling memandang tanpa kesan bercanda seperti biasanya.

"Maaf, tapi gue gak punya waktu buat mikirin cowok, Gara..." Kata Ana serius

Gara meresponnya dengan senyuman tipis "Terus kenapa? emang gue minta lo mikirin gue?"

"Ya kalau kita jadian, otomatis perasaan gue, perhatian gue, dan isi pikiran gue, semuanya bakal tertuju buat lo"

"Gitu ya? tapi sayangnya, gue gak lagi nembak lo. Seneng aja rasanya bikin lo geer kayak sekarang"

Ana mengepalkan tangannya, kesal karena seaka Gara mempermainkan perasaannya.

"Terserah" bentak gadis itu

"Mau kemana?"

"Pergi part time! gue udah bolos hari ini, jangan sampai waktu gue sia-sia karena jadi bercandaan lo terus"

Gara menahan tangan Ana, lalu memposisikan diri menghadap gadis itu, dan menatap lurus ke dalam matanya.

"Gue gak bercanda, gue beneran baper sama lo, tapi gue gak berharap apa-apa" ucap Gara sungguh-sungguh

"Gue rasa gak ada salahnya ngebiarin hubungan kita ngalir gitu aja" lanjut Gara

"Gak ada salahnya? lo bahkan masih jadian sama Dasa! gue yang merasa bersalah!" tegas Ana

Gara menghela nafas dalam, kemudian merogoh saku celananya dan menelfon seseorang dengan mengaktifkan fitur pengeras suara.

Nada sambung terdengar dalam beberapa detik, sampai seseorang diseberang sana menerima panggilan dari Gara.

"Halo? Gara.. lo bolos ya? sakit?"

Ana bisa langsung mendengar suara Dasa. Sumpah demi apapun rasanya sangat menegangkan karena Ana merasa menjadi selingkuhan saat ini.

"Dasa.. gue mau kita putus! gak masalah kan?" ucap Gara sambil dia pandang lurus mata Ana

Hening sejenak..

"Kenapa tiba-tiba?"

"Karena gue mau kita putus, selesai, ya? bye..."

Tut..

Gara segera mematikan panggilan, kemudian dengan gerakan cepat dia merapat ke arah Ana.

"Gara, kenapa lo nekat_"

Pertanyaan Ana terputus ketika Gara meraih tengkuk gadis itu, dan menyambar bibirnya dengan ciuman dalam.

Ana terbelalak selama beberapa detik, sampai Gara melepaskan ciumannya dan menatap mata Ana lekat dengan jarak yang sangat tipis.

"Lo gila?!" pekik Ana, dengan wajah merah padam, tak menyangka Gara berbuat senekat ini.

"Jadi cewek gue..." ucap Gara sebelum akhirnya mendaratkan ciuman dalam sekali lagi.

Ana tak bisa bicara karena Gara memang sengaja membuat gadis itu tak bisa bersuara.

Tubuh ramping Ana di dekap erat oleh Gara, dengan tangan yang bergerak pelan mengusap punggung menenangkan.

Pada akhirnya Ana memejamkan mata sambil membalas gerakan bibir Gara yang lembut namun tanpa jeda.

Entah mengapa.. Ana tiba-tiba kehilangan akal sehatnya.

Gadis itu membiarkan Gara menjelajah mulutnya sampai dalam, pun sebaliknya, Ana mencari tahu lebih banyak tentang Gara, lewat ciuman yang mendebarkan.

Terpopuler

Comments

D_wiwied

D_wiwied

awas kebablasan woiii 😅😆

2025-02-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!