Gara menepikan motornya di basement gedung toko furniture, lantas menangkap tubuh langsing Ana saat turun dari motor besar miliknya.
Ana memperhatikan sekitarnya, kemudian menarik nafas panjang "Terus kita mau ngapain ke sini?"
"Belanja" jawab Gara sekenanya
"Ya tuhan! Belanja apaan coba?"
"Kecuali kasur sama perlengkapan tidur, lo beleh beli apapun yang lo mau, meja belajar, peralatan dapur, set alat makan atau apapun itu"
Gara berbicara sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu hitam dalam dompetnya, membuat Ana mengerjapkan mata.
"Sumpah?" Ana benar-benar tidak habis fikir dengan kelakuan cowok satu ini, tiba-tiba bolos untuk belanja. Sangat tidak bisa ditebak.
"Kalau lo sekaya ini, bahkan bebas pake kartu kredit, buat apa lo tinggal di indekos murah begitu?"
"Lo bahkan gak mau ngalah dan relain aja kamarnya buat gue cuma karna lima ratus ribu sebulan?" protes Ana
"Eits, ngalah sama lo itu bukan soal duit, tapi soal harga diri Ana!"
"Ih nyebelin banget, terus apa maksudnya lo pamerin kartu ke gue?"
"Iya, gue bakal traktir lo sepuasnya, kita bikin kamar yang sempit itu jadi rumah yang nyaman buat lo"
Ana menggigit bibir "Lo kasian ya sama gue, karna tadi pagi nanyain kaya apa rasanya pulang ke rumah?"
Gara hanya menganguk santai "Iya gue kasihan, karna hidup lo pahit kayak kopi tanpa gula"
"Sialan lo"
Ana kesal dan langsung menyambar kartu hitam ditangan Gara, lalu masuk ke toko furniture itu tanpa sungkan lagi.
Gara tersenyum sambil mengikuti langkah gadis itu kemana pun ia mau.
Mereka akhirnya berhenti di area perlengkapan dapur yang super lengkap dan berkilau itu.
"Ck, mugnya lucu banget tapi sayangnya couple" kata Ana sambil memamerkan dua buah mug karakter kucing yang sedang berpelukan.
"Lo bisa pake bareng gue"
"Gak usah, makasih" Ana menyimpan kembali mugnya dan mengambil mug yang lebih netral berwarna merah muda.
"Langsung ambil aja, barang kecil gak pake kode" ucap Gara
"Gue tahu, takut pecah kalo dibawa sekarang, ntar aja pas mau pulang"
Gara mengangguk-angguk, selesai melihat perlengkapan dapur mereka menuju perlengkapan tidur kasur dan selimut
"Kayaknya kita butuh selimut! Biar gak satu buat berdua" kata Ana
Gara menggeleng tegas "Gak! Gue bilang kecuali kasur sama perlengkapan tidur gak boleh beli!"
Ana langsung menoleh curiga "Kenapa?"
"Ya karena kamarnya sempit, nanti malah numpuk barang yang gak perlu"
"Kalo gitu gue beli sofa lipet, gue tidur di sofa mulai malam ini!"
"Sofa juga bikin kamarnya sempit"
Ana menghela nafas "Lo nraktir banyak syaratnya ih! Terus gue beli apa?"
"Oh gue tau! Beli panci aja biar lo pinter masak" Saran Gara
"Bener juga, cocok juga tuh panci buat nampol pala lo"
Gara menghindar ketika Ana memperagakan gerakan menampol kepalanya. Lalu merekapun tertawa kecil.
Mereka berdua melupakan kalau masih memakai seragam sekolah, dan menjadi tontonan petugas yang keheranan kenapa mereka belanja perabotan.
Gara berinisiatif mengambil troli besar yang cukup untuk menaruh barang sampai seratus kilo gram.
"Berat badan lo gak sampe lima puluh kilo kan? Muat kalo lo mau masuk" Ucap Gara, setahunya toko furniture ini tidak melarang pengunjung naik troli.
"Dih ogah! Gue masih punya malu" sahut Ana sambil menggeleng tegas.
"Beneran?" goda Gara
"Enggak!"
"Yakin?"
"Iya!"
"Udah cepetan naik, seenggaknya sekali seumur hidup lo harus menyempatkan diri gimana rasanya naik troli"
Ana mendengarnya mulai merasa goyah, gadis itu mulai menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihat. Kemudian Gara membantu Ana menaiki troli.
"Fotoin gue!" pinta Ana sambil berpose dengan mata berbinar.
Gara tersenyum gemas, lalu mengambil foto gadis itu, juga ikut berpose dan selfie berdua menggunakan kamera depan.
"Oke juga hasilnya" ucap Gara
Ana terkekeh "Seru banget! waktu kecil gue gak boleh naik troli waktu nganter ibu panti belanja soalnya"
"Kenapa?" Tanya Gara sambil memelankan mendorong troli, tanpa gadis itu sadari
"Karena kalau ada yang rusak, ibu panti gak bisa ganti"
Keadaan yang terbatas selama di panti asuhan membuat Ana terbiasa menahan diri
Untuk melakukan apapun yang dia inginkan.
"Mau boneka?" Tanya Gara yang sadar Ana tengah mengamati boneka kucing berbulu yang sangat menggemaskan berwarna putih
"Waktu kecil, gue juga punya banyak boneka dari donasi kok"
"Itu bukan donasi, itu hadiah dari gue buat lo!" Gara langsung menyimpan boneka itu kedalam troli, dipangkuan Ana yang tengah duduk bersila.
"Kenapa lo mendadak ngasih gue boneka?"
"Karena duit gue kebanyakan" sahut Gara "Kalo lo mau sesuatu bilang aja, jangan nahan diri"
Ana terdiam, baru kali ini seseorang berbicara seperti itu padanya. Seakan Gara akan menyerahkan apapun kalau Ana minta.
"Walaupun lo mungkin cuma basa-basi... Tanks, Gara" ucap Ana sambil tersenyum tipis
Tak peduli meski kini orang-orang menontonnya naik troli, memeluk boneka kucing, bersama Gara yang memanjakannya sebaik ini..
Ana senang sekali....
*****
Ana memeluk erat pinggang Gara sekali lagi ketika menaiki motor, menikmati waktu tanpa tuntutan.
Gara mengajak Ana makan siang di restoran steak, lalu pergi ke taman dengan menikmati angin sepoi dengan cemilan ringan.
Mereka menggelar tikar sewaan dibawah pohon rindang. Ana duduk sambil menikmati pemandangan.
Siapa sangka, momen bolosnya dengan Gara akan terasa amat menyenangkan...
"Rasa strawberry buat lo.."
Ana tersenyum lebar saat melihat Gara kembali dengan satu es krim cone strawberry berukuran besar untuknya.
"Lo gak beli?" tanya Ana, merasa bersalah karena Gara selalu memprioritaskan dirinya duluan.
"Sebenarnya gue beli buat lo sama buat gue juga"
Ana sempat tertegun ketika Gara mendekat, lalu melahap sisi lain es krim yang tidak menyentuh bibirnya.
Seandainya es krim itu mencair, mungkin bibir mereka sudah bersentuhan karena kini nafas Gara bahkan bisa dirasakan Ana menerpa wajahnya dan terasa hangat.
Mereka bertatapan dengan jarak dekat, dan terpaku sesaat satu sama lain.
Namun pada akhirnya, dari pada protes dan salah tingkah seperti saat sebelumnya. Ana membiarkan Gara melakukan hal itu sampai es krim mereka habis.
"Lo gila!cara makan es krim macam apa itu!?" cibir Ana sambil menyeka bibirnya dengan perasaan tak nyaman
"Kanapa? Toh gue gak nyosor nyium bibir lo" sahut Gara "Atau lo malah berharap?"
"Enggak tuh!" Ana langsung berdiri untuk menyembunyikan dirinya yang sedang salah tingkah.
"Pulang yuk? Kurir kayanya udah selesai nganter ke indekos, harus kita beresin" ucap Ana
Gara setuju, mereka pun akhirnya pulang ke indekos kecil itu didepannya ada setumpuk besar paket hasil belanjaan mereka barusan.
"Biar gue yang angkut, lo cukup tata barangnya aja" ujar Gara
"Cie,, manly banget deh, Gara Mahendra" goda Ana
"Terpesona kan, lo? Mulai cinta ya sama gue?"
"Idih, Najis"
Gara terkekeh sendiri mendengarnya sambil mulai membawa kardus-kardus ke kedalam kamar mereka, sedangkan Ana juga mulai bersiap menata barang ia mengikat rambutnya.
Ditengah kesibukan mereka berdua, tiba-tiba ponsel mereka bergetar bersamaan.
Ana panggilan dan pesan masuk dari Dasa untuk Gara.
Dasa:[Dimana? Gue kira lagi sakit, gue samperin kerumah gak ada?]
Dasa:[Gue juga barusan ke rumah sakit dan lo juga gak ada disana]
Gara hanya melirik ponselnya sekilas, kemudian mengabaikan pesan-pesan yang masuk dari Dasa. Disisi lain ponsel Ana juga sama bergetar nya banyak pesan dan panggilan masuk dari Rio dan Berlian.
Rio: [Berlian bilang lo bolos, pergi kemana?]
Rio: [Gue barusan ke rumah lo, yang keluar malah orang lain dan bilang kalo lo sekeluarga udah pindah, kenapa gak ngasih tau gue?]
Rio: [Please jangan bikin gue khawatir :^)]
Berlian: [Rio bilang baru kerumah lo, katanya lo pindah? Kok gak bilang-bilang?]
Ana menggigit bibir. Sialan! Bisa-bisanya Rio mengadu pada Berlian, seakan dia tau kalau Ana pasti akan luluh dengan Berlian.
Ana juga tak menyangka Rio akan mencarinya juga, Ana juga merasa bersalah pada Berlian karena merahasiakan semuanya.
Rio: [Ah lo yang download aplikasi find my mate di hp gue kan? Ghotcha! Ketemu juga lokasi lo...]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments