Tak lama kemudian, Ana selesai mandi, ganti pakaian rapi dan wangi yang semerbak seperti biasanya.
Gantian Gara yang mandi kilat, hanya butuh waktu 5 menit cowok itu sudah rapi dan wangi, jauh lebih wangi daripada Ana.
Entah mengapa, aroma maskulin cowok itu memang misterius.
"Gak sarapan dulu?" tanya Gara saat sadar Ana sudah siap memakai sepatunya didepan pintu.
"udah telatt" sahut Ana buru-buru
"Iya juga. Lo berangkat pake apa?" tanya Gara
"Bis lah" jawab Ana
"Sama.. Jangan kelihatan jalan bareng gue ah, agak jauhan sana!"
"Dih, bodo amat" jawab Gara tidak peduli
Ana berlali kecil berjalan dahulu, tapi pada dasarnya karena Gara mempunyai langkah yang lebih lebar, maka cowok itu lebih cepat bisa menyusul Ana.
"Ladies first!" Ana tak mau kalah, ia menyusul langkah Gara
Gara memelankan langkahnya, kemudian ngebut lagi sampai mendahului Ana. Alhasil mereka malah balapan menuju halte
Mereka sangat kekanakan sekali..
"Lo bilang jangan kelihatan jalan bareng" ucap Ana
"Jangan didepan sekolah SMA Sore maksudnya, gue gak mau orang disekolah tau kalo kita tinggal bareng!" jawab Gara
Benar juga, Ana tidak tau apapun menganai Gara, selain fakta kalau cowok itu pacaran dengan Dasa dari kelas sebelah.
Sempet denger juga sih Gara kaya raya, tapi kenapa mau tinggal di indekos yang murah kaya gini ya?
"Beneran cewek lo gak akan dikasih tau tentang ini?" tanya Ana
Teringat Dasa, pasti akan marah dan cemburu jika tau cowoknya tidur sekasur dengan wanita lain. Meski kasus mereka adalah keterpaksaan.
"Enggak, gak penting juga kalo dia tau, cuman bikin repot. Kalo cowok lo?"
Ana tak menyangka kalau Gara bisa terdengar menghindari Dasa, padahal mereka selalu terlihat mesra saat sedang berdua.
Mulai sekarang Ana tidak akan percaya dengan Gara, dia pasti cowok hidung belang seperti kebanyakan laki-laki.
"Rio gak aakan mau tau apapun tentang gue" jawab Ana dengan wajah murung
Diam-diam Gara tersenyum samar "Pokoknya gue udah kasih tau lo, kalau cinta itu cuman sampah, kecuali lo jatuh cinta sama orang yang tepat Ana" ucap Gara
Ana tidak mengelak, yang diucapkan gara benar " Lo bener, dan gue terlambat buat sadar soal itu"
Hening...
Bis yang mereka tunggu akhirnya datang, dua orang itupun naik dan duduk bersebelahan karena bis sedang sepi.
Tak sia-sia mereka mencari area pinggiran kota yang jauh dari SMA Sore, sekolah mereka.
Ana Fredlyna dan Gara Mahendra sama-sama menghindari rumor yang tidak perlu dari orang-orang yang kenal dengan keduanya.
Bis mulai melaju dan suasana disekitar mereka tiba-tiba mulai mencair dengan sendirinya.
"Sebenarnya, alasan lo kabur dari rumah itu kanapa?" Tanya Gara tiba-tiba
"Gue pergi karena gue tahu orang tua gue gak akan pernah balik lagi. Kalau lo?
"Karena gue tau gak ada nyari gue" jawab Gara enteng
Hening sekali lagi...
"Oh, jangan lupa tiga permintaan gue ya?" seru Gara memecah sunyi
Ana menganguk saja "sebutin aja, apa permintaan pertama lo"
"putusin Rio"
Dheg..
Ana menyipitkan matanya curiga "permintaan aneh macam apa itu?"
"kenapa, lo keberatan? Gue kan penyelamat hidup lo, kalau tadi pagi darah yang keluar dari badan lo itu ga disumpel, lo bisa mati kan?" Ucap Gara
"Ngawur! Gue emang berdarah, tapi bukan pendarahan" jawab Ana cepat
Gara tertawa kecil ia sebenarnya tahu tentang itu. Hanya saja Gara merasa senang membuat Ana marah-marah.
Ana menghela napas "Soal Rio..gue gak mau mutusin dia hari ini"
"kenapa?"
"karena dia..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments