Sama seperti tadi malam, kali ini pun Ana tak bisa tidur dalam keadaan gelisah, namun bukan karena Gara.
Melainkan kram diperutnya yang terasa semakin parah begitu masuk tengah malam. Saat Ana mengaduh, Gara sampai ikut terbangun.
"An, Lo sakit?" tanyanya
"Ugh..." Ana akhirnya menyerah
Dia tidak bisa memaksakan diri untuk tidur. Gadis itupun terduduk, lantas terbelalak melihat ada noda darah di atas sprai.
"Garaaaa!sorryy" pekik Ana, dengan perasaan malu luar biasa "Jangan liat ini gue malu..."
"No! its okay, Lo pergi aja ke kamar mandi, biar gue aja yang cuci sprainya.." ucap Gara
Ana tidak menyangka, Gara yang kemarin tengil dan tak henti mengerjainya itu kini terlihat seperti seorang gentleman.
Dengan berat hati Ana pergi ke kemar mandi dan membersihkan diri dibalik tirai shower.
"Ana, baju kotornya mana biar gue cuci sekalian..." Ucap Gara yang lagi-lagi masuk kamar mandi tanpa izin
"Gak usah Gara, gue malu!" jawab Ana cepat
"Malu apaan sih!?Kalo gak cepet dibilas noda darah itu bakal nempel tahu!"
"Lo sering ribut sama orang ya? mangkanya tahu tentang itu?"
"Iya! makanya jangan ribut sama gue, cepetan sini kasihin baju lo!!"
Ana tak merespon, karena masih sibuk melepaskan helai pakaiannya
"Cepetan! gue buka juga nih tirai..."
"JANGAN" Ana langsung mengeluarkan tangannya tanpa membuka tirai lebar-lebar.
Ana menyerahkan pakaian kotor yang langsung disambar oleh Gara. Usai membilas diri, Ana keluar dari tirai shower menggunakan selapis handuk.
Gadis itu melihat Gara tengah mengucek semua pakaian Ana di wastafel tanpa merasa jijik sedikitpun.
"Thanks Gara" gumam Ana dengan wajah yang merah padam menahan malu.
Gara tak menoleh, memilih melihat lewat cermin dan melihat kalau Ana hanya terbalut selapis handuk.
Gara segera mengalihkan pandangan, memilih fokus untuk mengucek kembali kain yang kena bekas darah.
"Utang budi lo sama gue nambah!" ucap Gara tiba-tiba "Sekarang totalnya jadi lima permintaan ya?"
Melihat kebaikan Gara, Ana sendiri tidak bisa menolaknya, iapun menganguk setuju "Asal jangan yang aneh-aneh"
Gara tersenyum "Yang aneh itu elo! pake baju dulu sana dikamar, atau lo mau sengaja godain godain gue?"
Ana terbelalak, lupa kalau pakaiannya saat ini bisa mengundang bahaya. Cepat-cepat ia pergi ke kamar, ganti pakaian, lalu kembali ke kamar mandi.
"udah selesai?" tanya Ana
"pas banget baru beres, nih jemur dibalkon sana" sahut Gara
Ana melihat tangan Gara memerah karena kedinginan pastinya selesai mencuci di malam hari begini.
Tapi Gara sama sekali tidak mengeluh, ia malah menguap lebar dan pergi ke kasur.
Ana segera menjemur kainnya di balkon, Ana merasa malu ketika tau Gara juga mencucikan pakaian dalamnya.
"Gara, lo jangan begitu lagi!" Celoteh Ana begitu masuk ke kamarnya
Tapi Gara sepertinya sudah tidur. Sebab cowok itu memunggungi Ana dan terdengar suara dengkuran halus.
Ana memasangkan selimut untuk Gara, lalu berbaring disebelahnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Denger Gara, kalo lo sebaik ini sama gue, bisa-bisa gue baper sama lo..." Gumam Ana lirih
Remang membuat Ana tak begitu melihat dengan jelas, bahwa Gara membuka matanya dan mendengar dengan jelas suaranya...
Tak mau kejadian seperti kemarin terulang, hari ini Ana bangun lebih pagi dan mandi lebih dulu dengan tenang.
Dia sudah siap dengan seragam rapi saat Gara baru saja bangun dan menguap lebar dikasur.
"Jangan berangkat dulu, tungguin gue" ucap Gara, sambil garuk-garuk perut.
Ana yang masih mengeringkan dambut dengan hairdryer mengernyit dahinya "kenapa?" tanya Ana
"Ana food truck dideket halteu. Kata orang-orang sih rasa pancake-nya enak. Lo harus temenin gue makan ke sana"
"Kenapa gue harus mau?"
"Ya, karena ini permintaan gue, lo harus temenin gue sarapan, bukan hari ini doang tapi tiap hari."
Gara dan Ana bertatapan beberapa detik, kemudian Ana berdecak kesal.
"Permintaan lo gaada yang normal dikit apa?, kalo gue nungguin lo, gue bisa telat Gara Mahendra!"
"Sekarang aja gue tinggal ngeringin rambut sambil makeup an, Lah elo mandi aja belom" gerutu Ana
"Ya udah, jangan bawel! Lo tunggu aja sebentar" Gara beringsut menyambar pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Ternyata... kata sebentar yang diucapkan Gara sungguh terbukti.
Cowok itu benar-benar mandi kilat. Dia keluar dari kamar mandi dalam waktu tujuh menit dan salam keadaan sudah rapi sampai Ana ternganga dibuatnya.
Dalam waktu singkat Gara sudah wangi semerbak. Wajah tampan dan tubuh atletisnya sekilas membuat Gara terlihat lebih dewasa.
Gara versi habis mandi ganteng banget!...
"Kenapa bengong? katanya hampir telat, ayo berangkat" ajak Gara sambil memakai sepatunya.
Ana berdehem dan segera melepaskan diri dari lamunannya. "Lo kecepetan! gue bahkan belum pake lipstik"
"Dih lama banget lo dandannya, gak bakalan nambah cantik juga" ejek Gara sambil mengamati penampilan gadis itu mulai dari atas sampai bawah.
"Apaan sih! lo nyebelin banget"
Ana menghentak marah, kemudian melintasi Gara dengan bibir manyun
Gara menahan tawa gemas, sekaligus menahan tangan Ana agar mereka berdiri berhadapan.
Gadis itu melengos, tapi tiba-tiba saja Gara meraih dagu Ana agar mereka bertatapan
"Jangan ngambek dulu. maksud gue gak bakalan nambah, karena lo cantiknya udah maksimal" puji Gara dengan tulus
Ana sampai bergeming mendengarnya
Entah kenapa, gadis itu meleleh ketika Gara tersenyum manis sambil menyeka lipstik yang berantakan di Ana.
Untuk sesaat, detik seakan berhenti dan iris mata mereka terkunci satu sama lain, menegangkan, tapi juga mendebarkan.
"Gausah terpesona, gue emang ganteng" gurau Gara, memecah sunyi diantara mereka
Ana mendelik, menyesal sempat berdebar oleh kelakuan Gara Mahendra yang 'gak banget' itu
"Ha-ha-ha! sadis gak tuh gombalan gue?" Gara mencoba merangkul Ana keluar dari indekos
Ana segera menepis tangan Gara "Jangan pegang-pegang! inget lo punya cewek, kalo gue jadi Dasa sih ogah punya cowok kaya lo"
"Kalo gitu, jangan sampai Dasa tau dong" gurau Gara, karena pada kenyataannya Gara sama sekali tidak peduli dengan respon Dasa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments