Kesadaran

"Karena gue baru sadar kalo dia gak layak buat dipertahanin" jawab Ana

Seperti sebelumnya Gara tidak berkomentar dan lagi-lagi membiarkan sunyi mengiringi perjalanan mereka.

Setelah turun dari bis Ana dan Gara sama-sama tidak saling lirik. Sesuai kesepakatan, mereka berjalan berjauhan dan tidak pula bertukar kata. Sengaja agar tak ada yang memergoki Ana dan Gara berangkat bersama.

TAP_

Ana menoleh kebelakang saat seseorang menepuk bahunya dari belakang, ternyata Berlian Sahabat Ana.

"morning baby girl!" Sapa Berlian, yang baru saja turun dari sebuah mobil mewah.

"mana mobil lo? Kok jalan kaki?" tanya Ana

"Dibengkel" jawan Berlian bohong

 "Lah, kok bisa?"

"Takdir?"

Berlian terkekeh kecil, kemudian merangkul lengan Ana sambil terus berjalan kecil.

"Sehabis rapat kemarin, gue lihat Rio ngasihin jaket buat Dasa, gak sampek nganterin pulang sih karena Dasa bawa mobil"

"Tapi, kalo gue jadi elo udah pasti ngedumel deh karena udah ngasih perhatian ke cewek yang berkali-kali gue cemburuin" sambung Berlian

Bukan satu atau dua kali Rio memberi perhatian kepada Dasa, bahkan Ana sendiri sering memergoki mereka mengobrol akrab selesai rapat OSIS.

"Dulu gue cemburu, tapi sekarang nggak tuh" ucap Ana

"Really? why??" Berlian tidak percaya, karena bahkan semutpun tau jika Ana Friendlyna sangat menggilai Rio Scott.

"Karena gue gak punya waktu buat sedih sama hal yang gak perlu, Berlianku sayang!" ucap Ana

"Oh my God!! Gue gak salah denger?"

"Serius, Sorry, karena selama ini gue terlalu dibutakan Rio sampe mungkin sering bikin lo ngga nyaman--"

"Gak! Sama sekali nggak masalah! Lo temen terbaik gue, gak masalah kalo lo bucin sama cowok"

"yang jadi masalah, lo bucinnya sama Rio! Ughh, kesel banget gue sama dia. Akhirnya gue bisa bilang sama lo, kalo Rio sialan!" cerocos Berlian merasa sangat lega

Ana tertawa kecil melihat ekspresi menggemaskan Berlian yang sudah ia tahan-tahan sejak dulu.

"Rio nerima lo cuman buat disakitin doang, dasar cowok gila! Gue benci banget karena udah nyakitin sahabat gue."

"Bagus lo putusin. Biar Rio sadar kalo selama ini sangat berharga, dia pasti nyesel, nangis-nangis sampe mampuss!" geram Berlian

Berlian sepertinya benar-benar membenci Rio, dan Ana terlambat menyadarinya.

Rio ternyata emang se toxic itu!

"iyaa dasarrr Rio gilaaaa" sahut Ana

Dan mereka akhirnya tertawa bersama sambil berjalan menuju kelas.

Ana dan Berlian berteman sejak tiga tahun berturut-turut karena selalu sekelas, mulai awal sampai akhir semester mereka bersama selama di SMA.

Berlian Ferdina luar biasa kaya, kekayaannya setara dengan Rio dan Gara karena dulunya mereka berasal dari satu lingkungan sosial yang sama.

Sementara Ana hanya anak adopsi dari keluarga menengah ke atas yang biasa saja, bukan konglomerat macam mereka.

Dari belakang Gara mengamati punggung Ana yang sedang berjalan bersama Berlian.

Gara dengar tentang jaket yang diberikan Rio kepada Dasa dan hanya tersenyum tipis.

"Hey..! Gara" panggil seseorang

Terlalu sibuk memperhatikan Dasa, Gara tak sadar jika baru saja berpapasan dengan Dasa dan temannya di lorong.

Gadis itu tersenyum manis menyapanya "Hay, good morning boyfriend"

"Morning Dasa, Pagi juga Selina" Sapa Gara pada Dasa dan temannya.

"Gue gak lihat mobil lo diparkiran, pakai motor?" tanya Dasa

"Dua-duanya dibengkel" jawab Gara

"Oh gitu,, lo juga lagi sibuk banget ya tadi semalem? Chatting gue gak dibaca sama sekali" ucap Dasa sambil mayun

Gara tersenyum "Sorry ya? Gue ketiduran, nanti kita makan siang bareng dan bakal traktir apapun yang lo mau"

"tapi kali ini gue harus langsung ke kelas karena ada ulangan kimia, jadi Bye..Dasa"

Ucap Gara sembari mengacak rambut Dasa dan bergegas pergi meninggalkannya.

"Gila sih terlepas dari sifat Gara yang pecicilan, hubungan lo sama Gara tu sehat banget" ucap Selina

"Iya dong, gue sama Gara anti red flag, karena kenal dari kecil, dia selalu terbuka sama gue tentang apapun." kata Dasa bangga

Kemudia Dasa yang sedang membanggakan pasangannya itu tak sengaja melirik ke arah Ana dan Berlian yang sedang berjalan menuju kelas mereka.

"Beda banget sama hubungan Ana-Rio," komentar Selina

Dasa menghela nafas, entah mengapa ia merasa tidak nyaman melihat Ana berseri-seri pagi ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!