Pagi hari, Ana mengeliat dari tidur lelapnya. Dan saat mengerjapkan mata beberapa kali, Ana terperanjat ketika mendapati dirinya dalam pelukan Gara.
Dengan jarak wajah yang sangat tipis, Ana bisa merasakan hembusan nafas Gara mengenai wajahnya, terasa hangat.
"G-Gara?" Ana mencoba membangunkan dengan menyentuh pipi Gara
Gara yang merasa terusik malah merengkuh tubuh mungil gadis itu lebih erat sampai sedikit menindih tubuhnya.
"Gara!" tegur Ana yang merasa risi, karena pagi ini mereka terlalu mesra untuk hubungan yang bukan siapa-siapa.
Tidur satu kasur sambil berpelukan dengan Gara Mahendra, Sangat gila sekali bagi Ana fredlyna.
"Lima menit lagi.. Gue lagi mimpi indah banget" Ucap Gara dengan suara serak menggoda khas setelah bangun.
"Mimpi apaan?"
"Pulang ke rumah..."
Ana bergeming selama beberapa detik mendengar pengakuan itu "Lo mulai home sick?"
Sayangnya Gara tak menyahut sampai Ana berfikir cowok itu mungkin saja mengigau.
"Kayak apa rasanya pulang kerumah?" tanya Ana lirih
Sejujurnya Ana merasa agak iri karena dia sama sekali tidak pernah pulang ke rumah dalam arti yang sesungguhnya.
"Rasanya kayak gini... Seseorang meluk lo dan jadi tempat ternyaman sampai lo gak butuh apapun lagi" ucap Gara
Ana tersenyum tipis, tiba-tiba saja berinisiatif membalas pelukan Gara dan meresapi perasaan itu.
Hangat sekali....
"Gue gak tau apa itu masalah lo sampai pergi dari rumah. Tapi gue harap lo bisa pulang secepatnya karena gue baru tahu kalo perasaan kayak gini tuh luar biasa" ucap Ana
Gara hanya menjawab dengan menganguk, mereka masih dalam keadaan berpelukan selama beberapa detik, sampai Gara melepas Ana dan melirik layar ponselnya.
"JAM TUJUH TIGA PULUH ANA!" teriak Gara panik, karena sekolah mereka masuk pukul delapan tepat.
"ASTAGA" Ana segera beranjak, menyambar handuk dan pakaian gantinya menuju kamar mandi.
Gara tersenyum tipis sambil mengamati pintu yang tertutup rapat. Usai itu gantian Gara yang mandi kilat.
"Gak akan kekejar kalo naik bis, motor gue udah gue ambil dari bengkel, lo berangkat bareng gue aja" Ucap Liam, begitu mereka siap tinggal berangkat
Ana yang sedang menyisir rambut dengan asal-asalan itupun menoleh. "Satu sekolah bisa heboh kalo tau gue turun dari motor lo"
"Ya lo turun jangan digerbang, jangan diparkiran, tapi di tikungan jalan paling deket aja. Lingkungannya udah sepi kok kalo udah mendekati jam-jam masuk gini"
Ana menjentikkan jarinya "Oke! Ide baguss"
Ana sendiri tak mau terlambat. Gadis itupun menyambar tasnya dan menghampiri Gara di parkiran indekos.
Motor sport limited edition milik Gara terlihat sangat mencolok diantara barisan motor lainnya.
Menyadarian Ana kalau Gara Mahendra kan memang orang berada..
"Pernah kan naik motor?" tanya Gara
Ana menganguk "Tapi gak segede ini, gimana naiknya?"
"Sebentar..." Gara memasangkan helm, lalu membantu Ana naik ke motornya.
Kemudia Gara mulai melajukan motornya membelah jalanan kota Bunga yang sibuk di pagi hari.
Negara Vanteline terbilang kota kecil yang maju, aktivitas merakyatnya cukup padat namun damai.
Seperti yang tengah Ana rasakan ketika memeluk pinggang Gara dari belakang. Terasa damai...
"Peluk yang erat!" ucap Gara sedikit berteriak agar tetap terdengar meski di jalanan yang ramai.
Ana hanya menuruti tanpa memprotes.
Saat mereka melintasi toko dengan kaca besar, Gara bisa melihat rok seragam Ana yang pendek itu semakin tersingkap.
Akhirnya Gara menepi ke pinggir jalanan dan melepaskan jaket yang dikenakannya. "Pake, daleman lo hampir kelihatan nona!"
"Thanks..." Ana menjawab dengan perasaan yang malu sekali, karena Gara selalu memperhatikan hal detail tentang dirinya sekaligus memperhatikannya.
Saat motor itu melaju kembali, Ana menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia sadar kalau Gara tidak membawanya ke arah sekolah SMA Sore.
"Kenapa lewat sini?" tanya Ana kebingungan.
Sedangkan Gara hanya membalas dengan senyuman yang penuh arti, sambil melirik ekspresi gadis itu lewat kaca spion.
"Udah terlambat juga, kita bolos sekalian aja, ya?" kata Gara seenak jidatnya
"GARA LO JANGAN BERCANDA YAA?" Ana memekik kesal sambil memukul bahu Gara dengan kesal
"PELUK GUE BILANG, NGEBUT NIH" Gurau Gara
"DASAR COWOK GILA!" Ana refleks memeluk Gara dengan lebih erat dan memejamkan mata
Ana menyesal karena mengikuti cowok tengil satu ini. Ana berharap Gara tidak mengacaukan hari-hari nya yang damai nantinya.
Ana takut sekali cowok itu mengajaknya pada segudang hal baru. Perualangan yang sebenarnya ia tunggu-tunggu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments